Jalan-Jalan ke Pasar Van Der Capellen Dengan Motor, Lanjut ke Ngarai Sianok dan Koto Gadang di Bukittinggi

Traveling dengan motor adalah salah satu traveling yang sangat menyenangkan. Jalan-jalan-jalan dengan motor memang terasa lebih melelahkan bila dibandingkan dengan kita jalan-jalan dengan kendaraan roda 4. Akan tetapi suasana dan sensasi yang saya rasakan jalan-jalan dengan motor sungguh beda. Lebih dekat dengan alam, lebih berasa berpetualang nya, lebih berasa juga suasana perjalanannya. Lebih asyik lah pokoknya. Sehingga hati lebih happy jadinya, ye kaaan…

Sesuai rencana, saya dan teman saya LK jalan ke Pasar Milenial Van Der Capellen di Batusangka, setelah beberapa kali batal. Pasar Van Der Capellen ini adalah pasar wisata kuliner yang cuma buka hari Minggu aja. Lokasinya berada di bekas Benteng Van der Capellen. Sama halnya seperti Pasar Wisata Milenial Kubu Gadang di Padang Panjang, pasar wisata ini juga sangat ramai dikunjungi pengunjung.

Teman jalan saya LK, sempat marah atau ngambekan. Dia maunya kami jalan jam setengah 7, tapi saya ngga bisa. Bisanya jam setengah 8. Dia minta jam 7, saya bilang, saya usahain. Tapi akhirnya saya baru bisa tiba di rumahnya menjelang setengah 8. Muntab dia, ngambek. Sepanjang jalan dia ngga ngomong sama sekali sama saya. Kami diam-diaman aja di atas motor sepanjang jalan, 2 jam perjalanan. Ya Allah…. gitu amaaat teman gue, gue berasa jadi tukang ojek aja dah, hahaha. Ceritanya di sini.

Pasar Van Der Capellen

Di Pasar Van Der Capellen sendiri kami lebih banyak jalan sendiri-sendiri aja. Dia mungkin masih marah sama saya. Saya pun jadi ngga nyaman dan kesal juga karena didiamin sepanjang jalan Solok – Batusangka, cuma ngomong  seperlunya aja, sepatah dua patah kata aja. Garing banget kaaan, tukang ojek aja ngga gini-gini amat, masih diajakin ngobrol, hahaha. Kalau penumpangnya saya, pasti saya ajak ngobrol, hehehe.

Kami juga bertemu dengan potografer terkenal Uda Erison J. Kambari dan temannya, Uda Aji. Mereka berdua hendak ke Kubu Gadang, dan mengajak kami jalan bareng ke Pasar Kubu Gadang. Tapi karena kami sudah berencana ke Bukittinggi via Sungai Tarab – Baso, tawaran kedua potografer tersebut terpaksa kami tolak. Padahal lumayan bakal asyik juga ‘touring’ 3 motor bareng mereka. Sayang bangeeet yaa…

Dalam perjalanan ke Bukittinggi saya mempertanyakan sikapnya yang mendiamkan saya dalam perjalanan Solok – Batusangka. LK bilang dia kesal karena kami jalan terlalu telat. Ya saya jawab juga bahwa saya juga ngga bisa apa-apa kalau motor ngga ada. Mau jalan pakai apa coba. Kecuali kalau saya memang sengaja ngaret. Harusnya pahami keadaan juga dong. Dia bertahan dengan pendapatnya, saya juga sama, bertahan dengan alasan saya. Tapi memang sih ya, kami emang beberapa kali ‘bertengkar’ gara-gara hal sepele kaya gini. Namanya juga berteman ye kaaan… wkwkwk.

Setibanya di Bukittinggi kami makan di rumah makan dekat Taman Panorama Bukittinggi. Rumah makannya di sebelah kiri setelah pintu masuk Taman Panorama. Makanannnya enak. Tapi saya lupa moto-motoin nama rumah makannya. Udah lapar jadi langsung lalap aja, hahaha. Habis makan siang kami lanjut ke Ngarai Sianok. Tujuan kami adalah Restoran  Taruko di Taruko Tabiang Takurung.

Di restoran Taruko Tabiang Takuruang, kami berehat cukup lama, bersantai menikmati suasana alam sembari minum jus. Karena sudah makan siang jadi ngga makan lagi di sana. Di Taruko Tabiang Takuruang, saya asyik moto-moto dari pinggir sungai kecil berbatu sementara LK cuma duduk santai di restoran. Kalau ngga ingat waktu mau loh rasanya duduk lama-lama di sana. Di sana saya juga shalat zhuhur sekalian jamak dengan ashar.

Dari Taruko Tabiang Takuruang kami jalan ke Nagari Koto Gadang. Nagari Koto Gadang ini merupakan nagari asal atau tempat lahir banyak tokoh nasional Indonesia. Nagari (setingkat desa) yang ‘melahirkan’ KH. Agus Salim, Sutan Syahrir, Siti Rohana Kudus, Khairil Anwar dan banyak tokoh nasional lainnya. Juga dikenal sebagai desa di Indonesia yang paling banyak melahirkan sarjana.

Janjang Koto Gadang, Ngarai Sianok

Kami juga berhenti di depan rumah perkumpulan “Amai Setia” sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Siti Rohana Kudus. Kami ngga masuk ke dalamnya, cuma berfoto doang di depannya, hehehe. Alasannya karena LD ngga mau masuk dan saya juga sudah pernah ke sana. Jadi kami lanjut lagi jalannya. Lagian langit sudah mulai gerimis jadi kami meneruskan perjalanan dengan memakai jas hujan plastik.

Karena hujan makin deras, kami akhirnya berhenti di warung si simpang empat Koto Gadang yang berada di depan Mesjid Raya Nurul Iman. Sekadar minum teh dan maka tahu goreng untuk menghangatkan badan yang basah karena hujan. Hujannya deras tapi alhamdulillahnya hujannya tanpa petir, jadi syahdu banget. Saya yang penyuka hujan, sangat suka dengan suasana hujan yang seperti itu.

Bagitu juga hujan sudah reda, udara yang basah terasa begitu ‘hangat’ merasuk ke dalam jiwa saya. Pokoknya, rasanya damai banget. Saya sangat menyukai suasana yang seperti itu, entah kenapa. Ada rasa yang ngga bisa diterjemahkan dengan kata-kata. Mungkin karena saya memang penyuka hujan jadinya suasana hujan dan setelah hujan berasa tjakep aja. hehehe.

Setelah hujan benar-benar reda kami melanjutkan perjalanan kami. Tujuan berikutnya adalah jembatan Guguk Tinggi – Guguk Randah. Konon katanya jembatan tersebut baru dibangun. Jembatannya keren dan bagus, makanya kami mau membuktikannya apa benar yang dikata orang-orang.  Dan kebetulan juga paslagi berada di Koto Gadang, tinggal jalan sedikit lagilah. Tanggung kan.

Perjalanan di kaki Gunung Singgalang sangat menyenangkan dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau membentang. Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Apalagi abis hujan begini, beuuuh tjakep banget. Aroma basah begitu membuat syaraf-syaraf saya jadi tenang. Sawah-sawah seperti tertutup kabut tipis yang bikin susasana menjadi terkungkung keindahan yang misteri bagi saya, hahaha.

Tapi saya sambung ceritanya pada postingan berikutnya ya. Karena ini postingannya sudah terlalu panjang,  Dan bakal masih panjang karena pas pulang juga kami kehujanan. Ngga cuma hujan aja, tapi juga hujan yang diiringi petir gede-gede, hehehe.

 

 

 

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s