Shalat Berjamaah dan Shalat Tarwih Berjamaah di Rumah Pada Masa Pandemi Covid 19

Mesjid Agung Al-Muhsinin, Solok

Allo teman-teman semua, selamat menjalankan ibadah puasa ya. Apakabar puasanya? Puasa di masa pandeminya gimana kabarnya maksudnya? Duuuuh, Firsry, pertanyaanmu unfaedah banget yaaa. Kaya nga ada aja pertanyaan lainnya, hehehe.

Tapi jujur aja sih ya… berita-berita tentang covid 19 seringkali tertengar atau terlihat sangat mengerikan. Bahkan sudah sampai pada tahap bikin parno. Ada saja beritanya hampir tiap menit. Gimana ngga parno jadinya, setiap hari adaa saja berita tentang lonjakan penambahan angka pasien covid dan pasien covid yang meninggal. Daftar pasien yang terus bertambah secara signifikan. Setiap hari hampir tiap jam liat berita, berita utama yang tampil adalah tentang covid 19.

Belum lagi informasi lainnya tentang penolakan penguburan jenazah pasien covid 19 di lingkungan tempat tinggalnya atau di kampungnya. Juga penolakan warga terhadap kedatangan petugas medis yang pulang ke kos mereka atau bahkan pulang ke rumahnya sendiri. Seriuuus, itu terlihat sangat mengerikan. Ditambah lagi bahwa para medis yang menjadi korban covid sangaaat tinggi di Indonesia.

Mesjid/mushala Tuo Minang

Jadi memang sangat wajar saja kita mematuhi MUI yang telah mengeluarkan fatwa supaya umat muslim melaksanakan shalat berjemaah di rumah saja. Untuk sementara umat islam yang berada di zona merah sebaiknya memang tidak ke mesjid dulu supaya bisa memutus mata rantai covid 19. Dan juga supaya tidak terjadi penyebaran virus covid 19 antara jemaah yang mengakibatkan terjadinya fitnah terhadap mesjid dan umat islam sebagai cluster baru penyebaran covid 19.

Tapi akhirnya di rumah (orangtua) saya, kami sekeluarga juga melaksanakan shalat jemaah di rumah. Karena mushala di dekat rumah sejak hari pertama puasa tidak lagi mengadakan shalat jemaah. Sehari sebelum puasa ramadhan, bahkan shalat tarwih pertama dan subuh pertama ramadhan masih mengadakan shalat jemaah. Tapi kemudian pihak mushala mendapat peringatan dari tim gugus tugas covid 19 dengan cara menempelkan poster peringatan. Apalagi ketua pengurus mushala adalah seorang polisi senior yang tentu saja ‘harus’ patuh pada peraturan tersebut.

Awalnya ayah saya kesal banget dengan himbauan (pemaksaan secara halus) untuk tidak berjemaah di mesjid abisnya ayah saya sudah terbiasa shalat berjamaah sejak dari kecil di mushala/mesjid. Jadinya berasa aneh kalau tidak shalat berjamaah di mushala/mesjid. Makanya ketika ada himbauan tidak melakukan shalat berjemaah di mesjid/mushala, ayah saya termasuk orang yang ‘bandel’ tetap shalat berjemaah di mushala.

Surau Limo Kaum, Batu Sangka, Sumatera Barat. Gambar dari google

Dengan tidak adanya shalat jemaah di mesjid, orangtua saya mengadakan shalat jemaah di rumah saja. Kami shalat jemaah 5 waktu sehari semalam termasuk juga shalat tarwih berjamaah. Bagi saya itu menyenangkan sih ya karena saya bisa shalat jemaah (hampir) setiap waktu, kecuali saya lagi di luar rumah pas lagi masuk waktu shalat. Kalau biasanya, ramadhan sebelum-sebelumnya paling saya ikut jemaah hanya saat shat isya dan tarwih aja. Yang lainnya jarang banget saya ikutan jemaah. Tapi ramadhan kali ini saya jadi rajin shalat berjamaah karena diadakan di rumah.

Jadi bagi saya ada untungnya juga pelarangan shalat jemaah pada masa pandemi covid 19 ini. Dengan anjuran pelaksanaan shalat jemaah di rumah saya jadi sering ikutan shalat jemaah, hehehe. Kan biasanya jarang saya ikutan shalat berjamaah. Itu menjadi salah satu hikmah dibalik musibah ya, hehehe.

Bagaimana dengan cerita ramadhan teman-teman? Insya Allah pasti tetap asyikya… 🙂

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s