Kopi Kawa Daun : Minuman Khas Sumatera Barat

Ngopi adalah istilah keren untuk menyebut aktifitas minum kopi. Ngopi itu enak, dan juga asyik. Apalagi ngopi tersebut dilakukan bareng-bareng bersama teman-teman. Ngopi sudah menjadi gaya hidup semua lapisan masyarakat. Di Jakarta, ngopi seringkali dilakukan di mol, kad-kafe, atau tempat tongkrongan mahal lainnya.

Di Sumatera Barat ada minuman untuk ‘ngopi’ yang sedang tren sejak sekitar tiga tahun ini. Nama minuman tersebut adalah minuman Kopi Kawa. Ada juga yang menyebutnya Kawa Daun atau juga Kopi Daun Kawa. Jadi kopi kawa ini menjadi menjadi minuman yang wajib dicoba kalau teman-teman berliburan di Sumatera Barat.

Minuman kopi kawa ini bukanlah minuman yang baru muncul di Ranah Minang. Karena kopi Kawa sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, ketika kopi menjadi salah satu komoditas utama yang diandalkan pemerintah kompeni Belanda untuk diekspor ke Eropa sana. Tetapi minuman ini baru menjadi tren beberapa tahun ini.

Jadi bisa dibilang, minuman kopi kawa ini lahir dari induk yang bernama penjajahan. Kopi merupakan salah satu tumbuhan yang wajib ditanam dalam pelaksanaan kebijakan tanaman paksa atau Cultuurstelsel yang dilakukan Belanda. Kebijakan Culturstelsel ini dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch.

Ayah saya bercerita tentang asal muasal minuman kawa daun ini di Sumatera Barat. Cerita ini ayah saya dapatkan juga kakek neneknya ayah saya. Zaman penjajahan dulu, minum kopi adalah minuman kaum elit, minuman orang kaya. Minuman yang hanya dibolehkan bagi kaum penjajah belanda. Masyarakat pribumi yang menjadi pekerja sangat dilarang membuat minuman dari biji kopi.

Tak ada rotan akarpun jadi, itulah salah satu pepatah minang yang menyatakan hidup pantang menyerah. Karena kumpeni alias kompeni melarang ‘inlander’ membuat minuman dari biji kopi, masyarakat petani kopi membuat minuman kopi dari bagian lainya dari pohon kopi: yaitu daun kopi.

Daun kopi? Yuup, daun kopi. Mungkin banyak yang tidak tau bahwa daun kopi juga bisa dijadikan minuman. Tapi di wilayah daerah Padang atau Sumatera Barat, dulunya daun kopi dijadikan sebagai minuman oleh sebagian masyarakat.

Bagaimana cara membuatnya? Cara membuatnya sangat gampang. Daun kopi yang sudah dipetik dikeringkan dengan cara dijemur di bawah cahaya matahari sampai kering. Setelah kering, daun kopi tersebut diremas-remas pakai tangan sampai menjadi serpihan kecil. Serpihan daun ini yang kemudian diseduh air panas, maka jadilah kopi kawa daun.

Mudahkan? Yaap, sesimpel itu. Dan segampang itu… 😛

Cara lain yang digunakan adalah dengan cara di-diang, atau di-diangkan. Tau apa itu diang? Diang ini adalah salah satu kata dalam bahasa minang yang artinya adalah menghangatkan tubuh atau sesuatu dengan memanfaatkan hawa panas api dari tungku api. Atau bisa juga berarti duduk mendekat dengan tungku api dapur.

Istilah kerennya memanaskan tubuh dengan dengan cara konveksi, hehehe. Ini biasa dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di daerah dingin. Jadi, daun kopi untuk minuman kopi kawa ini bisa juga dikeringkan dengan cara di-diang-kan, atau mendekatkan daun pada api.

Defenisi diang tadi, adalah defenisi yang saya buat sendiri ya. Bukan berdasarkan kamus mana pun. Tetapi dari istilah kata yang sering saya dengar dan prakteknya sering saya lihat sewaktu saya masih kecil. Dulu, kakek saya punya ladang kopi atau kebun kopi. Jadi kalau kakek atau nenek saya, atau siapun yang hendak menghangatkan tubuhnya dengan cara duduk dekat tungku, selalu menyebut ba-diang, atau ber-diang.

Mengeringkan daun kopi dengan cara di-diang-kan ini membuat daun kopi lebih cepat kering dibandingkan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari. Karena panas api ini lebih cepat membuat dedaunan menjadi kering. Dengan metode ini pengeringan bisa dilakukan pada saat merebus air di tungku tradisional.

Sumber

Dan daun kopi yang bagus digunakan kata ayah saya adalah daun kopi arabika (mudah-mudahan saya tidak salah ingat), hehe. Karena daun kopi jenis arabika ini menghasilkan aroma yang lebih wangi daripada jenis daun kopi robusta. Jenis kopi yang kualitasnya dikenal lebih bagus memang kopi arabika kan ya?

Dari uraian di atas, saya pikir kopi kawa atau kopi daun kawa ini bisa juga digolongkan sebagai minuman jenis teh. Sama seperti minuman teh lainnya yang bukan berasal dari tumbuhan teh, disebut teh juga, seperti teh krisan. Teh dari daun kopi bisa juga disebut teh daun kawa atau teh daun kopi. Tapi karena bahan ‘teh’nya berasal dari daun kopi, tetap saja disebut dengan kopi kawa.

Oya, penyajian kopi kawa ini beda dengan minuman lainnya. Kopi Kawa tidak disajikan dengan gelas atau cangkir tetapi dengan sayak, atau tempurung kelapa, alias batok kelapa. Kenapa demikian? Saya juga tidak tau. Dan saya lupa menanyakannya lebih lanjut. Tapi kalau di rumah saya pikir bisa dengan dengan gelas juga. Nanti saya coba cari tau lagi.

Saya mencoba minum kopi kawa ini di Bukittinggi. Setelah berkeliling ke berbagai tempat wisata di Bukittinggi. Pagi hari saya ngebolang sendirian ke Tarusan Kamang, lantas ke Nagari Koto Gadang, dan kemudian Janjang Saribu, Ngarai Sianok. Terakhir saya minum kopi kawa ini bersama teman saya sampai magrib, yang berakkibat saya harus pulang naik ojek ke Solok dari Padang Panjang, hehehe.

Jadi, siapa yang mau mencoba minum kopi kawa?

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s