Menyusuri Sepotong Jalan Armenian, George Town, Penang

Gerbang utamanya di jalan Lebuh Pantai, gerbang amping di jalan Armenian

Salah satu tempat tujuan wisata di Kota George Town yang ramai dikunjungi wisatawan adalah Jalan Armenian. Jalan Armenian ini berada di tengah kota tua George Town yang banyak berdiri bangunan-bangunan tua bersejarah yang usianya lebih dari seratusan tahun. Dinamakan dengan jalan Armenian, karena di sepanjang jalan ini dulunya banyak dihuni oleh orang-orang Armenia, Asia Tengah.

Saya waktu jalan ke jalan Armenian ini sehabis keluar dari Mesjid Kapitan Keling. Sewaktu saya bingung mikirin mau hendak kemana dulu, habisnya kiri kanan muka belakang daerah wisata semua. Saya tengak-tengok jalanan di pojokan jalan di depan Mesjid Kapitan Keling, saya liat papan nama jalan Armenian. Ya sutralah, kami jalan menyusuri jalan Armenian. Karena memang niat saya juga nak jalan ke sini juga, hehehe.

Hanya saja, rute yang saya ambil pendek banget. Hanya jalan yang dari pojok jalan Kapitan Keling sampai pojok jalan Lebuh Pantai saja. Setibanya di prapatan Lebuh Pantai kami malah belok kanan, bukannya lurus aja ke seberang jalan yang juga masih jalan Armenian. Belok kanannya paling jauh hanya sekitar 100 – 150 meter saja, terus belok kanan lagi. Ngga tau arah mau kemana nih kami hehehe.

Jadi karena saya hanya menyusuri jalan Armenian hanya sepotong (((sepotong))) saja, saya jadi tidak bisa mampir ke beberapa tempat yang memang sudah saya rencanakan. Misalnya, ke Museum Penang Islamic dan rumah Sun Yat Sen yang berada di ruas lain jalan Armenian ini. Yaaah sayang amat, walaupun saya tiba di sana belum tentu masuk sih, tapi paling nggak saya kan bisa moto bagian depan gedungnya ya kan, hehehe.

Salah satu yang membuat jalan Armenian ini terkenal adalah lukisan dinding atau mural di dinding-dinding kosong di jalan Armenian ini. Lukisan yang terkenal adalah lukisan sepasang bocah yang bersepeda karya pelukis Lithuania Ernest Zacharevic yang judulnya Little Children on the Bicycle. Dan beberapa lukisan lainnya yang banyak diburu traveler untuk berfoto di sana.

Tapi entahlah ya, mungkin karena rasa seni saya yang kurang atau entah karena apa, bagi saya lukisan ini biasa-biasa aja, hahaha. Ngga ada yang istimewa-istimewanya. Sampai-sampai saya heran apa yang membuat orang-orang antri untuk berfoto di sana. Sama kaya kalau kita tiba di suatu bandara ada foto yang gede yang melambangkan daerah tersebut, orang-orang berduyun-duyun berfoto di ana, saya malah ngga mau. Parah ya saya, hahaha.

Berada di jalan Lebuh Armenian ini membuat saya seperti terlempar ke suasana masa lalu yang sering saya lihat di film-film. Rumah-rumah toko ala kota tua cina berjejer di sepanjang jalan yang kecil. Mirip rumah-rumah toko yang ada di kawasan Kota Tua Jakarta ataupun Kota tua di Padang. Cuma ruko kota tua cina di Penang angat terawat, beda dengan di Jakarta atau padang yang sangat tidak terawat.

Tidak hanya rumah-rumah toko yang berjejer, di sepanjang jalan Armenian ini juga ada beberapa klenteng atau kuil-kuil orang cina itu, entah agama budha, konghuchu atau tao. Belum lagi bangunan rumah yang dulunya adalah rumah-rumah saudagar atau pengusaha jaman dulu, atau rumah-rumah perhimpunan atau khongsi. Semuanya terlihat terawat dengan baik. Duuuh sekiranya jalan-jalan kota tua di padang atau di Jakartakaya gini,kan bagus ya. Bisa dijadikan objek wisata sejarah juga, ya kaan… ^_^

Ntarlah kalau ada kesempatan ke Penang lagi, mau dah saya menelusuri jalan Armenian ini dari ujung ke ujung, hehehe. Sekalian siapin biaya tiket masuknya biar bisa masuk ke dalamnya. Jadinya ngga cuma numpang foto di bagian depannya aja, hahaha.

Museum Batik
Pada antri yang mau foto di situ, haha

 

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s