Berburu Keindahan Senja Danau Diateh

Sahabat saya Linda adalah penyuka senja, dan penyuka matahari terbena, alias penyuka sunset. Bahkan bisa disebut penggila senja. Kalau saya juga penyuka senja, tapi ngga sampai jadi penggila senja, karena saya lebih menyukai sunrise (walaupun jarang punya kesempatan mengabadikan keindahan sunrise, hehehe). Jadi sebagai penyuka senja, maka cocoklah kami berdua berburu senja jika ada kesempatan.

Saya tidak tau kalau ternyata di Danau Diateh mempunyai pemandangan senja yang sangat indah. Tapi sahabat saya bilang kalau Danau Diateh mempunyai pemandangan senja yang sangat indah. Karena dia sudah beberapa kali menyaksikan keindahan cahaya senja di sana saat pulang kampung ke Talang Babungo, Alahan Panjang. Dan dulu ketika kami jalan-jalan bertiga ke Kebun Teh Alahan Panjang dan Mesjid tuo Kayu Jao, jadi tidak menyaksikan senja di sana.

Jadi, ketika kami berdua pergi ‘barayo’ (berkunjung ke rumah keluarga, saudara atau sahabat saat hari raya) ke kampungnya Talang Babungo, dia sudah wanti-wanti untuk menikmati senja di pinggir Danau Diateh. Saya sih oke-oke saja, karena tidak berpikiran akan menemukan senja yang luar biasa indah di sana, hanya akan menemukan sunset yang biasa saja hahaha.

Dan ternyata, ketika kami tiba di Mesjid Ummi yang berada di pinggir Danau Diateh, matahari senja yang sedang turun, tersembul dari balik bukit yang memagari danau. Saya takjub, pemandangannya luar biasa indah. Tidak hanya pandangannya yang indah tetapi suasananya yang sunyi syahdu. Beneran deh, kesunyiannya syahdu banget. Di sana hanya ada beberapa orang pengunjung yang menikmati keindahan senja Danau Diateh tersebut, karena memang masa liburan sudah habis. Dan pada saat azan magrib berkumandang, kesyahduannya makiiiin terasa.

Matahari senja yang muncul dari balik bukit berwarna jingga. Jingga yang memerah cerah. Belum pernah saya melihat warna jingga yang seperti ini. Apalagi dengan suasana air danau yag tenang, membuat danau terlihat bagaikan cermin raksasa yang dibingkai perbukitan. Keindahan senja tidak hanya terlihat menyembul dari bukit di ufuk barat tetapi juga terpantul dari permukaan air danau yang bak cermin tersebut.

Jadinya pemandangan senja yang terlihat seperti ‘double’. Dari atas dan dari ‘cermin’ danau. Luar biasa indah. Saya sampai kalap memoto momen-momen senja yang indah tersebut. Saking kalapnya, banyak hasil foto yang benar-benar mirip, hahaha. Tapi sayang juga dibuang hasil fotonya yang mirip-mirip tersebut. Rasanya saya ngga mau beranjak dari pinggir danau tersebut. Tetapi suara azan mengingatkan kami untuk segera melangkahkan kaki menuju mesjid untuk melaksanakan shalat magrib.

Selesai shalat magrib kami baru pulang ke Solok yang berjarak lebih kurang 65 km. Dan tiba di rumah 2,5 jam kemudian. Lama bangeet ya? Iya, jalannya santai aja karena jalananya berkelak-kelok dan karena kiri kanan jalan lebih banyak hutan-hutannya, jadinya jalanan gelap. Ditambah lagi kami juga istirahat di warung sambil minum teh hangat sembari makan karupuak leak. Karupuak Leak tetep yeeee, hahaha. Dasar karupuak leak lovers saya mah …:P

Dan seperti biasa, setibanya di Solok, saya langsung beli skoteng favorit saya untuk menghangatkan badan. Pegalnya luar biasa soalnya, hehehe. Dan tak lupa di rumah saya diinterogasi ibu saya kenapa pulangnyanya malam-malam, karena saya tiba udah jam 10, hehehe.

 

Advertisements

3 comments

  1. Itu kalo deket masjid pemandangannya kek gitu, jadi betah terus sholat shubuh dan maghrib disana. Sambil lihat warnah yang memerah indah di ufuk barat atau timur, sambil dengerin adzan. Beh, bener-bener ayem kayaknya mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s