Trip Saribu Rumah Gadang Solok Selatan dan Danau Gunung Tujuh Kerinci

Gunung Kerinci dari jalan pintu masuk Danau Gunung Tujuh

Sejak bulan puasa yang lalu saya bersama Linda sahabat saya mau menyusun rencana trip ke Aceh, awal libur sekolah akhir Juni. Maklum Linda kan guru, jadi bisanya jalan-jalan pas libur sekolah aja kan yes. Tapi rupanya setelah dihitung-hitung biayanya, ngga ‘masuk’ ternyata. Ngga cukup duitnya, hehehe. Biayanya minimal 1,5 juta. Sementara bajet saya cuma 1 juta maksimal. Dasar emang saya ternyata pajalan yang maunya selalu super ngirit, hahaha.

Akhirnya kami putar haluan, ganti rute. Pilihan kami ada 2 : ke Palembang atau ke Kerinci. Tapi saya dan Linda tidak terlalu tertarik ke Palembang karena ‘terlalu kota’. Kami maunya yang lebih ke alam dan tradisional, Palembang bukanlah tempatnya. Akhirannya kami pilih ke Kerinci. Karena tujuannya kami pilih ke Kerinci kami memutuskan sekalian saja mampir ke Mesjid Tuo yang unik Kurang Aso di Pasir Talang dan Saribu Rumah Gadang Nagari Koto Baru, Muaro Labuh di Solok Selatan.

Kami berdua akhirnya mengajak Yuli, salah seorang dari 4 Sekawan kami. Kami menawarkan dulu opsi jalan ke Aceh, dan Medan karena kalau bertiga atau lebih, kan lebih seru ya. Yuli, dalam keraguannya malah dapat izin dari suaminya untuk ikut ngetrip, maka fix kami berangkat bertiga. Sahabat kami yang satu lagi karena tinggal dan kerja di Pekan Baru jadinya ngga mungkin ikut serta. Maka kami pun ancar-ancar biaya perjalanan ke Mauaro Labuh dan Kerinci.

Gunung Kerinci dari Kersik Tuo

Setelah hitung-hitung biaya dan segala macamnya kami memutuskan cater mobil ke sana karena, biayanya ngga jauh beda dengan kalau kami naik angkutan umum. Saya pun kemudian mengajak Dedew, atas saran Linda dan Yuli. Dedew ini sahabat saya lainnya yang kenal cukup dekat dengan Linda dan Yuli.

Dedew ngga cuma bersedia ikut, dia juga sangat tertarik dan antusias banget. Eh akhirannya karena Dedew ikut, adik saya pun tertarik ikut, hahaha. Padahal dari dua hari sebelumnya saya udah merayunya untuk ikut supaya biaya trip kami jadi makin murah, tapi dia ngga mau sama sekali. Bagi adik saya, Dedew ini sudah seperti kakak sendiri, sangat akrab banget. Makanya saya, Dedew dan adik saya bisa jalan ke Malaysia awal Januari 2019 kemaren.

Pada hari H-nya, kami rencananya berangkat jam 8 dari rumah saya. Dari rumah Yuli berangkat jam stengah 8 an, trus jemput Linda. Dedew jam 8 udah tiba di rumah saya. Tapi, yang namanya waktu indonesia, ngga seru kalau ngga molor, hahaha. Akhirnya kami berangkat jam 9 dari rumah saya, hehehe. Dengan mengucapkan bismillah, kami pun cuuuus menuju Solok Selatan dan Kerinci.

Istana Rajo Balun di Balun, Solok

Perjalanan dari rumah saya, kami minta Luki (yang bawa mobil) jalan santai aja. Karena target tiba di penginapan di Kersik Tuo Kerinci sekitar jam 8. Ngga masalah kami santai-santai aja dulu. Kami akan mampir dulu di beberapa tempat situs wisata sejarah yang ada di sepanjang perjalananan. Niat awalnya juga mau berhenti ‘photostop’ di kebun teh Alahan Panjang dan Mesjid Ummi di pinggir Danau Diateh Alahan Panjang. Tapi ngga jadi, kami diskip aja Alahan Panjang, dan cuuuus langsung ke arah Muaro Labuh.

Pertama, kami mampir di sebuah rumah gadang yang dulunya merupakan Istana Rajo Balun, sebuah istana kerajaan kecil yang menginduk kepada Kerajaan Pagaruyuang, yang berada di Nagari Balun, Solok Selatan. Yang turun dari mobil dan naik ke rumah gadang cuma saya dan Linda. Yang dua lagi ngga ikut. Karena yang paling tertarik dengan wisata budaya kan saya, hehehe. Jadi kalau Linda pun tidak ikutan mampir, yang bakal mampir ya saya aja sih. Kami mampir sekitar 15 menit saja di sana, abis itu lanjut lagi ke arah Muaro Labuh.

Setelah selesai shalat zhuhur di daerah Pasir Talang, kami juga mampir di salah satu mesjid tuo minang di Mesjid Tuo Kurang Aso yang juga berada di daerah Pasir Talang. Mesjid Tuo Kurang Aso ini unik, karena tiap orang yang menghitung jumlah tiang mesjid tersebut bisa berbeda-beda jumlah tiangnya. Dan tiang induk di tengah mesjid adalah tiang dengan kayu kembar yang unik pula. Nanti deh saya buat postingan terpisah.

Istana Rajo Alam Sungai Pagu, Solok

Kami makan siang di taman yang tidak terawat. Taman ini dulunya merupakan lahan pasar lama Muaro Labuh. Kami sengaja membawa nasi dari rumah untuk pengiritan biaya makan, hahaha. Begitulah kalau jalan ramai-ramai sama teman yang sudah jadi mak-mak. Selagi bisa ngga makan di rumah makan, kenapa ngga? Semua biaya harus diperhitungkan untuk pengiritan hahaha.

Terakhir, kami mampir di Nagari Koto Baru, sebuah nagari yang terkenal dengan sebutan Nagari Saribu Rumah Gadang. Karena di sana terdapat puluhan rumah gadang yang masih terawat dan bagus, lengkap dengan rangkiangnya. Serius ya, saya bahagia banget bisa melihat rumah gadang yang masih banyak berdiri dan masih kokoh karena dihuni. Dan sekarang Nagari Saribu sedang naik daun dan menjadi ikon wisata budaya di Solok Selatan.

Cerita-cerita seru kami berempat ada di sini saat mutar-mutar menikmati rumah gadang-rumah gadang. Cerita yang seru banget yang selalu membuat kami tertawa ngakak jika mengingat kejadiannya, hahaha. Linda yang tiba-tiba terjatuh gara-gara liat hape mulu. Dan saya yang terjengkang ke selokan kering saat mau motoin teman saya, gara-gara mau ambil angle foto yang bagus tapi malah kejengkang, hahaha. Tapi ntar saya bikin di postingan terpisah deh. Soalnya postingan ini saja sudah puanjaang banget, ntar pada malas deh bacanya kalau panjang-panjang kaaan, hehehe.

Mesjid 60 Kurang Aso Nagari Pasir Talang

Setelah dari Nagari Saribu Rumah Gadang, kami pun cuuus melanjutkan perjalanan ke arah Kerinci. Sempat sih mampir sebentar di rumah makan Sungai Kalu di Padang Aro buat beli lauk untuk makan malam nanti di penginapan. Sekalian juga ketemu teman sekolah yang sudah lama banget ngga ketemu. Jam setengah 8 kurang kami akhirnya tiba di penginapa Paiman Homestay yang ada di Kersik Tuo. Kami ambil satu kamar untuk berlima di sana. Kami tidur kaya sarden aja. Tapi seru banget walau tidurnya mpet-mpetan hahaha.

Besok paginya, kami jalan ke Danau Gunung Tujuh. Ya Allah ya rabbi, ternyata untuk menuju Danau Gunung Tujuh, harus melewati treking yang sangat sulit. Apalagi bagi kami yang bukan anak pendaki gunung. Pernahnya cuma hiking sewaktu jaman sekolah dulu sekolah yang trekingnya sangat standar banget, hehehe. Pun saya kalau pernah naik gunung paling cuma Gunung Bromo dan Gunung Tangkuban Parahu, hahaha. Itu bisa dihitung ‘naik gunung’ ngga sih? 😛

Jalur treking Danau Gunung Tujuh ini nanjak blas sepanjang jalan. Ngga ada sama sekali yang landainya. Seruuuu banget deh pokoknya. Selain seru juga mengerikan banget karena teman saya berjarak kurang dari 10 m dengan seekor harimau sunatera, hiiiii *bergidik. Ntar juga saya buat postingan terpisah tentang mendaki Danau Gunung Tujuh ini. Dan yang pastinya postingannya juga bakal panjang, hehehe.

Malamnya, setelah turun dari Danau Gunung Tujuh, kami langsung pulang ke Solok. Kami tiba di Solok jam setengah 5, setengah jam sebelum masuk waktu sahalat subuh. Badan kami semuanya remuk redaaam. Paha dan betis pada suakiiiit banget. Ya rabbi… saking sakitnya paha saya 3 hari lamanya saya shalat duduk di duduk di kursi, hahaha. Karena kalau saya shalat berdiri, trus pas mau duduk, kaki saya sakiiit dan gemetaran, langsung mau tumbang saja saya, hahaha Tapi itu pengalaman yang saaaaangat seruuuu banget. :p

Mesjid Nagari Koto Baru, Sungai Pagu, Solok

Advertisements

10 comments

  1. wah … pembukaannya aja udah seru begini, nggak sabar nunggu ceritanya satu persatu…
    rumah-rumah gadangnya masih cantik2 ya, ukirannya masih terlihat jelas..
    btw.. geografiku jlek, masih membayangkan arah ke Solok Selatan

  2. Ini nih trip yang seru, dari berdua jadi berlima. Kalau aku malah sebaliknya 😦
    Itu atap Masjid Karang Aso kok kayak atap berundak di Jawa.

    Waaa aku juga pernah sakit paha gitu habis nanjak dari Gunung Merbabu. Saat itu baru (((baru))) 25 tahun padahal. Mau jalan sakit, naik turun tangga apalagi hahahaha

    • Ini seru banget Mas Teguh. Pengalaman yang luar biasa bagi kami.

      Biasanya jumlah anggota berkurang dari rencana awal ya, hehe.

      Itu nama mesjidnya 60 Kurang Aso, dan ciri mesjid tua di sumbar itu kaya gitu, berundak2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s