Mengukur Jalan di Bukit Bintang, Kuala Lumpur

Bagi wisatawan yang jalan ke Kuala Lumpur, siapa sih yang ngga kenal dengan Bukit Bintang? Bukit Bintang merupakan kawasan elit dan pusat perkantoran dan perdagangan di Kuala Lumpur. Mal-mal di kawasan Bukit Bintang banyak dan mewah yang menjadikan suasana malam tampak meriah. Pokoknya jalan-jalan ke Kuala Lumpur rasanya tidak lengkap kalau tidak ‘mengukur jalan’ di Bukit Bintang.

Waktu saya ke Kuala Lumpur 3 tahun yang lalu bersama kakak angkat saya dan anaknya, dan adik saya kandung saya, tidak banyak tempat yang saya jejaki di Bukit Bintang. Hanya mampir sebentar sahaja, sekedar menjejakan kaki di sana, lalu cekrek cekrik sebagai tanda bukti bahwa udah pernah ke Bukit Bintang. No pic hoax kan? Makanya pas ke sini walapun sebentar,ngga lama-lama musti cekrak cekrikin dulu, hahahahahaha.

Dan kemaren ketika saya jalan ke Kuala Lumpur pas awal Januari, kami cuma keliling-keliling ngga jelas di kawasan Bukit Bintang sampai kaki pegal buangeeeet. Hari pertama, kami mutar-mutar di Bukit Bintang tapi ngga jauh. Sekitar jalan Alor saja karena tiba di Bukit Bintang sudah agak malam, udah capek jadi pengen saja balik ke penginapan. Tapi pas malam yang ke dua kami kan ngukur jalan sampe pegel, hahaha.

Bukit Bintang area

Suasana jalan Alor ramai banget. Jalan aja susahbanget. Tapi di jalan Alor kami tidak berani jajan karena kok kayanya ‘serem’ aja gitu melihat merek-merek restoran yang hampir semuanya bertuliskankan huruf cina. Satu dua ibu-ibu melayu pakai jilbab ada yang ‘teriak-teriak’ juga suapaya kami mampir, tapi kami memutuskan tidak makan di sana.

Kawasan Bukit Bintang suasananya hidup, asyik banget. Beer-bener meriah bener euy. Mulai dari mol-mol mewah, hotel-hotel mewah juga, restoran dan pusat jajan serta deretan pertokoan. Semuanya memenuhi area Bukit Bintang menyemarakkan suasana malam. Pengunjung yang sangat ramai, dari berbagai etnis, arab, mata sipit dan juga bule dan negro semua ada.

Trotoar yang ada di sepanjang jalan lebar-lebar sehingga membuat orang-orang lalu lalang dengan nyaman di sana. Pertokoan di juga sana hiruk pikuk menyapa orang-orang yang hilir mudik supaya mau masuk ke tokonya. Suasana yang seperti itu yang belum saya temui di Jakarta. Jakarta konsepnya benar-benar mol banget kan ya. Sana sini ada mol.

Pusat kuliner jalan Alor Bukit Bintang

Di malam yang ke 2, kami pindah hotel. Lokasi hotel kami malam ke-2 berada di pojokan jalan Bukit Bintang dan dan Pudu Lama. Malam itu, habis magrib kami hendak jalan ke jalan petaling, mau beli beberapa baju kaos buat keponakan-keponakan saya. Atas saran petugas hotel, kalau nak ke Pasar Seni atau petaling bisa naik bus GO KL dari halte Bukit Bintang yang berada di jalan Sulthan Ismail.

Kami pun berjalan dari hotel yang berada di jalan Pudu Lama. Keluar hotel belok kanan, setelah beberapa ruko, belok kanan, itulah salah ujung jalan Bukit Bintang. Jalannya panjang sampe ke ujung di jalan Sultan Ismail, jauh banget,kaya jalan Malioboro dari ujung ke ujung. Setelah tiba di jalan Sultan Ismail, belok kiri, jalan lagi sekitar 150 m, baru ketemu halte bus Bukit Bintang, sedaaaap.

Sepanjang jalan santai buat cuci mata walau ngga beli-beli. Abisnya di sana mahal-mahal semua kan ya, jadi duit takut nongol, hahaha. Mending ntar di petaling aja dah. Nantinya kami juga balik ke hotel dengan rute yang sama, hanya beda arah. Tidak kepikiran naik moda transportasi yang lain.Kami jalan kaki lagi. Kaki berasa gempor banget, hahaha.

Jalan Alor

Besoknya, saya tau kalau ternyata stasiun LRT Imbi dekat banget dengan hotel, tinggal ngesooaot doang, mungkin cuma berjarak 150 m aja dari hotel. Jadi, rupanya kami cuma ngukur jalan Bukit Bintang aja semalam sampai kaki gempor yaa, hahaha. Duh kaki saya super pegaaal cooooy 😛

Tapi yang namanya jalan sama sahabat sendiri dan adik sendiri, jalan-jalan asoy ngeboy kaya gitu mah asyik-asyik saja, nyantai-nyantai aja, yang penting hepi kan yaa. Kalau kaki pegelnya minta ampun ntar tinggal dibaluri minyak angin buat ngilangin pegel-pegelnya ya kaaan…? Udah kaya nenek nenek aja dah kami, baluri minyak angin, hahaha.

Itulah asyiknya jalan sendiri, maksudnya jalan-jalan ngga pakai tour travel, kita bisa bebas mengeksplor destinasi wisata tanpa ‘dibatasi’ jadwal agen perjalanan, meskipun bisa bikin gempr kaki, hehehe.

 

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s