Tjurhat Lagi Tjuuuy

Sawah di Jembatan Gantung Guguak Tinggi Guguak Randah

Oke, sekarang gue ngga tau harus ngetik apa, karena jujur aja otak gue belum bisa bekerja. Otak masih beku. Rasanya susah sekali otak ini diajak berpikir hendak melakukan apa. Maklum tiga tahun lamanya otak gue ngga diasah lagi, batu asahannya udah patah jadikesil-kecil soalnya. Akibatnya otak gue mandek, majal, dan super lemot, hahahaha.

Gue mau nulis blog, otak gue mental. Mau nulis buku lagi, banyak ide sih yang ingin gue tulis. Tapi mengeksekusi mana dulu apa dulu otak gue eror. Rasanya di kepala juga sudah banyak yang mau dikeluarkan tapi semuanya minta keluar lebih dulu, jadinya amburadul, kacau, hahaha. Ya Allah, gue merasa lelah sendiri.

Sebenarnya sih selama dua tahun ini saya bisa menyelesaikan tiga buah buku yang jadi. Satu sudah oke di penerbit tapi sampai sekarang belum jelas gimana kabarnya. Dua buah lagi udah ada kabarnya, ditolak gara-gara pandemi kopit yang melanda dunia. Kata Mba editornya, akibat dari pandemi, banyak karyawan yang dirumahkan.

Danau Dibawah, Danau Kembar, Solok

Dan dia juga bilang bahwa di penerbit tempat saya menawarkan naskah tersebut, jumlah buku yang diterbitkan turunnya mencapai 60 %. Dudududuuuuh, jauh banget turunnya ya kan. Makanya dengan berat hati, naskah saya ditolak, kata Mba-nya lagi. Saya sedih, saya pengen nangis tapi apa mau dikata coba? Nangis juga bukan nyeleaian masalah. Musti harus semangat lagi biar bisa nembus penerbit lagi.

Tapi yang jelas, setelah itu naskah saya belum ada satupun yang jadi atau yang nambah. Semua ide di otak mandeg. Otak rasanya tumpul luar biasa. Kaya pisau yang udah tergeletak di tanah basah bertahun-tahun. Karatan tak terkira. Mau diasah batu asahan ngga ada. Mau dibiarin kok berasa masih sayang aja, jadi ngga tau mau ngapain, hehehe. *terlalu banyak alasan saya ya kaaaan… 😛

Duuh, Ya Allah, sedihkan hamba ya Allah. Tapi hamba tau kok ya Allah, semua terjadi dan berlaku karena kehendak Engkau, jadi hamba pasrah ya Alllah. Pasrah dan redha atas ketetapan Engkau. Tapi tolong ya Allah, bantu hamba supaya hamba selalu semangat menulis. Tolong hamba supaya hamba nulisnya jangan mood-mood-an. Dan juga tolong hamba supaya hamba selalu menjadi hamba yang bersyukur kepada engkau Ya Allah, aamiin.

   

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s