Balairung Sari Tabek, Pariangan, Batusangka, Tanah Datar Sumatera Barat

Salah satu situs wisata budaya yang ada di nagari Tabek, Pariangan adalah situs budaya Balairung Sari. Oya, saya sengaja mencoret kata wisata tersebut karena saya yakin sangaaaat jarang orang menjadikan Balairung Sari Tabek tersebut sebagai objek wisata, hehehe. Hanya orang yang suka wisata budaya purbakala yang tertarik buat jelong-jelong ke sana.

Ketika saya dan adik saya hendak pulang, kami melewati Batusangka. Sekitar 2-3 km dari pasar Simabua saya melihat plang jalan raya yang menyatakan belok kanan merupakan jalan menuju ke situs budaya Balairung Sari Tabek. Maka saya pun meminta adik saya belok kanan, mampir ke sana. Dia agak ngedumel tapi tetap mau belok kanan, hahaha.

Ternyata, jarak situs budaya Balairung Sari dari jalan raya tidak jauh. Mungkin jaraknya maksimal hanya 500 m. Di sebelah kiri jalan nagari tersebut berdiri bangunan bagonjoang yang panjang dengan halaman yang luas. Maka kami pun berhenti di sana, dan parkir persis di samping pagar masuk.

Balairung Sari ini merupakan bangunan Medan Nan Bapaneh, atau tempat para datuk,ninik mamak di Minangkabau bermusyawarah. Bentuk bangunannya seperti rumah gadang tetapi tanpa dinding dan beratap ijuk yang tebal dan rapat. Balairung ini memanjang dari barat ke timur sepanjang sekitar 30 meter (menurut perkiraan saya). Tinggi lantainya dari tanah sekitar satu meter maksimal. Tiang-tiang dan juga palang-palang lantai serta pasaknya tampak masih sangat kokoh meski terlihat sudah sangat tua.

Usia Balairung Sari ini sekitar 400 tahun. Balairung ini dibangun dengan cara menggunakan pasak untuk saling menyambung tiang-tiang dan palang-palangnya. Jadi tidak menggunakan paku ataupun yang sejenisnya. Kayu-kayu yang digunakan tampak sangat kuat, dan kayu lantainya pun juga sangat tebal. Gimana ukuran secara fisik saya ngga nyari info ya (lagi malas, hehehe), tapi nanti deh saya edit lagi kalau udah mood, hehehe.

Fungsi balairung ini pada zaman dahulunya adalah sebagai tempat bermusyawarah para penghulu, ninik mamak, cerdik pandai untuk membahas semua permasalahan yag terkait nagari dan adat. Masyarakat bisa mengikuti musyawarah secara langsung dari halaman balairung. Makanya bangunan ini dibuat tanpa dinding. Tapi saya tidak tau apakah sekarang fungsi balairung ini masih berfungsi sebagai tempat untuk bermusyawarah atau tidak. Semoga sajamasih ya, ngga cumadijadikan sebagai situs budaya saja.

Yang unik dari bangunan ini adalah, lantai balairung ini terpisah di bagian tengah selebar kira-kira 1 meter. Lantai tidak menyambung menjadi satu meski atapnya tetap menyambung. Dari informasi yang saya sempat saya baca di mbah gugel, bagian lantai yang terpisah merupakan jalan bagi kendaraan raja yang hendak menuju balai istirahat yang ada di tengah tabek atau kolam.

Oya, yang merancang dan membangun Balairung ini adalah Datuk Tan Tejo Gurhano. Makam Datuk Tan Tejo Gurhano ini terdapat di Nagari Pariangan. Makamnya konon panjang banget. Kebetulan sekitar satu jam sebelumnya saya lihat makamnya dari luar pagar kompleksnya karena pagarnya terkunci. Sayang banget pagarnya dikunci, ngga dibuka. Akibatnya pengunjung tidakbisamelihat kondisi makamnya.

Melihat suasana Balairung tersebut, saya yakin sangat jarang sekali yang berkunjung ke sini. Mungkin hanya orang-orang yang menyukai situs sejarah dan budaya saja yang berkunjung ke sini. Tapi untungnya kompleks balairung ini bersih dah cukup terawat meski sepi pengunjung. Paling ngga yang suka wisata sejarah budaya kaya saya senang melihat tempat ini terawat.

Saya sih di sini ngga lama. Mungkin hanya setengah jam saja. Setelah selesai liat-liat dan cekrak cekrek kami langsung balik lagi pulang, melewati Batusangka. Tetapi, kami saya masih sempat mampir sebentar ke Mesjid Tua Lima Kaum dan Situs Budaya Kubu Rajo, salah situs makam-makam tua raja-raja minangkabau yang terdapat di Lima Kaum, Batusangka. Saya akan buat postingan tersendiri ya… 🙂

 

 

 

 

Advertisements

6 comments

  1. bagus banget, saya suka tempat ginian, namun harus ditemeni pemandunya, karena mereka lebih tau tentang benda benda yang sepele namun kenyataannya memiliki sejarah yang tinggi

  2. […] 9. Balairung Sari, Tabek, Batusangka. Balairung Sari Tabek ini adalah salah bangunan Medan Nan Bapaneh, atau bangunan untuk musyawarah para ninik mamak. Balairung Sari ini berada di Nagari Tabek, Pariangan. Bangunan ini panjang dan tanpa dinding dengan atap yang terbuat dari ijuk. Dan pembuatan bangunan ini menggunakan sistem pasak, sehingga tidak menggunakan paku atau sejenisnya. Usia bangunan ini diperkirakan sudah mencapai 400 tahun. Lokasi Balairung ini sekitar 500 m dari jalan raya Batusangka – Padang Panjang. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s