Menyambut Kehangatan Pagi di Seruni Point, Bromo

Saya terbangun karena suara deru jip yang sudah mulai berdatangan. Parkiran yang semula gelap gulita menjadi terang oleh cahaya lampu jip. Mata saya silau karena sorot lampu yang juga nasuk menembus ke dalam mobil yang kami inapi. Setelah melihat jam di hape, ternyata baru jam 3 pagi, maka saya mencoba lagi untuk tidur tetapi tidak bisa lagi tertidur, hehehe. Jadinya saya hanya sleep-sleep chicken aja. setengah jam kemudian saya memutuskan untuk bangun, untuk shalat sunah sembari menunggu waktu shubuh masuk.

Suasana di parkiran Seruni Point sudah mulai ramai. Begitu keluar dari mobil untuk berwudhuk, saya melangkah dulu ke pinggir kaldera Bromo. Di bawah sana, di tengah kaldera bromo yang berupa padang padang pasir terlihat cahaya iring-iringan panjang jip yang melintasi padang pasir. Cahaya lampu jip membelah kegelapan malam di tengah kaldera Gunung Bromo. Sepagi ini, kawasan Bromo sudah sibuk beraktifitas.

Setelah selesai shalat shubuh, kami bertiga, saya, Linduik dan Mas Agus bergerak mendaki ke Seruni Point. Cahaya lampu senter yang temaram menerangi jalanan. Beberapa penunggang kuda menawari kami untuk menyewa kuda mereka. Tapi dengan halus kami menolak tawaran mereka. Daripada capek mba, kata mereka. Lah, masih shubuh ini kok, anggap saja jalan santai pagi-pagi, ganti olah raga, hehehe.

Tau berapa tarif sewa kuda yang mereka tawarkan untuk disewa pp? 150.000 saja, kata mereka. Pakai ‘saja’ loh ya. Hmmm, gampang amat mereka nyebutin angka 150.000 ya. Dikira mereka duit segitu ‘recehan’ goceng 3 lembar doang kali ya. Jadi enteng saja mereka menyebut 150 ribu dengan tambahan ‘saja’. Sementara bagi saya, 150 ribu itu lebaaar banget, hahaha.

Apa mungkin mereka ngga tau atau nggak mau tau ya, bahwa banyak pengunjung yang datang ke Bromo dengan duit yang pas-pasan? Banyak pengunjung yang datang ke Bromo setelah nabung kenceng dulu untuk bisa ke Bromo. Dan pula mungkin yang datang hanya membawa uang yang pas buat biaya-biaya umum saja seperti transportasi, nginap dan makan aja. Jadi bagi pengunjung seperti ini, naik kuda seharga 150.000 adalah buang duit.

Mungkin mereka, para tukang kuda ini sangat sering bertemu ‘horang kayah manjah’ yang ngga mau capek, yang ngga mau susah mendaki sedikit, dan kemudian memilih naik kuda. Apalagi tukang kudanya bisa meyakinkan pengunjung bahwa tempat yang dituju masih jauh banget. Bisa hampir satu jam lagi kalau jalan, kata mereka membujuk. Ditambah lagi sebentar lagi sunrise-nya bakal muncul. Hmmm, niat banget usahanya *geleng-geleng kepala.

Kami tiba di pos panorama pertama Seruni Point, kira setelah berjalan santai sekitar 15 menit lebih. Setelah berjalan yang meulai mendaki sekitar 200 – 250 m dari parkiran, ada tikungan menanjak ke ke kiri. Dan setelah berjalan lagi sejauh 200 250 m lagi, ada tikungan lagi ke kanan. Di tikungan ke dua inilah yang menjadi pos pertama atau panorama pertaman untuk menyaksikan sunrise. Panorama satu ini berada persis berada di atas parkiran. Mungkin jarak ketinggian panorama satu seruni point ini dari parkiran mungkin sekitar 30 meter ya, atau mungkin malah kurang, saya juga tidak tau, saya hanya ngira-ngira. Di foto keliatan kok parkirannya.

Kami hanya sampai di pos panorama satu ini saja. Saya dan juga teman saya sudah tidak kuat lagi jalan ke panorama berikutnya yang lebih tinggi. Masih ada 2 pos panorama lagi (atau mungkin 3 ya?) di atas sana, kata Mas Agus. Naaah.. Ini aja sampe pos satu sudah ngos-ngosan, udah sesak napas. Nyampe atas takutnya ntar malah ambruk pingsan, hahaha. Dan lagi pula pemandangan dari sini juga sudah bagus kok, lumayan lah.

Pengunjung di pos satu ini tidak terlalu ramai. Mungkin maksimal hanya 50 orang saja. Tapi baguslah, ga terlalu riweuh kaya di Penanjakan 1 yang mungkin bisa mencapai seribuan orang. Dari sini pemandangan ke kawah bromo juga lebih dekat, lebih asyik aja. Tapi memang sih, pemandangan di Penanjakan Satu waktu pertama kali ke Bromo jauh lebih cantik dan spektakuler dibanding Penanjankan 2 atau Seruni Point ini. Entah karena lokasinya lebih tinggi, atau karena cuacanya yang lebih bagus.

Beberapa menit setelah tiba di pos ini, matahari pagi pelan-pelan muncul dari balik puncak bukit yang berada di sebelah kiri. Cahayanya berwarna oranye, meski tidak terlalu terang. Berbeda dengan di Penanjakan Satu, saat saya pertama kali ke bromo, dimana saat itu, cahaya sunrise yang muncul tampak sangat cerah. Tapi meskipun tidak secerah waktu di Penanjakan Satu, tidak mengurangi keindahan pemandangan pagi yang dingin ini.

Berbagai ragam gaya pengunjung menyambut semburat cahaya pagi. Tujuannya adalah untuk mengabadikan pemandangan sunrise. Ada yang narsis sendiri-sendiri, ada yang selfie – wefie.  Ada juga yang tidak selfie wefie kaya saya, hahaha. Saya sendiri lebih asyik menikmati pergerakan cahaya yang naik. Saya hanya menikmati keindahan sunrise sambari mengkhayal merenung, hahaha. Saya asyik mengabadikan sunrise tanpa ada saya di foto tersebut. Serius, saya hanya punya beberapa saja foto-foto yang ada sayanya. Mungkin hanya maksimal bangat 10 foto, hehehe.

Di bawah sana terhampar kaldera utama gunung Bromo. Kaldera yang luas membentang dan beralaskan padang pasir. Di tengah kaldera utama tampak puncak kawah gunung Bromo yang masih aktif, mengeluarkan kepulan asap. Disamping kaldera gunung Bromo berdiri gunung Batok yang diam membisu bak penjaga kawah bromo. Berbeda dengan puncak kawah Gunung Bromo yang ramai pengunjung, gunung batok sunyi tanpa pengunjung. Pengunjung yang menuju kawah, hanya lalu lalang saja di depannya.

Foto : Mas agus

Di sisi timur kaldera dan juga kawah terlihat perkampungan yang indah. Kampungnya dekat banget banget dengan kaldera. Kampung atau desa tersebut merupakan desa terdekat yang dengan kawah gunung Bromo. Namanya desa Cemoro Lawang. Pemandangannya juga bagus ke arah Cemoro Lawang.

Oya, ada satu pengunjung yang hanya beberapa kali mengambil gambar dari hapenya. Selebihnya ia lebih banyak diam menyaksikan sunrise yang muncul sampai kemudian meninggi. Saya pikir keren banget dia (lebih keren dari gue) menikmati matahari naik meninggi tanpa mengabadikannya. Dia mba bule. Satu-satu bule yang ada di sana. Saya kemudian tersenyum dan menyapanya. Mba bule Jerman dia rupanya. Kami pun kemudian berbincang.

Saya hampir kepo mau menanyakan kenapa dia tampak lebih banyak menikmati keindahan pagi ini dengan diam menyaksikan sang mentari. Tapi belum sempat saya bertanya, dia sudah bercerita terlebih dahulu bahwa lagi ngga enak badan. Jadinya dia nggak bisa menikmati matahari terbit ini. Dia sebenarnya bertiga. Dua temannya ada di panorama atas. Hanya dia sendiri yang di bawah. Untung saya tadi nggak mulai duluan nanya ya, hahaha.

parkiran keliatan kan ya. Dekat sebenarnya. Harusnya bisa dibikin tangga aja.

Pelan-pelan cahaya matahari mulai naik. Meninggi, dan tak lagi memancarkan warna oranye, tapi sudah mulai memutih. Udara pegunungan pun terasat semakin hangat membelai kulit wajah. Saya menikmati udara mulai menghangat tersebut. Satu per satu pengunjungpun mulai turun dari arah panorama yang lebih tinggi. Satu dua pengunjung mengendarai kuda yang dituntun oleh pemilik kuda. Tetapi kebanyakan pengunjung turun ke parkiran dengan berjalan kaki.

Saya berniat menemani mba bule menunggu temannya. Kasian liat dia yang lemas kalau ditinggal sendiri di sana. Sementara orang-orang lain kan asyik sama diri mereka dan grup mereka sendiri kan. Ketika temannya yang berdua sudah datang, baru kami akhirnya berpisah. Kami pun sempat berfoto bersama. Saya dan Linduik serta Mas Agus pun, akhirnya turun menuju parkiran. Meski badan terasa lelah, tapi hati terasa hangat dan cerah laksana mentari pagi yang menyinari bumi. Bibir pun tak berhenti tersenyum karena hati yang bahagia.

Dan rencana perjalanan kami berikutnya adalah melintasi padang pasir bromo dengan motor. Yeeeyy…

Advertisements

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s