Padang Kuala Lumpur Malaka

Ini cerita draf lama, Agustus sebelum Mba Korona n Mas Kopit menyerang, hehehe. Kebiasaan jelek saya suka numpuk draft, malas banget nulis dan menyelesaikan tulisan, udah dua setengah tahun baru dah diposting, hehehe.

Adik saya mempunyai sedikit masalah kesehatannya. Ia seriiiing banget mengalami sakit kepala berat. Kalau ia sudah sakit kepala, ia berasa mau muntah dan ngga kuat melakukan aktivitas apapun. Pusiiing mulu bawaannya tiap sebentar. 

Ia berobat ke dokter di solok dong. Dan kalau di dokter di solok, ya gitulah, ditanya-tanya dikit trus, katanya ngga apa-apa lalu ntar dikasih obat. Ngga ada diskusi atau konsultasi yang memuaskan yang ia dapatkan dari dokter-dokter di Solok. Pusing-pusing dan sakit kepala adik saya tetap saja ngga hilang-hilang. Masih aja berlanjut.

Akhirnya karena merasa tidak ada perubahan dengan keluhan kesehatannya di Solok, temannya menyarankan untuk berobat di Malaka Malaysia. Karena temannya ini memang sudah biasa berobat di Malaka, di Rumah Sakit Mahkota Medical. Adik saya oke, bersedia berobat ke Malaka, tapi temannya tidak bisa menemaninya karena dia lagi sibuk banget katanya.

Malaka

Akhirnya adik saya minta saya menemaninya berobat ke Malaka karena sebelumnya saya sudah beberapa kali ke Malaysia. Yuhuuu, saya mah oke aja dong. Saya hepi banget malah, hehehe. Kebetulan juga saya emang lagi pengeeen banget jalan, otak saya udah buntu ngga jalan-jalan sekian lama. Jadi anggap saja saya mau jalan-jalan ke Malaka, walau saya pastinya bakalan sibuk mengurus pengobatan adik saya hahaha.

Adek saya langsung memutuskan buat berangkat ke Malaysia keesokan harinya. Dan saya pun dengan senang hati langsung cari tiket penerbangan Padang-Kuala Lumpur untuk keesokan paginya. Alhamdulillah, langsung dapat dengan hara standar.

Kemudian saya mengambil uang ringgit pada teman adik saya yang memang menjual uang real arab saudi dan juga ringgit malaysia. Soal gimana-gimana pertukarannya saya mah ngga tau. Yang penting saya ambil aja dah. Saya dikasih teman adik saya sebanyak 6000 RM, berbagai nominal.

Mesjid Kapiten keling, George Town, Penang

Tapiii kupret banget ya, sewaktu saya pegang uang 6000 RM tersebut, jumlahnya terlihat sedikit banget. Cuma Dan kalau dirupiahkan ternyata lebih dari 21 juta. Kesel banget liat rupiah yang gampang banget diobok-obok uang negara lain, hahaha.

Rencanya kami berangkat dari rumah sebelum subuh biar ngga telat chek-in. Eh tapi kami berangkatnya sehabis shalat subuh juga. Untungnya adik saya yang lain yang mengantarkan kami ke bandara yang jaraknya sekitar 85 – 90 km dari Solok. Dia bawa mobilnya udah kaya pembalap formula 1 aja. Ngebuuuut… J

Alhamdulillah ngga telat kami chek-innya. Malah border internasional belum buka saat kami tiba. Menunggu dulu sekitar 10 – 15 menit di ruang tunggu umum sebelum masuk ruang tunggu penerbangan internasional. Setelah saya masuk ruang tunggu, saya juga ke mushala untuk shalat dhuha dulu sembari menunggu pesawat dr KL tiba di Padang. Jam 8 an, kami masuk pesawat yang akan mengantarkan kami para penumpang ke KL.

Kuil di bibir bukit

Penerbangan Padang – KL itu di tiket berdurasi selama 55 menit. Tapi kenyataannya 45 menitan (ngga nyampe 50 menit) aja, udah tiba di KL. Tiba di border, penumpang sudah antri banyak, hehehe. Berhubung ini kali pertama adik saya pergi ke KL, saya musti wanti-wanti dari rumah tentang sikap atau jawaban atas pertanyaan petugas imigrasi Malaysia.

Tapi untungnya, petugasnya lagi ‘sibuk’ menerima telepon jadi petugasnya ngga ada nanya-nanya apa-apa ke adik saya, alhamdulillah, hahaha. Kami pun segera keluar dari area imigrasi. Dan, welcome to KL. Hati saya pun riang… Senangnyeeee, yuhuuuu

Begitu keluar dari area imigrasi, kami segera menuju ke bagian terminal Bandara KLIA 2. Di terminal ini saya memesan taksi tujuan Malaka. Ya, adik saya memilih naik taksi ke Malaka ketimbang bus. Padahal oongkosnya muahaal banget. Kalau ga salah 190 RM. Itu kira-kira 700.000 rupiah untuk perjalanan 2 jam.

Kuil di Genting

Muahaaal yak? Yaah mahal laaah, masa ngga mahaaal. Padahal arahnya sama, bus juga ntar berhentinya juga sama, tiba di depan rumah sakit. Tapi mau gimana lagi, adik saya lebih mempercayai temannya daripada saya. Maka kami pun melintasi KLIA 2 menuju Malaka.

Untungnya sih, sopir taksi yang kami naiki orangnya asyik banget. Sepanjang perjalanan dua jam  Kami tiba di di Malaka 2 jam berikutnya, langsung ke teras rumah sakit. Nah gimana perjalanan kami di taksi dari bandara KLIA 2, menuju Malaka, ntar deh saya buat lagi postingan yang beda hehehe.

Oiya, kalau naik bus ke Malaka, saat itu kalau ngga salah, 10 RM. Pesan tiket bus tujuan ke pusat kota Kuala Lumpur dan juga kota-kota lain juga gampang kok. Di terminal kecil itu tersebut, tersedia loket-loket untuk pembelian tiket bus dan juga tiket taksi. Jadi kita tidak akan tertipu atau dikerjai oleh agen-agen yang nakal. Jadwal perjalanan bus juga jelas dan tepat waktu. Pokoknya di sana benar-benar rapi dan tertib banget.

Bagaimana cara ke malaka dari bandara KLIA, Bagaimana cara ke Malaka dari KL, Ke Malaka dari Bandara KLIA, Naik bus dari Bandara KLIA ke Malaka

2 comments

  1. Firsty, berarti ke Malaka nya sebelum kofit datang menyerang ya. Soalnya dalam posting tidak ada prosedur covid19 yang mestinya lebih ketat dalam penerbangan internasional. Tadi semangat baca posting ini dari atas sampai bawah berharap border Indonesia Malaysia sudah dibuka 😂

    • Iya Un… Agustus sebelum Kopit… Ini kebiasaan jelekku nih… bikin draf sampai tahunan, hehehe. Ntar aku edit bikin keterangan ini kejadian sebelum kopit. Makasih Un… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s