Review Novel : Dilan, Dia Adalah Dilanku Pada Tahun 1990

Oya, katanya beberapa hari yang lalu film Dilan udah diputar ya. Yuhuuu, saya mau banget nonton film Dilan ini. Ini termasuk film yang saya tunggu-tunggu nih, hehehe.

Kalau novelnya saya sudah baca hampir dua tahunan yang lalu. Tapi baru sekarang saya ingat bikin review-nya. Ceritanya kocak dan romantis. Bagi saya, novel ini keren banget. Beda dari novel-novel Indonesia yang lainnya. Belum ada novel populer indonesia yang sangat saya sukai seperti saya menyukai novel Dilan ini, hahaha.

Ini novel bercerita tentang Melea dan Dilan yang berseting di Bandung, tahun 1990. Masa dimana belum ada hengpong buat komunikasi. Jadi alat berkomunikasi jarak jauh melalui lisan menggunakan telpon rumah biasa. Kalau belum ada yang punya telpon, mau nelpon teman yang punya telpon rumah bisa melaui telpon umum. Dan untuk komunikasi tulisan menggunakan surat. Juga, masa ini adalah masa belum ada internetan.

Dan juga itu adalah masa dimana anak sekolahan masih sangat jarang yang punya sepeda motor. Jadi hanya anak-anak tertentu aja yang punya motor. Anak orang yang berduit. Kalau jaman sekarang, anak SD aja udah bisa petentang petenteng bawa motor bapaknya cuma buat beli somay ke ujung gang, hehehe…

Alkisah, Milea, adalah siswa baru di sekolahannya di Bandung. Ia baru pindah dari Jakarta, ikut orangtuanya yang pindah dinas di Angkatan Darat ABRI (sekarang TNI). Sebagai siswa pindahan yang cantik, ia langsung jadi primadona sekolah. Banyak cowok-cowok sekolah barunya yang menyukainya. Termasuk Dilan, siswa jurusan fisika yang pintar, ganteng tapi biang keributan di sekolah. Dilan juga ketua geng motor yang terkenal di Buah Batu, Bandung.

Yang membuat novel ini sangat menarik banget bagi saya adalah tentang karakter Dilan. Dilan digambarkan sebagai cowok yang secara fisik ganteng tetapi kepribadiannya juga sangat menarik. Ia pintar, kocak banget, baik, ramah, sangat setia kawan, tidak sombong tapi juga menjadi sangat angkuh dan sombong. Ia juga sangat puitis dan bisa bikin puisi. Dan juga bisa menjadi siswa yang sangat nakal dan bandel juga. Gurunya aja dia berani lawan kalau ia merasa benar.

Oh ya, tambahan lagi dia ketua geng motor. Itu perpaduan yang aneh dan juga sangat jarang ada kan ya. Karakter Dilan benar-benar karakter cowok yang fiktif banget, yang hanya ada di cerita-cerita fiksi. Dilan juga sangat lihai dan pintar melakukan pedekate pada Milea dengan ide-ide yang cerdas. Dan pintar memperlakukan Milea dengan baik. Cara-cara dia memperlakukan atau membuat Milea bahagia benar-benar bikin baper banget deh. Jadi sangat wajar jika kemudian Mila si tokoh utama, jatuh cinta pada Dilan.

Cara-cara yang dilakukan Dilan untuk untuk pedekate dan memikat Dilan sederhana saja sebenarnya, tapi dilakukan dengan cara yang cerdas. Nggak yang macam-macam juga, nggak norak juga dan nggak gombal juga, tetapi dengan cara yang unik yang beda dari yang lain. Bahkan awal dia berkenalan dengan Milea aja dilakukan dengan cara yang ia sok pintar meramal. Juga cara Dilan menyatakan mereka jadian pun unik banget dan sukses bikin baper, hahaha.

Membaca novel Dilan ini bagi saya berasa seperti nonton Drama korea. Itu perpaduan yang sangat aneh bukan? Dilan, sama kaya cowo drama korea yang sangat romantis pada ceweknya. Jarang jaraaaaaang banget kan ada di novel Indonesia yang cowoknya bikin baper banget kaya si Dilan. Ngga tau sih kalau di sinetron indonesia karena saya sudah belasan tahun ngga nonton sinetron. Kalau drama korea mah seriiing banget saya nonton. Dan semua cowok-cowok di drama korea berhasil bikin penontonnya baper tingkat dewa *ternyata saya masih ababil yaaaa, hahaha.

Trus ya, gaya kepenulisan novel ini juga beda dengan kebanyak novel indonesia. Gaya kepenulisannya lebih cocok kaya story telling yah istilahnya. Gaya ceritanya gaya bertutur. Kesannya kita kaya mendengar penulisnya bercerita, padahal kitanya lagi baca buku. Bukan gaya bernarasi kaya kebanyakan novel lainnya. Trus juga bahasanya ngga baku-baku amat.  Pokoknya asyik banget deh ini novel bagi saya. Cap jempol gede… 😛

Nah, berhubung saya suka banget novelnya dan ‘jatuh cinta’ (baru kali ini loh saya’ jatuh cinta’ dengan karakter cowok indonesia yang ada di novel atau film, kalau dalam drmana korea mah banyak, hehehe) dengan Dilannya, maka saya pengen banget nontonnya.  Ntarlah saya ajak teman saya yang juga suka sama novel ini, hehehe.

Advertisements

31 comments

  1. Gara-gara santer publikasi awal novel Dylan ini bakal difilmkan tahun lalu, aku pun tergoda untuk baca novelnya dan alhamdulillah udah selesai baca dari e-book gratisan 😀 Dan bahkan sempat browsing tentang si MIlea yang asli 😀 Tapi kok saya belum tergoda untuk nonton filmnya ya…

  2. aku udah nonton kemarin sama suami hahaha, berhubung aku udah baca novelnya jadi ya seneng aja karena banyak moment2 penting di buku yang digambarkan persis banget. Tapi beda lagi sama suami yg gak baca novelnya, cuma komen diihhh film apaan sih ini x))))

  3. Coba aja Dilan bukan anak geng motor, pasti udah jadi karakter novek favorit saya 😀
    Saya baru baca novel seri keduanya. Ringan dan enak diikuti. Tapi entah kenapa saya masih belum greget buat baca seri yang lainnya 😀

  4. owalah,, bagus ya.. saya lihat ini novel dari dulu belom tertarik beli.. malah pengen nonton karena kayaknya lucu iqbaal sama vanesha memerankan dilan dan milea.. gemesin banget mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s