Numpang Mejeng Foto-Foto di Batu cave, Kuala Lumpur, Malaysia

Foto Batu Cave lama, 3 tahun yang lalu. Belum warna warni tangganya

Temans, saya masih mau melanjutkan jalan saya ke Malaysia. Ceritanya masih panjang banget nih. Baru hari ke-2 dan masih di kawasan Kuala Lumpur, belum lagi di Seremban dan Kota Putra Jaya serta Penang hahaha. Tau sendiri saya kalau nulis postingan panjang-panjang dan per destinasi, ngga bikin postingan rombongan. Semoga temans betah mbacanya ya, xixixi.

Setelah dari Kampung Perancis Colmar Tropicale Village (plus juga sekalian Japanese Garden) dan ke Puncak Genting Highland, kami balik lagi ke arah Kuala Lumpur lagi. Tujuan kami berikutnya adalah Batu Cave, pusat peribadatan Umat Hindu yang berada di dalam goa, yang untuk masuk ke dalamnya musti naik hampir 300 anak tangga dulu. Ngebayanginnya saja saya udah ngos-ngosan duluaan. :p

Saya dan adik saya sudah pernah ke Batu Cave ini 3 tahun sebelumnya, akhir Desember 2015. Waktu itu kakak angkat saya juga ikut bersama anaknya. Tapi karena sahabat saya belum pernah ke Batu Cave, kami ke sana lagi buat sekadar cekrak-cekrek aja. Membuat bukti rekam jejak untuk Dedew sahabat saya, pernah dia kami udah jalan-jalan ke sana meski ngga masuk ke dalamnya, hahaha.

Kami tiba di Batu Cave sudah sore banget. Parkiran mobil udah ngga ramai lagi, dan pengunjung juga ngga ramai lagi. Tapi tak pe lah, justru bagus kan ngga ramai. Kalau rame banget, ngga puyeng saya liat orang sliweran di depan mata. Eh sebenarnya ramai juga sih, tapi ngga seramai siang hari, hehehe. Tangga naik ke dalam Batu Cave rupanya dicat ulang jadi warna-warninya sangat meriah dan berseri banget. Dulu cat tangganya ngga warna warni. Sekarang warna-warni pelangi, jadi tjakep banget.

Kami benar-benar cuma sebentar di sana. Paling lama juga 15 menit, ngga lebih. Hanya ambil foto-foto aja. Itu pun hanya berdiri saja di beberapa langkah dari parkiran sembari mata berkeliling memperhatikan halaman Batu Cave (kerjaan unfaedah banget, hahaha). Banyak pengunjung rebutan foto dengan ratusan burung merpati yang berebutan makanan di halaman.

Saya tanya Dedew,s apa dia mau naik ke atas goa, dia jawab “NO” dengan sangat tegas, hahaha. Ngeliat anak tangganya yang tinggi udah bikin kakinya dan juga kaki saya menjerit duluan ngga mau naik le sana. Laaah tadi aja kaki udah tjapek jalan di Japanese Garden, masak sekarang maksa diri mau naik tangga Batu Cave. Kami ternyata bukan pejalan yang tangguh yaaa. Maanjaaaah, wkwkwkkwk.

Kenapa fotonya jadi kecil gini ya

 

Kami juga tidak tertarik masuk ke dalam goa Rama Sinta Batu Cave yang berada dekat dengan pintu masuk dari stasiun Batu Cave yang ngga ada tangganya. Selain ngga minat juga, saya kan udah pernah masuk. Jadi kalau musti masuk ke goa, saya mestinya milih masuk ke goa utama yang ada tangganya, karena belum pernah masuk ke sana. Tapi yang jelas kami semua ngga berminat masuk goa, udah capek hehehe.

Kami pun mengakhiri jalan-jalan di Batu Cave, balik lagi ke Bukit Bintang, tempat hotel kami. Jalanan ke arah pusat kota Kuala Lumpur macet, padat merayap banget. Sampai-sampai abang sopirnya minta ijin berhenti di pom bensi untuk shalat ashar, takut keburu magrib, katanya. Kami tentu aja bilang oke, dan malah bilang : kenapa ngga dari tadi bilangnya. Kasian, udah mepet mau magrib. Kan kami merasa berdosa juga kalau dia ngga shalat gegara menemani kami, hahaha.

Kami diantar ke hotel yang beda dengan hotel kami yang tadi malam. Karena saya memesan dua hotel yang beda, hehehe. Hotel yang kedua ini berada di jalan Pudu Lama, ujung dari jalan Bukit Bintang, dan sangat dekat dengan Stasiun Imbi yang nempel dengan Berjaya Mall. Trus hotelnya berada di pinggir jalan raya dan bukan pula berada di lantai 2 atau lantai 3 ruko-ruko tua seperti hotel saya sebelumnya, hehehe.

Hari itu perjalanan kami dengan mobil chareteran berakhir. Karena memang jalan-jalanya ngga termasuk dalam kota Kuala Lumpur, kecuali hanya jemput dan antar ke hotel aja. Tapi malamnya kami masih jalan ke Petaling Street melintasi area Bukit Bintang yang panjang dan ramai. Dudulnya kami ngga naik LRT di stasiun Imbi, malah jalan jauh-jauh dulu, padahal katanya cuapeek banget. Eh walaupun capek hati riang gembira deng, Alhamdulillah. 🙂

Advertisement

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s