Trip Malaysia Hari ke 3 : Museum Perpatih Negeri Sembilan dan Mesjid Putra, Kota Putrajaya

Menara Kembar KLCC

Kami keluar hotel jam 8 lewat. Kami menggeret koper keluar dan menitipkannya pada resepsionis. Rencana saya, nanti sorenya kami akan melanjutkan perjalanan ke Penang, naik bus dari Terminal Bandar Tasik Selatan. Setelah urusan koper selesai, kami makan pagi dulu di restoran Fatimah yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari Stasiun Imbi Bukit Bintang.

Setelah selesai makan baru kami naik LRT di Stasiun Imbi dengan tujuan KL Sentral, stasiun pusat berbagai moda transportasi di Kuala Lumpur. Ongkos naik monorel 3 RM kalau ngga salah. Dari KL Sentral kami membeli tiket KTM (Keretaapi Tanah Melayu) tujuan Kota Seremban, Negeri Sembilan. Tiket untuk ke Seremban harus beli kartu KTM dulu seharga 5 RM dan ongkos ke Seremban 8 RM. Totalnya 13 RM yang harus dibayar untuk sekali jalan.

Begitu Mba tiketnya bilang keretanya mau berangkat sekitar 4 menit lagi, kami buru-buru lari ke bawah, ke platform kereta jurusan Stasiun Seremban. Kalau ngga salah berada di jalur 4. Begitu kami tiba di bawah, pas juga keretanya yang baru tiba hendak berhenti. Hufff, alhamdulillah banget kan ya, hehehe. Karena kalau ngga kami bakal nunggu lagi kereta berikutnya. Kalau ngga salah setengah-an jam lagi tiba kereta tujuan Seremban. Lama banget.

Beberapa menit kemudian, kereta api tujuan Seremban berangkat. Setelah Kereta api meleati beberapa stasiun dan meninggalkan area Kuala Lumpur, suasana perkampungan sudah mulai terlihat. Tampak rumah-rumah yang berdiri adalah rumah-rumah panggung ala Upin – Ipin. Suasana di perkampungannya tidak ramai penduduk, tampak nyaman dan tenang. Tapi walaupun suasana perkampungannya terasa banget, hampir tiap rumah parkir satu mobil, menunjukkan perekonomian Malaysia lebih baik ya hehehe.

Perjalanan ke Seremban ditempuh selama sekitar 1,5 jam. Kami tiba di stasiun Seremban, Negeri Sembilan sekitar jam 11. Tiba di stasiun kami langsung nanya-nanya gimana cara menuju ke Museum Negeri Sembilan. Eh taunya petugas di sana kok ngga tau ya. Bingung saya sama mereka. Kalau di KRL Jakarta atau busway, para petugas di sana bisa rata-rata tau arah dan tujuan daerah di sekitar stasiun. Di sini banyak yang nggak taunya. Sebel kan ya ketika kita tanya pada petugas yang harusnya tau tapi malah ngga tau, hahaha.

Akhirnya ada ibu-ibu yang tau dimana lokasi Muzium Negeri Sembilan yang saya maksud. Kami disarankan naik taksi saja, karena kalau jalan ke sana, lamanya sekitar setengah jam. Kami pun naik taksi. Dan menurut perkiraan saya, jaraknya sekitar kurang lebih 2 km. Lumayaaaan jauh kalau jalan kan ya, hehehe. Emang beda deh makna dekat dan jauh menurut orang Malaysia.

Muzium Negeri
Museum Perpatih Negeri Sembilan

Kami masuk museum Negeri tersebut. Lantas mutar-mutar di lantai bawah yang disebut dengan Galeri Sejarah Negeri Sembilan, dan lantai atas yang dikenal dengan Galeri Perpatih. Setelah selesai mutar-mutar di galeri tersebut, kami juga masuk ke dalam istana Istana Ampang Tinggi, replika istana yang terdapat di halaman gedung Muzium Negeri.

Tak ketinggalan saya juga masuk ke dalam replika rumah tradisional Negeri Sembilan. Kedua bangunan ini berupa bangunan rumah panggung yang mirip dengan rumah tradisional minangkabau tapi model atapnya lebih mirip dengan atap rumah gadang Atap Kajang Padati, salah satu model Rumah Gadang Minangkabau.

Setelah selesai di Museum Negeri kami makan siang di warung yang ada di dekat museum, yang brjarak sekitar 150 m. Baru deh kemudian kami naik taksi tujuan terminal Seremban. Karena tujuan kami berikutnya adalah Kota Putrajaya, ibukota administrasi Malaysia. Tapi rupanya dari terminal Aeremban ngga ada bus umum yang langsung ke Putrajaya. Adanya cuma bus (mungkin semacam feeder) khusus pegawai pemerintah di Putrajaya,  huuuuf…

Dataran Merdeka, Kuala Lumpur

Kami akhirnya balik lagi ke stasiun, jalan kaki lewat jalan belakang. Dari terminal ada jalurnya, jadi ngga perlu mutar dulu melewati jalan raya. Saya tanya petugas tiket kereta api gimana cara ke Putrajaya. Katanya kami harus ke KL Sentral dulu, nanti tanya saja katanya. Okelah kaka, kami pun mengikuti srannya. Setibanya di KL Sentral, petugasnya bilang untuk tujuan Putrajaya, harus naik KLIA Transit, turun di stasiun Putrajaya/Cyberjaya.

Semppruuuul. Ternyata naik KLIA Transit aja, padahal kami udah bolak balik ke KL Sentral. Saya pikir naik kendaraan lain lagi. Harusnya petugas tiket stasiun Seremban bisa bilang, naik kereta api turun di Bandar Tasik Selatan, trus sambung KLIA Transit arah KLIA. Kan lebih cepat, lebih ringkas dan juga lebih irit waktu dan biaya. Keseeel kan gueeee, 😛 *kipas-kipas biar adem hati guweeeh, hahaha.

Kami menunggu KLIA Transit sekitar 15-an menit, wasting time banget kan. Dari stasiun Putrajaya kami naik bus lagi, tapi sebelumnya harus beli kartu transportasi kawasan Putra. Duuuh, emang ngga bisa apa ya pakai kartu KTM aja gitu? Kenapa harus beli lagi coba? Bikin tebel dompet aja. Tapi mau ngga mau saya beli kartu juga buat bertiga, alhamdulillahnya bisa satu kartu untuk beberapa orang.

Mesjid putra, Putrajaya, Malaysia

Setelah tiba di Putrajaya, kami foto-foto dulu di Dataran Putrajaya baru kemudian masuk ke Mesjid Putra, untuk shalat jamak zhuhur dan ashar. Dan tentunya tak lupa foto-fotoin mesjidnya, hehehe. Tapi saya ngga mampir ke area medan selera yang berada di pinggir Danau Putra. Karena niatnya mau balik lagi saja ke hotel, di Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Hotel SIMMS.

Rencana awalnya, kami mau naik bus ke Kuala Lumpur karena ongkosnya ‘cuma, 3,6 RM, kata petugas tiket di terminal Putrajaya. Tapi karena kami musti balik segera ke hotel, kami pun lagi-lagi naik KLIA Transit supaya cepat. Karena sore itu harusnya kami berangkat ke Penang, sementara hari sudah sore banget, jam setengah 6, dan kami masih di Putrajaya, hahaha. Ngga tau dehh bakal tiba jam berapa di Penang.

Sewaktu tiba di hotel SIMMS yang berada di daerah Bukit Bintang, sudah mau shalat magrib. Kami segera ambil tas dan balik lagi ke stasiun LRT Imbi, trus ke KL Sentral lagi. Dari KL Sentral balik lagi ke BTS. Ya Allah, mondar-mandir ngga jelas. Tapi asyiknya adalah saya jadi lebih paham arah, jadi kalau nanti ada yang minta tolong ditemani ke KL udag paham ancar—ancarnya, hehehe.

Chin Swee Temple, Genting, Malaysia

Di Bandar Tasik Selatan (BTS) kami mencari tiket bus tujuan Penang. Saya mengantri di salah satu tiketing box untuk membeli tiket. Dan alhamdulillah dapat tiket untuk keberangkatn 20 menit lagi. Saya diarahkan bagaimana cara mencari ke ruang tunggu keberangkatan. Dan gaeees, ternyata untuk turun ke ruang tunggu bus, atau boarding, harus memperlihatkan tiket dan passport. Pendapat saya, entah ini kereen banget atau terlalu berlebihan sampai harus memperlihatkan paspor segala, hahaha. Tapi okeylah, ngikut bae-lah aturan mereka.

Kami berangkat jam 9 teng dari Bandar Tasik Selatan (BTS), ngga pakai lewat-lewat semenit juga. Bisa keren gitu ya, hahaha. Ngayal saya kalau di Indonesia kaya gini. 😛 Kami tiba di terminal Sungai Nibong, Penang, jam setengah 2 lewat. Dari terminal kami naik taksi ke ke hotel. Gimana perjalanan naik bus ke Penang, nanti saya buat di postingan tepisah ya… Seru lah pokoknya 😛

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s