Ngebolang ke Puncak Lawang Matur Dengan Motor

IMG_0009a

mesjid di pinggir empang besar di Nagari Sungai Tanang Bukittinggi. Asyik banget di sini…🙂

Sudah sangat lama sekali saya tidak pergi jalan-jalan ke Danau Maninjau. Terakhir kali kalau tidak salah ketika saya masih duduk di SLTP. Saya dan keluarga saya jalan-jalan ke Danau Maninjau, terus ke Padang melewati Tiku dan Padang Pariaman.

Lebaran kemarin saya berdua teman saya ngebolang pakai motor (niatnya) ke Maninjau. Berdua doang pake motor. Tujuan kami ke Maninjau adalah ke Museum Rumah Buya Hamka. Dan juga pengen merasakan sensasi ‘ngitung’ kelok 44 sewaktu masih kecil dulu, hehe.

Rencananya kami mau berangkat jam 6 pagi. Supaya ngga kepanasan kalau berangkatnya agak siangan. Tapi, sebelnya (luar biasa menyebalkan sih sebenarnya), aku siap berangkat temanku baru bangun jam 6 dan minta berangkatnya siang aja, kira-kira jam 8. Kesel banget kaaan. Mau gimana lagi, sebel dan kesel di dalam hati ditelan aja deh.

Makan karupuak kuah di depan mesjid Sungai Tanang

Makan karupuak kuah (karupuak leyak) di depan mesjid Sungai Tanang… Hmmm enaaakk banget…

Akhirnya kami berangkat jam 9-an boookkk, ga jadi jam 8 juga. Udah gitu, kami yang berangkat agak kesiangan temanku pake ngajak mampir di dulu di pasar Padang Panjang, dia mau nyari baju dulu karena baju yang dipake ngga nyaman katanya. Oke aku turuti keinginan temanku. Mampirlah kami ke pasar Padang Panjang, shopping dulu….😦 *pengen garuk dinding dah

Udah selesai? Beluuum. Seabis pasar Padang Panjang, temanku pakai ngajak ke sekolahnya waktu di MAN dulu di Koto Baru, Padang Panjang. Ceritanya mau nostalgia. Dan dia bertemu dengan orang yang akrab dengan dirinya sewaktu sekolah dulu. Jadi, tujuan kami yang mau jalan-jalan ke Maninjau semakin kecil kayanya karena jam sudah menunjukan jam 1.

Kami tiba daerah Sungai Tanang, Bukittinggi jam setengah dua. Setelah selesai shalat zuhur (jama’ dengan ashar) di sebuah mesjid di pinggir telaga Sungai Tanang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Danau Maninjau. Daaan ternyata aku rada-rada jiper bawa motor jalan ke Maninjau, hahaha. Jalanan Bukittinggi – Maninjau jauh lebih kecil dibanding jalan Solok – Bukittinggi. Udah gitu jalannya berkelok-kelok lagi tajam lagi. Padahal belum Kelok 44 loh…🙂 Jadi kudu lebih hati-hati.

Di Nagari Lawang

Di Nagari Lawang

Tujuan kami pertama adalah Puncak Lawang yang ada di Nagari Lawang, Matua alias Matur. Kami tiba di pasar Lawang jam 3 kurang. Sebelum ke Puncak Lawang, kami makan dulu di rumah makan yang ada di pasar sana. Setelah kenyang, baru deh lanjut lagi ke Puncak Lawang.

Sudah jam 3 lewat, tetapi pengunjung masih sangat ramai. Hmmm, segaaaar…. Aku menghirup udara gunungan dalam-dalam. Udara Puncak Lawang yang ditutupi tumbuhan pinus terasa segar menyapa kulit dan paru-paru. Apalagi bagiku yang seharian berada di bawah matahari, jadi udara di sini makin terasa segar.

Tapi sungguh sayang, pemandangan Danau Maninjau sudah mulai terhalang kabut. Pemanddangan Danau Maninjau tidak terlihat bening dari Puncak Lawang. Tidak seperti yang digambar-gambar dimana danau Maninjau terlihat bak cermin raksasa yang indah, ketika saya datang ke sana, Danau Maninjau terlihat buram. Tetapi itu tidak mengurangi niat pengunjung buat foto selfie (sendiri dan rame-rame) di pinggir bukit Puncak Lawang yang berlatarkan pemandangan Danau Maninjau.

IMG_0136a

Setelah menikmati pemandangan Danau Maninjau, aku beristirahat sebentar di bawah pohon pinus sambil merasakan kedamaian angin pegunungan yang segar. Setelah itu kami turun dari Puncak Lawang dan melanjutkan jalan-jalan kami ke arah jalan lingkar Lawang.

Dan tanpa sengaja kami menemukan Taman XIII Balai Basa. Taman ini tidak begitu besar tapi asyik untuk menikmati panorama danau Maninjau. Pengunjungnya cukup ramai. Tidak ada biaya masuk ke dalam taman ini. Cukup hanya membayar parkir motor saja. Tapi parkir motornya sungguh mahal, 5000 rupiah walaupun hanya sebentar. Sungguh luar biasa ‘pemalakan’ perparkiran di tempat wisata di Sumatera Barat. Entah ini karena lebaran atau karena sehari-harinya memang begitu.

Matahari sudah semakin rendah. Niat ke Maninjau sepertinya bakal batal karena kami harus segera pulang. Tetapi kami tetap mengambil jalan yang memutar ketika melajutkan perjalanan. Tetapi kira-kira 2,5 km dari Taman Balai Basa ketika dalam perjalanan pulang, kami lagi-lagi menemukan taman baru yang juga dengan pemandangan Danau Maninjau, namanya Taman Ambun Tanai.

Selfi mah tetap jalan meski pemandangan danau terhalang kabut

Selfi mah tetap jalan meski pemandangan danau terhalang kabut asap

Di Taman Ambun Tanai, kami pun mampir juga sebentar, mungkin hanya sekitar 15 menit paling lama, sekadar membuat rekam jejak. Tamannya tidak sealami Taman Balai Basa. Tetapi ada menara tinggi untuk kamu yang suka selfie di ketinggian. Tiket masuknya cukup murah 3000 buat pengunjung dewasa, dan 2000 buat pengunjung anak-anak.

Ketika tiba di Ambun Pagi, yang merupakan titik awal dari Kelok 44, kami yang harusnya tinggal turun belok kanan ke Maninjau, langsung belok kiri ke arah Bukittinggi. Sudah tidak memungkin lagi bagi kami jalan ke Maninjau. Apalagi kalau tujuan salah satunya ke Museum Rumah Buya Hamka.Sudah tidak mungkin banget. Bakal tiba sebelum magrib di sana, dan tentunya Museum Rumah Buya hamka sudah tutup dong.

Kami memutuskan pulang. Dan kami shalat magrib di mesjid yang ada di depan MAN Koto Baru. Jadi jam 7.30 kami masih berada di Koto Baru Padang Panjang booo… Masih 2 jam lagi ke Solok, hikkss… (luar biasa banget nih cewek-cewek masih keliaran pake sepeda motor sejauh itu, dan malam pula… hahaha).

Taman XII Balai Basa, Lawang

Taman XII Balai Basa, Lawang

Kami tiba di rumah jam 10 malam. Capek? Tentu saja. Capek banget malah. Badanku remuk redam karena mengendarai motor sejak berangkat pagi tadi sampai tiba di rumah lagi jam 10. Pantat (maaf) dan tangan pegal luar biasa. Kayanya kalau diminta tolong ponakan yang 4 tahun dan 5 tahun untuk injek-injekin badanku kayanya enaknya muantap bangat dah, hehehe.

Tapi walaupun luar biasa capek, sangat menyenangkan. Begitu tiba di depan rumah saya langsung beli skotang yang dijual 10 m di dekat rumah. Hangatnya menjalar ke seluruh tubuh yang remuk redam kecapean. Daaaan, yang tidak kalah penting adalah langsung kalap, makan kaya orang kesurupan…🙂

Dan saking capeknya badanku karena mengendarai motor bolak balik sejauh kira-kira 180 km (kayanya lebih deh), pengen banget punggungku diinjek-injek sama ponakanku. Tapi mereka udah pada tidur, huhuhu…😛

Taman Ambun Tanai

Taman Ambun Tanai

Dan inilah penampakan Danau Maninjau ketika langit cerah. Foto : Erison J. Kambari

Dan inilah penampakan Danau Maninjau ketika langit cerah. Beda banget kan ya…🙂
Foto : Erison J. Kambari, fotografer yang mengangkat keindahan Ranah Bundo.

erison k kelok 44

kelok 44, Foto by : Erison J. Kambari

foto : Erison J. Kambari. Belau adalah fotografer yang mengangkat keindahan alam Minangkabau.

foto : Erison J. Kambari. Belau adalah fotografer yang mengangkat keindahan alam Minangkabau.

Poto-foto pas lagi balik. Masih aja sempet foto-foto padahal sudah menunjukkan hampir jam 6, hehehe…🙂

17 thoughts on “Ngebolang ke Puncak Lawang Matur Dengan Motor

  1. Pingback: Ngebolang ke Maninjau Sendirian Naik Ojek | Firsty Chrysant

  2. Pingback: Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Sungai Batang Maninjau. | Firsty Chrysant

  3. Pingback: Bukber Paling Berkesan Bagiku : Kabur Manjat Jendela Kelas Yang Tinggi | Firsty Chrysant

  4. Pingback: Taruko Cafe Resto, Ngarai Sianok, Bukittinggi | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s