Jakarta-Jogja Via Jalan-Jalan Kampung

Oya ini masih merupakan catatan jalan-jalan saya bersama sahabat SD saya ke Jogja. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya saya, kami berangkat dari rumah adiknya Emi di Bojong Gede. Masuk tol di tol Cibinong menuju tol Cikampek melalui ring road Kampung – Rambutan Jati Bening. Sama Mbah Gugel kami sempat diarahkan keluar tol Jati Asih, koplaaaak hahaha.

Jalanan Jakarta sampai tol Cikampek rame walaupun tengah malam. Apalagi sampai ruas Cikarang yang lagi sibuk dengan pembangunan jalan. Jalanan rada macet. Setelah lepas Cikarang baru jalanan lancar. Saya yang terbiasa tidak tidur dalam perjalanan sesekali tertidur juga sekitar 5-10 menit. Soalnya yang lainnya pada tidur jadinya saya harus bangun buat ngajak ngobrol si Is, adik Emi yang nyetir.

Kami tiba rest area Cipali yang ada mesjid Baitus Safar-nya jam setengah 4. Si Is tiduran dulu sejam di mesjid tersebut sembari menunggu waktu subuh masuk. Saya pun sempat tiduran sekitat 10-15 menit. Jam 5, setelah selesai shalat kami melanjutkan perjalanan sampai keluar tol di Brebes Timur yang kemaren sempat terkenal dengan Brexit-nya.

Setelah gelap mulai berganti terang, pemandangan di kiri kanan jalan tol adalah hamparan sawah yang luas sejauh mata memandang. Serius saya sangat menikmati pemandangan tersebut. Saking saya menikmatinya saya tidak berniat memotonya sama sekali, hahaha. Saya memang orang kampung banget ya, senang banget kalau liat sawah. Soalnya waktu kecil kan dulu sering main di sawah, hahaha.

Begitu masuk jalan pantura, berasa banget jalannya ngga terlalu bagus. Kami sarapan pagi jam 9 di mesjid pertama begitu masuk daerah Pekalongan. Mesjidnya berada di sisi kanan, arah ke Tegal-Jakarta, di pinggir kali yang menjadi perbatasan Pekalongan dengan Tegal. Kalau ngga salah nama mesjidnya adalah mesjid Mubarak. Mesjid tersebut sepertinya memang sudah biasa menjadi mesjid persinggah bagi orang yang dalam perjalanan.

Setelah melanjutkan perjalanan, di daerah Batang, kami belok kanan ke arah Limpung, karena kami mau mengambil rute yang ke arah Temanggung. Setelah jalan beberapa lama saya baru ngeh ini bukan jalan yang dulu pernah saya lewati. Dulu kalau ngga salah belok kanannya di daerah Kendal. Jalan tersebut sepertinya jalan provinsi yang cukup lebar meski melewati perbukitan. Jalan yan kemaren agak kecil kayanya.

Yang kemaren saya lewati, belok kanannya di daerah Batang ke arah Limpung jalan yang kami lewati kecil. Sepertinya jalan kecamatan. Jalanannya sepi. Kami sangat jarang ketemu kendaraan lain. Apalagi saat itu hujan turun dengan deras. Kami bahkan melewati jalan desa yang kecil. Saya sampai kuatir mereka kesal sama saya karena menyarankan lewat jalur Temanggung, hahaha. Tapi soal arah kan si Is yang bawa mobil kan mempercayai mbah gugel sepenuhnya, jadi ngga murni salah saya juga kan ya *edisi bela djri, hahaha.

Mungkin kami menyusuri jalan kecamatan dan kabupaten tersebut selama hampir se-jam. Dan setelah menyusuri jalan desa yang kecil dan sepi, kami tiba-tiba ketemu jalan raya provinsi yang kiri kanannya sawah dan perbukitan. Jalanannya sih tetap sepi tapi lebar jadinya udah nyaman. Kami juga melewati pasar yang ramai. Saya ngga tau apakah itu pasar Kendal atau pasar yang ada di daerah Kendal.

Setelah berjalan cukup lama lagi, kami kembali diarahkan lagi sama mbah ke jalan desa yang kecil, belok ke kiri dari jalan raya. Sementara ke kanan merupakan jalan rayanya. Di jalan desa tersebut, kiri kanannya sawah yang luas yang sumpah pemandangannya indah banget. Saya berasa pulang kampung karena dikelilingi sawah. Dan saya sangat menikmati pemandangan tersebut tapi lupa memoto nama daerah di sana apa.

Kami masih muter-muter di pesawahan yang sepi tapi i.dah dan kemudian ada perkampungan lagi. Dan di ujung jalan papan penunjuk jalan menunjuk belok kiri ke arah Temanggung dan viola. Kami keluar dari jalanan kecil dan jalanan tiba-tiba rame karen udah dekat dengan dengan pusat kota Temanggung. Jadi meski jalannnya masuk jalan perkampungan dan melewati persawahan di kiri kanannya, perjalanan kayanya lebih cepat tiba di Candi Borobudur dari pada waktu saya ke Jogja bareng kakak angkat saya.

Inilah asyiknya jalan sendiri, maksudnya tidak menggunakan jasa angkutan umum apalagi jasa agen travel yang rombongan. Kita bisa menemukan banyak hal yang terduga yang akan kita temukan selama perjalanan. Dan semua itu akan menambah wawasan kita. Pepatah padang bilang bahwa ‘banyak bajalan banyak nampak banyak nan diliek’.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s