Raun-Raun Paniang, Melintasi Perkampungan Nan Menawan Solok – Selayo – Gantuang Ciri – Guguk

Sawah berundak-undak di gantuang Ciri

Dalam bahasa padang atau Minang, ada istilah “Raun-Raun Paniang.  Raun-raun paniang maksudnya adalah jalan-jalan atau mutar-mutar ngga jelas tanpa tujuan. Apa ya istilahnya di Jakarta, saya lupa. Sebenarnya saya ngga benar-benar raun paniang sih. Tujuan saya ada dan jelas. Tapi karena waktunya masih panjang, makanya saya muter-muter dulu hehehe.

Tujuan saya ke kantor Samsat Kabupaten Solok yang berada di Arosuka, ibukota Kabupaten Solok. Saya berangkat agak siang, jam setengah 11-an. Kalaupun saya uber, kemungkinan bakal masih telat, dan tiba pas istirahat shalat Jumat. Ya udah sih, saya pun ke Arosuka melewati  jalan alternatif, bukan jalan raya Lintas Sumatera Solok – Padang. Saya memilih jalan ke Selayo- Gantung Ciri – Jawi-Jawi  dan Guguk.

Sejujurnya saya baru pertama kali lewat jalan ini. Dulu sih sampai Gantung ciri aja pernah dua kali. Tapi belum pernah sampai  ke Jawi dan Guguk. Saya sedikit exciting dan takut-takut juga, mana tau jalannya ke sana sepi banget kan. Tapi saya tepis keraguan saya dan lanjut aja jalan sendirian ke Guguk. Dan saya pun asyik nyanyi ngga jelas di sepanjang jalan. Saya kan pakai masker jadi ngga ketauan juga dong saya nyanyi-nyanyi ga jelas sendirian aja, hahaha.

Dalam perjalanan ke Guguk, setiap kali saya menemukan rumah gadang di pinggir jalan, saya selalu berhenti untuk memoto rumah gadang tersebut. Nagari Selayo termasuk nagari yang memiliki rumah gadang yang sangat banyak (di sini contohnya), makanya saya pun dengan senang hati  berhenti di tiap-tiap rumah gadang yang berada di tepi jalan yang saya liat, hehehe. Jadi ngga heran, waktu tempuh saya yang harusnya sekitar 45 menit bengkak jadi hampir satu setengah jam, hahaha.

Perjalanan dari  Selayo hingga Gantung Ciri sih ‘biasa aja’, sama seperti umumnya nagari-nagari di Sumatera Barat. Suasana nagari atau perkampungan yang tenang, teduh dan bersahaja, suasana yang sangat saya suka. Itulah yang saya maksud  dengan biasa aja. Perumah penduduk di Gantuang Ciri sepertinya memanjang di sepanjang jalan. Beda dengan Selayo yang menumpuk dan luas dan dengan perumahan yang agak padat.

Pemandangan Nagari Gantuang Ciri tjakeeep. Rumah-rumah penduduk  ada di sepanjang jalan. Dan di belakang rumah penduduk terhampar undakan-undak sawah di kaki bukit, di bawah bentangan perbukitan Bukit Barisan. Menurut saya betapa mereka sangat beruntng punya kampung dengan bentangan alam berupa undakan-undakan sawah di perbukitan tersebut.

Saya sampai membayangkan, sekiranya lagi capek dan santai tinggal duduk di teras belakang, menikmati pemandangan yang tenang, hijau, tenang dan bersahaja. Sambil minum kopi atau ngeteh. Ditambah ada leptop di atas mejasambil nyari inspirasi buat nulis (yang ada nggajadi nulis karena keasikan, hehehe). Terlalu ngayal ya saya, xixixi. Pokoknya sesederhana itu bahagia saya, hehehe.

Menjelang kelokan dekat Madrasah Intidaiyah Negeri, saya berhenti, duduk mampir di warung pinggir jalan. Kebetulan di warungnya ada karupuak leak, makanan pavorit saya. Ya sutralah, saya mampir dengan senang hati. Saya pun menikmati karupuak leak yang kebetulan enakbanget kuahnya. Dan satu moto saya adalah, dimaa bumi dipijak di situ awak makan karupuak leak, hahaha. Moto yang unfaedah yaaaa, 😛

Saya melajunjutkan perjalanan. Rupanya daerah dekat MIN rupanya ujung pusat Nagari  Gantung Ciri. Selepas pusat nagari Gantuang Ciri tersebut, yang terhampar adalah pemandangan indah sawah- sawah yang menghijau. Sepanjang beberapa kilometer bisa dikatakan yang terbentang adalah area persawahan di kiri kanan jalan. Ada juga sih rumah-rumah tapi ngga banyak.

Jalanan perkampungan tersebut mendaki dan menurun si perbukitan dan lembah. Juga ada sungai berbatu yang airnya bersih. Rasanya pengen nyemplung saya, hahaha. Bentangan pemandangan sawah yang luas menghijau dan ditambah aliran sungai yang segar membuat saya keseringan berhenti untuk foto-foto, hehehe. Untung saya jalannya sendiri. Kalau jalan bareng teman saya pasti teman saya udah ngamuk sama saya karena berhenti tiap menit, wkwkwk.

Setelah masuk perkampungan di Guguk, barulah saya ketemu perumahan yang padat penduduk. Perkampungan dengan rumah-rumah biasa dan juga rumah gadang. Maka saya pun kembali memeloti kalau-kalau ada rumah gadang yang bisa difoto, hehehe. Ketemu sih beberapa rumah gadang, meski ngga banyak kaya di Selayo. Tapi paling ngga saya ketemu beberapa buah rumah gadang dan bisa menambah koleksi foto rumah gadang saya.

Pas pulangnya saya ambil jalan yang agak beda. Saya masih ambil jalan alternatif, tapi ngga lagi lewat Pinang Sinawa, Gantung Ciri lagi. Tapi lewat arah Talang menuju Cupak. Pemandangannya juga sama, cakep. Tapi sepertinya di sepanjang sudah banyak berdiri rumah-rumah baru yang dibangun dalam waktu 5 – 10 tahun ini. Jadi sawah-sawah di pinggir jalan sudah beralih fungsi jadi rumah-rumah penduduk. Duuuh, sayang banget ya.

Saya selalu merasa sedih setiap kali melihat area sawah berubah menjadi perumahan. Tapi mau gimana lagi, pertumbuhan penduduk makin tinggi dan butuh tempat tinggal. Ada pernikahan baru, maka kebutuhan rumah bertambah.Rangorang  banyak yang maunya punya rumah sendiri,maka tanah sawah pun ditimbun jadi rumah, huhuhu.

sawah solok, bareh solok, gunung talang, solok, kota solok, kabupaten solok, beras solok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s