Jalan-Jalan di Penang Hari Pertama (Bagian Pertama)

Ini masih tentang cerita catatan perjalanan satu tahunan yang lalu. Masih berlanjut aja ya, karena masih banyak yang mau diceritakan, hahaha. Harusnya mah udah selesai sejak berbulan-bulan yang lalu kaan. Tapi memang dasar sayanya yang banyak malasnya buat nulis makanya ngga pernah selesai-selesai catatan perjalanan ini…*tepok jidat, hahaha.

Kami tiba di Penang kan udah dini hari ya. Sudah jam setengah 3 baru masuk penginapan setelah mutar-mutar dulu nyari penginapan yang nyempil tapi taunya bisa reservasi di restoran india, hehehe. Setelah beres-beres dan shalat jamak magrib isya kami segera tidur karena badan udah pegal banget, pengen langsung nnyium bantal, meskipun tadi bisa tidur cukup banyak di bus.

Paginya setelah selesai shalat subuh, kami juga langsung mandi dan beberes buat jalan. Eh tapi walau niatnya jalannya agak pagian tetap aja jalannya jam 8 lewat atau malah hampir jam 9, hehehe. Karena kami makannya agak lama juga sih di restoran yang terdapat di bawah penginapan. Restorannya lumayan enak, dan yang paling utama adalah restorannya restoran halal.

Sebelum jalan kami menitipkan dulu koper di ‘resepsionis’ penginapan ini. Mereka menyediakan ruangan kecil di dekat tangga naik buat penitipan koper. Setelah baru kami jalan kaki menyusuri jalan ke kanan restoran, ke arah perapatan Mesjid Kapitan Keling Penang. Nanti dari sana baru pikirin mau mutar-mutar kemana lagi, tergantung kaki hendak melangkah kemana hahaha.

Sekitar 100 meter dari restoran, kami melihat ada kuil cina, kuil perhimpunan salah satu marga Cina, Tokong Han Jiang. Mampir dulu buat foto-foto bagian halaman dalam aja. 5 menit saja sih di sana. Setelah itu kami melanjutkan lagi jalan ke lampu merah perapatan jalan Mesjid Kapitan Keling. Dari lampu belok kiri, dan terlihatlah menara Mesjid Kapitan Keling. Tinggal jalan 100 meter saja, kami tiba di Mesjid Kapitan Keling.

Maka sayapun eksplor Mesjid Kapitan Keling selama setengah jam. Saat itu bapak petugas mesjid, seorang bapak-bapak yang dari wajahnya terlihat dia adalah orang india yang berkulit putih sedang membersihkan karpet mesjid dengan memggunakan vakum. Karena hari itu adalah hari Jumat, jadi ia sedang beberes persiapan shalat jumat nanti.

Dari Mesjid Kapitan Keling kami masuk jalan Armenian. Jalan Armenia sepertinya termasuk daerah yang ramai dikunjungi turis. Ada banyak turis yang asik menikmati foto mural yang terdapat di sana. Tapi kami ngga menyusuri keseluruhan jalan Armenian ini. Hanya sampai prapatan Lebuh pantai saja. Karena saya tidak tau kalau jalan Armenian panjang sampai ke arah Pangkalan Weld, hehehe.

Saya juga sempat mampir ke Cheah Kongsi, sebuah rumah perhimpunan Cina yang mewah, yang pintu sampingnya berada di jalan Armenia ini. Saya hanya moto-moto bagian luarnya aja, ngga masuk ke dalamnya. Karena bayar tiket masuknya 12 RM kalau ngga salah. Ah sayang duitnya, hahaha.

Ngga gitu juga sih, dari referensi wisata Penang yang saya baca, saya belum pernah liat tentang Cheah Kongsi ini. Yang banyak disebut adalah Penang Peranakan Mansion dan Cheong Fat Tse Mansion. Padahal Cheah Kongsi ini kalau terlihat dari luar jauh lebih megah dibanding penampakan luar Cheong Fat Tse Mansion dan Penang Peranakan Mansion.

Akhirnya kami melanjutkan jalan. Di prapatan Lebuh Pantai, saya bingung mau ke kiri atau ke kanan. Kami coba ke kanan dulu, trus 100 m kemudian ada prapatan Lebuh Aceh, kami jalan. Di sana ada warung es kelapa yang kasih tester minumannya. Karena saya tiba-tiba (sesaat sebelumnya) saya tiba-tiba mules, saya numpang ke toiletnya dan alhamdulillah dikasih ijin , hehehe. Makasih ya kokooo …

Selepas dari sana kami balik lagi ke arah Lebuh Pantai, trus belok kiri hingga akhirnya tiba di perapatan pemadam kebakaran, perapatan Lebuh Chulia. Dari sana, kami nyebrang, masih menyusuri arah jalan Lebuh Aceh yang ujung jalannya ternyata Jam Menara Ratu Victoria, yang masuk kawasan Padang Kota Lama, Penang.

Di perapatan Gereja, tepat di depan gedung OCBC (kalau ngga salah ingat, hehehe) dan di seberangnya ada CIMB Niaga (kalau ngga salah ingat juga) saya sempat memisahkan diri dengan Dedew dan adikku. Saya mau eksplore gedung-gedung klasik peninggalan kolonial Inggris di jalan Gereja, Penang. Waaaa, saya merasa sangat sayaaang bangat kalau melewatkan area kota tua yang cantik ini.

Kami bertemu lagi kira-kira 45 menit kemudian setelah saya jalan-jalan sendirian. Di seberang tempat kami berdiri ada kantor Pusat Informasi Wisata Penang. Kami pun bertanya beberapa tempat yang mau kami datangi kepada Mba amoy yang jaga: Penang Peranakan Mansion,  Museum Negeri Penang atau Penang State Museum, dan juga Chong Fat Tse Mansion atau yang dikenal juga dengan sebutan Rumah Biru, rumah peninggalan orang terkaya di Penang pada abad ke-19.

Tapi ternyata rumah mewah peninggalan Cina yang disebut Penang Peranakan Mansion tidak jauh dari kantor pusat informasi wisata tersebut. Mungkin hanya sekitar 200 – 250 m sahaja (((sahaja))). Dan, mereka juga memberikan informasi kalau Museum Negeri Penang atau Penang State Museum sekarang sedang tutup karena mau direnovasi besar-besaran. Kata mereka, mungkin akan tutup selama 2 – 3 tahun, yaaah… L

Kami pun jalan ke Gedung Penang Mansion. Tapi kami ngga jadi masuk karena bayar tiketnya mahal, hahaha. Kalau ngga salah 20 RM. Alasan lain saya ngga masuk adalah, kan ngga adil juga bagi dedew dan adik saya kalau kami masuk ke Penang Peranakan Mansion. Udahlah bayarnya mahal trus mereka di sana ngga enjoy lagi. Kalau saya masuk sendirian, mereka mau kemana coba. Kan kasian juga mereka juga kalau merekanya ngga enjoy kan, jalan bertiga tapi ngga bisa dinikmati bertiga. Jadi mending saya yang ngalah, yes kaan… 🙂

Kami pun melanjutkan jalan ke Lebuh King, lokasi penginapan kami menginap nanti malam, Cocoa Hotel. Dan ternyata penginapan Cocoa Hotel tersebut berada di seberang Rose Heritage Hotel, agak serong sih. Paling jaraknya 20 – 30 sajooo, hahaha. Niat banget menyusuri kota tua George Town sembari nyari jalan King tempat peginapan kami berada, hahaha.

Kami langsung hek-in aja. Setelah konfirmasi, kami dikasih kamar yang lumayan luas. Kasurnya satu buah yang ukuran queen, satu lagi dipan kayu bertingkat. Jadi kamar ini sangat cocok untuk berempat atau berlima. Karena kami udah cuapeeek banget, kami langsung aja istirahat di sana. Kaki udah berasa mau lepas, hahaha. Tapi untungnya kami happy banget jadinya ‘capek tapi asyik. Lumayan lama kami istirahat, satu setengah jam, rebahan, nyantai-nyantai dulu, hahaha.

Berhubung ceritanya masih panjang, saya cut dulu ya. Ntar insya allah kalau lagi mood ngetik-nya saya lanjut lagi buat catpernya. Karena, selain buat ‘memaksa’ diri saya buat nulis juga sebagai sarana ‘nyampah’ otak melalui nulis, ye kaaan, hehehe.

 

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s