Rubuhnya Rumah Gadang Kami

sekarang, rumah gadang yang ada di Koto Baru, Solok ini sudah benar-benar rubuh… *nangis

Sekilas judulnya kayanya cerita AA. Navis ya, yang berjudul : Rubuhnya Surau Kami. Tapi memang sih idenya dari judul novel tersebut, Rubuhnya Rumah Gadang Kami. Rumah gadang yang rubuh yang aku posting ini adalah rumah gadang banyak saya liat yang sudah mau hancur karena sudah dihuni lagi oleh pemiliknya.

Sebenarnya sedih liat rumah gadang yang mau rubuh ini, tapi mau gimana lagi coba. Saya walaupun pecinta rumah gadang, tetaplah orang lain yang hanya bisa sedih, tidak bisa berbuat apa-apa. Karena pada kenyataannya di kampung-kampung Sumatera Barat banyak sekali ditemukan rumah kosong yang tak berpenghuni.

Continue reading

Rumah Gadang ~ Rumah Tradisional Minang Kabau

Rumah Gadang adalah sebutan untuk rumah tradisional yang berasal dari Ranah Minang, Sumatera Barat. Sumatera Barat. Arti Rumah Gadang adalah Rumah Besar. Beberapa dialek di beberapa daerah di Sumatera Barat menyebut lema Gadang dengan Godang, sehingga sebutan untuk Rumah Gadang pun berubah menjadi Rumah Godang.

Rumah Gadang merupakan rumah panggung yang berbentuk persegi panjang dan atapnya secara umum diketahui mempunyai tajuk yang runcing ke arah atas yang mirip dengan tanduk kerbau. Bentuk atap yang meruncing ke atas ini disebut gonjong. Sehingga Rumah Gadang bisa juga disebut dengan rumah Bagonjong atau bagonjoang. Dulu, atap rumah Gadang terbuat dari ijuk. Zaman sekarang, selain Rumah Gadang yang beratapkan ijuk, Rumah Gadang mempunyai atap dari seng atau juga atap dari genteng buatan pabrik.

Bagian dalam Rumah Gadang terdiri dari ruang lepas yang memanjang dari kiri ke kanan rumah yang kamar yang juga berderet dari kiri dan ke kanan. Di dalam bagian juga terdapat tiang-tiang yang berderet dari kiri dan ke kanan serta dari depan dan ke belakang. Tiang yang berderet dari kiri ke kanan ini menandai jumlah kamar yang terdapat di dalam Rumah Gadang. Sementara tiang-tiang berderet dari depan ke arah belakang disebut dengan lanjar.

Istana Pagaruyuang, Batusangka

Istana Pagaruyuang, Batusangka

A. Bagian Dalam rumah Gadang.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa Rumah Gadang berbentuk bangun bidang persegi panjang. Ruangan Rumah Gadang berupa ruangan lepas yang memanjang dari kiri ke kanan dari pintu. Di seberang pintu meupakan lorong yang mejuju ke dapur.

Kamar-kamar rumah berderet di seberang sisi pintu. Kamar-kamar ini ada yang berjumlah sama di tiap sisi kiri dan sisi kanannya, ada juga yang beda. Yang kanan berjumlah genap, yang kiri berjumlah ganjil yang satu ruang lebihnya dari sisi kanan (perspektifnya kita menghadap ke rumah yaaa).

Kamar yang paling ujung atau yang paling kiri atau kanan merupakan kamar yang biasa dijadikan kamar pengantin. Kalau ada anak perempuan (anggap perempuan pertama) yang menikah, maka ia menempati kamar yang paling ujung. Orang tua yang tadinya menempati kamar ujung pintah ke kamar sebelahnya. Dan beberapa tahun kemudian jika ada anak perempuan lagi yang menikah (anak perempuan ke dua), maka anak perempuan kedua menempati menempati kamar ujung, si anak pertama tadi akan mundur ke kamar sebelahnya, dan orangtuanya akan mundur juga.

Atau bisa juga anak pempuan kedua tadi menempati kamar yang di bagian ujung yang satunya lagi. Nanti, kalau ada yang menikah lagi, maka sistem penempatan kamar akan bersiklus seperti yang disebutkan di atas.

Bentuk rumah gadang bagian dalAM

Bentuk rumah gadang bagian dalam

B. Bagian Depan Rumah Gadang.

Umumnya bagian dinding depan Rumah Gadang berupa papan yang diukir. Ukiran-ukiran ini merupakan ukiran yang penuh warna dan kontras. Berbagai jenis ukiran ini mengandung filosofi-filosofi kehidupan bermasyarakat Minang Kabau yang berprinsip Alam Takambang Jadi Guru ~ Alam yang Terbentang Jadi Guru).

Contoh nama ukiran tersebut adalah : Kaluak Paku Kacang Balimbiang yang menggambarkan sinergi kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Kaluak Paku Kacang Balimbiang, Anak dipangku Kamanakan Dibimbiang alias, Anak Dipangku Keponakan Dibimbing, mengajarkan bahwa (secara bahasa) : Seorang pria memangku, menyayangi anak tanpa melupakan perannya sebagai Mamak (paman ~ sebutan untuk saudara dari laki-laki ibu) bagi keponakannya. Artinya bahwa, si anak mendapat cinta kasih sayang serta bimbingan dari ayahnya dan ia juga bimbingan dari Mamaknya.

Selain itu ukiran Kaluak paku Kacang Balimbiang juga mengajarkan hidup tenggang rasa dalam bermasyarakat dan bernagari, menjunjung tinggi nilai adat serta afrif dan bijaksana dalam berbicara dan bertindak. Selain itu tumbuhan paku (pakis) semakin memanjang ujungnya akan akan semakin masuk melingkar ke dalam yang bermakna bahwa sebagai manusia tidak boleh sombong, pongah, harus selalu makin rendah hati.

(Ntar ya saya coba bikin postingan tersendiri tentang ukiran minang yaaa… )

Rumah Gadang VI Suku Solok

Bagian depan rumah gadang ini ada surambinya

Pintu depan Rumah Gadang biasanya terdiri dari dua macam yaitu :

1. Rumah yang tidak mempunyai Surambi alias serambi atau Beranda.

Tangga yang terdapat pada rumah yang tidak mempunyai surambi ini berada langsung langsung di depan pintu. Tangga rumah persis berada di bawah pintu rumah. Bagian atas tangga diberi atap yang berfungsi melindungi tangga pintu dan tangga hujan dan panas matahari.

2. Rumah yang mempunyai Surambi.

Jenis rumah yang mempunyai surambi ini mempunyai tangga yang berada di sisi kiri dan sisi kanan surambi. Surambi ini biasanya digunakan oleh penghuni rumah untuk duduk santai dan untuk menerima tamu yang sangat akrab seperti teman dan tetangga.

Istano atau Istana Pagaruyuang dan rumah adat di Taman Mini Indonesia Indah adalah tipe Rumah Gadang yang tidak mempunyai surambi. Mungkin aja tipe Rumah Gadang lama zaman dulu banyak yang tidak ada surambi. Dan semakin ke sini rumah gadang yang dibangun orang banyak yang memakai surambi.

Ini rumah gadang sepertinya rumah gadang tembok

Ini rumah gadang sepertinya rumah gadang tembok

C. Atap Rumah Gadang.

Gonjoang atap Rumah Gadang terdiri dari 2 jenis yaitu :

1. Atap Ampek Gonjoang, atau Atap 4 Gonjoang.

Rumah yang atapnya empat gonjoang ini terdiri dari 2 gonjoang di bagian kiri dan dua gonjoang di bagian kanan. Rumah yang atapnya 4 gonjoang ini merupakan rumah dimiliki oleh masyarakat Minang Kabau yang menganut hukum adat Lareh Bodi Caniago atau sistem hukum adat minang yang mengacu pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Datuak Perpatih Nan Sabatang.

2. Atap Anam Gonjoang atau Atap 6 Gonjoang.

Rumah yang atapnya enam gonjoang ini terdiri dari 3 gonjoang di bagian kiri dan 3 gonjoang di bagian kanan. Rumah yang beratap 6 gonjoang ini merupakan rumah yang dimiliki oleh masyarakat Minang Kabau yang menganut hukum adat Lareh Koto Piliang atau sistem hukum adat minang yang mengacu pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Datuak Ketemanggungan.
(Ntar juga deh, bikin postingan tentang kedua Datuk tersebut.)

Tapi Istano Pagaruyuang mempunyai 6 gonjoang plus satu gonjoang puncak yang mengarah ke depan dan belakang, serta gonjoang di tangga.

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas... Pengeenn

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas… Pengeenn

Secara umum, Rumah Gadang Minang Kabau yang dikenal adalah rumah gadang yang beratap bagonjoang yang meruncing ke atas. Tapi tidak semua Rumah Gadang yang beratap seperti itu. Ada tipe rumah asli Minang Kabau yang puncak atapnya rata dari kiri ke kanan, alias tidak mempunyai gonjoang dan tidak diberi ukiran di bagian depannya. Hal ini mungkin saja karena pemilik rumah belum mampu secara finansial membangun rumah seperti ini (seperti rumah nenek saya dulu).

Tipe rumah beratap ijuk dan lapisan berukir ini merupakan tipe asli Rumah Gadang yang berasal dari daerah Darek. Daerah Darek adalah daerah wilayah asal masyarakat Minang Kabau dari daerah Luhak Nan Tigo yaitu :Tanah datar, Agam dan Limo Puluah Koto), yang merupakan daerah pegunungan.

Sementara daerah yang bukan daerah Darek disebut juga daerah Rantau alias daerah penyebaran (diaspora) atau daerah pengembangan masyarakat Minang Kabau yang merantau dari wilayah Darek. Contohnya adalah Minang Kabau yang berada pesisir barat pantai sumatera. Di daerah rantau ini selain rumah yang ber-gonjoang, juga banyak ditemukan rumah yang beratap tanpa gonjoang.

D. Bagian Samping dan Belakang Rumah.

Bagian samping dan belakang Rumah Gadang, selain berdinding papan polos, juga dilapisi bilah bambu yang disususun berlapis pada lapisan luar dinding papan. Dinding bambu ini berfungsi untuk melindungi dinding samping dan dinding belakang dari terpaan cahaya matahari dan hujan, sehingga dinding ini awet, tidak mudah lapuk atau tahan lama.

Bayangkan, misalnya bagian samping yang atapnya tinggi, tidak diberi lapisan bambu yang disusun atau dipilin, maka Gadang yang berbiaya mahal tersebut pasti akan cepat lapuk. Dengan adanya lapisan bilah bambu tersebut, air hujan dan matahari hanya akan mengenai bilah-bilah bambu tersebut, sementara papan utama akan tetap awet.

Bagian samping Rumah Gadang yang berdinding luar dari bilah bambu

Bagian samping Rumah Gadang yang berdinding luar dari bilah bambu

E. Dapur.

Di bagian belakang rumah biasanya terdapat dapur. Dapur tersebut ada dua jenis. Yang pertama ada berupa bangunan panggung yang sejajar dan menempel pada bangunan utama. Pada dapur jenis ini, dapur mempunyai meja tungku (istilah saya saja yaa), tatakan tungku yang mirip dengan meja makan tapi dengan ukuran yang lebih besar dari meja. Ukurannya lebih kurang 2 x 1,5 m, tergantung ukuran dapur rumah tersebut.

Meja tungku ini di berkaki kokoh dengan kaki meja yang kuat untuk menopang tanah yang ada di atasnya. Ketebalan tanah untuk tungku ini kira-kira 30 – 50 cm. Di atas tanah inilah dibuat tungku yang beruspa susunan 3 buah batu yang membentuk segitiga sama kaki.

Banyak tungku yang ada di atas meja tungku ini biasanya dua atau minimal dua, tergantung besar kecilnya meja tungku ini. Di bagian dapur ini ini juga ada pintu belakang rumah. (ntar kalo pulang mau ah foto tungku yang model gini di rumah keluarga sebelah rumah nenek )

F. Tiang dan Bagian Dasar Rumah Gadang.

Bangunan Rumah Gadang dibangun dengan menggunakan tiang-tiang dan palang utama. Salah satu keunikan tiang-tiang dan palang melintang ini adalah, tidak menggunakan paku dalam penyambungannya. Untuk menyambung masing-masing tiang digunakan pasak antar tiang dan palang. Tiang dan palang yang disambung dengan pasak ini membuat rumah tahan dengan goncangan gema bumi yang sering melanda daerah Sumatera Barat.

Salah satu keunikan Rumah Gadang adalah, tiang-tiang yang menopang rumah tersebut tidak ditanam di dalam tanah. Tiang-tiang tersebut diletakkan atau ditataki di atas lempengan batu pipih yang dilindungi batu-batu lainnya. Meskipun begitu dasar tiang yang ditataki begini, juga merupakan salah satu yang bagus menahan goncangan gempa bumi.

Dan dilihat dari depan, tiang tiang utama pembangun rumah ini tidak dibuat benar-benar lurus ke atas. Tapi antara tiang dan tanah tidak membentuk sudut 90 derajat. Tiang-tiang dibuat agak sedikit miring agak membesar ke bagia atas rumah, dan agak mengecil ke bawah.

Jadi kalau semisalnya ditarik garis lurus dari tiang paling ujung (paling kiri dan paling kanan) kea rah bawah menembus ke tanah, maka di suatu tempat di dalam tanah tersebut aka nada titik pertemuan garis yang disambung tersebut. Tapi jangan tanyakan saya berapa derajat kemiringannya ya… 

Rangkiang yang menjadi lumbung padi bagi penghuni rumah gadang

Rangkiang yang menjadi lumbung padi bagi penghuni rumah gadang

G. Rangkiang.

Rangkiang adalah bangunan kecil yang terdapat di depan Rumah Gadang. Rangkiang ini berfungsi sebagai lumbung yang terdiri dari 4 macam. Keempat macam ranggkiang ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Rangkiang ini mempunyai pintu yang yang tinggi, yang jauh dari tanah.

Keempat jenis rangkian ini adalah : Rangkiang Sitinjau Lauik, Rankiang Bayau-Bayau, Rangkiang si Tangguang Lapa atau Sitanggang Lapa dan Rangkiang Kaciak. Nah, soal penjelasan tentang rangkiang ini, ntar saya bikin postingan tersendiri juga ya… ^^

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, siapa saja yang boleh membangun rumah model Rumah Gadang begini? Apakah hanya kaum keluarga datuk saja? Apakah masyarakat bias bisa membangun rumah ini?

Oke, siapa aja boleh. Rumah jenis ini tidak mutlak hanya dimiliki oleh keluarga datuk saja, tetapi oleh semua lapisan masyarakat, asalkan punya kemampuan keuangan yang cukup untuk membangun dan merawatnya, siapa saja boleh membangun rumah model Rumah Gadang ini. Kenapa? karena untuk membuat jenis rumah ini membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Ukiran Dinding

Rumah Gadang yang full ukiran bagian depannya.

By :Firsty