Kapujan, Lembah Indah Tanpa Sinyal Tanpa Aspal di Tengah Bukit Barisan Kabupaten Solok

Kapujan, adalah sebuah nama yang asing bagi saya. Saya ngga pernah atau yang namanya Kapujan.Bahkan saya saya pikir dari namanya Kapujan adalah sebuah daerah di luar sumatera Barat. Tapi seingat saya, saya nggak pernah dengar sama sekali nama Kapujan. Mungkin pernah mendengar sekali dua kali tapi lalu kemudian ngga ingat sama sekali.

Pada pertengahan bulan Juli, saya dan Linda sahabat saya diajak ikut serta oleh teman-teman dari adventure lover di Solok yang yang akan mengadakan acara Sehari Bersama Anak Yatim di Jorong Kapujan, Nagari Rangkiang Luluih, Kecamatan Tigo Lurah. Meraka akan mengadakan kegiatan tersebut tanggal 25 dan 26 Juli. Perencanaan acara mereka sudah matang. Kami hanya tinggal ngikut saja tanpa ikut ‘repot-repot’ persiapan. Kami mah asyik-asyik aja, hehehe.

Waktu saya tanya dimana lokasi persisnya Kapujan, mereka hanya bilang ‘ke sana-nya’ Sirukam, tanpa menjelaskan lebih lanjut berapa lama dan berapa jauh ‘ke sananya Sirukam’ tersebut. Kalau Sirukam saya tau, sekitar 30 – 45 dari pusat Kota Solok. Jadi waktu saya minta ijin sama orangtua saya, saya bilangnya ke arah Sirukam, hahaha. Makanya orangtua saya santai aja waktu mereka tau acara saya ‘cuma’ di sananya Sirukam.

Dan, hari Sabtu 25 Juli saya dan Linda berangkat ke Sirukam bertemu teman-teman di sana, lalu bersama-sama menuju Kapujan yang ‘ke sananya Sirukam’ tersebut. Kami berkumpul dulu di rumah Andre, salah seorang peserta. Karena hari hujan deras kami ngobrol-ngobrol dulu dengan ibunya Andre. Pas lagi ngobrol-ngobrol di rumah Andre barulah saya tau kalau Kapujan itu berada di Tigo Lurah, sebuah daerah yang terkenal sebagai daerah tertinggal di Kabupaten Solok.

Kami baru bisa berangkat ke Kapujan jam 5 lewat 10 dari Sirukam. Dan ternyata, begitu kami melakukan perjalanan ke sana, daerahnya jauuuh banget yang benar-benar kaya lagu mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualaaaang. Udah gitu, sebagian besar perjalanan kami di bawah siraman hujaan sepanjang jalan. Benar-benar perjalanan yang sangat melelahkan tapi juga sangaaaaaat  seruuuuu.

Perjalanan yang kami lakukan ngga cuma di bawah siraman hujan berkali-kali, tetapi juga kami mengendarai dalam kegelapan malam yang pekat. Karena jalanan yang kami melewati adalah jalanan di tengah hutan yang lebat, tidak ada penerangan jalan, jalan kabupaten menujuke sana pun tidak lebar. Bahkan sekitar 6 km sebelum tiba di tempat tujuan, jalanan yang kami lewati adalah jalan tanah berbatu. Iyaaa, jalanan tanah berbatu plus abis hujan pula, kebayanglah ya kaya apa perjalanannya.

Daaaaan ditambah lagi, motor saya pun jatuh di jalanan berbatu tersebut huhuhuhu… *nangis kejar air mata muncrat ke samping ala nobita. Lengkap sudah penderitaan dalam perjalanan ini. Kehujanan, baju basah kering basah lagi kering lagi basah lagi dan kering lagi di badan. Iya, tiga kali basah kering di badan. Nanti saya share gimana kisah dan sebab musabab ((((sebab musabab)))) saya jatuh deh,hehehe.

Rupanya, setelah pagi hari saya melihat daerah Kapujan yang sesungguhnya. Kapujan ternyata merupakan daerah yang berada di lembah kecil yang indah. Sebuah kampung yang sederhana dan bersahaja dengan pemandangan yang indah banget. Dari depan rumah tempat saya menginap, berdiri sebuah bukit yang hijau, berjarak kira-kira 100 m. Sementara persis di belakang rumah persis, juga berdiri sebuah bukit yang tinggi sama dengan bukit yang di seberang.

Kontur daerah Kapujan berbukit dan turunan yang diapit oleh dua buah bukit. Pada salah satu dasar bukit mengalir sungai berbatu yang airnya sangat segar dan jernih. Dan pada sisi lain di kiri kanan jalan terhampar persawahan yang berundak di bawah kaki bukit. Pada saat itu sawah-sawah sedang digarap bersiap untuk di tanam oleh pemiliknya. Sebuah pemandangan yang tidak saja indah tetapi juga tenang dan damai. Saya pun jatuh cinta dengan suasana pedesaan di Kapujan.

Saya berpikir, alangkah bersyukurnya penduduk di sini. Meskipun kampung mereka berada jauh nun di pelosok Solok sana dengan jalanan yang masih berupa jalan tanah berbatu, meskipun mereka umumnya berprofesi sebagai petani yang mengolah sawah dan ladang mereka sendiri, mereka mempunyai kampung yang tidak hanya indah. Tapi kampung mereka juga (terlihat) sangat tenang, damai dan bersahaja. Suatu karunia yang besar dari Allah SWT bagi penduduk di sana.

Selain jalanan tanah yang berbatu, saya melihat rumah-rumah di sini tidak rapat, agak berjauhan. Kebayangkan ya bagaimana suasananya di sana, sungguh tenteram (ini pendapat orang introvert loh ya,hahaha). Pun kalau ada rumah yang berdekatan, itu rumah-rumah yang kelihatannya baru dibangun dalam waktu 5 tahun ini. Dan sepertinya mereka masih keluarga yang pisah rumah dari rumah utama yang membangun rumah dan rumah tangga sendiri.

Terbayang kan ya kalau saling berkunjung satu sama lain dengan kontur alam yang berbukit dan menurun dengan rumah yang berjauhan. Tapi untungnya sudah banyak diantara mereka yang memiliki sepeda motor. Paling tidak hampir tiap rumah sepertinya sudah memiliki motor sendiri sehingga mempermudah pergerakan mereka kesana-kemari di dalam kampung. Apalagi untuk ke sawah dan ladang yang jauh dari rumah. Sehingga mereka bisa menghemat waktu untuk pergi dan pulang bekerja.

Saya membayangkan ke masa sebelum sepuluh atau lima belas tahun yang lalu dimana belum banyak (bahkan belum ada) orang yang mempunyai sepeda motor. Pastilah mereka saling berkunjung dengan berjalan kaki setiap kali hendak kemana-mana. Seperti apa ya kesunyian kampung di sana dulunya tanpa ada suara motor, hanya ada suara gemerik air dan gemerisik angin yang ditingkahi suara-suara hewan. Pasti lebih sunyi, (dan juga sangat tenang), hehehe.

Kapujan tidak hanya jalannya saja yang belum beraspal, masih tanah dan berbatu. Tetapi sinyal telekomunikasi bisa dibilang juga tidak ada di sini. Saya katakan bisa dibilang tidakada karena, kalau orang sini ingin mendapatkan sinyal telekomunikasi, musti jalan dulu, naik ke bukit dulu, baru deh bisa dapat sinyal dan menelpon atau berkomunikasi dengan sanak saudara atau teman-teman yang berada di daerah lain.

Dan provider yang tersedia katanya cuma satu saja. Saya benar-benar tidak pernah menyangka ini terjadi di Solok, di daerah saya sendiri. Dan saya menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Bukan di daerah pedalaman kalimantan atau papua seperti yang saya lihat di tipi-tipi atau media. Tap  Woow, saya benar-benar takjub melihat kehidupan masyarakat di sini. Tapi mungkin karena sudah biasa, mereka biasa-biasa saja, santai-santai aja.

Hanya saja dalam keindahan dan kesunyian kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota yang berjarak 3- 4 jam perjalanan dari Solok, mereka tentu juga menghadapi banyak kendala. Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota atau pusat pemerintahan kabupaten, pasti jauh dan tidak mudah juga akses pendidikan dan kesehatan yang mereka dapatkan. Padahal akses pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang musti tersedia dengan mudah bagi masyarakat.

Sehingga sangat wajar anak-anak di sini musti keluar kampung untuk melanjutkan sekolah mereka untuk tingkat SMP/MTs apalagi untuk tingkat SMA/MA. Jika mereka mau melanjutkan pendidikan, musti pergi ke pusat kecamatan, atau ke Kota Solok  dan sekitarnya, seperti Koto Baru. Di Koto Baru, biasanya mereka melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MtsN) atau ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

Beberapa tahun belakangan di kecamatan Tigo Lurah sudah banyak dibangun sekolah lanjutan menengah pertama dan tingkat atas. Sehingga akses pendidikan masyarakat sudah lebih dekat. Meski tetap saja jauh karena jarak antar kampung yang cukup jauh satu sama lain. Jadi tetap anak-anak ini musti ke luar kampung untuk melanjutkan sekolah mereka.

Penduduk di Kapujan sana juga sangat ramah. Namanya juga penduduk di desa, bisa dibilang hampir semuanya ramah. Saya waktu jalan nail motor sendirian pada disapa mulu. Mungkin mereka heran melihat saya yang pastinya tidak mereka kenal, tapi mereka tetap saja menyapa dengan senyum. Sungguh suasana yang sungguh mengesankan bagi saya.

Saya yang sesungguhnya adalah penyuka suasana pegunungan dan pedesaan merasa sangat nyaman sekali berada di sana walau hanya semalam. Saya bisa merasakanhidup yang bersahaja di tengah-tengah alam yang indah. Suasana pedesaan seperti ini pernah saya inginkan sebagai tempat tinggal saya. Tapi kalau ingat jarak tempuhnya yang mencapai jarak tempuh 3 – 4 jam dengan kendaraan roda dua, keinginan saya langsung padam seketika, hehehe.

Saya sih sebagai orang luar, berdoa untuk mereka supaya akses jalan ke kampung mereka segera beraspal bagus. Dan akses pendidikan dan kesehatan pun juga semakin bagus sehingga setiap anak bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai. Dan juga setiap masyarakat juga bisa memdapatkan layanan kesehatan yang memadai pula. Aamiinn aamiin ya rabbal ‘aalamiin…

 

 

 

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s