Menunggu Bom Waktu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (part 12)

“Dasar gila, kamu ya?” sembur Cindy ketika kuceritakan kejadian tadi pagi pada Cindy dan Felia.

Kami saat ini ada di halaman belakang rumah Cindy, di bawah pohon tempat biasa kami berkumpul. Tapi tanpa kehadiran Tika yang sedang pergi ke Pekan Baru.

“Mana mungkin ia bisa menyimpan rahasia itu dan tidak mengatakan pada keluarganya bahwa kamu menelepon dia!” kata Cindy.

“Iya iya, aku tau, aku tau. Dan aku tau aku salah!” jawabku tak bertenaga. Seperti orang yang kebingungan.

Continue reading

Finally, Aku Menelepon Rudy : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 11)

DSC02199

Jam tujuh aku pulang ke rumah dalam keadaan yang masih linglung. Bukan badanku, tapi pikiranku. Aku bertanya-tanya apakah sebaiknya tetap menelepon Rudy atau tidak? Hanya ada nenekku di rumah. Ia sedang mencari kesibukan, melipat kain kering yang teronggok di keranjang kain bersih yang hendak disetrika. Adik-adikku sudah berangkat ke sekolah dan ibuku pasti sedang ke pasar saat ini.

Aku benar-benar masih bingung. Mau menelepon Rudy atau tidak.

Continue reading

Menabuh Gendang Perang : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part 10)

reflection

reflection : lukisan korea

“Gila, kamu yakin?” tanya Felia untuk yang kesekian kalinya dengan pertanyaan yang sama. Aku mengangguk sambil tetap melahap bakso kunikmati. Dengan agak memaksa aku menelan bakso yang ada di dalam mulutku untuk menjawab pertanyaan Felia.

“Aku hanya harus mencoba, dan kamu harus membantuku!” kataku meyakinkan Felia.

“Cindy dan Tika sudah tau?”

“Kamu yang pertama! Rencana ini aku tidak ingin yang lain tahu. Cukup kamu saja! Jadi hanya kamu yang bisa membantuku. Oke?” jawabku penuh keyakinan.

Continue reading

Pilu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 9)

“Kesal…kesal…kesal! Aku kesal!” ucapku pada Sherly dan Rieke sambil memukul-mukul kasurnya yang empuk.

Sherly dan Rieke, sahabatku yang kakak beradik itu hanya tertawa miris melihatku yang sedang emosi. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosi yang meluap-luap di dada dan kepalaku ini. Aku luar biasa uring-uringan. Aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari rasa kesalku pada orantuaku dan dengan cara-cara yang mereka gunakan.

Continue reading

Pertemuan Itu : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 8)

DSC03989

Di ruang atamu rumahku, Ama tampak tertawa bahagia menerima dua orang tamu istimewanya. Tante Herti dan sang keponakan, Rudy, pria yang akan dijodohan denganku. Dengan senang hati Ama menyiapkan segalanya. Makanan kecil dan minuman yang disediakan, semuanya mamanya yang menghidangkannya. Dan Aku tidak berniat membantu sedikitpun.

Continue reading

Pertemuan Itu : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (Part. 7)

image : google

image : google

Siang itu, jam sebelas, aku sedang membaca di kamar sambil bersandaran pada bantal di atas kasur besar. Semua tugas rumah semuanya sudah kukerjakan, jadi aku bebas melakukan kegiatan apapun yang aku inginkan. Dan membaca adalah kegiatan yang paling kusukai.

Continue reading

Antara Menggenggam Pasir dan Hukum Newton III : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part 6)

Baiklah, aku akan bercerita sedikit tentang ayahku. Ayahku yang aku panggil Apa ini adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Menengah Pertama. Pendidikan Apa dibandingkan dengan pendidikan tujuh orang adik-adiknya, sangat jauh tertinggal. Jika Apa hanya mengenyam sekolah sampai tingkat SMP saja, adik-adik Apa, berpendidikan minimal tamat SMA. Dan tiga diantaranya sudah mengenyam pendidikan hingga tingkat master.

Continue reading

Santuang Palalai : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part. 5)

DSC03313

Malam itu tidak ada kata sepakat diantara kami. Aku tetap bertahan dengan keinginanku untuk meminta waktu satu tahun lagi. Sementara kedua orangtuaku juga bersikukuh dengan keinginan mereka untuk menerima perjodohan yang disodorkan mereka.

Amplop coklat yang berisi foto pria yang orangtuaku jodohkan denganku sama sekali tidak kulihat isinya. Aku bukan hendak menolak pemuda yang bernama Rudy tersebut. Tapi aku menolak cara-cara pemaksaan orangtuaku untuk menikahkanku. Mereka sama sekali tidak merundingkannya sedikitpun denganku.

Continue reading

Gadih Tuo : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (Part.4)

gambar : google

gambar : google

Aku tiba di rumah pukul delapan malam sepulang dari rumah Cindy. Sudah jauh melewati batas jam pulang yang diizinkan orangtuaku bagi kami anak-anaknya. Kami diwajibkan harus sudah berada di rumah sebelum maghrib, kecuali, kalau sudah meminta izin sebelumnya untuk terlambat pulang.

Rupanya orangtuaku sudah menunggu kedatanganku. Mereka duduk di kursi bawah dengan membuka sedikit pintu ruko, toko sekaligus rumah kami. Tidak seperti biasanya, kali ini ayahku tidak menanyakan alasan keterlambatanku pulang dari  rumah Cindy. Ia hanya bertanya aku dari mana dan aku jawab dari rumah Cindy. Itu saja.

Continue reading

Segelas Kopi Persahabatan : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag.3)

gambar : googling

gambar : googling

Bagian 1, Bagian 2

Menjelang azan Isya berkumandang, aku tiba dengan selamat di kotaku, Padang Panjang. Aku turun di lampu merah dan naik ojek ke rumahku yang berjarak kurang dari satu kilometer.

Badanku capek luar biasa. Seluruh persendianku serasa mau lepas. Perjalanan tiga puluh jam kali ini benar-benar melelahkan buatku. Sebenarnya perjalannya menyenangkan. Melihat pemandangan di sepanjang jalan, melewati hutan, sawah, perkebunan, perkampungan penduduk, kota kecil di sepanjang jalan Lintas Sumatera sungguh menyenangkan.

Tapi setiap mengingat kenyataan yang bakal aku hadapi di rumah nanti, membuatku tidak menikmati pemandangan-pemandangan yang terhampar di hadapanku. Perjalanan pulang kali ini menjadi sangat melelahkan. Melelahkan jiwa dan ragaku.

Continue reading

I Love Rain : Aku Bukan siti Nurbaya, Mama (bag. 2)

image : google

image : google

Bagian 1

Pagi itu, dengan langkah gontai, aku mengangkat satu koper besar dan satu buah kardus mi instan. Sinta membantuku mengangkat kedua barang tersebut ke teras rumah. Ya, akhirnya aku memang memutuskan pulang, mengikuti keinginan ibuku. Tiga hari setelah ancaman “tidak pulang sekalian, jangan lagi anggap ama sebagai ibuku” dikeluarkannya.

Ancaman ibuku sakti mandraguna. Aku tak punya kuasa menolak apalagi melawannya. Dan sekarang, aku sudah berdiri di depan taksi yang sudah menunggu dan akan membawaku ke terminal rawamangun. Sopir taksi membantu mengangkat koper dan kardus ke dalam bagsai belakang.

Continue reading

Pulang : Aku Bukan Siti Nurbaya, Mama (bag : 1)

Dari google

Dari google

       “Gua harus pulang Sin,” kataku pada Sinta, sepupuku yang duduk di sofa yang ada di depanku. Badanku terasa lemas. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa.

       “Nyokap Lo kekeuh mau menjodohin lo kayanya, ya?” tanya Sinta.

Sinta mendengar semua pembicaraanku dengan mamaku lewat di telpon tadi. Tadi, mamaku menelpon Sinta karena aku tidak mau mengangkat telpon dari mama. Ia adalah sepupuku yang lahir dan besar di Jakarta. Sudah hampir tujuh bulan aku tinggal di rumah Sinta, bertiga dengan Mas Dito, suami Sinta. Sementara orangtuanya tinggal di Bandung.

Continue reading