Kegiatan Ramadhan 2020: Berbagi Paket Sembako

Teman-teman FLP Jakarta. Foto ngga ada hubungan dengan isi jurnal, hehehe.

Ramadhan kali ini memang beda. Tidak saja karena ramadhan kali ini kita lewati di tengah pandemi Virus Corona Covid 19, tapi juga untuk pertama kalinya saya ikut kegiatan sosial dalam bulan ramadhan. Sebagai seorang yang berkarakter introvert akut saya memang tipe orang yang ngga mau ikut acara-acara yang melibatkan banyak orang, termasuk semacam acara bakti sosial.

Awal mula saya mau ikut kegiatan sosial ini adalah saat saya menemani teman mengantarkan paket sembako ~ lebih tepatnya tibako (tiga bahan pokok: beras minyak goreng dan telor, hehehe) untuk temannya yang menjadi pengumpul. Temannya ini memberikan paket untuk guru-guru MDA, marbot mesjid mushala, serta orang-orag yang ekonominya lemah. Benar-benar saya hanya mengantarkannya saja.

Sepulang dari mengantarkan paket tibako tersebut, teman saya berpikiran untuk menyebarkan informasi ini kepada rekan-rekan kerjanya di sekolah. Saya juga usul sebarin juga di frup WA alumni sekolah. Dia setuju. Malamnya langsung ia sebarkan informasi tersebut, lengkap dengan total biaya per paket. Teman saya ini menyebarkan di grup, saya membrondong teman-teman yang akrab via japri, hehehe.

Alhamdulillah, untuk dua hari berikutnya kami bisamengumpulkan 10 paket. 10 paket yang terdiri dari 2 kg beras, minyak goreng kemasan plastik, plus telur 6 butir, total senilai 49 ribu rupiah. Dengan motor saya, kami berniat mengantarkan ke teman-nya sahabat saya ini. Sebenarnya kami kerepotan membawa 10 paket ini dengan motor. Mungkin karena saya hampir tidak pernah membawa barang jadinya kami keteteran, hahaha. Tapi kami lanjooooot aja, hehehe.

Kami berniat kalau dalam perjalanan kami ketemu orang-orang yang sekiranya berhak mendapatkan paket tersebut, maka kami akan memberikan kepada mereka. Ketika dalam perjalanan, kami melihat di persimpangan jalan ada tukang ojek yang sudah tua-tua. Umur mereka kira-kira hampir 60-an ke atas. Kami akhirnya memberikan paket tersebut kepada mereka. Ada 5 atau 6 orang kalau ngga salah.

Melihat ekspresi mereka yang senang, yang bahagia, saya terharu banget. Apalagi mereka juga sudah pada tua-tua kan ya, kebayang aja kalau semisalnya ayah kami yang berada di posisi mereka. Tadi yang saya ada ‘rasa’ ribet dan kesusahan yang kami rasakan saat membawa 10 paket di motor jadi hilang saat melihat pancaran kebahagiaan dari wajah mereka.

FLP Jakarta di Mesjid Cut Nyak Dien, Menteng Jakarta Pusat

Akhirnya kami ngga jadi mengantarkan paket tersebut ke temannya sahabat saya ini. Kami pun putar-putar keliling pinggiran kota untuk ‘melihat-lihat’ orang yang layak menerima paket dari kami. Ada juga kami memberikan paket tersebut pada pemulung yang baru saja tiba di tong sampah saat kami lewat di dekat tong sampah tersebut. Pemulung ini hendak mengorek sampah, kami panggil. Dengan senang hati ia menerima paket dari kami. Dan, setelah menerima paket, ia tidak jadi mengorek sampah tapi langsung memilih pulang. Ia mengucapkan alhamdulillah dan bilang kalau ia langsung pulang saja dengan wajah yang sumringah.

Itulah yang saya dan sahabat saya lakukan pada 10 hari terakhir ramadhan, berbagi paket sembako. Total jumlah paket yang kami dapatkan sekitar 40 an kalau ngga salah. Lumayanlah, karena adalah kegiatan pertamakami. Ada penerima yang suaminya yang dirumahkan, efek dari pandemi PSBB Coroa Covid 19, dan kontrakan yang belum dibayar dua bulan. Wajahnya terlihat sumringah, bahagia menerima paket dari kami.

Kami jalan sekitar 4 kali plus ada yang dikasih duit juga karena merasa capekjuga mutar-mutar keliling kota, hahaha. Rasanya bikin hati saya pilu karena sesungguhnya yang kami kasih kan sebenarnya tidak berapa, tapi mereka terlihat bahagia gitu. Jujur ya, selama ini saya tidak pernah ikut kegiatan seperti ini. Kegiatan ini menjadi pengalaman pertama bagi saya dan juga membuka cakrawala baru bagi saya.

Saya termasuk orang yang ‘malas’ ngasih-ngasih ke (maaf) pengemis karena banyak diantara mereka yang badannya masih kuat dan kokoh tapi ngemis-ngemis bikin saya malas ngasihnya. Saya berpendapat ngasih-ngasih pengemis sama saja membuat mereka ‘menyuburkan’ kemalasan mereka untuk bekerja. Membuat mereka ngga mau bekerja tapi punya uang hanya dengan mengemis. Sombong banget ya saya, astaghfirullah.

Tapi memang itu kenyataannya. Saya selama ini lebih suka berinfak sedekah via mesjid saja. Dan juga selama bertahun-tahun belakangan ini selain ngasih langsung ke mesjid, saya juga lebih suka lewat Dompet Dhuafa, ACT, Rumah Zakat dll, via tranfer saja jadi hampir tidak pernah melihat bagaimana ekspresi bahagia orang yang menerima tersebut.

Begitulah kisah pengalaman ramadhan saya tahun ini. Ramadhan semasa pandemi covid ini bisa saya isi dengan kegiatan yang insya allah bermanfaat yang selama ini tidak pernah saya lakukan. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa bagi saya, meski bagi banyak orang ini adalah hal yang sangat biasa saja. Jadinya saya sangat kagum dengan para relawan-relawan yang sangat aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Luar biasa mereka, hehehe.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s