Cerita Ngajar Sempoa : Ini Namanya Guru Tidak Bertanggung Jawab

20160416_214612-1.jpg

Untuk bikin postingan ini, saya sampe nyari sempoa yang ternyata udah karatan (baca:debuan) hehehe

Beberapa waktu yang lalu, saya di-wa oleh Miss X seorang pemilik lembaga kursus di sekitar Kebon Jeruk. Dulu, beberapa tahun yang lalu saya pernah ngajar freelance sekitar 3 bulan di sana. Tetapi karena di tempat les yang satunya saya ngajar bimbel juga, saya lepas yang di daerah (sekitar) Kebun Jeruk tersebut. Tapi bukan di Kebun Jeruk loh ya.

Miss X ini minta tolong saya gantiin guru yang mau cuti hamil bulan Mei besok. Tapi ternyata si guru ini udah lahiran beberapa hari yang lalu, meleset jauh dari perkiraan. Jadilah miss X minta saya ngajar mulai minggu ini. Dia minta saya ngajar full di sana setiap hari dan menyarankan murid privat saya dipadatin saja. Waddduh, ya ngga bisa dong. Masa iya dia yang baru minta tolong tapi murid saya yang lama harus menyesuaikan diri alias dirugikan dengan jadwal di tempat les-nya.

Akhirnya saya bilang, saya hanya bisa Sabtu pagi saja, ngga bisa di hari lain. Beberapa yang lalu kami deal buat saya ngajar di tempat les-nya hari Sabtu. Maka jadilah jadi saya ngajar di sana tadi pagi. Tapi saya ngga ngajar bimbel atau pelajaran sekolah tapi ngajar sempoa, alias alat itung yang berasal dari Cina.

Tadi pagi saya ngajar dengan 4 orang murid dengan empat macam tingkatan. Oke, soal empat murid dengan empat macam tingkatan, atau bahkan 5 murid dengan 5 macam tingkatan ngga masalah bagi saya. Karena toh saya sudah biasa menghadapi suasana kelas yang seperti itu.

Tapi yang jadi masalah adalah, kemampuan yang dimiliki anak-anak tersebut. Sebagai teacher pengganti, saya kan harus tau dulu kemampuan mereka sampai di mana kan, maka saya menguji kemampuan mereka melalui azas. Kalau azas si anak bagus, maka itungan sempoanya bisa dibilang bagus. kalau azasnya jelek, maka hitungan semponya juga jelek.

Azas ini adalah istilah dalam sempoa dimana kita siswa melakukan penjumlahan atau pengurangan berulang sampai nilai yang ditetapkam. Misal, azas tambah satu ( + 1), siswa melakukan penambahan 1, 1+1+1+1 + … sampai 50 atau 100. Atas azaz kurang 2 (-2), dimana siswa melakukan pengurangan 2, mulai dari 50 atau 100. Dari situ ketahuan bagus atau tidaknya kemampuan sempoa seorang siswa.

Ketika saya melakukan azas + 1, + 2 dan azas + 3, saya tau bahwa anak-anak ini sangat bermasalah dalam sempoa mereka. Kemampuan sempoa mereka tidak berbanding lurus dengan tingkat atau level yang sedang mereka pelajari. Masa iya tingkat atau level 8 kemampuan dasar sempoanya setara dengan kemampuan level 4 (yang diajarin dengan benar sesuai aturan sempoa)?

Anak level level 5 kemampuan sempia dasarnya setara dengan level 2 (kalau diajarin benar)? Dan masa saya harus memperbaiki lagi bangunan yang sudah rusak parah? Mendingan hancurin sekalian baru bangun lagi dong ya. Dan kepala saya mulai cenat-cenut. arrgg…

Kemudian saya uji lagi kemampuan dikte mereka. Lagi-lagi bikin kepala saya cenat cenut. Kecepatan alias speed dikte saya bisa dibilang low banget, tapi kedua anak ini bilang saya terlalu cepat mendiktekan. Haaa?? Masa iya. Ini udah pelan banget bro… Kata kedua anak ini mereka jarang didiktekan. Dan kalau ada diktepun mereka ‘ditunggu’ gurunya melakukan penghitungan di sempoa. Haduuh… Mana boleh seperti itu.

Belum lagi banyak disiplin sempoa mereka yang amburadul banget. Dalam sempoa untuk melakukan penambahan satuan (1, 2, 3, 4) puluhan (10, 20, 30, 40) serta ratusan dan ribuannya harus megggunakan jari jempol. Dan untuk melakukan pengurangan satuan (1, 2, 3, 4), puluhan (10, 20, 30, 40) dan juga ratusan, ribuan menggunakan jari telunjuk. Dan untuk bilang 5, 50, 500, 5000, 50.000 menggunakan jari telunjuk juga.

Nah, anak-anak ini benar-benar ‘hancur’ banget dalam penggunaan jari ini. Ada yang penjumlahan bilang 1,2,3,4 serta puluhan dan ratusannya menggunakan jari telunjuk. Itu udah salah kan. Pengurangan benar menggunakan jari telunjuk. Dan untuk manik angka 5 juga menggunakan telunjuk lagi.

Ada anak yang sudah benar melakukan penjumlahan menggunakan jari jempol tapi pengurangannya juga menggunakan jempol. Dan penggunaan manik 5 juga menggunakan jempol. Salah banget kan? Jadi intinya dengan kemampuan dasarnya yang tidak bagus serta kesalahan disiplin sempoanya yang sangat amburadul, bisa dibilang anak ini mengalami kerugian paling ngga sudah 50%.

Ibarat membangun rumah, ini rumah sudah dibangun dengan kesalahan mencapai 50 % dari rancangan asli. Terbayangkan ruginya anak dan orangtua dari segi waktu dan biaya?

Nah, yang saya pertanyakan adalah apakah gurunya tidak punya nurani ya? Ia menerima gaji dari tempat dia bekerja berasal dari uang les muridnya. Tetapi si gurunya hanya memberikan 50% atau paling maksimal banget 60% (udah baik banget penilaian gue nih) dari yang seharusnya diterima murid? Apa dia ngga mikir, orangtua muridnya itu sudah keluar uang banyak dan juga menghabiskan waktu yang banyak untuk les anaknya ini?

Coba kita hitung ya, semisal si murid sudah berada di tingkat 8 (tadi sudah tes akhir tingkat 8). Dan misal satu tingkat paling nggak 3 bulan atau 4 bulan, kali 8 tingkat, maka paling nggak si anak sudah belajar selama 24 bulan (2 tahun)  – sampai 32 bulan (2,5 tahun lebih).

Dan semisal uang lesnya rata-rata 300.000 per bulan, kita kali dengan jumlah bulan yang ia keluarkan. Berapa uang kes yang harus dikeluarkan orangtuanya? Rata-ratanya adalah 7.200.000 – 9.600.000. Belum lagi bensin mobil atau motor orangtuanya. Dan terutama adalah waktu yang sudah mereka keluarkan untuk les ini.

Apa gurunya ngga berpikiran sejauh itu ya? Atau saya aja yang terlalu lebay memikirkan hal tersebut sampau sejauh itu. Tapi paling ngga pikirkan lah, bahwa si anak ini sudah belajar, berikanlah yang terbaik yang seharusnya mereka terima. Jangan sampai level kelas sudah 8 tapi kemampuan dasar hanya sampai 4 atau maksimal 5 (baek banget gue ngasih 5). Anaknya udah capek-capek belajar tapi hasilnya ngga ada (ada sih tapi cuma setengah dari kemampuannya).

Hayooo, ngajar jangan cuma pikirin gaji dong, pikirin kualitas. Kalau satu atau dua anaknya yang super lemot lain cerita. Itu bukan salah guru. Tapi kalau gurunya yang salah ngajar dan lari jauh dari rel atau rambu-rambu yang diberikan berarti nurani gurunya sudah hilang. Ngajar jangan cuma buat sekadar nyari duit, gaji bulanan tanpa memikirkan tanggung jawab terhadap anak dan orangtua murid serta tanggung jawab di akhirat kelak (naaah kan, lebay lagi kan gue?).

Dan pertanyaan pertama saya adalah : bagaimana kalau si guru tersebut punya anak, dan les dengan guru yang sama yang sama tidak bertanggungjawabnya dengan dia? Jawab dah…

Pertanyaan kedua adalah, apa saya aja kali ya yang terlalu repot dan lebay memikirkan sampai segitu jauhnya?

30 thoughts on “Cerita Ngajar Sempoa : Ini Namanya Guru Tidak Bertanggung Jawab

  1. Saya malah tidak bisa pakai sempoa Mbak :hehe. Agak keterlaluan ya gurunya, egois dalam mengajar cuma memikir gaji yang didapat padahal anak didiknya butuh ilmu yang berguna, kalau begini kan muridnya tidak dapat apa-apa? Tapi kok orang tua atau bimbel nggak ada yang protes ya? Haduh serba salah deh kalau begini… akhirnya bagaimana Mbak? Menurut saya Mbak mesti ngomong sih sama pihak bimbelnya, yah bukan maksud ngadu tapi kalau dibiarin terus kan nggak baik juga.

    • Salah satu indokator yang membuat orang tua dan pihak kursus tidak tau adalah mereka ngga pernah ikut lomba (dari pengakuyan ana2nya). makanya tidak tau kualitas anaknya.

      harusnya orangtua juga sering iseng2 uji anak2nya di rumah…

      aku udah bilangin ke pihak lembaganya tapi pihak lembaga mungkin kurang paham juga karenatidak mempunyai basic sempoa…

  2. Saya juga nggak bisa sempoa wa ha ha…… Tapi sebenarnya kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh guru adalah kurangnya memahamkan dasar pelajaran dengan kuat. Itu sudah biasa, belum cukup mahir di hal2 dasar sudah diajari terapan lainnya. Coba deh suruh anak sma menjumlah matematika sederhana 2 + 4 × 3, pasti ada aja yg jawab 18. Padahal udah Sma. Memang pendidikan di indonesia sangat memprihatinkan.

    • iya benaaar… aku kan pernah biki postingan tentang ituuu, tentang kabataku… 🙂

      kudu punya guru yang ngga ahanya pintar tapi juga paham dasarnya dan cerdas dalam menyampaikannya… 🙂

  3. Itu… kok sempoanya agak ribet ya mbak ._. duuuuh….

    Eng… bener sih -_- banyak dosen yang kayaknya itu kurang bertanggung jawab. Kayak ngajar sekenanya aja, tanpa bener-bener tau apakah siswanya ngerti atau enggak -_- huuuft

    • ngga ribet sih… yang penting yang ngajarnya bisa bikin yang belajar enjoy…hehehe

      kalau dosen ngjar sekenanya, mahasiswa paling ngga masih bisa nanya sana sini ke treman atau ke mbah gugel… dan ke buku tentunya.

      kalau sempoa kan merupakan pendidikan yang khusus… jadi harusnya ngajarinnya benar krn ga semua yang bisa sempoa.

    • sudah saya bilangin, tapi pihak tempat kursusnya ingin tetap ada standar jumlah soal yang harus dikerjakan. Tapi gegera jumlah soal yang ditetapkan, kemamppuan sempoanya ngga diperhatikan.

  4. Mungkin juga gurunya kurang paham dengan dasar-dasar sempoa dan nekat mengajar ketika kesempatan datang. Atau mungkin begitulah ia diajari.

    Menurut gue institusi punya porsi tanggung jawab yang besar karena gak mengecek kualitas guru tersebut.

    • Dia ngajar sudah beberapa tahun, harusnya sudah paham banget.

      Tadi aku datang lagi ke sana. murid yang sabtu kemaren ngga datang, tadi datang. kondisinya sama. bikin pala cenat cenut…

      Institusinya udah aku bilangin, tapi dia menetapkan standar jumlah soal yang harus dikerjakan siswa… Sehingga (mungkin ya) guru sebelumnya lebih mengejar jumlah soal…

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Firsty….

    Memang bener mbak… guru yang memikirkan gaji sahaja tanpa menunaikan tanggungjawab memandaikan muridnya itu dinamakan tidak bertanggungjawab dan perlu diberi kesedaran. Kualiti pengajaran kita telah dibayar dengan wang dan kepercayaan ibu bapa untuk memberi ilmu kepada anak-anak mereka. Kasihan ya anak-anak tersebut. Saya salu sama mbak Firsty kerana perihatin hal seperti ini. Semoga kebaikan selalu bersama mbak. Aamiin.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak.:)

    • Iya Ka Siti… Tanggung jawabnya yang sangat berat. Kita kan tidak hanya sekadar mengajar tetapi juga harus mengajar yang berkualitas… Demi anak-anak itu sendiri dan demi orangtua mereka yang sudah membayar uang les

  6. Tandanya Firsty peduli dengan anak-anak ini, jadi wajar mempertanyakan kualitas guru sebelumnya. Sayang memang kalau sudah bayar mahal, standar yg diinginkan tidak tercapai. Mungkin bisa ditanyakan ke institusinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s