Gaya Setengah Memaksa Ibu-Ibu Tukang Urut di Pantai Kuta Kuta

Foto: Pantai Dreamland

Yang namanya nye-scam di tempat-tempat wisata, sepertinya sudah menjadi hal yang ‘lumrah’ ya. Meski itu bagian negatif yang bisa merusak citra wisata suatu daerah, tapi tetap aja masih banyak yang melakukannya. Saya dulu pernah posting tentang scam yang dilakukan oleh tukang parkir di Sumatera Barat saat libur lebaran. Juga scam yang dilakukan oleh tukang ojek di Pantai Carocok Painan, serta di Pantai Tanjung Aan Lombok ala-ala ibu penjual kain Lombok.

Di Pantai Kuta, beda lagi. Di sana sepertinya sangat banyak ibu-ibu yang jadi tukang pijat atau tukang urut bagi wisatawan. Saya melihat cukup banyak bule yang sedang diurut atau oleh ibu-ibu tersebut. Dan ada juga yang sedang berbicara menawarkan jasa urut mereka kepada pengunjung pantai, termasuk kepada kakakku.

Begitu kami menemukan bangku untuk duduk, beberapa saat kemudian ibu-ibu tukang urut langsung berdatangan menawarkan tenaga mereka untuk mijit. Saya menolak tawaran mereka. Entah mereka tau saya benar-benar ngga mau diurut, mereka ngga ngotot menawarkan jasa mereka pada saya. Tapi kepada kakak saya, mereka ngotot banget menawarkan jasa mereka.

Para ibu-ibu tukang pijit tersebut benar-benar gigih menawarkan jasanya. Pejuang sejati biar kita memakai jasa mereka. Lengkap dengan ekspresi memelas untuk meluluhkan calon ‘konsumen’ mereka. Ekspresi yang menurut saya sangat menyebalkan karena dibuat-buat.
“Murah kok, Buk.” ujar salah satu dari mereka berkali-kali ‘setengah memaksa’. Saya bilang setengah memaksa karena mereka sudah duluan mengurut pundak tanpa persetujuan dulu. Dibilangin tidak usah, tetap saja ngurutin, bilang ‘bayarnya murah kok, 50 ribu aja’. Hmmmm nggak sopan kan ya.

Setelah kakak saya dan suaminya membiarkan dirinya dipijit oleh ibu-ibu tukang pijit tersebut saya pergi dari sana untuk mencari mushala. Lumayan jauh juga sih saya nyarinya, sampai akhirnya nemu mushala kecil di pojok parkiran belakang bekas bangunan hotel yang sudah tidak berfungsi lagi, sebuah bangunan mati. Saya selonjoran di sana setelah shalat kira-kira 15 menit.

Setelah saya istirahat tersebut saya ke tempat kakak saya lagi. Ternyata mereka bertiga sudah selesai dipijit. Kakak saya agak-agak sebel gitu. Pijit-pijit asalan gitu di kaki, tangan dan pundak gitu kena 50 ribu. Saya hanya ketawa ngakak. Mending di salon di penginapan sebelah penginapan kami aja kayanya, hahaha.

Trus kakak saya cerita kalau dia kepoin ibu-ibu tersebut, berapa orang dia dapat pelanggan setiap harinya. Si ibu-ibunya jawab rata-rata sekitar 10 orang, minimal. Gileee… Sehari 10 orang minimal dikali 50 ribu, jadinya minimal 500 ribu. Sebulan minimal bisa 15 juta. Bisa tajiiir melintir juga nih jadi tukang urut di Kuta.

Waaaah enak banget jadi tukang urut di Kuta ya. Bermodalkan ‘tebal muka’ dikit, pake ‘maksa’ secara halus, pegang-pegang pundak orang dulu, sehingga pengunjung merasa ngga enak menolak, hehehe. Trus dalam setengah jam dapat 50 ribu. Ada yang mau jadi tukang urut di Kuta? 😛 Padahal di Jakarta di dekat tempat tinggal saya, urut seluruh tubuh rata-rata 40-50. Dan lama waktu ngurutnya bisa sejam lebih.

Trus kakak saya cerita, dia komen ke si ibu kalau penghasilan si ibu jauh lebih besar dari gaji dia suami istri yang PNS. Eh si ibunya malah bilang pengeluarannya juga sangat besar. Sebagai umat Hindu banyak perayaan-perayaan yang harus mereka jalani yang biayanya juga besar. Setiap hari harus beli canang untuk persembahan. Dan cerita-cerita yang lainnya. Oaaalaaah si ibunya jadi curhat, hehehe.

Advertisements

2 comments

  1. Asal pijet aja gitu ya, terakhir saya make jasa pijet profesional tetangga sendiri 50 sampe 100ribuan dan 1 jam an itu enak bgt krn ya emang ga asal mijet..,cepet kaya kl gitu si ibu kl duitnya ga dipake2in buat ibadah hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s