Pasar Kubu Gadang Padang Panjang : Lomba Baju Kuruang dan Kebaya Saisuak Minang

Untuk kedua kalinya saya dan sahabat saya main ke Pasar Kubu Gadang, Padang panjang. Yang pertama saya ke Kubu Gadang akhir Januari yang lalu, dimana saat itu saya mengendarai motor di bawah siraman hujan sejak dari Sumani sampai hampir tiba di perbatasan Batipuh dan Padang panjang. Di bawah siraman hujan, kami menghayal indah tentang beberapa keinginan masing-masing kami. Tapi kami juga tidak lupa memanjatkan doa-doa, karena sewaktu hujan turun adalah salah satu waktu baik untuk berdoa kepada Allah.

Pasar Milenial Kubu Gadang Padang Panjang adalah salah satu pasar milenial yang di Sumatera Barat. Pasar Kubu Gadang ini selalu membuat inovasi-inovasi baru untuk untuk memeriahkan pasar milenial tersebut. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah mengadakan Lomba Baju Kuruang Minang Saisuk. Artinya, Lomba Baju Kurung Minang Tempo Dulu. Saya berkunjung ke sini bersama sahabat saya menjelang akhir Februari 2019.

Saisuak dalam bahasa minang artinya adalah zaman dulu, atau zaman baheula. Jadi lomba ini maksudnya adalah lomba yang menampilkan baju-baju kuruang dan baju kebaya minang yang dulu biasa digunakan oleh wanita-wanita minangkabau. Lengkap dengan kain sarung batik untuk bawahannya serta selendang atau tingkuluknya.

Awalnya saya ngga tau ada lomba baju kuruang saisuak ini. Baru tau ada lomba baju saisuak setelah kami tiba di sana saat liat orang-orang pada memakai baju kurung dan baju kebaya lama. Waaah lumayan asyik juga kan ya. Orang-orang datang ke sini ngga cuma buat sekadar mencicipi kuliner saja tetapi juga melihat sesuatu yang selama ini yang sudah hampir dilupakan orang-orang. Lomba Baju Kuruang ini diikuti oleh perwakilan kelurahan yang ada di Kota Padang Panjang.

Jujur saja, melihat baju kurung dan kebaya yang dipakai oleh beberapa mengingatkan saya pada almarhum nenek saya. Ada satu baju peserta yang motifnya benar-benar persis dengan yang satu baju kebaya yang dimiliki oleh nenek saya. Hanya warnanya saja yang beda. Peserta lomba baju kurung tersebut memakai warna krem tua atau orange muda, punya nenek saya warnanya biru muda. Kualitas bahan kebaya tersebut terlihat bagus banget.

Peserta lomba baju kurung dan kebaya saisuak terlihat sangat antusias. Mereka heboh berteriak mendukung tim kelurahan masing-masing. Pematangan sawah menjad tempat menjadi arena ‘catwalk’ yang keren. Begitu juga jerami yang ditumpuk yang menjadi panggung utama yang dolewati para peserta yang menjadi modelnya. Kreatif banget ya, hahaha.

Penonton dan suporter masing-masing tim juga sangat heboh. Eh, kalau penonton ngga heboh-heboh amat sih, mereka nonton asyik aja. Yang heboh mah para suporter masing-masing kelurahan. Mereka saling meneriakkan yel-yel kelurhanan mereka masing-masing. Suasana jadi hidup dan meriah. Saya sebagai penonton saya merasa terhibur banget dengan tingkah para supporter kelurahan, hahaha.

Dengan suasana alam yang indah dan suasana Pasar Kubu Gadang yang meriah, saya sangat menikmati acara tersebut. Selain (sok) sibuk moto-motoin kegiatan di sana, saya juga masih sempet-sempatin menyesap kopi hanget (tadinya panas banget) yang saya beli. Kopi kampung tersebut saya sesap dari gelas sayak alias tempurung dengan penuh nikmat. Hawa sejuk pegunungan berpadu dengan kemeriahan acara, membuat kopi yang mungkin rasanya biasa-biasa saja menjadi luar biasa, hehehe.

Selain menonton acara lomba baju kurung dan kebaya saisuak, saya juga menonton silek lanyah. Silek lanyah maksudnya adalah silek atau silat yang dilakukan di atas tanah berlumpur atau dalam kubangan. Silek lanyah ini biasa dilakukan di dalam kubangan sawah. Akhirnya untuk pertama kalinya saya bisa menyaksikan pertunjukan silek lanyah, setelah sebelunya saya gagal menyaksikannya di Pasar Kubu Gadang ini.

Kami pulang siang itu lebih cepat dari biasanya. Jam 2-an sudah balik ke Solok. Tapi itu bagus juga sih karena akhirnya saya bisa mampir dengan mushala tua yang pernah menyandera pikiranku selama bertahun-tahun. Kami, tepat saya sih, akhirnya nanpir di Surau Tabiang, surau di Tanjung Barulak yang sudah ‘mati’ karena ketiadaan jemaah. Surau tersebut sekarang menjadi tempat tinggal, bukan lagi sebagai tempat ibadah, alias mushala atau surau. Sedih banget saya melihatnya… 😦

Ketika hari masih siang, kalau ngga salah masih belum jam setengah 4, saat itu masih belum ashar ketika kami tiba di Ombilin, kami memutuskan ngga pulang lewat jalan utama di pinggir Danau Singkarak. Kami mau pulang lewat jalan memutar ke sulit Air. Setelah jembatan Ombilin, belok kiri naik ke arah Simawang. Kami mau singgah ke Sulit Air untuk ‘wisata budaya di sana, wisata rumah gadang, hehehe. Gimana perjalanannya nanti saya buat postingan terpisah ya. Itu sebuah wisata yang menyenangkan sekaligus menyedihkan buat saya, melihat banyak rumah gadang tetapi banyak yang sudah lapuk karena dimakan usia dan menjadi rumah gadang yang kosong.. 🙂

 

Liza, ketua pemuda nagari, sekaligus ketua pelaksana pasar milenial kubu gadang

 

 

 

 

 

 

7 comments

  1. […] Suasana desa dengan pemandangan sawah yang indah ini menjadi daya tarik utama Pasar Kubu Gadang. Dan ditambah lagi, karena pasar Kubu Gadang yang berada di pinggir sawah, sering diadakan pertunjukan silek lanyah alias silat di atas lumpur sawah. Pertunjukan silek lanyah ini menjadi daya tarik utama penampilan kesenian di Kubu Gadang. Dan juga di lain waktu diadakan lomba Baju Kurang Minang. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s