Solok – Kapujan, 5 Jam Berpetualang Dibawah Siraman Hujan

Foto WA Group

Saya mau cerita dulu tentang perjalanan berangkat saya bareng teman-teman menuju Jorong (setingkat dusun) Kapujan sewaktu saya ikut kegiatan sosial Sehari Bersama Anak Yatim di sana, hari Sabtu, 25 Juli yang lalu. Kegiatan sosial untuk anak yatim dan dhuafa ini dilakukan di Jorong (setingkat dusun) Kapujan, Nagari Rangkiang Luluih, Kec. Tigo Lurah, Solok. Perjalanan berangkat ini saja begitu luar biasa buat saya. Karena saya belum pernah mengalami petualangan seperti ini, hehehe.

Kami melakukan perjalanan yang melelahkan selama 4 – 5 jam-an . Karena perjalanan kami ngga cuma jauh ~ mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang ~ tetapi juga, lebih dari setengahnya diiringi oleh keberkahan air hujan. Jadi saya mengendarai motor selama itu dengan tubuh yang basah dan menggigil karena kehujanan. Bahkan jari-jari saya sampai kram karena kedingan.

Saya berangkat pukul 2 dari rumah untuk menjemput sahabat saya Linda. Dari rumah Linda kami berangkat sekitar pukul 2 lewat 20 menit. Baru saja kami jalan, masih di daerah Tanah Garam, hujan turun, cukup deras. Kami berhenti dulu untuk memakai jas hujan di depan kantor kecamatan, seberang SMA 1 Solok, lalu melanjutkan perjalanan dalam siraman hujan yang penuh berkah, aamiin.

Kami berangkat menuju arah Sirukam. Karena belum bertemu teman-teman yang lain kami menunggu mereka dulu sambil makan gorengan dan minum kopi di samping pos simpang Muaro Paneh di Panyakalan. Kami ngopi biar ngga kedinginan karena kehujanan. Makan gorengan juga. Gorengannya enak (penting apa yanulis ini, hahaha) Setelah semua berkumpul kami melanjutkan perjalanan menuju Sirukam.

Di daerah Kinari, selepas Restoran Damar, hujan turun lagi, cukup deras. Dan makin deras saat kami tiba di simpang Sirukam. Karena saya tidak punya celana jas hujan, celana saya basah semua sampe netes-netes gitu airnya setibanya di rumah ibu Epi, seorang guru yang sudah mengabdi di Tigo Lurah selama 30 tahun. Alhamdulillahnya beliau bilang tidak apa-apa melihat celana saya yang membasahi lantainya.

Kami shalat ashar dulu di sana dan juga dikasih makan sore sambil cerita-cerita. Kami dikasih makan bubuk kacang hijau, kolak, beras ketan merah dan teh panas. Badan saya pun pun jadi hangat setelah kehujanan. Dan celana saya yang tadinya sudah basah pun mengering lagi di badan, hehe. Yang lainnya kan pada makai celana jas hujan jadinya ngga kebasahan.

Jam 5.10 kami berangkat ke Kapujan. Dari jalan raya Solok – Alahan Panjang di depan rumah Ibu Epi kami balik dulu ke arah Solok sejauh 4 – 5 km, lalu belok kanan ke arah pusat Nagari Sirukam menuju Kapujan. Pemandangan pesawahan di perbukitan di Sirukam ini sangat cantik. Hanya sayangnya karena sudah hampir jam setengah enam saya tidak mungkin berhenti buat cekrak cekrek pemandangan tersebut.

Selepas Nagari Sirukam, jalanan yang kami lewati adalah jalan berkelok-kelok dan mendaki. Baru deh cocokbanget dengan nyanyian Ninja Hatori. Kami melintasi lereng punggung perbukitan, naik dan turun. Lebar aspal jalan kira-kira 3 meter. Sebagian besar jalannya sih bagus tapi diselingi oleh lubang-lubang besar yang menganga yang membentuk pulau air di badan jalan.

Langit sore terlihat gelap karena hujan yang menyirami bumi, cukup deras. Saya hanya bisa pasrah kedinginan karena kehujanan. Hujan yang turun cukup deras ini, menerpa wajah saya. Parahnya lagi saya kan ngga bisa memakai penutup helm. Saya puyeng kalau memakai penutup wajah helm. Jadi saya pun musti tabah merasakan pedihnya muka saya ‘ditampar’ ribuan rintik hujan yang menyerbu wajah saya.

Di sepanjang jalan, salah satu sisinya berupa tebing-tebing bukit yang tinggi, dan sisi satunya berupa jurang yang luas dan dalam. Di seberang jurang merupakan bukit-bukit dengan hutan yang lebat. Di beberapa titik ada longsor kecil di tebing bukit, dan jalan terbal di sisi jurang yang bikin jantung berasa ngilu ketika melewati jalan yang terbal tersebut. Ada dua titik,yang terbal tidak hanya bahu jalan tetapi juga badan jalan. Seram amat kan, hahaha.

Pada sebagian lainnya, ada badan jalan yang tertutup ilalang dan semak-semak yang tinggi di sisi kiri dan kanan jalan. Jadi jalan yang tidak lebar jadi semakin kecil karena tertutup semak-semak yang tinggi. Sehingga ketika (sesekali banget) ada mobil pikap dari arah depan, kami sama-sama melaju dengan pelan banget supaya ngga kepleset dari jalan aspal.

Di tambah lagi, sangat banyak ujung-ujung ranting yang tinggi yang melengkung ke jalan, seakan-akan lengkungan ranting tersebut ibarat janur kuning dengan lengkungan yang rendah. Kalau tidak hati-hati lengkungan ranting tersebut ‘menampar/mencambuk’ helem atau badan pengendara motor. Bahkan seringkali ketika sedang mengendarai saya harus tiba-tiba merunduk supaya wajah saya tidak dilecut oleh ranting-ranting semak tersebut. Sesuatu yang sangat berbahaya bagi pengendara.

Saya  heran, kenapa bisa ilalang dan semak belukar naik ke pinggir badan. Mungkin jalanan ini tidak ramai dilewati mobil, apalagi oleh truk-truk ya. Hanya saja kalau jalannya memang jarang dilewati truk, harusnya jalanannya bagus, tapi kenapa juga banyak lubang-lubang besar di sepanjang jalan? Aah sudahlah, kenapa pula saya yang memikirkannya, pertanyaan yang ngga penting, hahaha

Akhirnya setelah melakukan perjalanan 1,5 jam yang melintasi jalan di tengah hutan lindung Pegunungan Bukit Barisan, kami tiba di sebuah rumah tempat beristirahat. Rumah tersebut memang merupakan warung makan kecil tempat pengendara istirahat dari dan menuju Solok. Dan karena hanya satu rumah itu saja yang ada di sana, makanya rumah tersebut tidak ada listriknya, hanya tersedia lampu listrik yang dicas yang tergantung di tengah ruangan warung.

Kami numpang shalat magrib di sana sekaligus minum teh dan ngopi untuk menghangatkan badan. Oiya, begitu saya mengangkat (maaf) pantat dari jok sewaku tiba, rasanya pegal banget. Beberapa jari-jari saya kram karena menahan dingin sepanjang jalan, hahaha. Di rumah warung tersebut saya duduk di dekat tungku, di dapur. Terasa luar biasa menghangatkan tubuh. Dan akhirnya, celana saya pun mengering (lagi) di badan, hahaha.

Kami melanjutkan lagi perjalanan kami yang baru setengah perjalanan. Tersisa separoh lagi kata orang-orang di sana. Kami berkendara dalam kegelapan malam. Hanya lampu motor yang menerangi jalan dan kegelapan malam. Juga bulan sabit dan bintang gemintang yang indah di atas langit sana. Serius, saya ngap berkendaraan di sana, dengan jalanan yang gelap, kecil dan berlubang serta pinggir jalan yang terbal. Ditambah lagi kiri kanan dilecut semak-semak jalanan sunguh bikin dada saya ngap, hahaha.

Belum lagi Linda yang berkali-kali mengeluh bahwa seharusnya kami berangkat agak pagi atau paling ngga habis zhuhur supaya tidak kemalaman di jalan. Saya kan makin ngap mendengar keluhannya yang tiap sebentar, hahaha. Sampai akhirnya saya bilang ke dia supaya kami cerita yang asyik-asyik aja, yang enak-enak aja biar ngga makin kesal dengan perjalanan yang bikin ngap ini. Akhirnya dia mau, kami ngobrol-ngobrol yang enak-enak aja, hahaha.

Tapi, entah karena berada di tengah hutan dan tidak ada lampu, cahaya bintang dan bulan tampak jauh lebih terang dan lebih indah dibandingkan kalau dilihat di Solok, apalagi Jakarta, hehehe. Dan ditambah lagi, kadang-kadang jalan yang kami lewati tertutup kabut tipis. Jadi perjalanan yang bikin sesak itu jadi terasa syahdu iya, serem juga iya. Bercampur antara kegelapan yang mengungkung jiwa dengan keindahan yang memesona.

Begitu tiba di Nagari Sumanau, jalanan sudah tersedia listrik. Alhamdulillah saya ngga ngap lagi karena jalanan sudah terang. Saya seperti merasa kaya orang yang keluar dari ruang tertutup dengan hawa yang sangat panasdan tanpa jendela, hahaha. Tapi begitu keluar dari perkampungan, jalanan kembali gelap, karena tidak adanya lampu jalanan. Mungkin karena bukan jalan raya,jadi pemerintah merasa ngga perludiberi penerangan. Yang tersedia hanyalah ada tiang-tiang listrik penghubung antar nagari di sekitar Tiga Lurah.

Sekitar 6 km sebelum tiba di tujuan akhir, jalanan yang kami lewati adalah jalanan tanah dan berbatu. Tidak hanya itu jalanan tersebut penuh tanjakan tajam dan tikungan letter S. Saya pun mengalami musibah kecil di sana. Motor yang saya kendarai terjatuh ketika motor saya tidak kuat melaju di tanjakan. Semua orang panik, tapi alhamdulillahnya, insya allah kami baik-baik saja. Nanti saya buat tulisan terpisah aja deh, karena ini saja sudah sangat kepanjangan, hehehe.

Akhirnya kai tiba di sana, jam 9 malam, setelah menempuh perjalanan 5 jam lebih dari rumah. Bagi saya ini merupakan perjalanan yang sangat-sangat luar biasa, hehehe. Luar biasa exciting dan luar biasa melelahkan hehehe. Apalagi setibanya di sana ngga bisa langsung istirahat juga walaupun mata udah sepet. Musti masak dulu bareng-bareng untuk makan malam bersama-sama. Karena kalau ngga, sepertikta pameo no logistik, no logika, hehehe. Akhirannya kami selesai masak dan makan hampir jam 1, wooow

Dan apakah saya kapok? Insya allah, saya tidak kapok. Kalau mereka mau adakan kegiatan kaya gini lagi, saya dan Linda masih mau ikut kok, hehehe. Tujuan berikutnya adalah Nagari Sarik Alahan Tigo, Hiliran Gimanti, Solok.

 

 

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s