Mesjid Raya Islamic Centre Padang Panjang, Sumatera Barat

Beberapa waktu yang lalu saya dan sahabat saya ke Padang Panjang. Kami berangkat dari Solok sudah siang banget. Jam sebelas kurang baru jalan dari Solok. Nah pas tiba di Mesjid Raya Ngalau adzan zhuhur baru berkumandang. Tapi kami memutuskan mau shalat Zhuhur di mesjid yang berada di pusat kota Padang Panjang. Nama mesjidnya saya lupa, mesjid yang didirikan oleh mantan menteri agama, Bapak Tarmidzi.

Eh baru saja melewati Mesjid Raya Ngalau sekitar beberapa puluh meter, kami melihat ada menara mesjid yang menjulang di kejauhan du bawah bukit yang berada sebelah kiri jalan raya. Kami saling bertanya itu mesjid apa, karena kami yakin bahwa sebelum-sebelumnya mesjid tersebut. Serentak kami mempunyai pikiran yang sama untuk shalat di sana.
“Mau shalat di sana?” saya bertanya.
“Hayuklaaah!”sahabat saya menjawab.
Motor yang saya kendarai langsung belok kiri dari jalan raya persis sebelum jembatan kereta apa yang berada di atas jalan raya.

Kami melewati jalan perkampungan kecil yang berada di pinggir jalan raya. Sueeeer deh, perkampungannya indah karena dikelilingi persawahan dan ladang yang dekat dengan perbukitan. Jalan yang kami lewati berputar-putar melewati perkampungan karena tidak ada jalan yang lurus yang langsung menuju mesjid. Perkampungan pegunungan yang indah dengan rumah-rumah yang menunjukkan ekonomi pemiliknya sudah mapan.

Ada jalanan desa yang keilbanget, yang kalau ada mobil lewat, motor pun harus berhenti. Jalanannyasudah pakai trotoar, jadi terlihat sangat rapi. Di ujung jalan kecil tersebut ada jalan raya yang lebar (saya dan motor saya langsung bernapas lega, hahaha lebay). Kami belok kanan. Saya terus mengendarai motor di jalanan yang kiri jalan tersebut merupakan perbukitan.

Setelah berjalan lebih kurang 1 kilometer ketemu jalanan yang menurun yang menuju Mesjid Raya Islamic Centre Padang Panjang. Simpang mesjid tersebut berada di kanan jalan. Jalanan yang masih bebatuan tersebut saya yakin merupakan jalan keluar masuk truk proyek pembangunan Mesjid Islamic. Hanya ada satu rumah yang berada di kaki bukit di pinggir jalan tersebut.

Duh sayang banget gambarnya burem.

Saya mengendarai motor dengan hati-hati. Sebenarnya turunannya tidak terlalu tajam, tetapi karena jalanannya berbatu, makanya jadi serem, hehehe. Menurut keterangan ibu-ibu penjual makanan kecil di halaman mesjid, jalanan yang sekarang ada nantinya akan jadi jalan belakang mesjid. Jalan utama yang akan menjadi gerbang mesjid akan dibangun dibagian timur mesjid.

Mesjid Raya Islamic Centre ini belum benar-benar rampung 100 persen, tapi masyarakat sudah bisa melaksanakan shalat berjamaah di sana. Hanya tinggal pintu yang masih belum jadi. Kalau saya perhatikan mesjid ini akan mempunyai 9 yang pintu besar, tapi baru satu pintu yang selesai dipasang. Daun pintu yang berornamen kuningan tersebut terpahat lafal Allah dan Muhammad dalam huruf hijaiyah.

Menurut perkiraan saya, luas ruang utama banguna mesjid ini adalah sekitar 25 m x 25 m. Langit-langit mesjid ini cukup tinggi sehingga menjadikan mesjid ini terlihat makin luas dan besar. Di tengah-tengahnya tergantung lampu gantung kristal.

Yang membuat saya heran adalah: mesjid ini belum benar-benar selesai pembangunannya, dan lokasi mesjidnya pun bukan berada di pusat kota malah berada di daerah sepi yang berjarak hampir 1 km dari perumahan penduduk dan jauh dari jalan raya. Tapi kenapa sudah banyak pengunjungnya ya? Ini terlihat dari adanya beberapa mobil yang terlihat sengaja datang ke mesjid ini. Nomor plat mobil yang saya lihat tersebut bukanlah plat mobil daerah padang panjang.

Saya kepo dong, dan setelah saya tanya ibu-ibu penjual makanan, baru saya tau jawabannya. Rupanya mesjid ini sudah digunakan Ustad Abdul Shamad untuk berceramah di Padang Panjang. Jadi pantas saja sudah ada pengunjung dari daerah lain yang shalat di sini.

Ketika saya berwudhu, saya pikir tempat wudhunya terkecil untuk mesjid yang ukurannya besar yang nantinya akan sering diakan banyak kegiatan keagamaan. Hanya ada 3 toilet (yang satu toilet malah menggukanan wc duduk, huffff) dan keran untuk wudhu yang kurang dari 10 buah. Saya tidak tau apakah ada di sisi lain mesjid yang juga tersedia tempat wudhunya. Mudah-mudahan aja ada ya.

Keunggulan mesjid ini adalah berada di lingkungan yang sangat alami dengan pemandangan yang indah perbukitan, sawah dan juga gunung. Di sisi timur dan selatan mesjid terdapat perbukitan yang hijau seger, pohon-pohonnya masih lebat. Sementara sisi utara dan barat mesjid terhampar sawah-sawah dengan pemandangan Gunung Singgalang bagian utara. Jadi tidak heran di dalam mesjid banyak beterbangan burung pipit, hehehe.

Dan, kalau sekiranya mesjid ini berada di tengah kota, maka mesjid ini akan terlihat sangat gersang halaman mesjid ditutupi semen dan marmer. Juga tidak ada pohon di dalam lingkungan mesjid sehingga mesjid akan terasa panas banget. Untung suasana di sekitarnya adeeem banget. Semoga nanti pepohonan ditanam di lingkungan mesjid ya.

Ketika kami meninggalkan mesjid, kami mengambil jalan dengan arah yang berbeda. Suasana perkampungan pegunungan di kaki bukit sungguh terasa, meski berada di wilayah kota Padang Panjang. Ujung jalan yang kami lewati tersebut adalah bagian belakang pasaraya Padang Panjang.

Yuuuk, kalau jalan ke Padang Panjang silahkan coba shalat di sana ya.

Dimaa bumi dipijak di situ awak makan karupuak leak, hehehe.

 

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s