Pura Agung Besakih, Karangasem, Bali

Semula, kakak saya ragu-ragu hendak jalan ke Pura Agung Besakih. Menurut kakak saya, kami sudah melihat tiga buah pura sebelumnya, dan pastilah bentuk pura dan pemandangan di pura tersebut sama saja. Pura yang sudah dikunjungi sebelumnya adalah Pura Ulun Danu Bratan, Pura Tanah Lot, dan Pura Uluwatu. Jadi kalau ngeliat pura lagi pasti mirip-miriplah, jadi ngga usah ke sana. Begitu saya jelaskan ini adalah pura terbesar di Bali dan juga merupakan kompleks pura, akhirnya kakak saya mau. Eh malah dia yang kemudian lebih tertarik, hahaha.

Kami ke Pura Besakih pada hari ke 6. Itu pun hampir saja ngga jadi karena Mas Afif yang nggak bisa mengantarkan kami ke sana. Gegaranya adalah kakak saya ragu untuk jalan sehari sebelumnya, lalu membatalkan rencana ke Besakih. Dan hari ke 6 Mas Afif yang sudah ngga bisa jalan bersama kami. Akibatnya pagi itu kami terpaksa mencari sopir lain. Kami baru bisa berangkat setelah lewat jam 10, huhuhu…

Lama perjalanan ke Pura Besakih dari Kuta sekitar satu jam atau maksimal satu jam setengah. Kami tiba di terminal kecil yang semua kendaraan umum maupun kendaraan pribadi diwajibkan berhenti atau parkir di terminal kecil tersebut. Selanjutnya pengunjung diantar ke pura dengan ojek setelah membeli tiket masuk di depan terminal kecil tersebut. Ongkos ojek ke pura 10.000 tapi sudah dimasukkan ke dalam tarif masuk pura yang 40.000 per orang.

Jalanan dari terminal kecil ke pura ini sangat lebar untuk ukuran jalan desa. Dan begitu kami tiba di parkiran depan pura, ternyata lokasi pura ini cukup dekat dengan parkiran bus dan mobil. Perkiraan saya jaraknya kurang dari 1 km. Mungkin hanya sekitar 700-800 m saja. Daaan ongkos ojek yang 10 ribu, menurut saya muaaahaaaal banget, hehehe.

Salah seorang dari sopir ojek tersebut tanpa diminta ‘mengantar’ kakak saya dan suami serta anaknya naik ke areal Pura Besakih, wkwkwk. Dia dengan ‘ramahnya’ mengajak suami kakak saya bicara. Saya sampe nanya kakak saya apa mereka mengajak pak sopir ojek tersebut, kakak saya jawab tidak. Dan saya menganjurkan kakak saya untuk menanyakan tarifnya, supaya nanti dia tidak ‘menetapkan sendiri’ tarifnya setelah selesai ‘menemani’ kami, hehehe.

Tapi ada bagusnya juga sih ada si bapak ini menemani kakak saya jadi guide-nya. Jadi saya bisa eksplor sendiri kompleks pura ini. Sementara kakak saya ada yang bisa menjelaskan tentang pura ini pada mereka, sekaligus ada yang menjadi tukang foto mereka sekeluarga pada saat saya lagi asyik mengeksplor dan memoto-moto objek yang saya inginkan, hehehe.

Pura utama di komplek ini berada di atas ketinggian bukit. Pura ini terlihat sangat megah dari bawah. Dan dari atas pun pemandangan terhampar luas menyegarkan mata. Untuk tiba di halaman pura mesti naik tangga yang buanyak. Saya sih nggak hitung berapa jumlahnya. hehehe. Tapi begitu tiba di atas pura pengunjung diminta turun oleh petugas pura atau petugas adat karena mereka hendak beribadah. Kalau mau melihat-lihat bisa dilihat dari samping pura, katanya.

Lantas saya turun tangga lagi, dan begitu tiba di bawah naik lagi melalui jalan kecil di samping kanan pura. Di jalan samping ini juga terdapat pura-pura lainnya yang lebih kecil. Saya kemudian memutar sampai ke bagian belakang dan balik lagi dari sisi kiri pura. Di samping kiri pura terlihat di salah satu pura umat Hindu juga sedang beribadah.

Ketika saya berjalan turun ini saya melihat seorang nenek yang sudah tua banget menjual bunga untuk sesajen. Saya tidak tau umurnya berapa, tapi mungkin sudah sangat tua sekali. Karena almarhum nenek saya yang meninggal ketika berusia hampir 85 tahun tidak terlihat setua itu. Saya sedih banget melihat orang sudah setua itu masih berjualan.

Saya membayangkan seandainya nenek saya yang berjualan seperti itu, hati saya jadi ngilu. Harusnya dia istirahat saja di rumah, bukan lagi berjualan di usia segitu. Melihat raut mukanya saya yakin dia berjualan bukan untuk ‘menjual’ rasa kasihan orang kepadanya. Tapi memang karena ingin berjualan.

Nenek tersebut menawarkan pada saya bunga tersebut dalam bahasa Bali yang tentu saja saya tidak mengerti sama sekali. Saya sampai menanyakan pada orang yang lewat dia bicara apa. Katanya dia menjual bunganya 5000 sekantong plastik. Ada sisa beberapa plastik yang ada ditangannya yang saya beli semua meski saya tidak menggunakannya. Rasanya pengen nangis melihat nenek tersebut yang masih jualan bunga.

Setelah selesai membeli bunga tersebut saya berjalan ke halaman utama pura. Jaraknya mungkin sekitar 20 meter saja. Tapi ketika saya menoleh ke belakang untuk melihat si nenek, beliau sudah tidak ada. Semoga dia segera pulang ke rumah buat istirahat.

Ketika kelur dari komplek Pura Besakih, suami kakak saya memberikan uang jasa yang lebih buat guide tersebut. Terlihat senyum simpul di wajahnya. Da kemudian segera naik ke motornya. Saya lupa bilang sama kakak saya buat kasih bayaran plus ojek 3, hahaha. Kan lumayan ya, bisanaik ojek turun meski ngga jauh-jauh amat juga

Ketika hendak turun, kakak nyoba tanya ojek berapa ongkos kalau turun, mereka jawab 10.000. Gilaaaa, mahal amaaaaat. mereka ngga kurang dari 10.000. Lebih mahal dari ojek di Jakarta,hehehe. Kami akhirannya kembali ke terminal parkiran dengan berjalan kaki saja. Tidak jauh kok. Jalan santai sebentar aja juga sudah nyampe kok.

Advertisements

5 comments

  1. Pura Besakih memang masternya pura di Pulau Bali menurut saya.

    Naik ojek dari terminal kecil itu menurut saya mungkin itu salah satu “pemberdayaan” masyarakat sekitar untuk mengais rezeki dari yang namanya dunia pariwisata.

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Firsty Chrysant….

    Didoakan sihat selalu hendaknya.
    Saya melihat bentuk pura-pura kecil itu seakan pagoda ya. Indah sekali binaannya dengan warna kayu yang gelap. Ramai sekali pengunjung untuk melihat keunikan Pura Agung Besakih itu. Oh ya mbak, saya juga jadi terharu dan ngilu melihat nenek tua masih berjualan. Dalam usia sedemikian memang sepatutnya beliau berehat di rumah. Untung sekali beliau kerana jualan bunganya dihabisi oleh mbak. Semoga rezeki mbak Firsty juga akan murah diganjari Allah SWT.

    Salam manis selalu dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    • Terima kasih atas doanya Kak Siti….
      Semoga dihijabah Allah, Aamiin… 🙂

      Yang berpakaian kebaya putih atau baju putih adalah umat hindu yang hendak ibadah. Yang bukan kenakan pakaian putih, pengunjung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s