Turun Gunung yang Penuh Perjuangan dari Danau Gunung Tujuh

My Sisters’s

Yeeeay akhirnya saya dapat mood untuk melanjutkan postingan tentang pendakian Gunung Tujuh. Postingan pertama saya tentang keluh-kesah nista saya sewaktu melakukan pendakian yang luaaaar biasa berat bagi kami berlima, hehehe. Arena Dedew sudah tidak sanggup dan tidak mau lagi melanjutkan pendakian maka keputusan kami adalah semua turun. Ngga ada yang naik.

Tapi rupanya karena dorongan semangat dari bapak-bapak yang menyemangati kami untuk tetap naik, maka akhirnya Yuli, Linda dan adik saya melanjutkan pendakian. Sementara saya turun gunung menemani Dedew. Kami turun dari patok antara 36 dan 37. Kami berjalan pelan ke bawah. Tapi rupanya perjalanan turun terasa lebih berat daripada saat melakukan pendakian. Kaki saya, tepatnya paha saya genetaran ketika melangkah turun, hahaha.

Ketika kita mendaki memang terasa berat karena kita membutuhkan tenaga yang besar saat mendaki. Akan tetapi pada saat mendaki tangan bisa berpegangan pada akar-akar yang ada di depan kita. Jalur pendakian membuat tanah di depan terlihat lebih tinggi dan tangan mudah menggapai akar-akar tersebut untuk berpegangan dan menarikkan tubuh ke arah depan. Dan pada saat satu kaki melakukan dorongan ke atas akan membantu memperbesar tenaga naik ke atas.

Berbeda dengan saat turun, ketika kaki yang satu (misal, kaki kiri) melangkah ke bawah, kaki kanan kita menahan berat tubuh. Begitu kaki kiri menginjak tanah dan kaki kiri melangkah, maka kaki kiri yang menahan tubuh, hahaha. Satu tubuh ditopang oleh sebelah kaki. Begitulah sepanjang jalan turun kalau tidak ada kayu untuk berpegangan. Dedew untungnya masih memegang tong si Rian jadi berat badannya bisa ditopang sebagian oleh tongkat.

Dari patok 36 tadi, untuk mencapai pos 2 yang jaraknya sekitar 500 – 600 m. Kami butuh waktu 1 jam 10 menit. Lebih lama dari waktu naik, hahaha. Karena saat turun selain jalur yang berlumpur terasa lebih licin, kami berjalan lebih pelan karena paha yang sakit dan gemetar, hahaha. Apalagi saya yang tidak menyiapkan tongkat saat naik Gunung Tujuh ini, hehehe.

Sepanjang saya turun saya merasa menjadai mendadak shalehah,mendadak rajin berzikir dan beristigfar sodara-sodara, hehehe. Tiap melangkah turun dengan kaki yang gemetar, ngucap : astagfirullah…. ya Allah ya rabbi, ya ghafur, laa haula walaa quataailla billah, subhanallah. Pokoknya apa saja asmaul husna yang terlintas di kepala diucapin, hahaha.

My sister’s

Entah kenapa, selain saya menyukai suasana di tengah hutan yang tenang dan sangat nyamandengan pohon-pohon yang tinggi gitu, saya juga ada perasaan yang agak aneh lainnya, agak berasa-berasa halu gitu sewaktu berjalan berdua. Jadi saya berasa-berasa butuh ‘perlindungan’ hehehe. Sebenarnya ketika kami turun, ketemu beberapa pengunjung yang sedang naik ke danau. Hanya saja pas hanya kami berdua saja di jalur tersebut, saya lagi-lagi merasa butuh ‘perlindunganNya’. Saya ngga usah bahas yang ini ya, cukup dipahami saja ya… J

Saya dan Dedew memutuskan shalat dan makan di pos 2. Kami berwudu dengan tayamum. Entahlah, saat itu shalat saya kacau banget, diterima apa ngga karena kaki saya berlumuran lumpur. Tidak ada air buat mencuci kaki, air minum yang setengah botol juga tidak akan mencukupi untuk mencuci kaki yang berlumur lumpur. Sehingga kami jadi lillahi ta’ala sajalah wudhu dengan tayamum, dan melakukan shalat dengan kaki yang masih berlumpur. Sementara Dedew shalat sambil tetap memakai sepatu, ya Allah, ini darurat kan ya Allah.

Setelah selesai shalat, kami pun makan karena perut sudah keroncongan. Pada saat kami sedang makan, saya liat plang besar, peringatan dari dinas kehutanan untuk pengunjung supaya berhati-hati : karena di sana banyak harimau sumatra. Badan saya menggigil saat baca papan pengumuman tersebut. Tapi sepertinya Dedew tidak melihat plang peringatan tersebut. Di dalam hati saya berzikir dan beristigfar serta memohon semoga kami semua tiba di rumah dengan selamat, hehehe.

Dan ketika terlihat ada 3 orang lagi yang tiba dari atas, ada perasaan lega, saya sedikit agak tenang. Benar-benar parno saya, hahaha. Kami berdua segera turun setalah selesai makan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 teng. 3 orang mahasiswa yang baru tiba, masih istirahat di pos 2. Alhamdulillahnya, jalur penurunan dari pos 2 ke pos 1 tidak terlalu tajam turunannya, agak sedikit landai dibanding jalur pos 3 ke pos 2. Sehingga, kaki saya pun tidak terlalu gemetar saat melangkah turun.

Di sepanjang jalan, ada saja orang yang naik. Berdua atau bertiga, yang rata-rata adalah anak mahasiswa. Pendaki yang turun dari danau juga banyak yang mendahului kami ke bawah. Bahkan rombongan anak-anak sekolah yang tadinya waktu naik ada di belakang kami lalu melesat mendahului kami, sekarang saat turun pun juga melesat juga melewati kami dan meninggalkan kami yang turun tertatih-tatih karena paha terasa sakit banget, hahaha.

Sekitar belasan meter menjelang tiba di pos 1, gerimis deras menyirami hutan Kerinci. Dan alhamdulillahnya, hujan turun deras setelah kami tiba di pos 1. Awalnya hanya kami berdua saja yang berteduh di sana. Tapi kemudian ada beberapa mahasiswa yang turun dan juga naik yang membuat perasaan saya menjadi agak nyaman saat menanti hujan yang berhenti setengah jam kemudian.

Gunung Kerinci yang tampak indah dari pos kehutanan Gunung Tujuh

Kami berdua melanjutkan lagi perjalanan turun ketika hujan sudah agak mereda. Saya punya keyakinan, hujan yang terlihat adalah sisa tetesan air yang jatuh dari dedaunan, bukan hujan yang masih deras, hehehe. Eh ternyata benar, air hujan yang turun ternyata hanyalah sisa-sisa hujan saja. Untungnya kami punya jas hujan plastik kresek yang membuat badan tidak kebasahan dan juga membuat badan tidak kedinginan.

Jalur dari pos 1 sampai ke bawah merupakan jalur yang sangat susah, apalagi aliran air hujan cukup deras sepanjang jalur yang kami lewati. Ditambah lagi, karena air yang mengalir, kita tidak bisa melihat dasar tanah yang tertutup aliran air, sehingga beberapa kali saya terpeleset. Bahkan beberapa kali ketika sedang turun, kaki saya tergelincir dan terjatuh tepat di (maaf) pantat saya. Sakiiit banget, hahaha.

Sekitar hampir separo perjalan ke bawah ada seorang mahasiswa yang turun dari atas. Mungkin karena melihat kami yang ‘kerepotan’ turun saat minta tolong pegangan sama dia, dia kemudian mengiringi jalan kami dan tidak meninggalkan kami. Alhamdulillah banget. Beberapa kali dedew terpaksa meraih tanganya saat turun di beberapa tempat yang sangat sulit untuk turun karena jalur yang sangat licin. Kadang-kadang dia turun duluan untuk mencari tempat berpijak yang aman. Ya Allah, semoga dia dipermudah urusannya karena sudah membantu kami dengan tulus kaya gitu.

Jadi ketika kami sudah tiba di jalan tembok, rasanya kok legaaaaa banget. Tapi kaki saya jalannya udah kaya orang abis lahiran, hahaha. Saya kemudian nelpon Linda, Yuli dan adik saya. Linda ngga jawab-jawab. Yuli ngejawab dan bilang dia lagi jalan sendirian saja karena ‘tertinggal’ adik saya, serta linda yang katanya tertinggal di belakang bareng Rian entah dimana dia sekarang.

Mendengar Yuli yang jalan sendirian saya cemas banget. Bagaimana dengan adik saya? Bagaimana cara Yuli sendirian turun sementara ja sudah menunjukan jam 6 kurang 5 menit. Sebentar lagi gelap, gelap karena tadi hujan plus juga sudah mau magrib. Saya luar biasa panik. Saya telpon adik saya, ngga jawab-jawab. Karena sudah hampir tiba di jalan tembok, saya biarkan dedew jalan duluan. Saya menunggu dulu di sini aja.

Tidak sampai 10 menit kemudian, adik saya terlihat turun dari jalanan tebing yang licin. Saya legaaa luar biasa tapi saya langsun ngamuk sama adik saya, “kenapa Ni Yuli ditinggal sendirian?” saya Marah sama dia. Eh ada saya jawab, “Ni Yuli sama Ni Linda.” Whaaattt??

Kesel ngga sih? Rupanya adik saya mengira Yuli masih bareng Linda (sementara Yuli bilang tadi jalan turun sama adik saya), sementara tadi gua telpon dia sendirian di tengah hutan, ngga ada teman bareng. Makin panik dong saya. Akhirnya saya ngikutin adik saya dan dedew turun, mau menunggu Yuli dan Linda di satu-satunya warung yang ada di dekat pintu masuk.

Perjalanan saya turun dari patok 36-an, jam 2 kurang, tiba di bawah jam 6 kurang juga. Artinya perjalanan turun plus berhenti karena hujan, 4 jam lamanya hahaha. Sementara adik saya hanya 10 menit jarak waktunya dengan saya. Padahal kami lebih lama turun duluan dari adik saya, hehehe.

Nanti saya buat cerita selanjutnya yang ternyata Linda hanya berjarak satu lompatan harimau saja dengan dirinya… 🙂

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s