Danau Singkarak dan Kenangan Masa Kecil

Danau Singkarak sore hari

Danau Singkarak sore hari

Danau Singkarak…. 🙂 Bagi warga sekitar Danau Singkarak, danau ini disebut dengan Pasia. Dan agiku, Danau Singkarak atau pasia ini sangat spesial. Aku dan teman-teman masa kecilku dan danau Singkarak mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat. Banyak kenangan masa kecil yang tercipta di sekitar danau ini.

Continue reading

Istana Pagaruyuang Batusangka, Sumatera Barat

DSC02545

Istana Pagaruyuang atau Istano Pagaruyuang adalah istana peninggalan Kerajaan Pagaruyuang. Kerajaan ini berada di daerah yang dikenal dengan sebutan Minangkabau. Luas daerah Minangkabau lebih luas dari Sumatera Barat sekarang. Sebutan lain istana ini adalah Istana Basa atau Istano Basa.

Istana Basa Pagaruyuang merupakan istana tempat kedudukan Raja Alam Minang Kabau (Kerajaan Pagaruyuang Minang Kabau mempunyai tiga jenis raja : Raja Alam, Raja Adat, dan Raja Ibadat). Raja Alam Minangkabau merupakan raja yang menjadi lambang atau simbol pemersatu seluruh wilayah kenagarian yang ada di Minang Kabau.

Istana Basa inilah yang menjadi tempat tinggal raja sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pagaruyung. Lokasi Istana Pagaruyuang berada di Nagari Pagaruyuang, sekitar 5 km dari pusat kota Batu Sangka, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Istana Kerajaan Pagaruyuang yang sekarang merupakan tiruan dari bentuk istana asli yang beberapa kali mengalami musibah kebakaran. Ukuran Istana Pagaruyuang ini menurut perkiraan saya adalah 30 m x 10 m.

Dulu istana asli Kerjaaan Pagaruyuang berada di atas puncak Bukit Patah dan terbakar pada tahun 1804. Lalu istana tersebut dibangun lagi, dan terbakar lagi pada tanggal 3 Agustus 1961. Dan tahun 1975, Istana Basa kembali dibangun di lahan yang sekarang. Lahan yang menjadi tempat Istana Basa sekarang merupakan tanah ulayat keturunan raja Kerajaan Pagaruyuang.

Dan terakhir, pada tanggal 27 Februari 2007, lagi-lagi istana ini terbakar setelah tersambar petir. Struktur bangunan yang semuanya terbuat dari kayu sangat rentan dengan risiko kebakaran. Pada saat kebakaran tahun 2007 hampir semua benda-benda peninggalan Istana Pagaruyuang habis terbakar.

Istana Basa menghadap ke arah selatan dan memanjang dari arah timur ke barat. Di belakang istana yang berada di bagian selatan, berdiri kokoh bukit yang merupakan benteng alam yang melindungi Istana Basa. Posisi Istana Basa yang sekarang dibuat agak lebih mundur ke belakang sejauh 20 m dari posisi semula sebelum istana ini terbakar pada tahun 2007.

This slideshow requires JavaScript.

Bangunan Utama Istana Basa.

Bangunan utama Istana Basa terdiri dari 3 lantai atau 3 tingkat. Lantai pertama atau lantai dasar terdiri dari ruangan utama yang luas dan bilik atau kamar tidur. Ruangan yang luas ini memanjang dari kiri ke kanan atau dari timur ke barat.

Di dalam ruangan yang luas membentang ini digunakan untuk bekerja, menerima tamu kerajaan, bermusyawah dan sebagainya. Tidak ada kursi atau meja di ruangan ini, hanya peralatan yang digunakan dalam adat, dan ada replika benda bersejarah yang disimpan di dalam lemari kaca.

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, musyawarah dilaksanakan dengan cara duduk bersama di lantai.

Di bagian kedua ujung istana, ujung barat dan ujung timur, terdapat anjungan, bagian paling ujung istana yang lantainya lebih tinggi dari lantai utama istana. Anjungan ini disebut dengan Anjungan Rajo Babandiang dan Anjuangan Perak.

Anjungan Rajo Babandiang merupakan anjungan yang terdapat di bagian kanan (jika kita sedang naik istana) berfungsi sebagai ruang tempat raja beristirahat dan tidur. Sementara Anjungan Perak merupakan anjungan yang berada di ujung kiri. Anjungan ini digunakan sebagai tempat Bundo Kanduang beristirahat dan tidur.

Pada bagian deretan seberang pintu terdapat deretan kamar tidur 4 kamar di bagian kiri dan 4 kamar di bagian kanan. Kamar-kamar ini digunakan oleh putri-putri raja yang sudah menikah. Kamar yang paling ujung ditempati oleh putri yang menikah paling akhir.

Lantai dua istana ini berupa ruangan yang luasnya kira-kira 10 m x 15 m. Ruangan di lantai ini berfungsi sebagai kamar dan tempat beristirahat putri-putri yang belum menikah. Ruangan lantai 2 ini disebut juga dengan Anjungan Peranginan. Maksudnya mungkin anjungan untuk berangin-angin atau bersantai. Dari sini kita bisa menikmati pemandangan alam di sekitar Istana Pagaruyuang.

Sementara lantai 3 adalah ruangan yang lebih kecil. Ukurannya mungkin 4 m x 10 m. Gunanya adalah untuk bersantai bagi raja dan keluarganya. Juga sebagai tempat raja menyimpan benda-benda pusaka.

Ukiran Istana Pagaruyuang.

Seperti halnya Rumah Gadang Minangkabau yang penuh ukiran, Istana Pagaruyuang juga demikian. Seluruh dinding luar dan dinding dalam Istana Basa dihiasi oleh berbagai motif ukiran minang yang penuh warna. Tidak hanya dinding, langit-langit istana juga dihiasi oleh berbagai macam motif ukiran.

Ukiran-ukiran ini mengandung falsafah dan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau. Ukiran-ukiran warna warni yang menghiasi dinding dalam dan luar serta langit-langit istana ini samakin memancarkan kemewahan Istana Basa. Ada ratusan jenis ukiran yang digunakan di istana ini. Contoh ukiran tersebut adalah Kaluak Paku dan Pucuak Rabuang.

Langit-langit lantai pertama Istana Basa sebagian ditutupi oleh tirai atau tabir kebesaran adat Minangkabau. Tirai-tirai atau tabir tersebut berwarna kuning yang bersulam benang emas dan berbagai ornamen lainnya. Bagian pinggir tirai ini biasanya ada lidah-lidah tirai yang bentuknya gabungan persegi panjang dan segi tiga. Lidah-lidah tirai ini menggantung di pinggir tirai. Di lidah tirai ini juga disulam benang emas.

Bangunan Dapur

Dapur adalah salah satu bagian utama dari sebuah rumah. Dapur Istana Basa Pagaruyuang terdiri dari satu bangunan yang berjarak 10 m di belakang bangunan Istana. Antara bangunan utama istana dihubungkan dengan selasar.  Bagian ujung selasar, di bagian kiri dan kanan yang berada di sisi dapur terdapat dua tangga menuju halaman belakang, surau dan pemandian istana.

Dapur istana ini terdiri dari dua ruangan. Ruangan sebelah kanan (dari arah bangunan) bangunan merupakan ruangan dapur untuk memasak. Di dalam ruangan ini terdapat meja tungku dan tiruan berbagai peralatan dapur untuk memasak dan peralatan pendukung lainnya.seperti alat untuk menumbuk atau alat untuk menangkap ikan.

Bagian kiri, terdapat ruangan yang berisi berbagai peralatan yang digunakan dalam berbagai kegiatan adat minang kabau. Contohnya, carano, dulang, tuduang dalamak dll. Juga ada carano pembuangan sirih.

Surau.

Salah satu bangunan yang terdapat di dalam kompleks Istana Basa adalah surau. Surau istana ini berada kira-kira 10 m – 15 m di bagian pojok belakang anjuang barat istana. Surau ini juga mempunyai atap dari ijuk dan mempunyai gonjoang bertingkat. Ukuran suraunya tidak terlalu besar, kira-kira seluas 9 m x 6 m.

Seperti halnya fungsi surau bagi masyarakat minangkabau, surau di lingkungannya Istana Basa ini mempungai peranan yang sama. Di surau ini para pangeran belajar mengaji dan belajar beribadah. Dan juga di surau ini mereka belajar ilmu pemerintahan dan ketatanegaraan.

Rangkiang

Rangkiang adalah salah satu unsur yang ada di bangunan Rumah Gadang. Bangunan rangkiang berdiri terpisah dari dari bangunan utama Rumah Gadang. Rangkian ini mempunyai fungsi sebagai lumbung pada atau penyimpanan cadangan makanan untyk menghadapi musim paceklik.

Di depan Istana Pagaruyuang terdapat satu buah rangkiang yang berukuran besar. Rangkian ini mempunyai 6 gonjoang. Terletak di sisi tenggara Istana pagaruyuang.

Halaman Belakang dan Samping.

Di halaman belakang atau tepatnya pojokan samping belakang terdapat penyewaan kuda. Pengunjung bisa mencoba menikmati atau merasakan sensasi naik kuda di sini. Sekitar 500 m atau lebih di belakang istana, terdapat Bukit Bungsu, yang dibawahnya juga bakal dijadikan tempat wisata, bagian dari Istana Pagaruyuang.

Penyewaan Pakaian Pengantin Minang.

Sering liat pakaian pengantin padang bukan? Itu lohh, yang pakai suntiang besar di kepala nak daro/anak daro atau pengantin wanitanya? Naah, bagi pengunjung yang yang pengen mencoba memakai pakaian pengantin tersebut, bisa dicoba di Istana Pagaruyuang ini.

Tapi jangan khawatir, suntiang yang ada di sini katanya jauh lebih ringan daripada suntiang asli yang dikenakan anak daro minang. Begitu juga pakaiannya, ngga seberat yang digunakan anak daro. Tapi setidaknya penunjung bisa berfoto menggunakan pakaian anak daro dan marapulai (pengantin pria).

Jenis warna yang tersedia juga beragam. Tapi pada dasarnya warna yang sangat umum dan sangat sering digunakan pengantin padang adalah warna merah dan warna kuning emas. Jadi keliatan banget mewahnya kan yaaaa… 🙂

Daaaann…. selamat menikmati libur anda di istano pagaruyuang yaaa… 🙂

ada yang lagi begaya penganten padang

Motoin pengunjung yang lagi begaya dan sedang berfoto dengan pakaian penganten padang


Jalan-Jalan ke Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Rumah Budaya Fadli Zon Padang Panjang

Salah seorang sahabatku adalah seorang yang hobi membuat puisi. Dia rajin membuat status di FB-nya dengan puisi. Baik puisi yang ia buat sendiri atau quote puisi penyair kenamaan yang ia kopi dan salin.

Sedangkan aku kan hanya suka baca puisi aja, ngga bisa bikin puisi. Sama sekali ngga bisa. Waktu baca aja seringkali otakku ngga ‘nyampe’ gimana caranya membuat dan memaknai puisi itu sendiri. Sering banget baca puisi berulang-ulang hanya untuk mencoba memahami ini puisi bercerita tentang apa. Tapi yaah, bagiku bendera putih tetap berkibar soal puisi.

Jidatku seringkali berkerut 17 setiap kali berusaha menyelami makna puisi-puisi yang kubaca. Nah gimana mau nulis puisi ya, kalau ngebacanya aja udah berkerut 17, bisa-bisa berkerut 50 kali ya,hehehe… Aku sangat ngga ngerti dengan segala macam diksi puisi. Jadi aku selalu salut dengan teman-teman yang bisa bikin puisi… 🙂

Danau Singkarak sore hari

Danau Singkarak sore hari

Sahabatku ini ngajak aku main ke Rumah Puisi Taufiq Ismail yang berada di Aia angek Padang Panjang. Aku sih oke aja, karena udah dua minggu di rumah baru sekali doang jalan, yang ke Danau Diateh Alahan Panjang, hari Kamis, 2 hari sebelumnya. Bareng dia juga sih. Tapi satu lagi temanku ngga bisa ikut karena lagi pergi juga ke tempat lain bersama keluarganya.

Awalnya rencana jalan agak pagian. Tapi akhirnya dia minta abis zhuhur aja. Mau masak dulu, alasannya. Zhuhur di sana kan jam 12.30, ya udah dong, aku jalan dari rumah jam 1 an. Sebelum jalan aku sms dia bahwa aku mau jalan. Tapi dasar ngga pernah on time tuh dia, pas aku nyampe ke rumahnya, dia masih belum beberes. Baru mau makan dan belum mandi. Dan kalau dandan lamanya kaya penganten didandanin…aaarrrgggggg *garuk-garuk dinding.

Kami akhirnya jalan jam setengah 3 booo… Bayangin aja jam setengah 3 lewat malah. Itu jarak tempuh ke Padang Panjang aja 55 km, plus 6 km ke rumah puisinya. Belum lagi pinggir Danau Singkarak (foto-foto) masih sempet-sempetnya foto-foto dulu. Eh, ditambah lagi temanku juga masih sempat juga ngaca dulu cukup lama benerin jilbabnya. Baru deh capcus lagi ke Padang Panjang. Oya, mampir dulu deng di mesjid pinggir jalan buat shalat ashar.

Rumah Puisi Taufiq Ismail

Rumah Puisi Taufiq Ismail

Alhamdulillah, nyampe di Rumah Puisi Taufiq Ismail udah kesorean. Jam 5 lewat hampir setengah 6. Oya, jalan naik ke rumah puisi dari pinggir jalan raya menanjak banget tuh, adduuhh rada-rada syereem boo… Apalagi kalau datang dari arah Padang Panjang, lebih syereem lagi. Abisnya menikung naik ke kiri. Dengkulku rada-rada ngedangdut ria sih, hehehe.

Dari pinggir jalan raya jaraknya paling 30 meter aja, tapi mendaki tajam. Jadi kalau emang ngga punya nyali buat naik ke halamannya, mending parkir aja di rumah makan Aia Badarun atau rumah makan Samba Lado yang hanya berjarak 30 m – 50 m dari papan plang Rumah Puisi tersebut.

Tapi sayang bangeeeet, nyampe sana, Rumah Puisi Taufiq Ismail udah tutup dongg. Ya iyalah… Udah jam 5 lewat. Terpaksa hanya memoto bagian dalam rumah puisi dari luar aja. Untung aja bangunan perpustakaan rumah puisi tersebut dindingnya dari kaca semua, masih bisa liat-liat ke dalam dari luar kaca.

Rumah Budaya Fadli Zon di depan Rumah Puisi Taufiq Ismail

Rumah Budaya Fadli Zon di depan Rumah Puisi Taufiq Ismail

Karena rumah puisi udah tutup, mau ngga mau yampe sana cuma poto-piti doang. Poto bagian dalam rumah puisi dari kaca luar. Poto di halaman, poto sama bunga yang berbagai jenis tersebut…. Kimchii… Smileee.. mencoba berfoto dengan gaya remaja sekarang dan anak alay yang suka leletin lidah dan mencongin bibir deehhh… *tapi gue yang begaya ginih pitnah banget euyy, hehehe…

Di halaman rumah puisi banyak ditanami bunga berbagai jenis dan warna. Bunga mawar putih, pink, bunga terompet, bunga mmm, dan lainnya. Kereeen deh. Eh ada juga sih bunga krisan dooong… Tapi warna yang ada cuma putih dan kuning doang, hiksss…Coba kalau ada warna biru… *ngayal lagi deh… 🙂

Di depan bangunan utama rumah puisi, ada tiga gedung yang masih bagian dari rumah puisi. Yang pertama adalah Rumah Gurindam Raufiq Ismail, Rumah Pantun Taufiq Ismail dan Rumah Akhir. Rumah gurindam dan rumah pantun merupakan kamar penginapan yang disewakan Rumah Puisi Taufik Ismail. Sedangkan rumah akhir merupakan mushala kompleks Rumah Puisi Taufiq Ismail.

DSC02227

Satu kompleks dengan Rumah Puisi taufiq Ismail, ada Rumah Budaya Fadli Zon. Rumah budaya ini menjadi galeri seni koleksi Fadli Zon. Rumah Budaya Fadli Zon ini bergaya rumah gadang kontemporer.Di dalam Rumah Budaya ada Kafe kaki langit yan indoor dan outdoor. Yang indoor pun cuma berdinding kaca, sementara yang aoutdoor berupa kafe terbuka di samping galeri lantai atas.

Pemandangan di depan rumah puisi dan rumah budaya tersebut kereeen. Indah. Ngga cuma ada taman yang penuh bunga, juga di sekelilingnya terdapat ladang pertanian. Eh keren banget tuuhh duduk buat nulis di sana, di teras terbuka sambil menikmati pemandangan alam Gunung Merapi, Singgalang dan tandikek. Harusnya banyak ide yang muncul dong ya dengan suasana yang mendukung kaya gitu… Pokoknya keren abiiss deeeh…

Di halaman rumah puisi ada nukilan puisi-puisi sastrawan terkenal. Begitu juga di beberapa tempat di rumah budaya ada prasati prasati puisi Taufiq Ismail. Jadi ini tempat yang akan sangat disukai bagi pecinta puisi dan penulis puisi deh.

DSC02234

Oya, di rumah budaya, ada juga dong cottage di sana. Cottage ini masih satu manajemen dengan rumah budaya Fadli Zon. Pas lagi keliling-keliling di sana ada orang yang nekat berenang di kolam renang cottage tersebut. Kalo ngga ada pemanas di kolam renang tersebut, ngga kebayang deh dinginnya air kolam renag…. brrrrr… dingiiinnn…

Jadilah aku poto-poto di depan dan di dalam gedung Rumah Budaya Fadhli Zon. Juga di ruang galerinya Rumah Budaya Fadli Zon. Di halaman samping juga, teras atas juga… hehehe norak deh guee..

Udah kelar poto-poto sana sini, kami balik lagi. Gerimis lebat menyelimuti Padang Panjang ketika kami bergerak meninggalkan rumah puisi. Aku kebetulan bawa jas hujan yang dari kantong plastik kresek. Karena aku yang bawa motor, mau ngga mau aku harus make si jas biru kesayanganku. Temanku kan duduknya di belakang, kan ngga terlalu basah kaya aku jadinya. Maap ya pren, gue make jas sendirian, hehehe.

Ruang seminar Rumah Puisi Taufiq Ismail di bagian bawah, bagian atas adalah perpustakaan

Ruang seminar Rumah Puisi Taufiq Ismail di bagian bawah, bagian atas adalah perpustakaan

Kami shalat magrib dulu di Padang Panjang. Di Mesjid apa yah namanya. tapi itu mesjid terkenal banget di sana. Mesjid bersih dan suasananya nyaman banget. Banyak orang yang sedang dalam perjalanan yang emang sengaja shalat ke sana. Di mesjid tersebut temanku ketemu ibu kos dan keluarga ibu kos waktu ia kuliah dulu… Ya udah mereka reunian dulu dong, hehehe.

Selesai shalat dan temanku reunian sesaat dengan bu kosnya dulu, baru deh kami jalan lagi. Kami makan malam di Rumah Makan Gumarang di Pasar Padang Panjang. Itu rumah makan terkenal banget dah di Padang Panjang. Tapi rumah makannya bukan rumah makan yang menyediakan nasi kaya rumah makan umumnya. Tapi rumah makan yang menyediakan makanan seperti nasi goreng, soto padang, mi rebus, mi goreng, sate dan aneka macam minuman.

Makan di daerah yang dingin emang sesuatu banget yaaa… Udara dingin bkin perut berasa lapar mulu dan mulut pengen ngemil mulu. Aku makan soto nasi dengan jus jeruk. Temanku makan nasi goreng dan minuman khas Sumatera Barat, teh telur. Udah gitu kami pesan lagi mi goreng untuk kami makan berdua, hahaha. Gimana badanku ga makin melaaar yaaa, jadi timbangan badan makin takut liat diriku, hehehe…

Foto para tokoh nasional dari Sumatera Barat. Tiba-tiba perasaanku jadi patriotik booo :)

Foto para tokoh nasional dari Sumatera Barat. Tiba-tiba perasaanku jadi patriotik booo 🙂

Lumayan lama bo kita berdua nongkrong di sana. Sampe setengah 9 malam booo *bukan gue bangeett dah :). Sementara gerimis tetep lebat. Mau ga mau kita pulang menerobos hujan. Menerobos hujan dalam kegelapan malam nan pekat. Makin ke arah Batipuh makin deras. Rasanya sesuatuuu banget. Untungnya hujannya udah berhenti paa nyampe Bungo Tanjuang. Eh, itu mah jauh loh nerobos ujannya dari Padang Panjang, 15 km ada kalii, xixixi *ini mah namanya nekat ga ketulungan… 🙂

Nyampe rumah udah jam setengah 11. Hadeeuuhh… Lagi-lagi badan rasanya mau rontok saking capeknya. Aku coba nyari skoteng favoritku yang biasanya jualan du dekat rumah. Tapi si abang skoteng kok.ya pada liburannya lama-lama amat sih? Belum ada yang jualan skoteng nih…. 😦

Tapi kalau belum ada yang jualan lagi mau gimana lagi…dibawa asyik aja deh. *regangin otot-otot yang kaku* Semangaaatt… Haitiiiiingggg 🙂

NB : Foto yang lain ntar yaa… di posstingan lain… 🙂

DSC02274

Firsty

Cideng, September 2014

Jalan-Jalan ke Danau Diateh (Danau Kembar), Mesjid Tuo Kayu Jao dan Kebun Teh Alahan Panjang

Firsty Kebun Teh Alahan Panjang

Sebagai seseorang yang tinggal di Jakarta sendirian, pulang saat lebaran adalah hal yang sangat dirindukan. Ngga asyik lebaran sendirian di Jakarta. Jadi, ada duit ngga ada duit, yang penting pulang.  Karena lebaran adalah hari bersama keluarga di kampung. Teman-teman lama juga deng, tapi sebisanya sih.

Pas lebaran kemaren, sama seperti lebaran sebelumnya, aku hampir ngga kemana-mana. Hanya di rumah aja. Jadi pengasuh keponakan-keponakanku. Baru pada hari ke lima lebaran aku dan dua sahabat smp-ku pergi jalan ke Danau Kembar Alahan Panjang. Sekitar satu setengah jam dari rumah.

Kami bertiga pergi ke Danau Kembar alias Danau Diateh dan Danau Dibawah dengan mengendarai motor. Dua temanku dengan satu motor, sementara aku sendirian dengan satu motor juga. Hiksss sedih sih sendirian doang…, tapi mo gimana lagi, kami cuma bertiga, sementara temanku yang satu lagi lebih jago bawa motor. Makanya temanku yang ngga bisa bawa motor memilih bonceng di motor yang satunya. Tapi walaupun cuma bertiga doang tetap asyik sih, hehehe…

Mesjid Tuo Kayu Jao, Solok

Mesjid Tuo Kayu Jao, Solok

Rencana awal kami berangkat jam setengah 8 pagi, tapi pada akhirannya baru jalan jam setengah 10. Gegera satu temanku sms pagi-pagi, minta kami jalan jam 9 an aja. Makanya baru jalan jam setengah 10. Eh udah gitu, mereka berdua katanya belum sarapan, jadi mereka sarapan dulu, makan ketupat di warung. Hadeeeuuhhh…. Teteup aja ya ngareeett yaaa… 😦

Jam setengah 11 baru capcus ke Danau Diateh, Alahan Panjang. Jalannya sih santai aja, biar menikmati perjalanan. Sebenarnya ya, aku tuh pengen moto-in bunga-bunga yang banyak tumbuh di sepanjang jalan. Baik yang tumbuh di halaman rumah orang, pinggir jalan, atau di semak-semak liar di pinggir jalan. Bunga-bunga beragam jenis dan berwarna-warni. Tapi berhubung motor temanku jalannya di depanku, mau ngga mau aku meredam keinginan tersebut, dan mengikuti laju motor temanku, huhuhu…

Di satu tempat di pinggir jalan, kami berfoto-foto di pinggir perkebunan teh di daerah Batang Barus. Banyak tempat yang bagus dengan latar belakang perkebunan teh yang bisa dijadikan tempat untuk berfoto-foto. Apalagi kalau bisa jalan ke bagian perkebunan dalam, maksudnya yang bukan di pinggir jalan, jauh lebih bagus lagi.

Mesjid Ummi, di pinggir Danau Diateh

Mesjid Ummi, di pinggir Danau Diateh

Kami juga mampir di Mesjid Tua Kayu Jao, kenagarian Batang Barus, kecamatan Gunung Talang. Mesjid tersebut merupakan salah satu mesjid tua yang umurnya udah lebih dari 5 abad. Lokasinya berada kira-kira 1 km dari pinggir jalan raya Lubuk Selasih-Alahan Panjang.

Setelah berfoto-foto ria di mesjid Kayu Jao kami melanjutkan perjalanan ke Danau Diateh. Pusat rekreasi Danau Diateh berada setengah kilo dari jalan raya. Sebelum kami masuk ke area pusat rekreasi Danau Diateh aku dan teman-temanku shalat zhuhur di Mesjid Ummi yang letaknya 2 km dari gerbang pusat rekreasi danau diateh, arah ke Muaro Labuh.

Mesjid Ummi yang megah berada di pinggir danau. Di sini juga banyak pengunjung yang mengabadikan keindahan danau melalui kamera mereka. Termasuk aku dan teman-temanku. Tapi sayangnya yaah, ari sekian banyak pengnjung yang datang ke mesjid ini, yang datang untuk shalat cuma sebagian. Sebagian lagi datang cuma buat foto-foto aja di pinggir danau…. Berbaik sangka aja deh, siapa tau mereka udah shalat dulu di tempat lain… Betul…betul…betuuuul? *ipin upin mode.on*

Danau Diateh, dari samping Mesjid Ummi

Danau Diateh, dari samping Mesjid Ummi

Baru setelah shalat di Mesjid Umi kami balik lagi ke arah pusat rekreasi Danau Diateh. Dan karena udah masuk jam makan siang dan perut pun udah lapar lagi, kami membeli nasi bungkus dulu di lapau nasi yang ada di pinggir jalan raya. Makannya ntar di pinggir danau. Kan enak tuh makan di pinggir danau, duduk ngedeprok di atas rumput, hehehe…

Aku dan kedua temanku makan nasi bungkus di pinggir danau sambil bercerita tentang berbagai hal. Termasuk tentang kisah-kisah lama di sekolah dulu, hehehe. Makan di sana sambil bercerita tentang masa lalu dan ditemani angin dingin bikin makan jadi berselera booo… Selesai makan berceritanya cukup sambil menikmati pemandangan Danau Diateh aja.

Kami sih ngga lama berada di pusat rekreasi Danau Diateh tersebut. Paling lama satu setengah jam aja. Pulang dari sana, kami juga mampir makan jagung bakar yang banyak di jual orang di pinggir jalan raya. Jagung bakarnya sih enak. Tapi sayangnya aku kan ngga terlalu suka jagung, jadinya jagung punyaku dengan senang hati dimakan temanku. Tapi masih sempat sih makan dua gigit doang, hehehe…

IMG_9342

Pulang dari Danau Diateh, nyampe rumah jam 8 malam. Badan capek, pegel, berasa rontok semua karea bawa motor 130 km pp. Jaketnya bukan jaket yang nahan angin lagi, nyiksa diri banget yaaa… 🙂 Tapi walaupun capek banget nyenangin banget juga. Namanya juga jalan bareng sama sahabat-sahabat sendiri… 🙂

Nyampe rumah, walaupun tadi udah makan sore, langsung nyari makan lagi. Lapeerr bingiiittts. Soalnya kita bertiga ngga sempat lagi mampir buat makan di luar. Makan di rumah udah kaya orang kelaparan ngga makan 2 hari, hehehe.

Bunga Mawar pink di Pinggir Jalan

Bunga Mawar pink di Pinggir Jalan

Kebun Teh dan Mesjid Tua kayu Jao

Mesjid Umi Alahan Panjang

Danau Diateh

Bunga-Bunga di Pinggir Jalan

 

Danau Diateh (Danau Diatas) ~ Danau Kembar, Alahan Panjang, Solok Sumatera Barat

minjem :)

gambar minjem 🙂

Ada yang tau tentang Danau Diateh? Hmmm… Ngga banyak yang tau ya. Kalau begitu, aku akan mendongeng dikit tentang Danau Diateh ya, hehehe… 😛

Danau Diateh menjadi salah satu danau dari empat danau yang terdapat di Solok. Tiga  danau yang lainnya adalah Danau Singkarak (foto danau singkarak), Danau Dibawah dan Danau Talang. Danau Singkarak berada sekitar 65 km dari kota Solok. Sementara Danau Talang sendiri lokasinya pun berada tidak jauh dari Danau Diateh dan Danau Dibawah.

Continue reading

Rumah Gadang Solok

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas... Pengeenn

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas… Pengeenn

Waktu lebaran kemaren saya libur cukup lama. Sebulan buuuu…. Saya baru balik ke Jakarta setelah minggu ketiga seabis lebaran, enakan yaaa… hehehe. Sebenarnya sih udah mulai bete juga di rumah tapi untung ada ponakan-ponakan yang balita yang bikin betah.

Nah, kadang-kadang pas lagi bete, dan ponakanku lagi ngacir entah kemana, aku juga ngacir sendirian pake motor. Ngacir ke rumah sahabatku. Rumah teman yang kunjungi selama liburan paling juga tiga rumah sahabatku. Yang satu sahabatan karena kita tetanggaan dan satu sma serta kuliah bareng. Yang dua sahabat dari smp sampe sekarang, alhamdulillah.

Dua sahabat smp-ku kan pns ya dan sudah nikah n punya anak pula, jadi kalau pengen ngacir paling bisanya sore : dengan catatan kalo aku tega ninggalin keponakanku, hehe. Dan sahabatku tetanggaku ini, jangan harap bisa narik dia jalan pake motor kalau hanya sekadar muter-muter aja. Bagi dia mendingan anteng di rumah atau kantor tokonya daripada berpanas-panas naik motor.

Maka jadilah aku kadang-muter-muter ngga jelas keliling kota. Liat persawahan, bukit-bukit kecil sambil mengkhayal lagi piknik ala Julian Kirin bersaudarq dalam serial Lima Sekawan atau Trio Detektif, hehehe.

Kadang di jalan ketemu warung yang jual karupuak leak, dan ini banyak banget yang jualan. Nah pas lagi iseng inilah aku merhatiin ternyata di kotaku dan sekitarnya masih ada bangunan Rumah Gadang, rumah khas Minang Kabau. Karena aku tadinya jalan ngga bawa kamera digitalku, maka kamera henpon pun jadi. Dan ketika besok janjian ketemu dengan teman, aku selalu bawa kamera supaya kalau ketemu rumah gadang bisa langsung difoto…. 🙂

Dan bahkan karena nemu satu rumah gadang yang bagus, eh malah jadi keterusan dan keasyikan nyari ke mana-mana. Bahkan sampai ke Selayo yang memang banyak Rumah Gadangnya. Liat-liat Rumah Gadang tersebut terbersit niat ‘kalau punya rumah pengennya punya rumah gadang juga.’ Amiiiiin amin ya rabbal alamin.

*Katanya biaya bikin rumah gadang muahaaaal banget*

Iddiihh, niata amat ya aku mostingin rumah gadang? Iya doong, aku sebagai anak nagari ingin dong memberikan seujung kontribusi membuat dokumentasi sebagian kecil rumah gadang yang ada di kampungku. Bukan apa-apa, siapa tau aja nantinya rumah gadang itu pelan-pelan hilang satu persatu, kan sedih juga juga. Liat tuh di bawah ada loh yang udah hancur karena ditinggal pemiliknya yang merantau… 😦

Nah… Ini dia Rumah Gadang yang aku abadikan lewat kamera digitalku…. Eh, ga semua rumah tinggal sih, ada kantor yang berbentuk rumah gadang. Semoga teman-teman menyukainya… 🙂

Surau Tuo Nagari Lubuk Bauk Batipuh Padang Panjang

Surau Nagari Lubuk Bauk, Batipuh, Padang panjang, Sumatera Barat.

Surau Nagari Lubuk Bauk, Batipuh, Padang panjang, Sumatera Barat.

Surau Labuk Bauk adalah surau tuo yang ada di kenagarian Lubuk Bauk kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar. Surau ini masyarakat nagari Lubuk Bauk ini persis di pinggir jalan raya Lintas Sumatera, Solok – Padang Panjang di kenagarian Lubuk Bauk. Kira-kira sekitar 8 – 10 km dari arah Padang Panjang ke arah Solok.

Arsitektur bangunan surau ini khas arsitekstur mesjid atau surau tuo masyarakat Minangkabau. Atap surau ini berundak-undak dan di puncaknya, selain ada kubah surau juga ada gonjong khas arsitektur Rumah Gadang, rumah tradisional Minangkabau.

Bangunan surau ini terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama adalah bangunan untuk shalat dan mengaji. Bangunan ke dua saya tidak tahu gunanya untuk apa karena ketika berkunjung ke sana pintu yang menuju lantai atas terkunci sementara tidak ada petugas atau gharim surau yang berada di sana. Lantai ke tiga saya perkiran adalah ruangan di bawah kubah yang digunakan untuk azan pada zaman dahulu. Lantai tiga ini persis berada di bawah atap yang berbentuk bagonjong Rumah Gadang. Dan ruang yang paling tinggi adalah ruang di bawah kubah yang diapit oleh empat buah gonjoang.

Lantai surau ini terbuat dari papan yang terlihat sepertinya masih sangat kuat. Warna papan ini coklat tua, mungkin karena sudah tua dimakan usia. Tonggak atau tiang-tiang surau ini berbentuk segi delapan dengan ukiran khas minang di tengah-tengahnya.

Di dalam surau ini masih terdapat bangku panjang yang digunakan untuk meletakkan Al qur’an ketika sedang belajar mengaji. Bangku untuk mengaji ini namanya kalau tidak adalah reha.

Tangga menuju ke lantai dua berada di sebelah kanan pintu, arah kita masuk surau. Tangga ini berpagar coklat dengan motif pagar khas Sumatera Barat (atau juga mungkin Melayu juga). Pintu yang menuju lantai dua membuka dan menutup mengikuti lantai atas.

Di bagian depan mushala, persis di depan tangga terdapat bak kecil yang digunakan untuk tempat berwuduk. Sekarang bak tersebut sudah tidak berisi air lagi. Tetapi bentuk baknya masih ada. Sementara di sisi kiri surau (jika kita menghadap surau, atau sebelah kanan jika menghadap depan suarau) ada beduk yang berada dibawah atap rangkiang. Pada dinding bagian bawah atap rangiang penuh ukiran-ukiran khas Minangkabau.

 Dan di bawah dinding pinggir jalan ada saluran air yang airnya jernih. Menurut perkiraan saya mungkin dulunya air untuk bak surau ini dialirkan dari sungai yang ada di dekat surau melalui saluran kecil tersebut tersebut. Aliran saluran tersebut sekarang menuju kolam atau parigi atau empang yang ada di depan Mesjid Raya Lubuk Bauk.

Hanya sayangnya adalah surau ini sekarang tidak lagi digunakan untuk shalat (berjamaah) bagi masyarakat di sana. Surau hanya digunakan untuk belajar mengaji saja dan untuk shalat masyarakata di sana menggunakan mesjid. Hal ini dilakukan (mungkin) karena surau ini sudah sangat tua jadi ada kekhawatiran surau ini akan cepat rubuh kalau setiap dipenuhi oleh banyak jemaah. Atau juga mungkin karena ada mesjid yang berdiri megah yang jaraknya kira-kira 15 – 20 meter dari surau, jadi masyarakat lebih memilih shalat di mesjid. Entahlah, saya tidak tahu sama sekali.

Harusnya (menurut pendapat saya loh) bangunan mesjid ini didirikan dengan jarak yang lebih jauh dari bangunan surau. Paling tidak sekitar 300 m supaya fungsi utama mesjid dan mushala untuk shalat dan belajar mengaji terpenuhi bagi surau Laubuk Bauk dan mesjid Raya.

NB :
Dulu di kampung dulu sewaktu masih kecil mungkin kira-kira sampai saya berumur empat atau lima tahun kali yaa, masih tersisa saru surau tua yang mirip dengan surau Lubuk Bauk ini, tetapi kemudian dibongkar dan diganti dengan bangunan tembok. Sungguh tragis sekali yaaa… Saya baru mempunyai kesadaran betapa berartinya keberadaan surau tua ini juga baru belakangan sih. Tapi tentunya pengurus surau dan masyarakat di kampung saya beranggapan sudah selayaknya surau tersebut diganti dengan bangunan yang baru.

Teh Telur ~ Minuman Kesehatan Khas Sumatera Barat

soto padang, nasi goreng dan teh telor padang

Teman-teman, ada yang tau teh telur, ngga? Hmmm mungkin ada yang udah tau dan mungkin juga ada yqng belum tau sama sekali apa itu teh telur. Tapi kalau yang berasal dari Sumatera Barat, biasanya udah tau sih, hehehe. Jadi apasih Teh Telur?

Yuuuukkk cekidoooottt…

Continue reading

Rumah Gadang ~ Rumah Tradisional Minang Kabau

Rumah Gadang adalah sebutan untuk rumah tradisional yang berasal dari Ranah Minang, Sumatera Barat. Sumatera Barat. Arti Rumah Gadang adalah Rumah Besar. Beberapa dialek di beberapa daerah di Sumatera Barat menyebut lema Gadang dengan Godang, sehingga sebutan untuk Rumah Gadang pun berubah menjadi Rumah Godang.

Rumah Gadang merupakan rumah panggung yang berbentuk persegi panjang dan atapnya secara umum diketahui mempunyai tajuk yang runcing ke arah atas yang mirip dengan tanduk kerbau. Bentuk atap yang meruncing ke atas ini disebut gonjong. Sehingga Rumah Gadang bisa juga disebut dengan rumah Bagonjong atau bagonjoang. Dulu, atap rumah Gadang terbuat dari ijuk. Zaman sekarang, selain Rumah Gadang yang beratapkan ijuk, Rumah Gadang mempunyai atap dari seng atau juga atap dari genteng buatan pabrik.

Bagian dalam Rumah Gadang terdiri dari ruang lepas yang memanjang dari kiri ke kanan rumah yang kamar yang juga berderet dari kiri dan ke kanan. Di dalam bagian juga terdapat tiang-tiang yang berderet dari kiri dan ke kanan serta dari depan dan ke belakang. Tiang yang berderet dari kiri ke kanan ini menandai jumlah kamar yang terdapat di dalam Rumah Gadang. Sementara tiang-tiang berderet dari depan ke arah belakang disebut dengan lanjar.

Istana Pagaruyuang, Batusangka

Istana Pagaruyuang, Batusangka

A. Bagian Dalam rumah Gadang.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa Rumah Gadang berbentuk bangun bidang persegi panjang. Ruangan Rumah Gadang berupa ruangan lepas yang memanjang dari kiri ke kanan dari pintu. Di seberang pintu meupakan lorong yang mejuju ke dapur.

Kamar-kamar rumah berderet di seberang sisi pintu. Kamar-kamar ini ada yang berjumlah sama di tiap sisi kiri dan sisi kanannya, ada juga yang beda. Yang kanan berjumlah genap, yang kiri berjumlah ganjil yang satu ruang lebihnya dari sisi kanan (perspektifnya kita menghadap ke rumah yaaa).

Kamar yang paling ujung atau yang paling kiri atau kanan merupakan kamar yang biasa dijadikan kamar pengantin. Kalau ada anak perempuan (anggap perempuan pertama) yang menikah, maka ia menempati kamar yang paling ujung. Orang tua yang tadinya menempati kamar ujung pintah ke kamar sebelahnya. Dan beberapa tahun kemudian jika ada anak perempuan lagi yang menikah (anak perempuan ke dua), maka anak perempuan kedua menempati menempati kamar ujung, si anak pertama tadi akan mundur ke kamar sebelahnya, dan orangtuanya akan mundur juga.

Atau bisa juga anak pempuan kedua tadi menempati kamar yang di bagian ujung yang satunya lagi. Nanti, kalau ada yang menikah lagi, maka sistem penempatan kamar akan bersiklus seperti yang disebutkan di atas.

Bentuk rumah gadang bagian dalAM

Bentuk rumah gadang bagian dalam

B. Bagian Depan Rumah Gadang.

Umumnya bagian dinding depan Rumah Gadang berupa papan yang diukir. Ukiran-ukiran ini merupakan ukiran yang penuh warna dan kontras. Berbagai jenis ukiran ini mengandung filosofi-filosofi kehidupan bermasyarakat Minang Kabau yang berprinsip Alam Takambang Jadi Guru ~ Alam yang Terbentang Jadi Guru).

Contoh nama ukiran tersebut adalah : Kaluak Paku Kacang Balimbiang yang menggambarkan sinergi kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Kaluak Paku Kacang Balimbiang, Anak dipangku Kamanakan Dibimbiang alias, Anak Dipangku Keponakan Dibimbing, mengajarkan bahwa (secara bahasa) : Seorang pria memangku, menyayangi anak tanpa melupakan perannya sebagai Mamak (paman ~ sebutan untuk saudara dari laki-laki ibu) bagi keponakannya. Artinya bahwa, si anak mendapat cinta kasih sayang serta bimbingan dari ayahnya dan ia juga bimbingan dari Mamaknya.

Selain itu ukiran Kaluak paku Kacang Balimbiang juga mengajarkan hidup tenggang rasa dalam bermasyarakat dan bernagari, menjunjung tinggi nilai adat serta afrif dan bijaksana dalam berbicara dan bertindak. Selain itu tumbuhan paku (pakis) semakin memanjang ujungnya akan akan semakin masuk melingkar ke dalam yang bermakna bahwa sebagai manusia tidak boleh sombong, pongah, harus selalu makin rendah hati.

(Ntar ya saya coba bikin postingan tersendiri tentang ukiran minang yaaa… )

Rumah Gadang VI Suku Solok

Bagian depan rumah gadang ini ada surambinya

Pintu depan Rumah Gadang biasanya terdiri dari dua macam yaitu :

1. Rumah yang tidak mempunyai Surambi alias serambi atau Beranda.

Tangga yang terdapat pada rumah yang tidak mempunyai surambi ini berada langsung langsung di depan pintu. Tangga rumah persis berada di bawah pintu rumah. Bagian atas tangga diberi atap yang berfungsi melindungi tangga pintu dan tangga hujan dan panas matahari.

2. Rumah yang mempunyai Surambi.

Jenis rumah yang mempunyai surambi ini mempunyai tangga yang berada di sisi kiri dan sisi kanan surambi. Surambi ini biasanya digunakan oleh penghuni rumah untuk duduk santai dan untuk menerima tamu yang sangat akrab seperti teman dan tetangga.

Istano atau Istana Pagaruyuang dan rumah adat di Taman Mini Indonesia Indah adalah tipe Rumah Gadang yang tidak mempunyai surambi. Mungkin aja tipe Rumah Gadang lama zaman dulu banyak yang tidak ada surambi. Dan semakin ke sini rumah gadang yang dibangun orang banyak yang memakai surambi.

Ini rumah gadang sepertinya rumah gadang tembok

Ini rumah gadang sepertinya rumah gadang tembok

C. Atap Rumah Gadang.

Gonjoang atap Rumah Gadang terdiri dari 2 jenis yaitu :

1. Atap Ampek Gonjoang, atau Atap 4 Gonjoang.

Rumah yang atapnya empat gonjoang ini terdiri dari 2 gonjoang di bagian kiri dan dua gonjoang di bagian kanan. Rumah yang atapnya 4 gonjoang ini merupakan rumah dimiliki oleh masyarakat Minang Kabau yang menganut hukum adat Lareh Bodi Caniago atau sistem hukum adat minang yang mengacu pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Datuak Perpatih Nan Sabatang.

2. Atap Anam Gonjoang atau Atap 6 Gonjoang.

Rumah yang atapnya enam gonjoang ini terdiri dari 3 gonjoang di bagian kiri dan 3 gonjoang di bagian kanan. Rumah yang beratap 6 gonjoang ini merupakan rumah yang dimiliki oleh masyarakat Minang Kabau yang menganut hukum adat Lareh Koto Piliang atau sistem hukum adat minang yang mengacu pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Datuak Ketemanggungan.
(Ntar juga deh, bikin postingan tentang kedua Datuk tersebut.)

Tapi Istano Pagaruyuang mempunyai 6 gonjoang plus satu gonjoang puncak yang mengarah ke depan dan belakang, serta gonjoang di tangga.

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas... Pengeenn

Rumah Gadang Selayo yang berwarna merah menyala dengan halaman yang luas… Pengeenn

Secara umum, Rumah Gadang Minang Kabau yang dikenal adalah rumah gadang yang beratap bagonjoang yang meruncing ke atas. Tapi tidak semua Rumah Gadang yang beratap seperti itu. Ada tipe rumah asli Minang Kabau yang puncak atapnya rata dari kiri ke kanan, alias tidak mempunyai gonjoang dan tidak diberi ukiran di bagian depannya. Hal ini mungkin saja karena pemilik rumah belum mampu secara finansial membangun rumah seperti ini (seperti rumah nenek saya dulu).

Tipe rumah beratap ijuk dan lapisan berukir ini merupakan tipe asli Rumah Gadang yang berasal dari daerah Darek. Daerah Darek adalah daerah wilayah asal masyarakat Minang Kabau dari daerah Luhak Nan Tigo yaitu :Tanah datar, Agam dan Limo Puluah Koto), yang merupakan daerah pegunungan.

Sementara daerah yang bukan daerah Darek disebut juga daerah Rantau alias daerah penyebaran (diaspora) atau daerah pengembangan masyarakat Minang Kabau yang merantau dari wilayah Darek. Contohnya adalah Minang Kabau yang berada pesisir barat pantai sumatera. Di daerah rantau ini selain rumah yang ber-gonjoang, juga banyak ditemukan rumah yang beratap tanpa gonjoang.

D. Bagian Samping dan Belakang Rumah.

Bagian samping dan belakang Rumah Gadang, selain berdinding papan polos, juga dilapisi bilah bambu yang disususun berlapis pada lapisan luar dinding papan. Dinding bambu ini berfungsi untuk melindungi dinding samping dan dinding belakang dari terpaan cahaya matahari dan hujan, sehingga dinding ini awet, tidak mudah lapuk atau tahan lama.

Bayangkan, misalnya bagian samping yang atapnya tinggi, tidak diberi lapisan bambu yang disusun atau dipilin, maka Gadang yang berbiaya mahal tersebut pasti akan cepat lapuk. Dengan adanya lapisan bilah bambu tersebut, air hujan dan matahari hanya akan mengenai bilah-bilah bambu tersebut, sementara papan utama akan tetap awet.

Bagian samping Rumah Gadang yang berdinding luar dari bilah bambu

Bagian samping Rumah Gadang yang berdinding luar dari bilah bambu

E. Dapur.

Di bagian belakang rumah biasanya terdapat dapur. Dapur tersebut ada dua jenis. Yang pertama ada berupa bangunan panggung yang sejajar dan menempel pada bangunan utama. Pada dapur jenis ini, dapur mempunyai meja tungku (istilah saya saja yaa), tatakan tungku yang mirip dengan meja makan tapi dengan ukuran yang lebih besar dari meja. Ukurannya lebih kurang 2 x 1,5 m, tergantung ukuran dapur rumah tersebut.

Meja tungku ini di berkaki kokoh dengan kaki meja yang kuat untuk menopang tanah yang ada di atasnya. Ketebalan tanah untuk tungku ini kira-kira 30 – 50 cm. Di atas tanah inilah dibuat tungku yang beruspa susunan 3 buah batu yang membentuk segitiga sama kaki.

Banyak tungku yang ada di atas meja tungku ini biasanya dua atau minimal dua, tergantung besar kecilnya meja tungku ini. Di bagian dapur ini ini juga ada pintu belakang rumah. (ntar kalo pulang mau ah foto tungku yang model gini di rumah keluarga sebelah rumah nenek )

F. Tiang dan Bagian Dasar Rumah Gadang.

Bangunan Rumah Gadang dibangun dengan menggunakan tiang-tiang dan palang utama. Salah satu keunikan tiang-tiang dan palang melintang ini adalah, tidak menggunakan paku dalam penyambungannya. Untuk menyambung masing-masing tiang digunakan pasak antar tiang dan palang. Tiang dan palang yang disambung dengan pasak ini membuat rumah tahan dengan goncangan gema bumi yang sering melanda daerah Sumatera Barat.

Salah satu keunikan Rumah Gadang adalah, tiang-tiang yang menopang rumah tersebut tidak ditanam di dalam tanah. Tiang-tiang tersebut diletakkan atau ditataki di atas lempengan batu pipih yang dilindungi batu-batu lainnya. Meskipun begitu dasar tiang yang ditataki begini, juga merupakan salah satu yang bagus menahan goncangan gempa bumi.

Dan dilihat dari depan, tiang tiang utama pembangun rumah ini tidak dibuat benar-benar lurus ke atas. Tapi antara tiang dan tanah tidak membentuk sudut 90 derajat. Tiang-tiang dibuat agak sedikit miring agak membesar ke bagia atas rumah, dan agak mengecil ke bawah.

Jadi kalau semisalnya ditarik garis lurus dari tiang paling ujung (paling kiri dan paling kanan) kea rah bawah menembus ke tanah, maka di suatu tempat di dalam tanah tersebut aka nada titik pertemuan garis yang disambung tersebut. Tapi jangan tanyakan saya berapa derajat kemiringannya ya… 

Rangkiang yang menjadi lumbung padi bagi penghuni rumah gadang

Rangkiang yang menjadi lumbung padi bagi penghuni rumah gadang

G. Rangkiang.

Rangkiang adalah bangunan kecil yang terdapat di depan Rumah Gadang. Rangkiang ini berfungsi sebagai lumbung yang terdiri dari 4 macam. Keempat macam ranggkiang ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Rangkiang ini mempunyai pintu yang yang tinggi, yang jauh dari tanah.

Keempat jenis rangkian ini adalah : Rangkiang Sitinjau Lauik, Rankiang Bayau-Bayau, Rangkiang si Tangguang Lapa atau Sitanggang Lapa dan Rangkiang Kaciak. Nah, soal penjelasan tentang rangkiang ini, ntar saya bikin postingan tersendiri juga ya… ^^

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, siapa saja yang boleh membangun rumah model Rumah Gadang begini? Apakah hanya kaum keluarga datuk saja? Apakah masyarakat bias bisa membangun rumah ini?

Oke, siapa aja boleh. Rumah jenis ini tidak mutlak hanya dimiliki oleh keluarga datuk saja, tetapi oleh semua lapisan masyarakat, asalkan punya kemampuan keuangan yang cukup untuk membangun dan merawatnya, siapa saja boleh membangun rumah model Rumah Gadang ini. Kenapa? karena untuk membuat jenis rumah ini membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Ukiran Dinding

Rumah Gadang yang full ukiran bagian depannya.

By :Firsty

Malin Kundang si Anak Durhako

Pantai Aia Manih

Alkisah, pada zaman dahulu kala (ini ciri khas cerita rakyat banget yaaa…^^) di sebuah kampung hiduplah seorang janda bersama anak laki-lakinya. Janda itu bernama Mande Rubiah dan anaknya bernama Malin Kundang, yang biasa dipanggil Malin. Suami Mande Rubiah sudah meninggal sewaktu Malin masih bayi.

Mande Rubiah tinggal di sebuah kampung perbukitan yang dekat dengan pantai dan muara laut. Dari halaman rumah mereka, mereka bisa memandang lepas ke kapal-kapal yang bersandar di dermaga pelabuhan.

Malin sekarang sudah remaja. Sejak kecil Malin sangat patuh dan rajin membantu ibunya mengolah ladang mereka. Kadang-kadang mengolah sawah mereka yang ada di luar kampung, atau mencari kayu bakar di hutan.

Kalau sedang tidak pekerjaan Malin senang sekali melihat kapal-kapal yang datang dari atas pohon yang tumbuh di depan rumahnya. Kadang-kadang ia dan teman-teman sebayanya sering datang ke pelabuhan dan naik ke  kapal untuk melihat kapal-kapal tersebut.

Berbagai macam orang dilihatnya keluar dan masuk dari kapal-kapal yang datang dan pergi tersebut. Ada beberapa saudagar kaya di kampungnya yang sering berlayar dari pelabuhan. Ada juga orang-orang yang datang dari daerah lain yang datang ke kampung mereka. Hal itu sangat menarik hati bagi Malin.

Setiap kali melihat kapal-kapal tersebut membuat Malin berkeinginan berlayar dan berkelana seperti orang-orang tersebut. Berlayar dengan kapal dan singgah di berbagai tempat dan negeri yang belum pernah ia datangi. Negeri yang hanya ia dengar dari cerita-cerita orang.

“Suatu saat nanti aku juga akan pergi dengan salah satu kapal tersebut!” kata malin dalam hatinya penuh tekat.

Malin mengungkapkan keinginannya pada ibunya yang ia panggil Mande. Ibu Malin hanya diam saja mendengarkan keinginan anaknya.

“Bagaimana Mande, boleh Malin nanti ikut berlayar dengan saudagar kampung kita, Mande?” tanya Malin yang melihat ibunya hanya diam.

 

Mande Rubiah menarik napas dalam-dalam. Ia menyentuh kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Sementara jari jempolnya meraba bekas luka yang ada di kening Malin. Luka itu ada karena Malin pernah terjatuh pada alat tenun miliknya. Ia mengusap-ngusap luka tersebut dengan lembut.

Matanyanya menatap mata putra semata wayangnya tersebut dan lantas bersuara.

“Malin, hanya Malin yang Mande punya. Selain Malin tidak ada lagi keluarga Mande. Apo tega Malin meninggalkan meninggalkan Mande sendirian?” kata Mande Rubiah dengan suara lirih.

Malin hanya diam degan pertanyaan yang diajukan ibunya. Ia juga tidak tega meninggalkan ibunya sendiri di kampung mereka. Baginya, hanya ibunya saja yang ia punyai. Tetapi ia juga ingin berkelana dan mengembara ke berbagai negeri yang jauh di sana, di seberang lautan.

Malinpun tidak pernah lagi mengungkapkan keingainannya untuk berlayar pada ibunya. Tetapi setiap kali kapal datang ia selalu melihat kapal-kapal tersebut ke pelabuhan. Juga memandang dari dari halaman rumahnya yang berada di atas bukit, berharap bisa berlayar dengan kapal tersebut. Berbulan-bulan ia melakukan itu.

Hati Mande Rubiah selalu sedih melihat anaknya selalu memandang kapal-kapal tersebut dari atas pohon yang ada di halaman rumah mereka. Ia ingin sekali mengizinkan Main berlayar. Tetapi ia selalu sedih membayangkan anaknya yang sayangi pergi berlayar meninggalkan dirinya ke negeri antah barantah. Baginya lebih baik mereka hidup sederhana di kampung. Walaupun tidak kaya hidup mereka berkekusahan.

Suatu hari ketika mereka berdua selesai makan malam, Mande Rubiah berbicara pada anaknya, Malin.

“Malin, Mande tau Malin kini sudah dewasa, bukan lagi anak-anak atau remaja. Mande mengerti keinginan Malin.” kata Mande Rubiah.

“Maksud Mande? Malin indak mengerti.” sahut Malin bingung. ~ tidak mengerti.

“Dua minggu lagi setelah panen, saudagar dari kampung sebelah akan berlayar. Kalau Malin benar-benar ingin ikut berlayar, Mande akan izinkan.” kata Mande Rubiah dengan suara tercekat. Malin terkejut. Tidak menyangka sama sekali ibunya akan berbicara seperti itu. Ia terdiam sesaat.

“Betul Mande? Mande serius?” tanyanya dengan wajah sumringah.

Mande Rubiah hanya mengangguk sambil tersenyum. Matanya terasa panas tapi ia bahagia melihat pancaran bahagia pada wajah anaknya.

***

Pada hari Malin berangkat, Mande Rubiah benar-benar tidak bisa menahan isak tangisnya. Selama berhari-hari setiap malam air matanya selalu mengalir tanpa berhenti. Ia menangis tanpa suara. Sekarang saat anaknya akan berangkat berlayar, ia ia tidak bisa menahan hatinya. Tangisnya pecah dalam pelukan anaknya.

“Mande, tolong Malin dengan doa supaya pulang jadi orang yang berhasil ya.” kata Malin sambil mengusap air matanya.

“Tentu Nak, tentu saja Mande doakan.” jawab Mande Rubiah dengan suara parau karena tangisannya.

Malin pun berangkat, berlayar meninggalkan pelabuhan. Meninggalkan kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Dan tentu saja meninggalkan ibunya yang ia cintai, berlayar bersama saudagar dari kampung yang berdekatan dengan kampungnya.  Ia hanya membawa buntelan yang berisi beberapa pakaian dan dua bungkus rendang dan dendeng buatan ibunya.

Setiap hari ibu Malin selalu memandang ke arah pelabuhan untuk melihat kapal yang datang. Setiap ada kapal yang berlabuh ia datangi berharap anaknya pulang merindukan dan menengok dirinya. Juga ketika saudagar tempat Malin menumpang, pulang beberapa bulan kemudian, ia pun segara mencari anaknya.

Tetapi alangkah sedihnya hati Mande Rubiah karena tidak mendapati anaknya bersama rombongan tersebut. Kabar yang ia dengar adalah Malin pindah bekerja pada saudagar lain ketika mereka hendak kembali pulang. Mande Rubiah selalu berdoa dan berharap anaknya segera pulang ke rumah mereka.

***

Malin Kundang sekarang tinggal dan bekerja pada seorang saudagar di Negeri Campa. Sudah tiga tahun ia bekerja di sini. Sebelumnya ia kerja berganti-ganti dari satu saudagar ke saudagar yang lainnya. Ia dikenal sebagai pemuda yang rajin, ulet dan cekatan.

Saudagar dari Negeri Campa tersebut sangat menyukai pribadi Malin Kundang yang rajin dan pekerja keras. Ia dan istrinya menjodohkan Malin Kundang dengan putrid mereka yang sudah mulai dewasa. Semula Malin menolak perjodohan tersebut karena ia hanyalah seorang anak buah, tidak sepadan dengan putri saudagar.

“Malin, aku tak hendak menikahkan anakku dengan anak saudagar lain kalau aku melihat dan mengenal pemuda baik seperti dirimu. Aku sudah mengenalmu beberapa tahun ini. Itu sudah cukup bagiku untuk melihat bahwa kamu sangat cocok dengan putriku!” kata saudagar.

Akhirnya, Malin menikah dengan putri saudagar. Pernikahan mereka dirayakan besar-besaran. Malin hidup bahagia bersama istri dan mertuanya. Apalagi kemudian anak-anak mereka lahir dan tumbuh menjadi anak-anak lucu dan menggemaskan, menambah kebahagiaan Malin dan istrinya. Malin meneruskan usaha ayah mertuanya ketika ayah mertuanya meninggal.

Beberapa tahun kemudian, Malin dan isterinya berlayar ke kampung halamannya dengan menggunakan kapal mereka. Ia sangat merindukan ibunya di kampung. Anak-anak mereka tidak ikut, dan ditinggalkan bersama ibu mertua Malin. Anak-anak Malin walaupun sudah berusia hampir sepuluh tahun dan delapan tahun, terlalu kecil dibawa berlayar jauh. Apalagi perjalanannya bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Kabar akan kedatangan seorang saudagar yang bernama Malin Kundang terdengar sampai ke kampung Malin. Awak-awak kapal yang merapat lebih dulu yang mengabarkan pada orang-orang di pelabuhan. Para warga kampung dan teman-teman Malin sewaktu kecil dulu menunggu dan berharap bahwa saudagar Negeri Campa tersebut benar-benar Malin Kundang anak Mande Rubiah, warga kampung mereka.

Mereka juga memberitahukan akan kedatangan saudagar Negeri Campa tersebut pada Mande Rubiah. Mande Rubiah yang sangat merindukan anaknya begitu gembira. Ia segera membersihkan rumahnya yang sekarang sudah tampak tua. Dan ia juga berniat hendak membuatkan makanan kesukaan anaknya, rendang.

Setiap hari matanya selalu memandang ke arah pelabuhan, memandang kapal yang berlabuh. Setiap ada kapal yang mendekat hendak berlabuh, ia segera turun menuju pelabuhan. Tetapi berkali-kali harapannya kandas, karena kapal anaknya belum berlabuh.

Suatu sore yang cerah, beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa kapal saudagar Malin bersandar di pelabuhan. Banyak warga kampung di sekitar pelabuhan datang untuk menyaksikan kapal warga kampung mereka yang sudah jadi saudagar di negeri orang. Tidak terkecuali Mande Rubiah.

Mande Rubiah berusaha naik ke kapal seperti orang lain untuk melihat anaknya. Ketika ia berada di geladak kapal, ia melihat seseorang turun dari tangga geladak atas. Orang tersebut Malin Kundang yang turun bersama istrinya. Beberapa orang kampung yang naik kapal berguman bahwa laki-laki gagah yang sedang turun dari tingkat atas tersebut adalah Malin Kundang.

“Lihat, dia sepertinya si Malin!”
“Benar, dia Malin Kundang!”
“Iya, sudah kaya ia sekarang ya…!”

Malin memandang ke segala penjuru pelabuhan. Betapa ia merindukan tempat ini, tempat ia dan teman-temannya dulu bermain. Sudah belasan tahun ia meninggalkan kampung halamannya tapi kampungnya terlihat masih belum banyak berubah.

“Oii Malin, apa kabarmu? Masih ingat aku temanmu? Sudah jadi saudagar rupanya sekarang?” teriak seseorang pada Malin Kundang. Malin memperhatikan orang yang memanggilnya. Ia mencoba mengingat-ingat orang yang ada di hadapannya.

Tepat pada saat itu sseorang berteriak dan langsung menubruk dan merangkul Malin.

“Malin anakku…” teriak orang yang merangkul Malin.

Orang itu adalah Mande Rubiyah, Ibu Malin. Ia terlihat sangat lusuh. Wajahnya terbenam di dada anaknya. Ia menangis sesunggukan karena bahagia. Anak yang dirindukannya sudah pulang dan kembali sebagai orang yang sukses.

Malin terkejeut, darahnya tersirap. Wanita ini ibunya? Ibu yang selama ini ia rindukan? Pelan-pelan Malin melepaskan pelukan Mande Rubiah dan melihat memandang wajah wanita tersebut dan memastikan wanita tua ini adalah ibunya. Wajah Mande Rubiah sudah keriput dan terlihat sudah sangat tua melebihi umurnya.

“Akhirnya kamu pulang Nak. Akhirnya kamu pulang! Mande sangat merindukanmu.” Kata Mande Rubiah memandang anaknya.

Isteri Malin yang berdiri di sampingnya pun terkejut melihat wanita tua lusuh yang memeluk suaminya mengaku sebagai ibunya. Meskipun ia tidak bisa bahasa daerah suaminya, ia mengerti apa yang diucapkan Mande Rubiah. Malin selalu menggunakan bahasa daerahnya ketika berbicara dengan anak-anak mereka.

“Perempuan tua dan jelek ini Ibumu, Kanda?” tanyanya dengan nada tajam. Seingatnya suaminya suaminya bercerita ibunya seorang wanita cantik.

Mendengar pertanyaan istrinya, Malin mendorong ibunya dan berkata, “Tidak, kamu bukan ibuku!” katanya setengah berteriak. Orang-orang yang melihat kejadian itu terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Malin! Ini Mande Nak, kenapa kamu melupakan Mande?”

“Kamu bukan ibuku!” sahut Malin dengan keras. Penduduk kampung yang melihat kejadian itu mencoba megingatkan Malin bahwa wanita tua yang ada di hadapannya adalah ibunya sendiri.

“Malin, dia ibumu!”
“Dia ibumu Malin!”
“Durhaka sekali kamu Malin, tidak mengakui ibumu sendiri!”
“Ibuku cantik. Tidak tua dan jelek seperti ini!” kata Malin tetap tidak mengakui ibunya.

Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk kembali berlayar. Ibu Malin menangis. Ia sangat terluka dengan kata-kata anaknya.

“Ya Tuhan, tolong tunjukkanlah kebenaran padaku. Kalau dia memang bukan anak hamba, biarkan ia kembali dengan selamat. Tapi kalau ia memang anak hamba, lebih ia jadi batu daripada hamba mempunyai anak yang durhaka seperti ini” ratap Mande Rubiah pilu. Semua orang mendengar ratapannya, termasuk Malin Kundang.

Suara guntur yang keras tiba-tiba memecah langit yang cerah begitu Mande Rubiah menyelesaikan ucapannya. Orang-orang terkejut memandang langit sore yang indah itu tiba-tiba berubah menjadi menjadi mendung.

Orang-orang segera turun dari kapal Malin Kundang. Beberapa orang memapah Mande Rubiah yang masih menangis dikecewakan anaknya. Mereka meyaksikan kapal Malin Kundang yang bergerak meninggalkan pelabuhan di bawah langit yang mendadak menjadi gelap.

Langit yang gelap tersebut tiba-tiba meneteskan air hujan dengan deras. Orang-orang berlari meninggalkan dermaga. Sebagian langsung menuju rumah. Sebagian lagi singgah dulu lapau, membicarakan apa yang baru saja meraka lihat. Orang-orang saling mempertanyakan perubahan yang sangat mendadak ini.

****

Di atas kapal yang belum begitu lama berlayar, para awak kapal sedang panik. Tiba-tiba saja badai datang menghadang. Langit kelam, gelombang mengguncang dan mengayunkan kapal. Mereka berusaha supaya angin membawa kapal lagi ke pelabuhan yang belum jauh mereka tinggalkan.

 Di sebuah sudut kapal, tampak Malin bersimpuh, menangis memanggil ibunya. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan pada ibunya.

“Mande… ampunkan denai. Ampunkan denai Mande…” katanya meratap pilu.

Ia tidak memedulikan keributan anak buahnya yang sedang mengendalikan kapal yang dihadang badai di laut. Juga tidak peduli lagi di mana keberadaan iserinya di kamar. Badai terdengar makin besar dan ribut. Suara-suara awak kapal terdengar makin panik karena badai yang tampak aneh ini.

Malin bersujud memohon ampun karena telah durhaka pada ibunya.

Sebuah gelombang besar mengayunkan kapal yang membuat semua awak kapal menjerit.

***

Keesokan harinya langit kembali cerah. Tetapi orang-orang kampung pelabuhan tersebut dikejutkan oleh berita yang disampaikan oleh orang-orang dari kampung bukit hilir, sekitar dua km arah utara pelabuhan.

Mereka bercerita, bahwa semalam ketika hujan deras dan badai aneh yang melanda kampung-kampung di pinggir pantai tersebut terdengar bunyi hempasan yang besar. Paginya beberapa penduduk mencoba mencari tahu bunyi tersebut di pantai.

Di sana mereka menyaksikan tiba-tiba terdapat deretan batu baru yang belum mereka lihat sehari sebelumnya. Sederetan batu yang berbentuk kapal. Di bagian salah satu pinggir kapal tersebut terdapat batu yabg berbentuk seperti orang yang sedang sujud.

Masyarakat kampung Mande Rubiah menyakini bahwa batu yang berwujud manusia yang sedang sujud tersebut adalah Malin yang sudah dikutuk menjadi batu karena sumpah ibunya. Mande Rubiah yang kemudian mengetahui tentang batu tersebut tidak terkira menyesal telah mengutuk anaknya sendiri.

Bagaimana Cara ke Bukittinggi dari Kota Padang

Ngarai Sianok berlatar belakang Gunung singgalang yang tertutup awan

Ngarai Sianok berlatar belakang Gunung singgalang yang tertutup awan

Hmmm… Aku sudah membuat postingan tentang Jam Gadang di kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Dan bagi teman-teman yang bukan warga Sumatera Barat dan sekitarnya yang berniat ke Bukit Tinggi, aku akan membantu kamu menjelaskan rute perjalanannya.

Bagi kamu yang bukan warga Sumatera Barat dan ingin berwisata ke Bukit Tinggi, pergi ke Bukit Tinggi dari Padang sangat gampang kok. Jika kamu datang dari Jakarta menggunakan pesawat, dan sudah berada di Bandara Internasional Minang Kabau, ada dua opsi untuk bisa ke Bukit Tinggi jika kamu tidak dijemput teman, saudara atau keluarga di sana.

Continue reading

Jam Gadang Bukit Tinggi Sumatera Barat

Ini gambar dipinjem dari punya teman Ayu riza.

Ini gambar dipinjem dari punya teman Ayu riza.

Ada yang tau Jam Gadang? Yuup. Jam Gadang adalah landmark atau maskot kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Jam Gadang artinya adalah jam besar. Dan disebut Jam Gadang karena mengacu pada ukuran jam yang memang besar, berdiameter 80 cm. Untuk ukuran bangunan monumental yang dibangun pada tahun 1926, tentu saja Jam Gadang menjadi sangat istimewa bagi masyarakat Bukit Tinggi khususnya dan masyarakat Sumatera Barat umumnya.

Ibarat kata nih, Jam Gadang seperti halnya Tugu Monas untuk Jakarta. Sama-sama jadi maskot kota dan sama-sama berada di jantung kota. Hanya saja kalau Monas berada di tengah-tengah taman yang luas di jantung kota Jakarta, Jam Gadang tidak. Areal taman Jam Gadang kecil, bahkan bisa dibilang ngga ada ^__^

Tapi meskipun Jam Gadang lebih kecil, lebih pendek dari Monas dan tamannya juga ngga gede juga, tapi Jam Gadang lebih tinggi loh dari Monas. Masa siiiih?? Yang benar aja dongg. Kan tinggi Monas itu 132 m sedangkan tinggi Jam Gadang cuma 26 m, kenapa Jam Gadang lebih tiggi dari Monas?

Ya iya dong, kan Jam Gadang berada di Bukit Tinggi yang berada ± 1000 mdpl, sedangkan Monas hanya berasa beberapa meter aja dari permukaan laut *LOL yaaa, hehehe

Oke, kembali ke Jam Gadang….^^

Jam Gadang ini menjadi salah satu bangunan yang menjadi kebanggaan warga Bukit Tinggi khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Letaknya di pusat kota Bukit Tinggi, tepatnya di depan Pasa Ateh Bukit Tinggi. Jadi semacam alun-alun kota kalau bagi masyarakat di Pulau jawa. Karena berada di pusat kota, maka sangat mudah sekali menemukannya.

Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda, Ratu Wilhelmina. Dibangun oleh Controleur atau Sekretaris Kota Fort De Kock (sebutan Bukittinggi oleh Belanda pada masa penjajahan), Rook Maker. Arsitek yang merancang bangunan ini adalah Yazid Abidin dari Koto Gadang, Bukit Tinggi. Pelaksana pembangunan Jam Gadang adalah Haji Moran dengan Mandornya St. Gigi Ameh, yang sama-sama berasal dari Aua Birugo, Bukit Tinggi.

Luas dasar bangunan Jam Gadang ini adalah 13 x 4 m dan berbentuk simetris 4 sisi, jadi jam ini bisa dilihat dari empat arah. Puncaknya berupa empat gonjong, puncak khas Rumah Gadang, rumah tradisional Minang Kabau, yang menghadap ke empat arah.

Salah satu hal yang dianggap unik dari Jam Gadang adalah angka-angka digunakannya. Jam ini menggunakan angka romawi tetapi angka pada jam 4 dibuat IIII bukan IV. Selain itu jam ini dibangun tidak menggunakan semen dan besi sama sekali. Bahan bangunan yang digunakan adalah campuran kapur, pasir putih dan putih telur. Meskipun tidak menggunakan semen dan besi, Jam Dang tetap kuat loh walau berkali-kali diguncang gempa besar yang melanda Sumatera Barat.

Angka 4 pada jam gadang tertulis IIII bukan IV Gambar dari google

Angka 4 pada jam gadang tertulis IIII bukan IV
Gambar dari google

Oya, mesin Jam Gadang ini bergerak bergerak secara mekanik. Mesin jam ini mempunyai saudara kembar loh di Eropa sana ^_^. Kembarannya mesinnya itu jam terkenal yang terdapat di London, Inggris. Yuup… Big Ben. Loh? Kok bisa? Iya, maksudnya, mesin yang sejenis hanya ada dua dua yang dibuat, satunya buat Jam Gadang, satunya Big Ben.

Dan mesin lonceng jam Gadang ini dibuat oleh Benhard Vortmann di kota Recklinghausen, Jerman. Makanya di lonceng tersebut tertera tulisan Vortmann Recklinghausen.

Puncak Jam Gadang yang sekarang berbentuk gonjong sudah mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan penguasa yang menguasai negara ini. Pada masa penjajahan kompeni belanda, puncak jam tersebut berbentuk ayam jantan yang menghadap ke timur. dan pada masa penjajahan jepang, berbentuk atapnya berubah mengikuti gaya bangunan rumah jepang. Baru setelah Indonesia merdeka Indonesia, puncak Jam Gadang diganti dengan gonjong, ciri Rumah gadang, rumah tradisional Sumatera Barat.

Bangunan ini juga menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Ketika Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka, Jam Gadang menjadi tempat pengibaran Sang Merah Putih beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia.

Dan selain itu, pada bulan puasa, setiap kali waktu berbuka masuk dari Jam Gadang diunyikan sirine yang ‘meraung’ sampai ke berbagai penjuru kota Bukit Tinggi.

Tidak jauh dari Jam Gadang, ada lagi objek wisata yang terkenal lainnya yaitu, Panorama Lobang Jepang. Lokasinya dekat, tidak berjauhan. Tinggal jalan aja bisa kok. Paling jauh cuma 1 km aja. Dari Panorama Lobang Jepang kamu bisa menyaksikan keindahan Ngarai Sianok, Ngarai indah sepanjang 15 km dengan kedalaman 100 m dan dengan lebar kira-kira 300-500 m.

Sekali lagi, bagi kamu yang ke Bukitinggi dan ingin melihat jam Gadang,gampang kok caranya. Dari terminal Aua Kuniang (Aur Kuning) naik aja angkot yang ada mereknya Pasa Ateh ato Pasar Atas dan Panorama. Dijamin nyampe kok di Jam Gadang.

Atau bisa juga ketika akan memasuki kota Bukit Tinggi, bilang aja ke sopirnya untuk turun di jambu Aia atau Jambu Air. Bilang, turun di pangkalan angkot yang menuju ke Jam Gadang. Insya Allag dijamin sampe juga.

^__^

Firsty

Cara Menuju Batu Malin Kundang Pantai Air Manis

ampunkan denai mandeeee

ampunkan denai mandeeee

Untuk menuju Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis tidaklah sulit. Patokannya adalah pasaraya Padang. Kalau Anda ke sana menggunakan angkutan umum atau angkot, dari pasar raya Padang, angkot yang menuju ke sana ada di seberang Mesjid Taqwa Muhammadiyah, Pasar Raya Padang. Angkotnya adalah angkot mobil L 300, berwarna biru. Cukup tanyakan saja pada orang-orang di sekitar sana, maka dengan mudah akan menemukannya.

Hanya sayangnya, angkot yang ke sana tidak banyak karena angkot ini sepertinya hanya untuk kebutuhan transportasi masyarakat sana saja. Umumnya wisatawan yang ke sana biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Dan angkot baru akan berangkat kalau penumpangnya sudah penuh. Ongkos angkot tersebut Rp.5000 dan karcis masuk juga Rp.5000. Tetapi kemarin saya ke sana masuknya ngga bayar sih…^^

Selain angkot yang memang khusus ke sana, kita juga bisa naik angkot yang menuju Teluk Bayur dari depan Mesjid taqwa Muhammadiyah, nanti bilang saja pada sopir angkot turun di simpang Pantai Air Manis. Dari sana bisa menunggu angkot yang dari pasar raya, atau naik ojek Rp.10.000, atau mungkin saja bisa lebih murah kalau jago menawar…^^.

Bagaimana kalau ke Pantai Air Manis dengan kendaraan pribadi? Ini lebih gampang lagi. Dari pasar raya susuri jalan yang menuju Seberang Padang, dan dari sana tinggal lurus menuju Air Camar. Nanti ada pertigaan, yang jalan utamanya sendiri mengarah ke kiri, sementara jalan kecil yang menuju Pantai Air manis justru lurus di seberang jalan. Atau rajin tanyakan saja pada orang-orang kalau takut salah atau simpang jalannya kelewatan. Kalaupun kelewatan, tenang saja, jalanan kota Padang bukan dengan jalanan yang rumit kok, masih cukup ‘lengang’ dan tidak macet. Jadi Anda tidak akan kesulitan mencari jalannya.

Dari simpang Air manis ini, ikuti terus jalan tersebut, maka Anda tiba di Pantai Air Manis. Jalannya agak kecil dan juga terdapat tikungan-tikungan tajam dan sempit sehingga Anda harus berhati-hati ketika berada di tikungan untuk menghindari kendaraan yang datang dari arah depan.

Karena jalannya agak kecil inilah, jalan ini tidak bisa dilewati oleh oleh bus besar. Tapi untuk bus yang ukuran sedang (ukuran kopaja atau metro mini di Jakarta), sepertinya masih bisa melewati tikungan jalanan tersebut.

Ketika Anda sudah berada di turunan jalan, nanti ada tempat untuk mengabadikan keindahan pantai dari atas bukit.

Selamat berwisata bersama keluarga…^^

Batu Malin Kundang Pantai Air Manis Padang

IMG_5939Teman-teman pernah dengar Malin Kundang? Rasanya hampir tidak ada orang Indonesia yang tidak  mengenal legenda Malin Kundang si Anak Durhako ini, mulai dari orang-orang tua sampai pada anak-anak sekolah dasar, pasti mengenal Malin Kundang. Sampai saat ini, Malin Kundang adalah analogi yang paling diingat orang jika ada anak yang suka melawan atau durhaka kepada orangtuanya.

Nah, jejak legenda si Malin Kundang ini berada di Pantai Air Manis Padang. Di sini terdapat bebatuan yang mirip dengan kapal yang di dalamnya juga ada berbagai bentuk bagian kapal seperti tong, dan tambang yang digunakan di kapal. Dan satu batu utama adalah batu yang meyerupai manusia yang sedang sujud yang diyakini sebagai Malin Kundang, si anak durhako, yang tidak mengakui ibunya sebagai ibunya.

Entah kenapa pantai ini bernama Air Manis saya juga tidak tahu. Yang jelas namanya sudah begitu adanya. Dan, karena hampir semua orang sudah mengetahui legenda ini saya tidak akan bercerita tentang Malin Kundangnya ya, hanya ingin bercerita tentang pantai ini saja.

Pantai Air Manis ini berada dalam kawasan kota Padang. Kalau ditarik garis lurus dari Pantai Padang, jaraknya tidak jauh, kpaling jauh berjarak 3 km dari kota Padang. Tetapi karena lokasi pantai ini berada di balik salah sastu sisi perbukitan yang memagari Kota Padang, jarak tempuh jalan raya ke sana sekitar 6 – 7 km. Pantai ini bisa ditempuh dalam waktu 20 – 25 menit dari pusat kota Padang.

Kawasan pantai ini mempunyai panjang sekitar satu setengah kilometer, menurut pengamatan saya loh. Pantai ini dikelilingi oleh perbukitan di bagian utara, salatan dan bagian timur. Di sisi selatan pantai ini terdapat Bukit Malin Kundang yang memisahkan Pantai Air Manis dengan Teluk Bayur di bagian selatannya.

Pada di bagian utara Pantai Air Manis, juga terdapat bukit yang memisahkan Pantai Air Manis dengan Gunung Padang dan Pantai Muaro Padang. Gunung Padang ini bukanlah sebuah gunung yang lazimnya dikenal, tetapi hanyalah sebuah bukit yang berada di sisi selatan Pantai Muaro, Padang. Dari Gunung padang ini konon katanya bisa hiking sampai ke Pantai air Manis, jaraknya kira-kira 2 – 3 km.

Bagian timur pantai ini adalah perbukitan yang memisahkan pantai air manis dengan kawasan kota Padang. Dari arah perbukitan ini mengalir beberapa sungai kecil yang bermuara ke pantai ini. Air sungai ini sejuk dan jernih.

Di pinggir pantai Pantai Air Manis ini ditumbuhi pohon cemara laut, sehingga pantai ini sangat sejuk, tidak panas seperti kebanyakan pantai pada umumnya. Hanya saja fasilitas-fasilitas di sana bisa dibilang sangat sederhana. Hanya tersedia warung-warung makanan yang dikelola penduduk setempat.

Di sana juga disediakan kursi-kursi plastik dan pondok-pondok untuk duduk santai bagi pengunjung. Hanya saja pondok-pondok kecil ini hanya bisa memuat maksimal empat orang dewasa duduk di dalamnya. Jadi kalau berlibur ke sana bersama keluarga sebaiknya pengunjung membawa tikar untuk duduk santai dan lesehan bersama keluarga.

Dan saya berpikiran lebih menyukai pariwisata yang seperti ini…^^

Tetapi walaupun masih sangat sederhana pantai ini bisa menjadi salah satu tujuan perjalanan liburan bersama keluarga dan sahabat karena mempunyai beberapa keunggulan.

 

  • Keunggulan Pantai Air Manis

1. Pantai yang tenang dan sejuk

Pantai Air Manis ini bisa dibilang pantai yang sangat tenang dan sejuk. Tenang karena pengunjung pantai ini tidaklah terlalu ramai. Dan sejuk karena di sepanjang pantainya tumbuh pohon cemara laut.

Pengunjung bisa duduk santai di kursi-kursi atau pondok-pondok kecil yang disewakan para pemilik warung dan terlindung dari terik cahaya matahari siang yang menyengat sambil memandang birunya air laut dan ombak kecil yang saling berkejar-kejaran ke arah pantai.

2. Mempunyai pantai yang sangat landai

Selain tenang dan sejuk, keunggulan pantai ini adalah, pantai sangat landai. Sebegitu landainya pantai ini, jika kita berdiri kira-kira 5 meter lebih dari tepian air, ketinggian air masih semata kaki. Ketika saya melihat orang yang hendak surfing dan berenang, posisinya sudah jauh ke tengah laut tapi kedalaman airnya masih setinggi paha dia.

Dan sebegitu landainya pantai ini, ketika air laut berbalik arah menuju laut menyisakan pantai yang seperti cermin raksasa. Bukit Malin Kundang terlihat membayang di ‘kaca’ raksasa tersebut.

3. Mempunyai ombak yang kecil

Jika Anda adalah seorang penikmat pantai atau laut yang tenang, maka Pantai Air Manis ini sangat cocok bagi Anda. Pantai ini begitu tenang dan sunyi, sangat cocok untuk orang yang ‘pecinta sunyi’ seperti saya…^^. Yang ada hanyala ombak-ombak lembut yang memecah dengan suara yang juga lembut. Ini menambah ketenangan pantai ini.

4. Aman bagi anak-anak

Karena pantai ini sangat landai dan ombaknya yang kecil, pantai ini Insya Allah aman bagi keluarga yang membawa anak kecil untuk bermain dan bejar-kejaran di sepanjang pantai. Anak-anak senang bermain air dan berlarian di air dangkal. Tapi tentunya tetap dalam pengawasan loh ya.

5. Berjalan menuju pulau

Pada bagian utara pantai ini terdapat dua buah pulau yaitu Pulau Pisang Kecil dan Pulau Pisang Besar. Pulau Pisang Kecil dapat ‘diseberangi’ dengan berjalan kaki pada saat air laut pasang surut. Ibarat kata ‘jalan’ pantai yang menuju ke pulau ini adalah fenomena laut terbelah Pantai Air Manis, alias Moses Miracle in Pantai Air Manis, Padang hehehe. Sementara Pulau Pisang Besar berada agak ke tengah laut, kira-kira 1 km dari dari Pulau Pisang Kecil.

Biasanya waktu yang tepat untuk berjalan ke Pulau Pisang Kecil adalah pada selepas siang, saat air laut sedang surut. Saat yang paling aman adalah jam tiga sore, itu kata pemuda tukang ojek yang saya tanya.

Ah, aku berandai-andai, seandainya saja pantai ini berpasir putih, tentu pantai ini akan lebih eksotik lagi pemandangannya…^^

  • Kekurangan Pantai Air Manis

Selain menawarkan pemandangan yang indah dan suasana tenang, pantai ini juga mempunyai kekurangan yang amat sangat menganggu. Seharusnya hal ini tidak menjadi bagian Pantai Air Manis ini.

1. Warung-warung yang tidak tertata rapi

Pertama, di Pantai Air Manis warung-warung makanan dan warung yang menjual souvenir Pantai Air Manis tidak tertata rapi. Sebenarnya tidak masalah dengan adanya warung-warung makan yang berdiri secara swadaya dan tradisional tersebut, tapi hendaknya warung-warung tersebut ditata supaya terlihat lebih rapi. Dengan begitu akan menambah kenyamanan pantai.

2. Kotor karena sampah-sampah yang berserakan

Masalah ke dua adalah pada bagian pantai yang mengarah ke Pulau Pisang kecil, pantai ini sangat kotor dan jorok. Sampah berserakan dimana-mana tanpa ada yang memedulikannya. Mulai dari sampah plastik sisa makanan, gelas plastik mi instan, bekas kelapa muda, kayu-kayu dan ranting pohon dan lain sebagainya. Malah ada sampah plastik isi ulang pelembut pakaian juga ada..:P

Sangat mengherankan para pedagang yang berjualan di sana dan juga masyarakat di Pantai Air Manis tidak ada yang berniat membersihkannya. Saya jadi berpikiran jangan-jangan para penjual dan masyarakat sengaja membuang begitu saja sampah-sampah sisa makanan ke pantai, dengan harapan sampah tersebut hanyut ke laut lepas.

Saya sangat yakin, kalau semua pedagang mau menyediakan waktu jam saja bergotong royong membersihkan sampah yang berserakan pantai pasti akan terbebas dari sampah. Tentu saja harus diikuti oleh budaya bersih membuang sampah ke tempatnya oleh semua pihak, baik pengunjung maupun pedagang yang berjualan di sana.

Tetapi pada bagian pantai yang dekat dengan batu Malin Kundang, keadaan pantainya cukup bersih. Hanya pada bagian sisi utara saja yang kotor dan jorok.

3. Terlalu banyak pondok santai

Bagi muda mudi yang datang dengan pasangannnya mungkin pondok untuk bersantai akan sangat menyenangkan. Karena bisa santai berdua-duaan saja dengan sang kekasih. Hanya saja kalau pondok santainya terlalu banyak kan kesannya kuran baik karena dijadikan tempat ‘mojok’ bagi pengunjung yang datang berduan.

Alangkah lebih baik kalau yang diperbanyak adalah tenda-tenda terbuka yang menyediakan kursi yang sepasang-sepasang. Kan lebih enak, daripada pondok kecil yang muatannya pas untuk dua orang saja, karena kalau lebih dari dua, pasti akan terasa sempit. Sudahlah tempatnya sepi, di pondok kecil lagi yang berdinding lagi (walaupun dindingnya rendah, kan tetap ada dindingnya).

Atau ada alternatif lainnya, boleh dibuat pondok, tetapi tidak berdinding. Kan akan lebih baik bukan?

 

  • Fasilitas Umum di pantai Air Manis

Untuk fasilitas umum yang tersedia sepertinya tidak masalah karena di sana tersedia mushala dan toilet. Tetapi soal kebersihan toilet dan mushala ini saya tidak tahu karena saya memang tidak ‘mampir’ ke dua tempat yang sangat vital tersebut.

Bagi berminat ke Pantai Air Manis, semoga postingan ini cukup memberikan informasi yang dibutuhkan.

Ikan Bilih atau Ikan Bilis ~ Ikan Danau Singkarak

Ikan bilih yang dikeringkan

Ikan bilih yang dikeringkan

Ikan bilih dalam bahasa Padang disebut dengan lauk bilih. Ikan merupakan ikan endemik khas Danau Singkarak. Nama latin ikan ini adalah Mystacoleucus padangensis. Tapi dalam bahasa Indonesia ikan ini sering disebut dengan ikan bilis. Sebutan dalam bahasa Indonesia ini sangat terdengar sangat aneh karena kata bilis pun tidak ada di dalam kosa kata bahasa Indonesia. Jadi saya tetap menyebutnya dengan ikan bilih yaa…^^

Ukuran tubuh ikan bilih tidak besar. Ukuran terbesarnya hanya kira-kira sebesar ibu jari dengan panjang maksimal kira-kira 5 cm dan lebar kira-kira 1,5 cm – 2 cm. Sisik ikan bilih berwarna putih dan mengkilap. Dan ketika dimasak, sisiknya tidak perlu dibuang.

Bagaimana dengan rasanya? Rasa ikan ini sangat gurih. Orang di sekitar Danau Singkarak menyebut dengan manih alias manis. Manis disini bukan dalam artian manis gula ya. Hanya dengan dengan menambahkan garam sebagai bumbu, rasa ikan ini sudah enak, tidak perlu ditambahkan bumbu-bumbu lainnya.

Banyak menu makanan yang berbahan dasar ikan bilih ini. Misalnya, goreng lauk bilih balado, gulai lauk bilih, pangek lauk bilih, atau juga palai lauk bilih, dan lain-lain. Selain itu ikan bilih ini juga bisa dicampur dengan berbagai macam bahan lainnya menjadi satu menu. Misalnya campuran ikan bilih, terung, kentang, jengkol, tahu atau tempe balado. Cabe yang digunakan boleh cabe merah ataupun juga pake cabe ijo.

Ikan bilih segar bisa langsung diolah menjadi makanan yang siap disantap atau dikonsumsi, atau bisa juga dijadikan dulu ikan kering. Pengolahan ikan kering ini ada dua macam, yaitu pertama, dengan cara menggoreng ikan bilih, dan yang kedua dengan cara menjadikan ikan bilih sebagai ikan kering serperti ikan asin tetapi jenisnya bukan ikan asin.

Cara pertama adalah ikan bilih dijadikan ikan bilih goreng. Ikan bilih segar yang sudah dibersihkan kemudian digoreng kering dan dikemas untuk dijual. Pembeli nanti bisa mengkonsumsi langsung ikan tersebut atau dioleh dulu sebelum dikonsumsi. Pengolahannya tergantung selara. Biasanya hanya dengan memanaskan sedikit kemudian diberi cabe atau dibuat balado.

Cara kedua yaitu dengan cara menjemur atau mengeringkan ikan bilih segar yang sudah dibersihkan perutnya. Setelah benar-benar kering, ikan bisa diolah menjadi makanan kapan saja karena ikan bilih kering ini tahan sampai berbulan-bulan.

Dewasa ini penangkapan ikan bilih dilakukan besar-besaran karena untuk dijual dalam bentuk ikan bilih kering. Sampai kira-kira lima tahun yang lalu, ikan bilih ini dijual kebanyakan adalah ikan bilih basah, jadi penangkapan tidak dilakukan secara besar-besaran seperti saat ini.

Semenatara sekarang karena ikan bilih banyak dijual dalam bentuk ikan bilih kering, penangkapan ikan bilihpun dilakukan besar besaran. Di Pasar Ombilin banyak ditemui penjual-penjual ikan bilih kering ini. Dan di sepanjang jalan jalan raya lintas Sumatera mulai dari pasar Ombilin sampai Batu taba banyak ditemui orang-orang yang menjemur ikan bilih juga tersedia dapur-dapur yang digunakan untuk menggoreng ikan bilih. Pembeli pun bisa langsung membeli ikan bilih di sana.

Konon katanya ada ikan yang mirip dengan ikan bilih ini di daerah Amazon. Waaw, menakjubkan sekali persaudaraan mereka padahal lokasi mereka berjarak puluhan ribu kilometer. Benar atau tidak, saya tidak tau yaa…^^

*****

Jenis jenis ikan ikan lainnya di danau singkarak dan foto-fotonya.