Nagari Tuo Pariangan Batusangka, Tanah Datar, Nagari Asal Mula Masyarakat Minangkabau

Halo teman-teman, sudah lama saya tidak membuat postingan tentang kampung saya tercinta Ranah Bundo Minangkabau, hehehe. Kangen juga saya. Nah kali ini saya akan bikin lagi postingan tentang Ranah Bundo tercinta, dan tentang Nagari Tuo Priangan, yesss…

Setiap daerah atau setiap bangsa punya cerita atau dongeng asal muasal negeri atau suku bangsa mereka. Walaupun cerita tersebut bisa dibilang bertentangan dengan sejarah pola penyebaran manusia di bumi ini, cerita legenda tersebut tetap terpelihara hingga sekarang, hehehe. Juga soal waktu kejadiannya, ngga logika banget.

Padang juga begitu, mempunyai cerita atau legenda asal muasal masyarakat Minangkabau yang bermula dari Nagari Pariangan. Bagi saya juga ngga logika banget (ntar deh saya coba bikin tulisan tentang yang ngga logika tersebut). Tapi saya tidak akan bercerita tentang asal muasal masyarakat minangkabau itu sendiri, tetapi akan bercerita tentang saya yang ngebolang pake motor ke Nagari Pariangan bersama adik saya.

Nagari Pariangan dipercaya sebagai nagari pertama si Ranah Minangkabau. Sehingga sangat wajar di nagari ini banyak ditemukan situs-situs bersejarah Kerajaan Minangkabau. Juga banyak rumah gadang tua yang yang umurnya ratusan tahun masih berdiri di sana. Dan Nagari Pariangan di sekelilingnya dipenuhi sawah-sawah-sawah yang berundak-undak sehingga membuat pemandangan alam di sana sangat indah.

Saya sudah lama banget pengen ke Nagari Pariangan ini. Sebagai daerah yang mempunyai situs peninggalan sejarah Minangkabau inilah yang membuat saya ingin main ke sana. Tapi kesempatan ke sana baru bisa pas saya menemani adik saya yang mau ke sana sehabis lebaran 2016 yang lalu. Kami berdua naik motor dari rumah menyusuri pinggir Danau Singkarak sampai ke Kubu Karambia, dan berbelok ke kanan ke arah Batusangka. Dari Kubu Karambia, jarak nagari Pariangan ini kira-kira 20 menit lagi dengan kecepatan sedang.

Gapura Nagari Pariangan ini berada di sebelah kiri jalan raya. Ada dua gapura malah. Tapi karena saya fokus melihat ke sisi kanan jalan raya, saya tidak melihat gapura tersebut. Sedangkan adik saya yang bawa motor fokus aja ke depan. Maklum dia mah, walaupun akhwat shalehah tapi kalau bawa motor udah kaya pembalap yang kehilangan arena, jadi semua jalanan dijadikan arena balapan sama dia hahaha. Padahal dari gapura kecil ini mesjid Al Ishlah lebih dekat banget daripada gerbang utama.

Mesjid Al Ishlah,berjarak kurang dari 100 m dari gapura kecil Nagari Pariangan

Gerbang utama pun tidak terlihat oleh kami, sampai akhirnya kami tiba di pasar Simabua, hahaha. Nah kami akhirnya belok kiri di simpangan yang menanjak ke arah sebelum pasar Simabua. Karena di jalan tersebut ada plang STAI Pariangan. Jalan yang kami lewati tersebut tersebut merupakan jalan alternatif bagi pendaki yang melakukan pendakian ke Gunung Marapi. Jalanannya menanjak lurus terus ke atas. Sampai akhirnya kami tiba di pusat kenagarian yang banyak terlihat rumah gadang di sana.

Saya tanya ibu-ibu yang saya temui apakah nagari tersebut Nagari Pariangan, tapi beliau jawab tidak. Nagari yang saya kira adalah Nagari Pariangan ternyata adalah Nagari Padang Panjang (bukan Kota Padang Panjang ya, beda jauh). Saya tau, Nagari Padang Panjang kalau tidak salah adalah nagari kedua yang dibangun ninik mamak setelah Nagari Pariangan. Si ibu tersebut memberitahukan kami jalan penghubung kedua kenagarian tersebut.

Kami menyusuri jalan penghubung tersebut. Jalanannya bagus tapi menurun. Pemandangannya bagus dengan sawah-sawah yang menghijau. Diujung jalan merupakan persimpangan yang merupakan jalan raya di dalam nagari tersebut. Dari sana saya menyusuri gang-gang dalam nagari tersebut untuk melihat dan memoto rumah gadang – rumah gadang tersebut.

Puncak Mortir dan Tanjung Indah, Pariangan

Saya melihat banyak rumah gadang yang sudah menua dimakan usia dan karena kurang terawat dengan baik. Terus terang sebagai pecinta rumah gadang, saya sangat sedih melihat rumah gadang yang tidak terawat tersebut. Saya berharap dan berdoa supaya masyarakat sana juga pemda sana melakukan perawatan terhadap rumah gadang tersebut, aamiin ya Allah.

Saya juga menemukan beberapa situs sejarah peninggalan Minangkabau yang masih ada di sana. Diantaranya makam tua Tantejo Gurhano dan juga satu lagi gedung pertemuan apa gitu yang lupa namanya. Makam ini disebut juga makam panjang karena ukurannya yang memang panjang. Namun ayangnya kedua situs tersebut gerbangnya digembok. Jadinya saya ngga bisa masuk ke dalamnya, huuffff.

Kami juga pergi ke Mesjid Al Ishlah, yang merupakan salah satu mesjid tua di Ranah Bundo Minangkabau. Suasana nagari di seputar mesjid enak banget. Ada pemandian air panas di sana yang bagus buat kesehatan kulit. Saya sendiri sudah membuktikannya. Kaki saya elergi yang terasa gatal-gatal jadi hilang gatal-gagalnya selama beberapa hari, padahal ngga minum obat sama sekali. Luar biasa banget itu mah, menurut saya.

Situs kuburan panjang Tan Tejo Gurhano, sayang gerbangnya digembok, hanya bisa diliat dari luar pagar

Di atas bukit di seberang mesjid juga terdapat batu peninggalan bersejarah. Di sana merupakan tempat yang biasa digunakan orang untuk mengambil foto Mesjid Al Ishlah dengan dengan latar belakang rumah-rumah di atas bukit. Situs peninggalan tersebut berupa batu tulis yang walaupun terlihat tidak terlalu terawat, tapi paling tidak udah diberi atap dan ditandai bahwa batu tersebut merupakan salah satu situs purbakala yang dilindungi oleh negara.

Setelah puas menikmati suasana yang menyenangkan di sana kami memutuskan pulang. Kalau tadi kami datang lewat Nagari Kubu Karambia, pulangnya kami memutuskan pulang lewat pusat kota Batusangka. Sedikit agak memutar sih tapi saya kemudian menemukan lagi beberapa situs sejarah lainnya, yaitu situ Balairung Tabek Sari di Tabek Sari serta situs Batu Batikam dan Kuburajo di daerah Limo Kaum Batusangka.

Weeeew…saya sangat senang dong ya tanpa sengaja melihat situs berejarah tersebut, tapi muka adek saya butek kaya dilipat tujuh karena sebel sama saya yang tiap sebentar minta berhenti, hehehehe. Cerita tentang Balairung Sari, Kuburajo dan Mesjid Limo Kaum nanti saya buat terpisah aja ya…:)

Rumah gadang yang lapuk dimakan usia,lengkap dengan rangkiangnya.
Puncak Mortir dan Tanjung Indah
Sawah-sawah di pinggirjalan raya

 

 

Advertisements

19 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s