Pura Luhur Uluwatu : Hujan Deras Membasahi Senja di Uluwatu

Selain pantai Kuta, pantai Pandawa dan Tanah Lot, satu lagi pantai yang wajib dikunjungi wisatawan adalah pantai Uluwatu yang terkenal dengan pemandangan tebingnya yang tinggi dan curam tajam 90 derajat. Dan hal lain yang membuat pantai ini lebih terkenal adalah pagelaran tari kecak yang ditampilkan pada saat matahari turun ke peraduan di ujung horison sana.

Kami tiba di Uluwatu sekitar jam setengah lima. Ini destinasi terakhir hari itu setelah jalan ke Pantai Nusa Dua, Garuda Wisnu Kencana tapi ngga jadi masuk, Pantai Pandawa dan Pantai Dreamland. Pengunjung Pura Luhur Uluwatu saaangat ramai. Karena pemandangan di sini emang indah banget. Di sepanjang pinggir pengunjung terlihat berjejer memenuhi pinggir tebing. Kebanyakan mereka pada asyik berfoto-foto di pinggir tebing, meskipun sayangnya cuaca tidak begitu cerah, sehingga langit tampak gelap.

Saya saat itu gelisah karena belum mengerjakan shalat ashar. Sewaktu shalat di mesjid Palapa tadi sayangnya saya tidak menjamak shalat zhuhur dengan ashar. Jadilah saya kelimpungan tidak tau harus shalat dimana. Saya mencoba bertanya pada beberapa orang yang terlihat petugas apakah ada mushala di sana, tapi sepertinya mereka juga tidak tau, hehehe.

Di samping pura Uluwatu yang berada di puncak tertinggi tebing ada (semacam) pondok tembok. Di samping pondok tersebut saya lihat ada kran yang airnya mengalir. Saya berwudhu aja di sana. Saya bingung mau shalatnya dimana. Akhirannya saya duduk di atas meja yang ada di sana. Sepertinya meja tersebut memang untuk duduk, kaya meja yang ada di depan rumah orang sunda, tapi lebih tinggi. Dan memang banyak orang yang duduk di meja tersebut memandang ke arah pantai.

Saya pun kemudian duduk di atas meja, di salah satu pojoknya. Untungnya ada yg kosong yang pas mengarah ke matahari terbenam. Jadi saya bisa shalat mengarah ke arah yang benar insya allah (soalnya pada bulan April – September, matahari berada di utara bumi). Saya pun duduk di atas meja untuk shalat ashar, shalatnya duduk aja biar ngga dijadiin objek wisata sama orang lain kalau shalatnya berdiri (apalagi kalau ntar viral di media, terkenal dong sayanya hehehe).

Selesai shalat saya menyusuri pinggir tebing. Baru setengah jalan saya menyusuri tebing, mendung tebal menggulung menutupi bumi di bawahnya. Tak lama kemudian hujan gerimis mulai turun. Ketika tiba di panorama yang biasa menjadi spot foto di pinggir tebing yang mengarah ke dasar pantai di bawah sana, saya juga mencoba ikutan berfoto di sana. Petugas keamanan di sana (pecalang ya kalau ngga salah istilahnya) sudah menyuruh kami naik segera karena cuaca tiba-tiba gelap karena langit tertutup awan hitam.

Di Uluwatu kita juga mesti hati-hati sama batang bawaan kita apalagi hape dan kamera. Karena di sini banyak monyet yang suka iseng. Kalau monyetnya lebih senang mengambil dompet rasanya mendingan daripada kamera apalagi hape kan ya. Kalau monyetnya ambil kamera dan hape, nyesek banget kaan kalau kehilangan kamera dan hape. Kemaren itu yang diambil monyet dari saku tas saya adalah sarung tangan saya, hahaha.

Hujan turun dengan agak deras. Saya untungnya punya jas hujan dari kresek itu loh. Tapi saya lupa bawanya, huhuhu. Kami kemudian menyusuri pinggir tebing ke arah lainnya. Kereeen banget deh itu Uluwatu dengan pemandangan tebingnya di pinggir pantai. Apalagi kalau cuacanya teraaaang, pasti spektakuler. Mau ikutan nonton tari kecak juga, tapi karena hari hujan, jadinya ngga jadi nonton.

Kami memutuskan keluar area wisata Pura Uluwatu begitu hujan tetap turun menjelang sunset. Karena ngga bakal ada sunset yang terlihat dalam cuaca yang hujan cukup deras begini. Ya sutralaah, mendingan balik aja biar bisa ke tempat lain. Emang belum rezki saya ke Bali dalam cuaca yang diselimuti hujan ini, meski saat itu bulan Juli. Ngga cuma di Uluwatu saja kami diiringi hujan, pas ke Tanah Lot juga diiringi hujan, hehehe.

Bagitu keluar dari area parkir objek wisata, antrian mobil dan bus yang hendak masuk objek wisata Pura Luhur Uluwatu, meskipun hari sudah mau gelap dan hujan masih rintik-rintik. Atau merekaadalah orang-orang yang berniat nontomtarian Kecakjuga kali ya. Padahal penampilan tarian kecak sesaat lagi juga sudah mau mulai atau sudah mulai sama sekali. Tapi yang pasti,animo orang-orang yang mau ke objek wisata ini sangat tinggi.

Oya biaya masuk ke objek wisata Pura Uluwatu ini 20.000 per orang dewasa. Anak-anak 10.000 kalau ngga salah. Parkir mobilnya saya lupa berapa, mungkin 10.000, hehehe. Pura Uluwatu ini adalah objek wisata yang kudu dikunjungi di Bali, walaupun emang mainstreem banget, tapi emang sayang juga kalau ke Bali ngga ke sini mah, hahaha.

awan gelap tebal menutupi Uluwatu

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s