Menikmati Apel Malang di Kebun Apel Batu Malang, Jawa Timur

Salah satu wisata yang memang saya inginkan ketika jalan ke Batu Malang adalah pergi kebun apel. Kayanya asyik banget ya bisa berada di kebun apel tersebut. Saat melihat orang-orang jalan-jalan le sana kayanya bikin saya ngiler aja deh. Saya juga pengen ngerasain metik apel dan langsung memakan apel tersebut. Gampang banget ya saya ngileran, hahaha.

Kami jalan ke kebun apel sepulang jalan dari air terjun Coban Rondo, Malang. Hampir saja kami batal jalan ke kebun apel ini. Abisnya teman saya kok ya kurang fokus gitu. Jadi setelah tiba terminal khusus buat bus wisata yang hendak ke kebun apel, teman saya bilang ngga jadi aja. Kami balik lagi sampai sejauh lebih kurang 5 km, eh dia nanya kenapa belum tiba di kebun apelnya. Astagaaaa…plaaaaakkksss *tabok teman sendiri, hahaha.

Kami kemudian balik lagi ke terminal tadi untuk ambil tiket masuk seharga 25 ribu per orang. Salah seorang petugas dengan naik motor memandu kami menuju ke kebun apel tersebut menyusuri kota Batu sampai kemudian tiba di pinggir kota Batu, tempat kebun apel berada. Cukup jauh juga kebun apel yang kami tuju dari terminal bus wisata tadi. Menurut perkiraan saya paling ngga jaraknya minimal 6-7 km ada lah.

Dengan tiket masuk seharga 25 ribu, pengunjung boleh makan apel sepuasnya di sana. Tetapi apel tersebut tidak boleh dibawa pulang. Kami bertiga hanya makan apel di sana saja, tidak membawa pulang sebagai oleh-oleh. Istilahnya ya, kan ngga seru jalan-jalan ke Batu Malang topi ngga nyobain ke kebun apelnya. Dan perrgi ke kebun apel kan biar tau aja kaya apa kebun apel malang yang memang sudah terkenal tersebut.

Kami tiba di kebun apel yang tidak terlalu luas. Di sekitarnya ada ‘perumahan’ peristirahatan terakhir bagi manusia. Juga ada bangunan yang awalnya saya kira adalah pura, tapi kata Mas Agus itu bukan pura tapi tempat kremasi umat Hindu. Ooh, pantas saja bangunannya mirip dengan pura.

Pengunjung kebun apel tidaklah begitu rame ketika kami tiba di sana. Hanya ada beberapa pengunjung. Di depan pintu masuk, tempat petugas memeriksa tiket masuk, petugas juga menjual apel malang untuk  dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Sekantongnya juga 25 ribu kalau saya tidak salah.

Di dalam kebun apel kami tidak terlalu berkeliling. Setelah melihat-lihat sebentar kami lantas duduk-duduk santai aja sambil makan apel hijau. Tak lupa memperhatikan gaya orang yang sibuk berfoto dengan latar belakang kebun apel. Dan kadang Mas Agus iseng memoto gaya orang-orang yang tingkahnya terlihat kocak, hahaha. Dan kita benar-benar harus berhati-hati sama orang yang memegang kamera tele yang mengarah ke kita nih,hehe.

Cukup lama kami duduk-duduk bersantai di bawah rerimbunan dedaunan pohon apel. Saya perhatikan sekeliling kebun. Selain apel, kebun apel itu juga ditanami daun bawang. Tapi sayang,daun bawang tersebut tumbuh agak mengenaskan. Ada yang patanh-patah karena pengunjung yang lewat. Ada juga yang terinjak-injak. Juga banyak apel-apel yang berserakan di tanah. Sungguh kasian sekali melihat apel-apel yang berserakan tersebut. Dan yang lebih kasian tentu petaninya…

Setelah duduk-duduk santai, kami memutuskan keluar. Sudah tau lahkebun apel malang itu kaya apa. Kami musti balik ke Surabaya, untuk mengejar tiket balik ke Jakarta besok pagi. Tapi sebelum ke Surabaya kami mau mampir dulu ke Candi Singasari, candi Hindu – Budha peninggalan Kerajaan Singasari yang berada di Singasari Malang.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s