Saya Meriang alias Merindukan Traveliang

Dataran Putra, Kota Putrajaya, Malaysia

Saya lagi meriang nih. Meriang akut malah. Meriangnya bukan karena masukangin atau demam. Tapi meriang karena merindukan traveliang (maksa kan ya gue, maksa jadiin tata bahasa padang), hehehe. Iyaaaa, saya kangen traveliang, kangen jalan-jalan kaya ribuan orang lainnya yang saat ini ‘terkurung’ karena wabah korona Covid19 yang memaksa mereka ngga bisa kemana-mana. Apalagi saya selama setahun ini cumajalan-jalan tipis aja naik motor ke beberapa tempat, makanya jadi kangen jaan-jalan yang nginap,hehehe.

Saya kangen duduk di bus malam atau kereta api yang melaju membelah malam. Duduk di bangku bus sambil memeluk kedua lutut menikmati perjalanan malam. Suasana yang sungguh membiru di dalam jiwa saya. Saya ini tipe orang yang ngga bisa tidur di dalam perjalanan, sehingga saya lebih banyak ‘melek’nya daripada ‘merem-nya. Jadi bisa dibilang, kalau misal perjalanan malam 10 jam, dan tengah malam saya ngantuk banget, saya biasanya tertidur sekitar 15 menit. Saya akan tidur bangun tidur bangun, maksimal tidurnya hanya sekitar 2 jam saja, hehehe.

Kangen dengan suasana dalam kegelapan bus atau mobil yang diiringi lagu-lagu melow yang membirukan hati. Yang ada bukannya tidur tapi malah menghayal indah, hahaha. Itu memang salah satu ‘penyakit’ku. Menghayal dalam perjalanan bis malam itu indah banget. Habisnya mau ngapain lagi dong. Tidur tidak bisa, pegang hape trus baca-baca di hape kepala jadi puyeng,mau ngga mau ya ngayal indah, hehehe. Jadi kalau saya mendengar lagu yang sering di putar di dalam bis, otomatis pikiran saya teringat pada perjalanan tersebut. Istilahnya lagu-lagu tersebut melestarikan kenangan saya tentang perjalanan tersebut.

Naik Gunung Tujuh, Kerinci

Eh, tapi anehnya saya ya, saya ngga bisa tidur di bis dalam perjalanan jauh, tapi seringnya gampang tertidur di bis dalam kota atau di baswe, lucu kan. Malah seringkali tidur pulas di dalam bis kota. Mungkin itu juga karena saya memang kecapean banget juga sih ya. Tapi ‘syarat’saya saya bisa tertidur di bis dalam kota, saya musti duduk di depan dekat sopir sih, biar saya merasa ‘aman,’

Saya kangen juga kejar-kejaran waktu (emang waktu bisa dikejar?) memburu jadwal pesawat yang sudah mepet tapi masih berada di dalam bus, dengan jalanan yang macet, huuff. Jantung berdegup kencaaaang. Dan tiba-tiba jadi shalehah, rajin zikir daripada mikir telat, hahaha. Tapi itulah salah satu seni traveling, berburu jadwal pesawat pada saat waktu yang sudah mefeeet. Tapi saya juga ngga mau kejar-kejaran waktu karena telat kaya gitu sih.Bikin jantung dag dig dug der.

Kangen juga ‘berantem’ (iya, saya sering berantem dengan kenekbus, hahaha) sama petugas bus yang seenaknya menurunkan penumpangnya bukan di tujuan akhir, mereka (para sopir dan keneknya) mengoper penumpang seenaknya. Mantaaap, jiwa pejuang hak-hak penumpang dalam diri langsung mencuat. Langsung aja dah, singsingkan lengan baju untuk berantem wkwkwk.

Mesjid Jamek, kangen ke Malaysia lagi, hehehe

Kangen juga tidur di bandara gegara bus bandara udah ngga ada karena nyampe Jakarta tengah malam. Mau naik taksi duit ga cukup, hahaha. Mau ngga mau saya harus menunggu pagi. Kalau dibilang tidur sih juga nggaya, paling merem-meremin mata aja beberapa menit biar mata ngga sepet-sepet amat, sambil peluk ransel. Kepala bersandar pada ransel yang dipeluk. Ketiduran 5 – 10 menit mah alhamdulillah banget.

Trus kangen apalagi ya? Banyak deh pokoknya. Tapi ada juga sih yang ngga dikangenin, seperti merasakan tiket hangus gara-gara salah issued. Saya pernah salah isued tiket waktu beli tiket online. Pengen tau rasanya salah issued tiket? rasanya sakiit tiket coyyy, duit melayang ratusan ribu, sakitnya tuh di siniiiii, sakiiiiit banget *nunjuk dada*, huaaaaaaa, doraemooon tolongin aku pinjem pintu kemana sajaaaa *nangis ala nobita, air mata muncrat ke samping, hahaha.

Traveling itu ngga cuman sekadar melihat tempat-tempat yang indah, selpa selpi trus jadi catatan perjalanan atau (apalagi) aplot di medsos. Ngga. Traveling itu adalah perjalanan memperkaya pengalaman, memperkaya hati, juga memperkaya jiwa. Karena dengan traveling kita bisa melihat dan menemui hal-hal yang tidak kita temui, hal-hal yang beda dengan kehidupan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Gunung Marapi dari Nagari Saniangbaka

Traveling itu ngangenin, ngangenin banget, meskipun kita banyak mengalami hal-hal yang tak terduga. Tapi pengalaman mengalami hal-hal yang tak terduga itu menjadi cerita yang memperkaya hidup kita yang bisa menjadi cerita seru dan asyik buat diceritakan di masa depan. Meskipun, secara materi, kita (saya maksudnya) kalah jauh dari teman-teman saya yang sudah sukses, tapi saya punya banyak (stok) pengalaman traveling dari mereka.

Tapi eh tapi mungkin saya ‘memaksakan’ diri mempunyai pengalaman traveling yang seru, tapi sering puyeng karena ngga ada uang, hahaha. Soalnya duit habis dikumpulin,pergijalan abis itu kantong kosong, hahaha. Sementara teman-teman saya jarang traveling tapi pada punya duit banyak, ngga puyeng mau ngapain-ngapain yang memerlukan uang, hahaha. Ah, sutralah, hehehe.

Ada yang kangen traveling jugakah?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s