Target Pencapaian Hidup

Setiap orang mempunyai batasan-batasan sendiri dalam dalam menetapkan standar pencapaianannya. Ada yang ketat dan tegas terhadap dirinya sendiri dalam mewujudkan apa yang hendak dicapai tersebut. Ada pula yang mempunyai standar yang longgar atau malah nggak mempunyai batasan sama sekali.

Saya punya teman. Kerjaanya ngajar les. Les sempoa sama les baca. Ya, hanya les baca dan sempoa. Tapi muridnya banyak dari pagi sampai sore, bahkan pas saat magrib. Karena muridnya banyak beberapa tahun ini, maka tiap bulan gajinya gede banget juga. Udah 8 dijit (8 dijit loh yaaa) tiap bulannya. Keren banget kan ya, seorang guru les bisa punya gaji di atas 10 juta.

Dari uang gaji yang ia kumpulkan, ia punya sapi di kampung, punya mesin bajak juga buat disewakan pada petani lainnya. Juga motor di kampung yang digunakan oleh adiknya. Dia ini sangat ketat sama dirinya dalam hal mengeluarkan uang. Dia hanya mengeluarkan uang untuk beli keperluan yang standar, seperti pakaian, sepatu dan (belakangan beberapa tahun ini) merawat muka. Sejak dua tahunan ini juga ikut senam aerobik di sanggar senam dekat rumahnya.

Dan beruntungnya lagi, dia tinggal dan makan di rumah bos-nya. Jadi ngga perlu keluar uang kos, ongkos dan juga uang makan. Tau sendiri biaya terbesar yang harus dikeluarkan kalau di Jakarta adalah biaya tempat tinggal yang sangat mahal. Dan pergi kerja juga tidak mengeluarkan ongkos. Walaupun hampir tiap hari ia kadang-kadang juga beli makanan di luar tapi dia sudah sangat hemat tanpa harus mengeluarkan biaya tempat tinggal dan ongkos.

Teman saya ini paling ngga mau diajak jalan, apalagi jalan-jalan ke berbagai daerah. Baginya traveling-nya adalah pulang kampung tiap lebaran dan tahun baru. Itu aja udah cukup sebagai traveling baginya. Ngga perlu lagi jalan-jalan lainnya ke daerah lain apalagi ke negara lain. Liburan, ya pulang kampung.

Target yang hendak dia capai adalah : dia nih bercita-cita pengen beli mobil kes alias ngga pake kredit. Jadi setiap bulan kudu nabung sekian duit. Jadi duitnya yang ditabung di bank biru dianggap sebagai uang ilang. Ngga bisa diutak-atik. Uang yang ngga bisa diganggu gugat meski dunia diguncang prahara. Karena tujuannya jelas : beli mobil. Duitnya yang ditabungan satunya lagi (tabungan rakyat) buat biaya hidupnya sehari-hari.

Jadi nih, kalau dia ngomong lagi ngga ada duit, maka duitnya di tabungan rakyat lagi cekak, walaupun duit di tabungan biru udah seratusan juta, hehehe. Tapi berkat hemat teman saya tersebut, sekarang dia sudah punya mobil. Akhir tahun kemaren bisa beli mobil bayar tunai, ngga pakai kredit seharga 120 an juta.

Luar biasa bangeeeet kan?…. Salut sayaaa. Dan ngileeer juga saya, hahaha.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s