Perjalanan Solok – Kubu Gadang di Bawah Senandung Hujan

Ceritanya sekitar pertengahan November saya dan sahabat saya Linda gagal jalan ke Pasar Wisata Milenial Kubu Gadang. Kami yang awalnya bertujuan jalan ke Kubu Gadang, malah akhirnya ‘nyasar’ ke Taman Wisata Banto Royo di Bukittinggi, hahaha. Niat amat nyasarnya kalau gitu mah ya, hahaha. Jadi, gara-gara kami ngga tau persis dimana lokasi Kubu Gadang, kami tiba di pusat kota Padang Panjang, kelewatan jauh. Mau balik lagi, Linda ngga mau. Akhirnya kami memutuskan jalan ke Bukittinggi, ke Banto Royo melewati Nagari Batu Palano Sungai Pua. Jalan ke Kubu Gadangnya kami skip dulu, hehehe.

Dua minggu atau 3 minggu berikut, kami akhirnya jalan ke Kubu Gadang. Ketika hendak jalan ke Kubu Gadang Padang Panjang, sekitar jam 7, cuaca di Solok mendung banget. Dan kalau semisal turun hujan, hujannya bakal awet kayanya. Akhirnya kami mah nekat aja berangkat. Karena kalau ngga langsung berangkat, trus ntar hujan turun, yang ada ntar ngga mau menerobos hujan. Tapi kalau kami jalan sebelum hujan turun, ntar gimana ntar juga. Mau istirahat atau mau terus lanjut jalan, dipikirin ntar aja, hahaha.

Dan ternyata benar sodara-sodara, di tengah jalan setelah SMP Sumani,  menjelang pasar Sumani, hujan gerimis turun. Kami berhenti di warung untuk membeli jas hujan. Lalu kami cuuuuuuus melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang. Awalnya, hujannya ngga terlalu deras tapi kemudian turun cukup deras. Dan benar-benar awet pula. Kami menerobos hujan, menempuh perjalanan dalam siraman hujan dari Sumani sampai sepanjang pinggir danau Singkarak, Batu Taba dan hampir tiba di perbatasan Padang Panjang.

Satu setengah jam dalam siraman air hujan, cooy. Ya rabbi, keras nian hati kami berdua nak jalan ke Kubu Gadang yaaa. Ampuni hamba ya Allah… 😛

Walaupun hujan, kami tetap aja ngobrol sepanjang jalan. Tetap aja ketawa meski kami ngomongnya setengah teriak di bawah siraman hujan, hahaha. Trus juga omongan kami berdua sama-sama ‘nglindur’ hahaha. Kami menghayal, menghayal indah seandainya saja kami jalan di bawah siraman hujan bersama laki-laki belahan jiwa kami yang kami cintai, bukan jalan sama sahabat sendiri, tentunya akan romantis bangeeeet kan yaa…. Ngayaaal Coooy, ngayaaaal…. wkwkwkw.

Ya Allah buuuk… sahabat ‘ngga ada’ artinya ternyataaah dibanding belahan jiwa, plaaaaksss, *tampar bolak balik*  hahaha… Menghayal indah bolehlah kan cooooy, walau kenyataannya jauh panggang dari api, apinya dimana, sementara panggang-nya juga entah dimana hahaha. Dasaaar kami ngayal kaya remaja kasiangan yang ngga ingat umur bahwa kami bukan remaja lagi, hahaha. Saat itu mah, prinsip kami adalah : ngayal mah gratiiiis, ye kaaann… 😛 😛 😛 😛

Soal ngayal indah, saya doang kayanya yang ngayal indah, Linda sih ngga ngayal-ngayal amat karena dia memang sudah nikah kan ya… Kalau saya yang masih jomblo, laaaah ini teh kumaha…? Wkakakkak

Tapi kami ngga cuma menghayal indah aja kok. Ngga juga cuma ketawa-ketawa aja kok di atas motor. Masih tersisa jiwa ilahiyah di dalam diri kami, walaupun  sedikiiiit banget, bahwa ; salah satu waktu terbaik buat berdoa adalah pada saat hujan turun, ya kaaan. Dan juga, hujan adalah cucuran rahmat Allah dari langit kepada hambanya. Maka, kami pun tidak melewatkan waktu yang salah satu terbaik untuk berdoa.

Kami berdua memanjatkan doa kami, melangitkan doa dan harapan kami, kepada Sang Pemilik Jagat Raya ini, Allah SWT. Dan tentunya kami juga berdoa supaya doa-doa yang kami langitkan didengar, dan diwujudkan oleh sang pemilik rezeki, Allah SWT. Jadi, salah satu dari kami berdoa, yang lain mengaminkan. Yang lainnya gantian berdoa, yang satunya yang mengaminkan. Atau sama-sama berdoa dan sama-sama mengaminkan.

Begitulah sepanjang jalan menuju Padang Panjang di bawah siraman hujan, berdoa di sela-sela obrolan kami. Semoga Allah mewujudkan doa-doa saya dan doa-doa sahabat saya, Linda, aamiin aamiin ya allah… 🙂

Kami akhirnya tiba sekitar jam setengah 11 di Kubu Gadang. Suasana pasar milenial Kubu Gadang suasananya asyik, menyenangkan dan indah. Di jalanan kampung yang dijadikan area pasar, di salah satu sisinya sawah yang menghampar dengan indah. Dan di sisi yang satunya lagi perbukitan yang hijau dengan pepohonan yang tumbuh subur. Terasa indah dan damai. Saya sangat suka suasananya, karena saya memang penyuka pegunungan seperti itu.

Di tengah-tengah area pasar, si bawah bukit, terdapat bangunan rumah yang kecil. Saya yakin sebelumnya tidak ada rumah di sana. Rumah tersebut katanya sih guest house, tapi menurut perkiraan saya panitia menjadikan rumah tersebut sebagai pusat kegiatan panitia. Jadi di sana tempat orang ganti baju juga, tempat duduk-duduk santai juga di terasnya, dan juga tersedia toilet di sana. Itu yang penting kan yabagi pengunjung.

Rumah untuk guesthouse yang di depannya terbentang sawah dan di belakangnya berdiri bukit yang hijau ini sukses membuat saya kembali menghayal : waaaah enak banget punya rumah di lokasi ini yaa. Di depan rumah sawah menghampar hijau dan kuning, di kiri kanan perbukitan yang hijau. Dan jarak dari perumahan penduduk jauh sekitar 200 m. Oooh indahnyaaa, hijau, damai, tenang di salah satu sudut kota pegunungan yang indah. Ini tempat yang sangat cocok untuk menyepi dan mencari inspirasi, walaupun ujungnya-ujungnya cumangayal aja hahaha… 🙂

Ngayaaaaal lagi oooiii…. ngayaall… Tau aja mah gratiiiiess hahahaha…

Kami berkeliling liat-liat makanan yang dijual di sana. Nasi bungkusnya weenaaak banget walau lauknya cuma telor dan bada balado. Karena nasinya dibungkus pakai daun pisang yang dilayu-in di atas api, jadi nasinya wangi banget. Bada yang digunakan adalah bada yang agak besar. Bada ini kalau di Jakarta disebutnya teri tawar. Berbagai macam makanan kami coba. Beli satu porsi untuk dimakan berdua biar bisa nyicipin banyak jenis makanan, hahaha.

Seruuu dan asyik banget deh pokoknya. Dan yang lebih seru lagi adalah saat Linda mau berfoto-foto ala-ala pakaian jaman dulu (ia sengaja bawa baju  kuruang-nya, hahaha), Dan tak disangka tak dikira, rupanya ada Uda Erison J. Kambari, fotografer terkenal di Sumatera Barat. Sekalian saja dia jadi model fotonya Udan Erison J. Kambari. Gimana cerita poto-poto bareng fotografer ini, nanti saya buat lagi postingan yang beda. Ini aja udah kepanjangan, hehehe. Semoga betah membacanya ya… 🙂

Setelah selesai nyantai di Kubu Gadang, kami tidak ada rencana lain lagi. Kami memutuskan shalat zhuhur dulu di Mesjid Raya Islamic Centre Padang Panjang yang berada di Ngalau (atau mungkin Bukit Tui…?). Untuk menuju ke mesjid, kami tidak melalui jalan raya yang ke arah Padang Panjang, dari Kubu Gadang. Kami memilih memutar jalan Nagari Jaho dulu, menikmati jalanan kampung pada kampung yang indah yang berada di bawah perbukitan yang hijau. Saya ngiler liat air ‘selokan’-nya yang jernih, bening dan beraliran deras. Terus saya ngebayangin selokan di Jakarta, langsung nyungsep kepala saya sampe ‘selokan bening’ Nagari Jaho, hahaha.

Dari Mesjid Raya Islamic Centre Padang Panjang kami makan bakso dulu di pasaraya Padang panjang. Makan baksonya sih ngga lama,sebentar aja. Tapiii, waktu makan bakso hujan turun, dan kami pun nunggu hujan dulu selama lebih dari setengah jam. Baru setelah hujan berhenti, kami memutuskan pulang ke Solok. Tapi kami juga shalat ashar dulu begitu azan ashar berkumandang dari Mesjid Taqwa Muhammadiyah Kauman Padang Panjang.

Tapiii, pas shalat ashar di Mesjid taqwa Muhammadiyah Kauman Padang panjang, hujan deras mengucur selama se-jam. Kami pun akhirannya memutuskan balik saat hujan sudah agak reda, agak reda loh yaa… Kami pun pulang ke Solok di bawah kucuran hujan. Jadinya pergi pulang berada di bawah siraman hujan. Dan kami pun di bawah siraman hujan yang tidak begitu deras kembali melangitkan doa-doa atas harap-harapan kami.

Insaya Alah hujan membawa berkah. Dan juga Insya Allah, Allah mengabulkan doa saya dan doa sahabat saya… Aaamiinaamiin ya rabbal ‘alamiin… 🙂

 

Advertisements

12 comments

    • Waaaah, makasih Mas Jangky, 🙂

      Sekali waktu pernah tuh, pulang dr van der capelen, ke bukittinggi dl, muternya jauh banget, hahaha.

      pulang dari bukittinggi ke Solok 3,5 jam, krn hujan mulai dr batu taba. sempet berhenti krn ujan deras + petir kilat, tp kemudianlanjut jalan pas ujan agak mendingan. Tapi petirnya bersahut2an dan lampu motor cuma bisa lampu jauh. Jadinya motor saya cuma20 km/jam, mengerikan banget malam itu, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s