Pingsan di Kamar Mandi Homestay di Batu, Malang.

Sunrise di Seruni Point, Bromo

Kamis malam seminggu yang lalu saya bersama seorang sahabat saya jalan ke Bromo. Itu traveling yang sangat menyenangkan karena traveling ke Bromo ini sudah lama banget kami inginkan. Selama ini saya dan sahabat saya ini baru traveling di Sumatera Barat saja berdua menggunakan motor. Dan semua ceritanya sudah saya posting di sini.

Jumat sore, di homestay tempat kami menginap di Batu sepulang dari Bromo saya mengalami ‘kecelakaan’ kecil (kecelakaan besar sih sebenarnya, hehehe). Saya terjatuh dan pingsan di pintu kamar mandi. Dan mengalami tidak sadar diri sekitar 15 menit tapi tidak sampai setengah jam. Sungguh, itu adalah kejadian yang sangat menakutkan bagi saya. Sampai saat ini pikiran saya seringkali masih ‘mengembara’ pada kejadian tersebut.

Apa yang terjadi dengan saya sampai saya pingsan di pintu kamar mandi? Jadi gini, kejadiannya berawal ketika saya mandi. Sekitar jam 5 kurang. Kebiasaan saya kan harus mandi sebelum magrib. Karena kalau sudah lewat magrib, lebih baik saya ngga mandi sama sekali. Maka ketika saya tau di sana magrib sekitar jam setangah 6 saya segera mandi supaya kelar mandi sebelum magrib. Karena saya niatnya sekalian keramas.

Saya tidak bisa menstel pemanas air di kamar mandi tersebut. Air yang saya atur ngga bisa hanya sekadar angat-angat kuku saja. Akhirnya karena sudah pasrah tidak bisa mengatur water heater kamar mandi terebut, saya mandi dan keramas dengan air yang cukup panas. Lebih panas dari panas rata-rata yang selama ini tubuh saya terima.

Saya keramas dan mandinya tidak lama. Tapi ketika saya keluar siraman air shower merasa kepala saya tiba-tiba pusing. Kepala saya keliyengan luar biasa. Saya seperti mengalami vertigo yang luar biasa parah. Pandangan saya berputar-putar tak karuan. Rongga dada saya seperti tak beroksigen. Dan sayapun berusaha menghirup udara sebanyak yang bisa saya hirup.

Tapi udara yang saya hirup pun serasa tidak mempunyai kandungan oksigen. Saya seperti bernapas di dalam ruangan hampa udara. Semakin saya menghirup udara untuk bernapas, rongga pernapasan saya makin sesak. Saya mulai cemas. Otak saya memerintahkan saya untuk segera keluar kamar mandi.

Bromo dari Seruni Point View

Tangan saya bergerak ke arah pakaian yang tergantung. Dan lantas yang terjadi kemudian adalah pandangan saya seperti berputar. Tubuh saya saya limbung. Saya bersandar pada dinding kamar madi. Saya mengalami kejadian seperti adegan di drama-drama yang memerankan orang yang pusing luar biasa saat hendak pingsan, pandangannya yang berputar-putar dan tubuhnya terhuyung.

Pikiran saya segera memerintahkan saya untuk segara mengenakan pakaian saya, itu tekad saya. Saya takut saya tidak kuat dan kemudian pingsan. Karena saya belum pernah merasakan pusing yang begitu luar biasa seperti saat ini. Dalam pikiran saya, jikapun saya akhirnya pingsan, saya tidak mau pingsan dalam keadaan tanpa pakaian. Bakal ngga punya muka saya karena menahan malu.

Saya segera mengenakan pakaian dalam saya. Selain cd dan bra, juga masih sempat saya kenakan celana ‘strit’ yang bisa menutupi sepertiga paha saya. Pandangan saya semakin buran dan berputar-putar. Saya yakin tidak punya kekuatan lagi untuk mengenakan baju saja. Jadinya, baju kaos yang tadi saya pakai, saya kenakan lagi.

Badan saya terasa makin tidak karuan. Pandangan semakin berputar, dan makin pusing. Otakku langsung bekerja memerintahkan  tanganku agar segera membuka pintu kamar mandi. Eh, belum lagi tangan saya sanggup membuka pintu, saya terhuyung dan badan saya terduduk, terhempas. Kaki saya rupanya tidak kuat lagi menahan tubuh saya yang berukuran XXL, alias dobel eks el. (saya mengalami ketakutan atau trauma sekarang setiap kali membayangkan kalau saya terjatuh dan kepala saya terbentur).

Saya berjuang bangkit dan merangkak ke pintu, mencoba meraih gagang pintu. Tangan saya berhasil memegang gagang pintu dan membukanya. Saya mencoba teriak pada Mas Sugi (guide sekaligus driver kami) supaya dia masuk ke kamarnya. Saya mau masuk ke kamar yang saya tempati hanya dengan memakai celana setrit dan baju kaos pendek. Dan tentunya tanpa jilbab pula.

Nah, begitu saya selesai teriak, saya sudah tidak ingat apa-apa lagi. Saya sudah pingsan.

Samar-samar kemudian saya mendengar teman saya sangat panik memanggil nama saya. Ia menyuruh saya bangun. Dalam pikiran saya ketika itu, saya menjawab panggilan teman saya bahwa saya tidak apa-apa. Serius, saya berusaha menenangkan teman saya yang panik dengan bilang saya tidak apa-apa. Tapi kata teman saya, saat itu saya tidak ngomong sama sekali, orang lu pingsan, hehehe.

Sunrise di Penanjakan Point View, November 2014

Pada saat itu saya merasakan di mulut saya ada sebutir dua butir nasi dan aroma ayam fried chicken yang tadi saya makan. Saya mikir, saya muntah atau kenapa ya? Setelah itu saya lagi-lagi tidak ingat apa-apa. Sampai kemudian saya merasakan saya sudah tidur di atas kasur dengan tubuh ditutupi selimut hangat. Oh saya berpikir, kenapa saya tiba-tiba ada di atas kasur?

Saya kembali mendengar teman saya memanggil nama saya, menyuruh saya bangun. Saya lagi-lagi menjawab bahwa saya tidak apa-apa, tolong jangan panik, hehehe. Tetapi ternyata itu hanya di dalam pikiran saya saja. Saya juga merasakan kaki saya dipijit seseorang, plus bau minyak tawon menyerang hidung saya. Saya mencoba tetap ‘berbicara’ dengan teman saya tetapi tetap saja hanya ada dalam pikiran saya saja.

Beberapa menit kemudian saya mulai sadar dan mulai bicara tapi masih ngawur gitu kayanya. Saya bilang ‘saya tidak apa-apa’. Saya juga nanya ‘saya pinngsan ya?’ Maaf ya, bikin repot’. Tapi karena kesadaran saya belum benar-benar pulih benar mungkin omongan saya yang keluar masih kacau. Tapi saya tau suara saya sudah keluar meski mata saya masih terpejam.

Saya yakinkan teman saya, bahwa saya tidak apa-apa.

Ruapanya, teman saya mencari tukang pijit yang ada di sekitar homestay. Mba tersebut kemudian meijit kaki kaki saya, sementara saya tetap memejamkan mata. Sesekali saya coba tanya dia (sembari mata terpejam) udah berapa lama saya pingsan. Dia jawab ngga tau, tapi dia baru beberapa menit di sini. Bener juga mungkin, karena ia baru memijit tapak kaki kiri saya.

Saya membiarkan mba tersebut mimijit kaki, tangan dan punggung saya. Sesekali ia saya ajak bicara. Saya selalu begitu, setiap kali urut atau bekam selalu mengajak terapisnya ngomong. Ngga enak hati membiarkan orang yang mengurut saya atau memekam saya diam tak berbicara.

Penanjakan Point View, November 2014

Kata Mba-nya urat-urat atau otot-otot badan saya saya kaku semua. Saya juga masuk angin parah katanya, terlihat dari bada saya yang memerah di bekas pijitannya. Pikiran saya langsung melayang pada kondisi saya yang sudah sangat lelah seminggu yang lalu, dimana saya sudah merasa hendak pingsan juga. Apa mungkin ini akumulasi dari badan saya yang capek banget ya, saya bertanya pada diri saya sendiri. Dan saya tidak menemukan jawabannya, hehehe.

Nah, pas saat dia memijit pangkal lengan saya yang kanan, tangan saya terasa sakit banget. Saya sampai meng’aduh’ kesakitan. Sakitnya bukan karena urat-urat saya yang kaku. Kata mba-nya pangkal lengan saya biru lebam. Seperti habis terbentur sesuatu atau kena pukul benda tumpul.

Saya tidak tau kenapa, tapi seingat saya tadi ketika mandi tidak ada masalah sama sekali, saya hanya terduduk, tidak mengenai sesuatu yang tumpul. Tapi kemudian saya berpikir mungkin tadi mengenai keran kamar mandi ketika saya tiba-tiba terhuyung dan terduduk. Atau mungkin mengenai selotan kunci kamar madi ketika pas saat saya mau pingsan di pintu kamar madi. Saya pikir dua itu kemungkinannya.

Dan ketika teman saya keluar hendak mencari ATM sekitar jam 7 an, saya kemudian bangun untuk shalat magrib dan isya. Dan saya liat di rak baju dekat pintu kamar mandi, handuk saya tergeletak. Saya pungut, lalu saya melihat di sana terdapat onggokan besar muntah yang yang airnya sudah kering karena terserap handuk. Lantas itu handuk saya buang sekalian saja pas saya bersihkan itu muntah, hehehe.

Saya tanya Linduik gimana caranya dia dan Mas Sugi membawa saya ke kamar. Dengan bahagianya dia cerita kalau mereka mengangakat saya dan menyeret saya seperti jendral korban G-30 S/PKI, hahaha. Katanya saya sangat beraaaaat jadi terpaksa diseret ala PKI menyeret jenderal-jenderal seperti yang ada di pilim PKI. Dasaaaar, lo katanya teman tapi kaya gitu ke temannya yaaa??? wkwkwkwk

Apa sih kira-kira yang menyebabkan saya pingsan? Saya sudah menganalisanya, tapi karena alasannya juga bakal panjang sementara postingan ini juga sudah panjang. Jadi akan saya jelaskan saja di postingan berikutnya, hehehe. 😛

 

Advertisements

26 comments

  1. Waduh, bacanya seram juga nih 😦 alhamdulillah sebelum pingsan masih bisa pakai pakaian ya, tadi ga telanjang..aku juga pernah pingsan tiba tiba gitu pas lagi kerja di depan bosku dan teman teman kerja..padahal sebelumnya sehat sehat aja n abis makan siang..pas lagi ngomong ma bos tiba tiba aja pandangannya jadi gelap dan akhirnya pingsan..Setelah diperiksa ke dokter, ternyata tekanan darahku rendai bgt, cuma 90/70..

  2. Halo, saya mahasiswa bahasa Korea di salah satu universitas Indonesia. Mau bertanya mengenai postingan kamu tentang Hanok (Rumah tradisional Korea). Itu sumbernya didapat dari mana saja ya? Tolong jawabannya. Terimakasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s