Kisah Semangkuk Udon

Ini sebenarnya bukan cerita tentang udon, segelas ocha, ataupun makanan lainya. Dan saya juga bingung mau membuat apa judul postingan saya kali ini, hehe. Karena ini hanyalah cerita uneg-uneg saya saja ketika selesai makan udon di Marugame Udon, Kota Kasablanka. Yang kalau nggak dikeluarkan kayanya mengganjal di kepala dan di dada. Makanya saya jadikan saja postingan di sini.

Jadi gini, ketika saya makan udon di Marugame udon, pas shalat magrib kami shalat bergantian. Awalnya Jodi dulu yang shalat Magrib, setelah itu baru saya dan Syakira. Di tempat wudhu di mesjid Al-Ikhlas Kota Kasablanka, saya dan Syakira bertemu Firanda di tempat wudhu. Firanda katanya habis mengikuti suatu acara di Kokas, dan juga sudah selesai shalat magrib.

Syakira mengajak Firanda ikut gabung bersama di Marugame. Saya tidak berani mengajak Firanda ikut bergabung terlebih dahulu (walaupun saya merasa akrab dengan dia) karena saya juga diajak oleh Syakira. Setelah Syakira mengajak Firanda baru saya juga ikut mengajak Firanda untuk ikut bergabung bersama kami. Tapi Firanda tidak mau ikut gabung karena dia mau langsung pulang bersama teman-temanya dari Depok yang juga ikut acara yang sama. Kita berpisah di tempat wudhu mesjid Kokas.

Sekitar 10 menit atau 15 menit kemudia, Firanda menelpon, mau ikut bergabung dengan kami karena teman-temannya yang lain mau ‘muter-muter’ dulu Kokas. Jadi dia memilih berpisah dengan teman-temannya dan bergabung dengan kami bertiga. Firanda pun kemudian memesan udon dan menikmati makannya sambil ngobrol berempat.

Tapiiiiiiii, yang kemudian terjadi adalah, ketika udonnya sudah hampir habis, dan masih tersisa sedikit, Firanda ngomong gini, “Ntar abis ini kita pulang ya?” sembari tetap menikmati udonnnya. Ngomongnya santai kaya di pantai.

Saya bengong. Loh, yang baru gabung siapa, teruus yang ngajak pulang duluan siapa? Jodi sempat menatap saya sesaat, mukanya sedikit mengerinyit. Ia juga mungkin heran dan mengungkapkan keheranannya lewat matanya.

Begitu udonnya habis, tanpa menunggu barang sesaat pun Firanda langsung mengajak saya untuk pulang, “Udahan, kita pulang yuk!” ajaknya.

Laaah, Jodi sekilas melihat saya lagi dengan heran. Kami sudah ngumpul bertiga sejak sore karena niatnya mau nonton, tapi nggak jadi. Dan akhirannya kami makan di sini. Kami masih mau duduk dan masih mau nongkrong. Dan Firanda yang baru gabung bersama kami langsung mengajak pulang begitu dia selesai makan?

“Aku SMP banget ya? Selesai Makan Pulang” kata Firanda sambil tertawa mengomentari dirinya sendiri.

Jodi dan Syakira tidak begitu merespon ajakan Firanda untuk pulang. Tapi kemudian dia mengajak saya puluan duluan. “Yuk, Ciiin, kita pulang yuk!” kami emang saling panggil Cin satu sama lain.

“Gua ntar-an aja Ciiin!” jawab saya. Mukanya langsung berubah tidak suka gitu, langsung jutek sama saya. Beneran dah, nggak bohong saya, muka Firanda langsung juteeek banget saya.

Laaah, kenapa dia yang jutekin saya karena tidak mau dia ajak pulang? Saya datang ke sini ketemuan dengan Syakira dan Jodi, bukan dateng bukan bareng dia. Kami bertiga justru bertemu tidak sengaja di mushala kan? Tapi kenapa Firanda ngajak saya pulang seakan-akan saya ke sini bareng dia? Maksa kan namanya.

Kalau saya janjian ke sini bareng dia buat bertemu Syakira dan Jodi, masih wajar dia ngajak saya pulang duluan. Wajar juga dia jadi pasang muka jutek karena saya tidak tidak mau diajak dia pulang duluan. Lagipula, rumahnya di Depok, terus kos-an saya di daerah Cideng, Tanah Abang. Pulang barengnya cuma sampai stasiun Tebet doang. Jarak Stasiun Tebet ke Kokas juga dekat, cuma sekitar 1 km lebih kok.

Pas tiba-tiba mamanya nelpon dia langsung panik gitu. “Duh, gimana nih? Si mamih nelpon.” katanya panik. Jam baru menunjukkan baru sekitar jam setengah 8.

“Udah Ciiin, lo pesen aja ojek online, kan dekat!” usul saya.

“Lo kan tau ndiri gue ngga bisa boncengan naik motor!” jawabnya dengan suara yang menggumam kesel gitu. (tapi kemudian, ntar malamnya dia cerita, kalau dari stasiun Depok ke rumahnya dia naik ojek juga, huuufff : kok bisa?)

Dia memperlihatkan kekesalannya pada saya. Kenapa dia jadi kesal dan marah sama saya coba? Hanya karena saya tidak mau diajak pulang? Atau karena saya adalah si plegmatis yang emang sering ‘terjajah’ oleh dia si koleris? Saya tau dia trauma naik motor karena pernah jatuh dari motor beberapa tahun yang lalau saat berboncengan dengan teman kami juga. Tapi kenapa dia memperlihatkan kekesalannya hanya pada saya saja?

Dia juga bukan tidak pernah naik ojek juga loh, dia masih naik ojek walaupun tidak sering setelah kejadian jatuh dari motor tersebut. Itu jika keadaan terpaksa katanya. Walaupun terpaksa atau ngga, yang jelas dia masih pernah naik ojek lah. Tapi kenapa dia bersikap seolah-olah dia benar-benar tidak pernah lagi naik motor?

“Kan naik angkot juga bisa.” saran saya lagi.

“Angkat 44 itu sereem banget tau!” jawabnya lagi dengan suara menggumam, lagi-lagi dengan nada yang ditekan-tekan. Dengan mata yang agak sinis. saya hanya geleng-geleng kepala dengan sikapnya ke saya.

Saya tidak habis pikir. Angkot 44 itu adalah angkot yang sangat ramai penumpang dari Kokas arah ke arah stasiun. Dari sejak sore jam pulang kantor sampai mol kokas tutup jam 10 malam, angkot 44 selalu sangat ramai penumpang. Itu angkot juga seabreg-abreg banyaknya, ngga berenti-brenti.

Dan lagipula Firanda juga sudah sangat terbiasa naik angkutan umum setiap pergi kemana-mana. Bukan orang yang terbiasa naik mobil kalau jalan kemana-mana. Juga bukan orang yang terbiasa naik taksi seperti hal nya Syakira. Dia kemana-mana musti angkutan umum. Kalau bukan angkot, kereta apai, ya busway. Tapi sekarang dia bersikap kaya tidak pernah naik angkot?

Dan lagi-lagi pertanyaan saya adalah kenapa Firanda jadi kesalnya sama saya coba? (pertanyaan saya udah berkali-kali nih, hahaha). Masih untung saya peduli kasih saran ke dia. Sementara Syakira sedang liat-lihat hapenya dan Jodi hanya diam saja. Saya masih peduli dengan kekhawatirannya yang ketakutan yang belum pulang hingga saat ini, tapi kenapa sikapnya malah nyolot ke saya?

Chaca masih merengek-rengek mengajak Syakira dan Jodi pulang. Dan akhirannya, Syakira memutuskan pulang karena kasian juga liat Firanda. Syakira ngerasa jadi tidak nyaman juga melihat ‘ketakutan’ Firanda yang belum pulang, dan juga ketakutan Firanda naik ojek atau naik angkot sendirian. Syakira pun akhirnya memesan gojek mobil.

Pemesanan ojek mobil tidak mulus. Pemesanannya lama banget. Pemesanan pertama dibatalkan drivernya. Pemesanan kedua lama. Ya iya lah, tau sendiri kayak apa macetnya jalanan mau masuk kokas Sehingga akhirnya dari awal pemesanan sampai akhirnya kita keluar dari marugame, satu jam. Lama bangaaaat kaaan???

Padahal kalau Firanda pulang sendirian sejak dia selesai makan udon, dia mungkin sudah di atas kereta api dan hampir tiba di Depok, huufff…

Kita akhirnya keluar dari mol kokas. Nyeberang dulu ke pom bensin di seberang karena mobilnya berada di situ. Pas saya berjalan berdua Jodi, Jodi ngomong mengungkapkan keherannya kaya gini, “Kenapa Firanda yang maksa kita pulang ya, First? Kan dia yang datang belakangan.” ujar Jodi dengan nada kesal. Serius!

“Ngga kita undangpun, tiba-tiba datang aja padahal katanya udah mau pulang bareng teman-temanya. Kan kasian Syakira kan yang harus jalan dulu, nyeberang dulu! Trus emangnya dia ngga bisa naik angkot, kan sudah biasa naik angkot juga.” sambung Jodi dengan nada kesal.

Saya hanya bisa jawab, “Gue juga heran, Ndi!” hehehe. Saya harus bilang apa coba? Saya juga kesal banget sama Firanda. Tapi saya sangat dekat  dengan dia (tapi menurut saya, tapi menurut dia ternyata dia nggak akrab sama saya) jadi tidak bisa komen banyak sama Jodi.

Di depan pom bensin, kita tidak tau keberadaan gojek mobil pesanan Syakira. Dan ndilalahnya, hape Syakira mati *garu-garuk dinding. Terpaksalah kami bertanya ke setiap mobil yang ada di situ, apakah itu pesanan kami atau bukan.

Kami bertanya pada bapak-bapak yang duduk di tenda dekat pom bensin. Bapak-bapak tersebut menawarkan untuk mencas hape Syakira di tenda tersebut supaya Syakira bisa menghubungi driver gocar yang dia pesan.

Jodi berdiri agak jauh supaya tidak terlihat oleh Firandaa. Ia mencoba menyembunyikan kekesalannya. Dia memandang saya, dan berkali-kali geleng-geleng kepala sambil melirik ke arah Firanda yang sedang duduk. Begitu hape Firanda nyala lagi dia segera menghubungi drivernya. Si driver menjelaskan posisinya sedikit melewati pom bensin ke arah ambassador.

Saya dan Jodi segera bergerak cepat untuk mencari drivernya. Pas saya lagi berjalan berdua bersisian, lagi-lagi Jodi mengungkapkan kekesalannya tentang Firandca. Ketemu driver gocar ternyata masalah belum selesai. Kami minta sopirnya memundurkan mobilnya sampai Pal Batu 3, supaya tidak memutar lagi ke depan kokas. Sopirnya mau.

Di dalam mobil saya menunjukan Firanda sebuah posko di jalan Peningkatan, tempat saya minta dijemput setiap kali minta tolong Firanda memesan ojek online lewat dia karena hape saya sudah tidak bisa pasang aplikasi onjek online.

“Ini tempatnya Cin. 4 rumah dari sini rumah teman gue, seperti yang biasa gue bikin di memo pemesanan tiap gue minta tolong ama lo!” kata saya.

Dengan manisnya dia menjawab, “Lo mustinya yang samperin ke posko, bukan suruh drivernya jempput lo ke 4 rumah yang lo maksud! Jangan ngerepotin orang lah!” jawabnya jutek. Jutek abis malah.

Haaaa?? Jangan ngerepotin orang? Firanda ngomong jangan ngerepotin orang? Yang barusan dia lakuin apa bukannya ngerepotin orang apa ya? Bahkan sangat ngerepotin semua orang yang yang ada! Apalagi Syakira yang memang terbiasa diantar jemput di depan pintu masuk, sekarang harus jalan dulu keluar mol, nyeberang dulu naik tangga dan nyari-nyari mobil dulu. Sementara dia terlihat seperti anak manis yang ketakutan karena tidak pernah pulang malam.

Kalau saja Firanda naik angkot ke stasiun begitu selesai makan, dia sangat-sangat-sangat mungkin sudah tiba di Depok, bahkan mungkin sudah tiba di rumahnya kalau naik ojek dari stasiun terdekat dari rumahnya. Udah satu jam lebih loh sejak dari dia merengek-rengek minta pulang.

Dan persoalan ternyata tidak sampai di situ saja. Driver gocarnya kesal karena ternyata tidak langsung ke tujuan pesmesanan. Karena harus mengantar saya dan Firanda dulu ke Stasiun Tebet. Setelah kami turun, kata Syakira sopirnya nyata-nyata memperlihatkan sikap kesalnya. Sopirnya mendengus-dengus kesal gitu.

Syakira yang merasa tidak nyaman akhirnya turun ojek mobil di daerah Kampung Melayu dan memilih naik taksi biru ke rumahnya. Jadinya dia harus membayar ongkos taksi dua kali. Membayar ojek mobil dan taksi si biru. Padahal kalau dia mengantarkan sampai rumah, Syakira pasti bakal membayarnya lebih.

Dan ketika saya cerita hal ini ke Firanda, dia tidak komen apa-apa, walau hanya sekadar komen ‘kasihan Mba Syakira’. Ia juga sedikitpun tidak mengungkapkan rasa tidak enaknya atas kejadian tersebut. Padahal semua kerepotan ini bermula dari desakan dan rengekan yang tiap sebentar minta pulang.

Dan ternyata malamnya, Syakira cerita melalui telpon, ketika kami menyeberang di jembatan penyeberangan di depan kokas, Firanda minta maaf sama Syakira. Firanda minta maaf karena merasa nggak enak udah ngerepotin Syakira . Oke, baguslah kalau gitu mah. Tapi, kenapa dia cuma minta maaf sama syakira saja? Kenapa dia juga tidak minta maaf sama Jodi juga? sama saya juga? Apa Firanda ngga sadar ya, yang direpotin itu bukan cuma Syakiraa, tapi juga saya dan Jodi.

Saya dan Jodi yang sudah repot-repot mutar-mutar mencari sopir ojek mobil. Malah sama kami ngga ada merasa bersalah sama sekali? Kenapa cuma sama Syakira saja dia merasa bersalah dan pada Jodi dan saya tidak? Dia yang datang belakangan tanpa diundang pada pertemuan kami bertiga lohh. Dan padahal kami bertiga masih akan melanjutkan nongkrong minum kopi setelah dari makan Udon.

Kenapa Firanda tidak minta maaf juga pada saya dan Jodi juga? Apa karena Syakira yang membayari makanannya? Jadi dia hanya menghormati Syakira? Dan tidak menganggap keberadaan saya dan Jodi ya?

Dan yang bikin saya malu adalah Syakira pernah tanya ke saya, kenapa Firanda bersikap seperti ‘seenaknya’ gitu?‘ sama saya. Kata Syakira, Firanda ‘terkesan sangat kurang menghargai lo banget’, ujar Syakira yang membuat saya benar-benar kehilangan muka karena menahan malu. Padahal saya, Syakira dan Firanda gabung bareng bertiga atau berempat di luar pertemuan komunitas baru dua kali loh. Tapi syakira langsung melihat sikap Firanda yang katanya kaya seenaknya gitu sama saya.

Huff…

 

NB :
Akhirnya dipublish juga unek-unek saya ini setelah berbulan-bulan (3 bulanan deh), soalnya udah lupain keselnya, walau ngga diomongin juga ke Firanda hehehe. Lebih utamain pertemanan aja mah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s