Kangen Banget ke Jakarta

Mesjid Istiqlal

Saya kangen Jakarta. Sungguh, saya kangeeen banget. Rasanya kekangenan saya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Kedengarannya lebay ya, tapi emang demikian sih hahaha. Maklum sebelasan tahun saya tinggal di Jakarta sebelum saya memutuskan pengen pulang lagi ke Padang. Dan sudah 3 tahun pun saya meninggalkan Jakarta tanpa menengoknya sekali pun.

Alasan lain yang membuat saya ingin ke Jakarta adalah, sudah sejak beberapa bulan sebelumnya saya merasa suntuk yang luar biasa. Jiwa saya merasakan kejemuan yang yang benar-benar mengganggu jiwa saya rasanya, lebay ya hehehe.. Kalau ngga salah sudah sejak Juli atau awal Agustus sampai sekarang. Mungkin suasana pandemi yang membuat langkah kita terbatas ini salah satu penyebab rasa suntuk saya yang luar biasa ini.

Maka, kemudian saya itung-itungan biaya berapa yang musti saya keluarkan buat ongkos dan buat yang lain-lainnya. Juga musti saya pikirkan biaya makan gue juga meski saya mau numpang sesaat di tempat teman saya. Setelah saya liat berapa duit yang saya, ternyata masihbelum cukup, pediiiis…, pediiis nian…, hehehe.

gb : Detik.com

Tapi sesungguhnya saya ngga hanya kangen dengan Jakarta. Saya juga berniat mau menetap dan bekerja lagi di Jakarta. Udah pusing saya di rumah ngga ada kerjaan ngga ada penghasilan. Maka paling ngga saya musti punya tabungan setidaknya biaya dua bulan saya di Jakarta. Oalaaah, kalau untuk dua bulan full, kayanya entahlah.

Tapi kalau buat sebulan atau sebulan setengah di Jakarta masih oke buat saya, masih ‘masuk’ atau mencukupi hasil itung-itungan saya. Intinya, nanti kalau dalam sebulan atau sebulan setengah saya belum juga dapat kerjaan lagi saya tinggal balik kanan grak aja ke Padang, hehehe. Yang penting saya punya duit yang cukup untuk ongkos pergi pulang ke Jakarta dan Padang. Sesimple itu aja dah pemikiran saya.

Masalahnya, banyak kendala yang membuat saya masih belum bisa ke Jakarta. Saya masih ragu, hingga membuat saya harus menahan rindu untuk segera ke Jakarta. Okey semisalnya ongkos buat pergi dan pulang serta persediaan untuk untuk sebulan ada, tapi di satu sisi yang menjadi masalah adalah sekarang kan lagi pandemi ya, saya kuatir kalau berangkat ke Jakarta, saya belum bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang dekat ini.

Iya kalau kalau saya bisa langsung dapat kerjaan, kalau nggak? Bisa berabe saya. Biaya hidup kan mesti berjalan argonya. Anggap saja saya bisa numpang dulu sama teman saya, tapi kan biaya makan kan ngga bisa numpang. Saya juga harus mikirin biaya makan, meski hanya sekadar beli telor, bawang dan cabe aja musti ada ya kan.

Ah, sudahlah, saya bingung, musti gimana. Emang sih musti ngadu dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Tapi kan otak selalu mikir harus gimana ya kan. Ya sudahlah, tahan dulu aja kerinduannya pada Jakarta. Sampai kondisi lebih aman dan terkendali.      

Advertisement

3 comments

  1. Sejak men”talak” Jakarta 6 tahun lalu, saya tak pernah membayangkannya lagi, meski sekadar mampir. Baru Ramadhan kali ini kangen suasa sholat Taraweh di Masjid Al Azhar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s