Melintasi Padang Pasir (Berbisik) Bromo Dengan Sepeda Motor

Melintasi padang pasir bromo dengan jip? Itu emang biasa ya. Apalagi kalau pergi ke Bromo rombongan, musti naik jip untuk mencapai Penanjakan, tempat terindah menyaksikan pemandangan sunrise di Bromo. Bagaimana kalau perginya nggak rombongan, hanya satu dua orang saja? Naik motor adalah salah satu solusi yang tepat untuk jalan-jalan menikmati keindahan Bromo.

Kenapa? Karena dengan naik motor selain biayanya lebih murah, kita bisa mencapai objek wisata terasa lebih dekat dan lebih cepat bila dibandingkan kalau naik jip. Selain itu, sensasinya juga beda. Melintasi padang pasir bromo dengan motor, memberikan sensasi petualangan yang lebih bila dibandingkan naik jip. Asyik banget malah hehehe. Dan ketika saya ke bromo akhir September yang lalu, saya dan sahabat saya melintasi padang pasir bromo menggunakan motor. Wooow… kereen, hehehe.

Setelah selesai menikmati keindahan matahari terbit di Penanjakan Dua atau Seruni Point, kami kembali ke mobil di parkiran. Tujuan kami berikutnya adalah ke padang pasir bromo menggunakan motor. Mas Agus menghubungi sopir ojek yang sudah ia kenal. Mas Rudi namanya. Karena kami hanya bertiga saja dengan Mas Agus yang menjadi guide kami, maka kami menyewa dua sepeda motor. Mas Agus berdua dengan teman saya, saya diboncengi Mas Rudi.

Dan kami pun memulai keseruan melintasi padang pasir bromo. Ketika motor sudah mulai masuk area pasir, saya baru tau kalau naik motor di padang pasir bromo ternyata sangat  tidak mudah. Motor sering tiba-tiba oleng karena jalanan berpasir yang kekerasannya tidak stabil. Bukan kekerasannya yang tidak stabil sih, tapi tumpukan pasir emang tidak keras kan ya. Alhamdulillahnya, saya bisa ‘anteng’ jadi penumpang. Jadinya abang ojeknya ngga keder, hehehe.

Dengan naik motor, pemandangan lepas kiri kanan dan muka belaka. Tapi kalau duduk di dalam jip, apalagi kalau duduknya bukan di depan, pemandangan sekeliling tidak keliatan dengan leluasa dari dalam jip. Karena masih pagi, belum banyak jip yang melintasi padang pasir yang hendak ke pasir berbisik. Baru satu dua jip yang terlihat. Sebagian pengunjung besar pengunjung pasti masih berada di kawah gunung bromo. Bahkan mungkin baru dalam perjalanan ke sana.

Kami bersantai cukup lama di area pasir berbisik. Pengunjung di sana masih belum banyak. Saya berfoto beberapa kali saja. Selebihnya, saya hanya duduk santai dan berleyeh-leyeh merasakan kehangatan udara pagi yang mulai terasa menggigit kulit sambil memoto pemandangan padang pasir. Serius, saya merasa sangat nyaman banget bersantai dan duduk leyeh-leyeh di sana sambil melihat tingkah polah pengunjung di sana.

Teman saya asyik berfoto dengan berbagai macam gaya dan latar. Senang aja melihat keceriaannya. Karena saya tau dia dia sudah lama banget ingin ke Bromo ini. Untung saja ada Mas Rudi yang dengan sangat senang hati membantunya memoto dia. Kalau ngga, pasti saya yang akan jadi fotografernya, mau ngga mau, wkwkwk. Sementara Mas Agus memoto teman saya dari jarak jauh dengan kameranya.

Itulah enaknya ke padang pasir bromo pake motor, kami cukup lama duduk santai di sana. Ngga tergantung kepala rombongan kalau kaya pakai jip. Oya seingat saya dulu saya ngga ke pasir berbisiknya ini. Dari kawah langsung saja menuju ke padang savana-nya bromo yang saat itu lagi kering kerontang. Kali ini saya malah ngga ke padang savanya-nya karena juga lagi kering kerontang. Yo wes-lah. Ngga apa-apa lah.

Dari pasir berbisik, kami melanjutkan melintasi padang pasir bromo menuju kaki kawah aktif bromo. Di sini saya minta pada Mas Rudi, si abang ojek untuk mencoba mengendendarai motor. Abang ojeknya bersedia. Tapi rupanya dia ketakutan dibonceng saya, sampai-sampai dia minta maaf mau megang pundak saya, hahaha. Laaah, saya sendiri malah ngga pegangan sama sekali ke dia atau pegangan ke belakang motor.

Dan ternyata mengendarai motor di atas pasir itu luar biasa susah. Yang paling susah itu menjaga keseimbangan tubuh ketika melewati jalur bekas ban jup. Saya beberapa kali hampir jatuh. Saya merasa sudah cukup jauh mengendarai motor, tapi kaki puncak kawah masih jauh juga. Kata si abang ojeknya, saya mengendarai kira-kira 2,5 km. Ketika kami sudah dekat pura bromo, si abang ojeknya minta dia lagi yang bawa motor. Karena, penumpangnya yang sudah turun dari kawah bromo sudah berkali-kali nelpon dia minta dijemput.

Kami hanya sampai di bawah perbukitan sebelum tangga kawah bromo saja. Karena sahabat saya merasa ngga bakalan kuat mendaki perbukitan yang menuju tangga kawah bromo. Saya sih ngga masalah ngga naik karena dulu juga sudah pernah naik ke pinggir kawah. Jadinya kemarin itu sudah sangat tidak lagi berminat mendaki bukit lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera untuk mendaki dan melihat kawah bromo, hehehe. Membayangkan pendakiakiannya saya sudah capek duluan, hahaha. Lagian, mataharinya juga udah terik banget.

Di sana kami tidak melakukan apapun, hanya menyaksikan keseruan orang-orang yang lalu lalang saja. Ada yang berjalan kaki dari parkiran mobil menuju ke puncak bukit kawah. Terlihat wajah kecapekan karena berjalan jauh dari area parkiran. Ada juga yang naik kuda yang kudanya dituntun oleh pemilik kuda. Juga dengan wajah yang ketakutan, takut jatuh dari kuda. Ada juga pemilik kuda yang menunggang kuda dengan lihainya hilir mudik antara parkiran dengan kaki puncak kawah.

Saya kemudian mengajak teman saya berfoto naik kuda. Cukup dengan modal bayar 10.000 per orang, saya dan sahabat saya bisa berfoto menunggang kuda. Abisnya kalau jalan, bayarnya muaahaal. Buat pengunjung yang menunggang kuda dari parkiran ke tangga kawah harus bayar 150.000 bolak-balik. Aduh, mahal amat kan ya. Makanya saya udah senang saja berfoto bayar 10.000 hehehe.

Selesai dari sana, kami ke pura yang ada di tengah-tengah padang pasir. Lahan puranya luas juga ternyata, setelah kita masuk ke sana. Sepertinya umat hindu baru saja selesai ibadah di sana. Saya melihat banyak orang berkebaya putih hilir mudik dan berfoto di sana. Dari logat bicaranya, sepertinya mereka datang dari Bali untuk beribadah di pura sana.

Baru deh, setelah keluar dari pura, kami balik lagi ke Cemoro Lawang. Begitu tiba di pinggir kaldera dan memasuki jalan menuju Cemoro Lawang, saya minta lagi sama abangnya supaya saya yang mengendarai motor. Si abangnya lagi-lagi mau. Lumayanlah, jalanannya sudah agak keras kan ya, jadi ngga susah lagi mengendarai motor di sini, hehehe.

Enaknya naik motor adalah, kita bisa memotong jalur perjalanan. Tidak harus mengikuti jalur yang digunakan jip.Dan juga kita bisa melihat pemandang yang membentang dengan leluasa. Dan yang paling utama adalah ketika kita menuju Penanjakan 1, kalau kita telat berangkatnya, maka jip akan parkir semakin lama semakin jauh dari Penanjakan. Dan itu artinya kita harus sewa ojek lagi supaya tiba di Penanjakan dalam keadaan masih gelap. Karena kalau ngga, bisa-bisa pemandangan sunrise bisa lewat begitu saja.

Saya ingat dulu ya, waktu ke Penanjakan, diturunin dari jip sekitar 200 m dari mushala besar. Padahal sudah tiba di sana sebelum orang azan subuh loh. Setelah selesai shalat subuh, dari mushala kami akhirnya memilih naik ojek supaya tidak telat menyaksikan sunrisemucul dari balik ufuk timur. Nah kalau kita naiknya pakai ojek, otomatis ngga perlu sewa ojek tambahan lagi kan ya.

Dan bagaimana rasanya jalan-jalan menikmati keindahan pemandangan kawah bromo? Hhmmm, asyik dan menyenangkan banget. Bahkan lebih asyik menggunakan motor daripada menggunakan jip, hehe. Kalau ngga percaya, silahkan dicoba. Tapi kalau ke Bromo-nya ngga rombongan ya.

Oya, bagi yang mau mencoba naik ojek juga mungkin bisa hubungi abang ojeknya, namanya Mas Rudy : 082257436483. Selamat mencoba naik ojek di Bromo ya…

Advertisements

11 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s