Filosofi dan Sejarah Panjat Pinang Ternyata Sangat Tidak Bagus Ya

Sebenarnya udah lama aku mau posting tentang panjat ini, tapi ngga sempat-sempat mulu. Tiap mau 17 Agustusan, pengen banget nulis ini. Tapi lupa mulu… 🙂 Kaya aku orang sibuk aja deh, hehehe.

Panjat pinang adalah salah satu hiburan atau permainan tradisional masyarakat Indonesia. Setiap memperingati hari kemerdekaan kita, panjat pinang adalah salah satu kegiatan yang banyak diadakan di dalam masyarakat. Bagaimana tidak, panjat pinang ini merupakan kegiatan yang sangat menghibur penontonnya.

Hayoooo siapa yang belum pernah nonton panjat pinang? Kayanya sebagian besar masyarakat kita pasti uah pernah deh nonton permainan ini. Betul betul betuuulll….? Xixixi… 🙂

Oke aku ngga akan membahas tentang bagaimana cara permainannya. Karena kita semuanya pasti udah pada tau dong ya. Yang ingin aku bahas adalah bagaimana filisofi perrmainan ini dan maknanya bagi masyarakat kita.

Kalo kita melihat panjat pinang dari sisi hiburannya, permainan ini bisa dibilang sangat menghibur. Gimana nggak, ngeliat orang yang sudah berusaha menggapai bagian yang lebih tingggi, eh tiba-tiba melorot lagi ke bawah. Itu dari segi hiburannya. Bagaimana dengan filosofi yang terkandung di dalam permainan ini? Yuuukk kita bahas yaa…

Aku melihat ada dua makna yang terkandung dalam permainan ini. Kedua makna ini sayangnya sangat bertolak belakang satu sama lainnya. Bukan saling melengkapi, apalagi saling mengisi. Apa aja sih?

1. Kegigihan, Kerjasama dan Kerja Keras.

Permainan panjat pinang adalah permainan berkelompok atau permainan grup. Mereka peserta lomba ini bekerjasama, gigih dan mengatur strategi untuk bisa mencapai puncak. Bagi mereka bagaimana caranya grup mereka tiba di puncak dan meraih hadiah yang disediakan.

Tahap awal mereka bekerjasama membuang pelumas yang ada di bagian bawah. Dan seterusnya ke atas. Mereka rela bahu membahu untuk mencapai tujuan bersama : puncak pohon pinang yang penuh hadiah.

Tapi, kesuksesan untuk mencapai puncak dalam permainan panjat pinang ini sangat tidak baik. Kenapa? Jawabannya ada pada poin yang berikut.

2. Menginjak Pundak dan Kepala Orang Dalam Meraih Kesuksesan.

Poin yang kedua ini yang paling aku ngga suka. Dalam permainan panjat pinang yang jadi pemenang yang tiba di puncak hanyalah satu orang. Tapi coba kita liat proses kemenangan peserta yang mencapai puncak.

Peserta yang mencapai puncak, siapapun itu, pasti mengalami diinjak dan menginjak teman timnya sendiri. Pilihannya hanya ada dua, menginjak teman atau diinjak teman. Bagian tubuh yang diinjak nggak hanya puncak saja tapi bisa juga kepala. Dan setiap peserta wajib ‘menyediakan dirinya’ untuk diinjak supaya anggota lainnya naik, mencapai puncak.

Bagiku, poin yang kedua sangat tidak bagus nilainya : menginjak teman sendiri untuk mencapai tempat yang tinggi. Dan setiap peserta akan melakukan hal yang sama untuk mencapai apa yang ia ataupun grupnya ingin raih.

Aku ingat banget, seorang buya atau ustadz di mesjid di dekat rumahku di kampung sana beberapa kali mengangkat topik ini ketika berceramah. Bahwa betapa tidak bagusnya nilai-nilai yang terkandung dalan lomba panjat pinang ini. Dan tidak seharusnya panjat pinang diadakan pas 17 agustusan.

Dan tadi, ketika googling tentang sejarah panjat pinang, aku makin sepakat bahwa lomba atau permainan panjat pinang sebaiknya tidak diadakan lagi untuk mengisi kemeriahan Hari Ulang Tahun Republik tercinta ini. Bahwa ternyata panjat pinang diadakan oleh kaum kompeni Belanda.

Mereka, kaum kompeni penjajah ini mengadakan acara ini sebagai hiburan bagi mereka, melihat kelucuan orang-orang pribumi yang ‘berebutan’ meraih hadiah ‘mewah’ yang diberikan kompeni. Sementara kita justru menyemarakkan hari kemerdekaan dengan acara yang sejarah permainannya saja justru melecehkan bangsa kita. Sangat miris kan?

Jadi, masih pantaskah acara panjat pinang ini kita lestarikan dan kita tampilkan pada perayaan hari kemerdekaaan kita? Menurutku sih nggak…! :)

Itu hanya opiniku saja sih… Entah dengan teman-teman, apakah ada yang sepakat atau tidak? 🙂

Advertisements

33 thoughts on “Filosofi dan Sejarah Panjat Pinang Ternyata Sangat Tidak Bagus Ya

  1. Bagus bangat ulasannya Mbak Firsty ^_^ , keren bahasanya , dari dulu saya juga berfikir gituh , cuma mikirnya bakalan di bully kalau bilang nggak bagus soalnya sudah jadi kebiasaan turun temurun setiap 17-an .Semoga saja nggak mengendap jadi mental masyarakat. 😦

  2. Siapapun yg mencapai puncak kan akan mengambil/menjatuhkan semua hadiah yg tersedia, dan nantinya akan dibagi2 buat teman satu teamnya, kalau saya melihat sih “kerjasama” untuk mendapatkan hadiah yg disediakan yg nantikannya hadiahnya dinikmati bersama ko 😉 .

  3. ya kalau dilihat saling menginjak dan kotor2annya ya nggak ada bagus-bagusnya. cuma kalau dilihat dari sisi atau sudut pandang lain seperti di poin pertama, sangat bagus.

    jadi tergantuing melihatnya dari sisi mana 😀

  4. Pingback: Dirgahayu Republik Indonesia Yang Ke 70 | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s