Jas Merah : Nonton Film G-30 S/PKI

Sumber gambar : google image

Beberapa hari minggu ini, terutatama sejak masuknya Bulan Sepetember, suhu sosial politik Indonesia, seperti biasa naik secara drastis. Penyebabnya adalah tak lain tak bukan adalah tentang PKI, dan gerakkannya yang dikenal dengan G30 S/PKI. Publik terbelah dua. Ada yang percaya dengan gerakan tersebut, dan ada pula yang tidak percaya.

Saya termasuk orang yang percaya dengan bahaya ideologi komunis itu berbahaya. Dan saya juga tersaya sangat gemes banget dengan orang-orang yang menganggap bahwa PKI dengan ideologi komunisnya sudah tamat di Indonesia. Apalagi mengingat banyaknya identitas-identitas PKI yang naik ke permukaaan belakangan ini.

Pun juga pro kontra menonton film G30 S/PKI mencuat. Ada yang setuju film tersebut diputar lagi dan ditonton oleh pelajar, ada yang tidak setuju. Dua kubu yang berseberangan tersebut sudah ketahuan berdiri di pihak mana. Mereka berdebat panas di sosmed.

Saya juga setuju bahwa generasi yang lahir setelah era reformasi sekarang kudu wajib nonton film pengkhianatan G30 S/PKI tersebut. Supaya sejarah tentang G-30 S/PKI ini sudah tidak ditelan masa. Apalagi ada upaya secara sistemastis yang menyatakan bahwa Gerakan 30 September tersebut bukan dilakukan oleh PKI. Bahkan PKI pun adalah korban, kata mereka.

Kalau kita hitung-hitung, kita rakyat Indonesia sudah dua gerasi, dan bahkan hampir 3 generasi tidak mengetahui dan memahani tentang peristiwa kelam G-30 S/PLI. Reformasi sudah berjalan selama 19 tahun sejak tahun 1998. Dan anggap saja pada tahun 1998, ketika anak SD kelas 3 atau kelas 4 yang berumur 9 atau 10 tahun belum menonton film G-30 S/PKI tersebut, maka pemuda pemudi yang berusia sekitar 25 tahun tidak mengetahui dengan baik tentang G-30 S/PKI. Karena di sekolahpun sepertinya mereka juga tidak dijelaskan apa dan bagaimana sepak terjang PKI, khususnya tentan G-30 S/PKI.

Saya juga sangat gemas jika ada yang berpendapat bahwa film G-30 S/PKI yang dibuat dan disutradarai oleh Arifin C. Noor itu hanyalah propaganda presiden Soeharto saja. Dan juga banyak tidak benarnya, kata pihak sana. Alasannya, DN Aidit, kata Ilham Aidit tidak merokok, sementara di film ia digambarkan merokok. Masak sih gagara visualisasi tersebut film ini dianggap ngga benar?

Haloooo, Arifin C. Noor sebelum membuat film tersebut melakukan penelitian terlebih dahulu. Ia melakukan wawancara dengan keluarga jendral. Dengan anak dan juga istri korban. Dan kemudian baru membuat adegan seperti yang diceritakan oleh keluarga para jendral tersebut. Itu bukan adegan yang dibuat oleh sutradara.

Lokasi syuting film tersebut juga dilakukan di TKP langsung. Dan syutingnya pun ‘ditongkrongi’ oleh keluarga para jenderal yang dibunuh oleh pasukan PKI tersebut. Trus mereka dengan seenaknya bilang bahwa cerita dalam film G-30 S/PKI tersebut banyak bohongnya.

Apa mereka tidak berpikir ya, bahwa para jendral tersebut ditemukan dikubur di dalam sumur yang di dalamnya terdiri dari beberapa orang. Penemuan dan pengangkatan jenazah para jendral korban kebiadapan PKI tersebut pun disaksikan banyak orang dan dibawah sorot kamera video. Bukan penemuan sejumlah tentara ABRI dan tidak diliput media pula.

Belum lagi, jenazah para korban G-30 S/PKI tersebut divisum setelah mereka ditemukan. Dan hasul visum tersebut menyatakan bahwa di tubuh para jenderal banyak berlubang akibat tembatakan peluru. Tidak satu dua lubang peluru di tubuh para jendral, tetapi banyak lubang. Masih juga tidak percaya bahwa kejadian tersebut memang nyata?

Jadi, sudah sewajarnya kita generasi milenial diingatkan lagi tentang bahaya ideologi ku omunis bagi bangsa Indonesia. Supaya mereka melek ‘bahaya PKI’ bagi bangsa Indonesia tercinta ini. Dan mereka tidak melupakan bagaimana sejarah kelam PKI ijni di Indonesaia. Seperti kata Bung Karna : Jas Merah, Jangan Melupakan Sejarah.

Oiya, gimana kabar Ustadz Allfian Tanjung sekarang ya?

***********

Postingan ini adalah postingan pertama ODOP one day one posting Blogger Muslimah periode Oktober 2017. Temanya hot banget : Jas Merah. Bingung juga tadi mau menulis apa, tapi akhirnya kelar juga nulisnya.

Advertisements

23 comments

    • Kalau bagi aku Mar, aku heran kejadian yang begitu nyata seperti ini justru dipertanyakan kebenarannya.

      Pertama, sebelum film ini dibuat, sutradaranya sudah melakukan riset selama 2 tahun.
      Reka kejadian penembakan dan pembunuhan di rumah para jendral ini dibuat berdasarkan cerita saksi mata langsung : anak, istri, ibu dan keluarga lainnya, termasuk pengawal dan pembantu para jenderal tersebut.

      Dan para jendral tersebut (minus 1), benar-benar ditemukan dikubur di dalam sumur, ditumpuk dalam satu lubang.

      dan ditubuh mereka berdasarkan hasil otopsi bener-bener banyak terdapat luka tembakan.

      Itu merupakan fakta bukan?

      • Aku pernah nonton filmnya dulu. Nggak menyangkal ttg hasil visum dsb, fakta2 dsb.
        Tapi di satu sisi aku merasa film tsb kental aroma satu sisinya. Dan sejak film dirilis ada kan fakta2 sejarah baru yang muncul berkaitan dengan kejadian.
        Alangkah baiknya kalau versi baru film dibuat jd lebih modern dan menyesuaikan dengan fakta-fakta baru. Filmnya sendiri sudah lama banget.

        • Kalau dibuat film versi baru, apakah film tersebut lebih mirip dengan kejadian sebenarnya? Karena saksi hidup sebagai referensinya sudah banyak yang meninggal. Mau merujuk pada kesaksian (salah satunya) Ilham Aidit sebagai anak Aidit, dia waktu itu masih berumur 6 tahun.

          Dibuat berdasarkan catatan sejarah pun, kalau ahli sejarahnya tidak melihat langsung kejadian tersebut, ujung2nya juga dari cerita kesaksian para korban PKI yang masih hidup (dan tentunya sudah tua sekali) dan anggota keluarga para jenderal yang masih ada juga.

          Fakta-fakta baru yang ada : menurut Ilham Aidit, Aidit dan Seokarno bertemu Fidel Castro yang justru semakin menunjukkan tentang siapa sebenarnya Soekarno.

          Katakanlah ada ‘aroma’ propaganda mengangkat kehebatan Pak harto dan orde baru di film tersebut, tapi di film tersebut seingatku peran pak harto muncul di belakang.

  1. History is written by those who win. Ah ya pokoknya kurang lebih bahasa Inggrisnya begitu. Klo skrg filmnya dibuat ulang, bisa jadi isinya jauh berbeda. Dan apaaaa? PKI adalah korban? Teori yg sama konyolnya dgn teori bumi itu datar.

    • Iya benar. Sejarah dibuat oleh pemenang. Tp soal film G 30 S/PKI ini, kalaupun ada yg menganggap propaganda soeharto, peristiwanya nyata, gmn mau diboongi ya.

      Kalau mau dibikin yg baru seperti yg presiden bilang, versi siapa dong? Versi pendukung pki? Yg ada ntar bukan jendralnya yg diculik…hehe

      • Trs itu si anaknya Aidit bilang, bapaknya nggak ngerokok. Trs ada foto jadul, kasi liat klo bapaknya megang lintingan ‘sesuatu’. Oiii itu klo bukan rokok trs apaaa? Ganjaaaa? Apa duit kertas dilinting buat bayar parkir? Wkwkwkwk…. konyol juga ni lama2.

        • Lagian ilham aidit ngaco kata aku mah… Katanya umur 6 th. Seberapa besar kesaksian anak umur 6 th ttg kejadian 50 tahunan yg lalu?

          Blm lg di foto dia sama bapaknya kok ga seperti anak 6 th. Tp lebih kecil lg.

          So? Berdasarkan (salah sav) kesaksian yg seperti itu film g 30s/pki bakal dibuat ulang?

  2. Fis, ini blog ganti dong templatenya. Bingung nyari postingan terbaru. Yg di home itu kayaknya campur2 ya. Eh tapi ngomong2 soal film G30S PKI, itu film horor pertama yang aku tonton kayaknya tapi membekas banget. PKI emang bahaya laten.

  3. Saya sebenarnya ga suka debat. Tapi karena menganggap generasi milineal yg ga nonton film itu disebut buta sejarah, tentu salah. Justru lebih memandang sejarah lebih tabbayun: terbuka dan gambaran luas. Peristiwa G30S emang nyata terjadi, namun narasi sebenarnya yg salah diungkap. Namun menjelaskannya dengan berbusa-busa pun ga bakal ada gunanya. Intinya, Indonesia masih tewarisi kekacauan Perang Dingin. Sejarah kelam dan plot gini juga terjadi di banyak negara, salah satunya Korea Selatan. Ada yg namanya Jeju dan Bodo League uprising. Mungkin karena zaman reformasinya Korsel dimulai 1988, lebih cepat sepuluh tahun dari Indonesia, narasi sejarah kelam mereka udah tersingkap.
    Mungkin saya bakal dilabeli neo-PKI atau antek-antek kuminis gara-gara ngungkapin yg kayak gini. Wallahu alam.

    • Saya juga ngga mau berdebat soal PKI ini… Cuma seringnya gatel aja ngejawab kalau beranggapan peristiwa G30 S PKI dianggap dibuat rekayasi politik. Karena kentayataannya para jemdral emang disiksa.

      Belum lagi kalau liat ke belakang tentang peristiwa madiun, atau juga sumur tua tempat eksekusi banyak ulama yang dibunuh PKI di Madiun atau mgetan…

      Dan apa yg diungkapkan ust alfian Tanjung ternyata benar sejak hampir setahun yang lalu tentang keberadaan PKI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s