Ombilin – Solok Via Jalan Kampung Simawang Bukit Kandung Sulit Air

Danau Singkarak

Setiap kali saya lewat di jembatan Ombilin, saya selalu melihat plang jalan raya yang berada di simpang pendakian Rambatan. Di situ terdapat petunjuk yang menyatakan jarak Nagari Sulit Air sekitar 11 km. Oke, jadi dari sana bisa ke Sulit Air, itu poin-nya. Kami kan mau menelusuri jalan-jalan kecil yang bukan jalan raya. Sama seperti waktu kami ke Bukittinggi melewati Nagari Batu Palano dan Sungai Pua, kami juga mau pulang ke Solok nantinya dari Ombilin, lewat Rambatan terus ke Sulit Air, hehehe.

Nah waktu kami pergi ke Pasar Milenial Kubu Gadang untuk yang kedua kalinya bulan Februari atau awal Maret yang lalu, saat ada lomba baju kuruang minang di sana, kami pulang dari Kubu Gadang sangat cepat dari biasanya. Jam 2 kami sudah jalan dari Kubu Gadang arah ke Solok. Dan kami bahkan sempat mampir dulu ke Surau Tabiang Tanjuang Barulak, sebuah surau tuo yang sudah tidak lagi digunakan sebagai surau atau mushala. Sedih banget deh saya melihatnya, huhuhu.

Menjelang tiba di Ombilin sekitar jam 3-an menjelas jam setengah empat, kami memastikan bakal pulang dengan menelusuri jalan kampung lagi, lewat Simawang terus ke Sulit Air. Di Pasar Ombilin, kamipun menambah bensin satu liter aja, buat cadangan saja. Karena kalau melihat meteran tangki, harusnya lebih dari cukup untuk tiba di Solok kalau melewati jalan raya. Kami kan gga tau kondisi jalan di sana, makanya saya menambah bbm motor saya.

Sebuah rumah gadang yang rubuh di pinggir jalan

Dari simpang Simawang (saya agak ragu, Simawang apa Rambatan ya, hehehe) di pojok jembatan ombilin, kamipun cuuuus mendaki ke Simawang (atau rambatan?). Gilaaa coooy, jalannya menanjak banget. Jalannya sih bagus, tapi tanjakannya tajam banget. Ngeliat ke sisi kiri, Batang Ombilin atau Sungai Ombilin jauh berada di bawah. Bahkan jalan ke Batusangkar di sebarang sana juga jauh berada di bawah jalan Rambatan, apalagi sungainya. Linda yang emang fobia ketinggian katanya ngilu banget melihat ke arah kiri jalan, hehehe.

Begitu sudah tiba di perkampungan di Simawang, jalanannya sudah tidak menanjak lagi. Sudah mulai stabil, walaupun kadang-kadang jalannya bergelombang turun naik. Kami pun melaju dengan tenang melewati jalanan perbukitan dan meninggalkan perkampungan. Sperti biasa, ketika kami bertemu rumah gadang, kami berfoto dulu hahaha. Apalagi alau rumah gadangnya sudah mau rubuh gitu, musti kami buat dokumentasinya, hehehe.

Setelah meninggalkan perkampungan, jaanan sepi. Kiri kanan perbukitan dengan pepohonan yang rimbun. Setelah agak lama, kami sudah mulai liat rumah-rumah di pinggir jalan, ada sekolah juga. Berarti sudah masuk suatu nagari lagi. Eh tapi saya kok merasa nagari (desa atau perkampungan) tersebut masuk wilayah Solok ya, bukan daerah Tanah Datar lagi. Ternyata benar, hehehe. feeling aja sih, feeling… 😛

Nama nagari yang kami lewati adalah Bukik Kanduang atau Bukit Kandung, yang masuk ke dalam wilayah kecamatan X Koto Diateh, Kabupaten Solok. Jalanannya masih bagus, masih asyik, sampai kami masuk pusat nagari Bukik Kandunduang tersebut. Tidak beberapa lama kemudian melewati rumah terakhir dan meninggalkan pusat perkampungan Nagari Bukik Kanduang. Dan jalananan yang kami lewati pun jelek banget, tidak ada lagi jalan aspal yang halus.

Jalanannya jalan tanah berbatu yang jeleknya minta ampun. Aslinya berupa aspal batu saja tapi karena batu-batunya suda banyak yang copot. Jadinya jadi jalan tanah yang berbatu. Waduuuh, gimana ini? Sampai-sampai kami berdua berpikir, masa iya, di wilayah Solok masih ada juga jalan yang jelek begini kualitasnya, hehehe. Apalagi ini jalan kan menghubungan nagari Bukik Kanduang dan pusat kecamatannya.

Kami agak bimbang, mau balik lagi saja ke Ombilin atau terus lanjut ke arah Sulit Air? Kalau balik, kami merasa sudah sayang banget, karena sudah terlanjur jalan ke sini dan sudah penasaran dari lama pengen nyoba jalur ini. Kalau ngga balik, jalanan jelek begini, kami ngga paham daerah sini, kami ngga pernah lewat sini, plus cewek pula dua-duanya kan bikin kami jadi keder juga, hahaha.

Tapi kemudian kami yakinkan diri buat melanjutkan perjalan. Sepanjang jalan kami hanya ketemu satu kendaraan, satu mobil saja. Motor pun ngga, segitu sepinya jalanannya. Kami, sepanjang jalan walaupun kami bicaranya santai-santai saja, asyik-asyik tapi kami berdua rupanya sama-sama mempunyai ketakutan yang sama (kami sama-sama curhat tentang apa yang kami rasakan setelah tiba di Sulit Air, hahaha).

Dengan jalanan yang jelek seperti itu sudah pastinya membuat kami parno banget. Parno kalau tiba-tiba saja motor kami rusak karena kondisi jalanan yang seperti ini. Atau tiba-tiba saja kami menghadapi orang jahat (atau tiba-tiba jadi jahat) yang melihat kami cewek berdua, siapa yang akan menolong kami. Tapi ketakutan itu hanya kami simpan dulu selama dalam perjalanan dan sama-sama bersikap asyik-asyik saja, hahaha.

Ketika kami sudah hampir mau memasuki Nagari Sulit Air, kami melihat ada dua orang dewasa, laki-laki dan perempuan berjalan santai bersisian. Yang laki-laki menjunjung kayu bakar. Yang perempuan menggandeng anak perempuan. Di depan mereka ada seekor kerbau dewasa dan anaknya. Pemandangan di ‘tengah hutan’ seperti itu pasti sangat keren banget kalau saya abadikan dalam foto. Tapi karena kami sudah dihantui rasa was-was yang tinggi, saya jadi takut berhenti dan mengeluarkan hape, hahaha.

Kami menyapa mereka dan bertanya apakah Sulit Air masih jauh. Mereka jawab sudah tidak jauh lagi, 3 km-an lagi, masih jauh coy hehehe. Yang laki-laki menurut saya belum berumur 30 tahun, yang perempuan sepertinya 25 tahun. Kami tanya umur anaknya, mereka jawab tiga tahun. Ya Allah, tegar amat ya anaknya, udah masuk ladang dan jalan jauh gitu. Saya jadi sebal sama diri saya karena tidak memoto pemandangan seperti situ. Keren banget menurut saya.

pucuk gonjong rumah gadang di Sulit Air

Sekitar 1 km berikutnya kami mulai masuk perkampungan. Satu persatu rumah mulai terlihat di pinggir jalan meski jalanannya masih jalan berbatu. Baru deh perasaan kami jadi lega. Kami pun sama-sama mengeluarkan curhatan apa yang dirasakan selama beberapa kilometer perjalanan di tengah jalan yang sepi tadi, hahaha. Kami bercerita sambil haha hihi karena perasaan sudah lega, hehehe.

Salah satu tujuan kami ke Sulit Air adalah, kami ingin melihat-lihat rumah gadang di Sulit Air. Nagari sulit Air adalah salah satu nagari yang banyak banget rumah gadangnya. Udah gitu rumah gadang unik-unik lagi, rumah gadangnya besar-besar. Tidak ada rumah gadang di daerah lain di Minangkabau ini yang jumlah kamarnya belasan. Bahkan ada yang 20 buah kamar, memanjang dari ujung kiri ke ujung kanan. Sebagai penyuka wisata sejarah, tentu saja saya mau banget bela-belain ke sana ye kan. J

Begitu tiba di pusat Nagari Sulit Air, tiba-tiba hujan turun, terpaksa kami berhenti dulu untuk berteduh. Alhamdulillahnya, hujannya turun tidak lama. Kami mah tetap saja melanjutkan perjalanan meski hujannya belum benar-benar berhenti, hehehe. Soalnya sudah sore juga. Sudah azan ashar. Jalanan Sulit Air – Tanjuang Alai dan Tanjuang Alai Singkarak, itu kiri kanannya perbukitan yang pohonnya lebat, makanya sebelum magrib sudah harus tiba di Singkarak. Agak kuatir saya jalan malam-malam di sana. Dari Singkarak ke Solok mau jam berapa saja insya Allah ngga masalah bagi saya, karena sudah pernah tiba di Singkarak hampir jam 12 malam dari Bukittinggi, hehehe.

Daaan, Nagari Sulit Air benar-benar memuaskan hasrat saya akan rumah gadang, meski banyaaak banget rumah gadang yang sudah jadi rumah kosong tak terawat di sini. Daan juga banyak rumah gadang yang sudah (hampir) rubuh juga. Sedih banget. Nah gimana perburuan saya terhadap rumah gadang tersebut nanti saya buat pada postingan yang lain ya. 😛

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s