Gagal ke Genting Highland, Akhirnya Jalan ke Batu Cave, Bukit Gombak

Hmmm… Saya ngga tau mau nulis apa nih.Bingung,hehehe. Eh tapi teringat catatan rekam jejak jalan-jalan ke KL yang belum dibuat. Padahal sudah hampir setahun setengah yang lalu. Ya udah,akhirnya saya buat aja dah,dan mencoba mengingat-ingat lagi apa yang bisa teringat.

Pagi-pagi setelah bangun, setalah semalam kami kecapekan ngesot geret-gerat koper nyari Hotel City Inn, kami segera bersiap-siap buat berangkat ke Genting Highland. Kata ngkong-ngkong yang jaga hotel, kami harus naik di terminal Pudu. Lurus aja jalan ke sana, katanya mengarahkan kami. Okelah, Ngkong. Begitu kami keluar dari penginapan, kami nyari makan buat sarapan dulu, di depan stasiun Pasar Seni.

Seabis sarapan di warung India, tapi masakan melayu, kami memutuskan ke Genting Highland dari stasiun KL Sentral aja. Di sana juga tersedia bus yang menuju Genting. Tapi sayangnya setiba di sana, jadwal bus yang tersedia hanyalah untuk jam 3.30. Waalah, mau liat apa ke sana kalau ntar tiba sekitar jam setengah 5? Masa iya baru aja nyampe ntar musti turun lagi? Gimana cerita dong?

Akhirannya kami ganti haluan. Batu Cave. Padahal Batu Cave ini ngga masuk daftar yang bakal kami kunjungi, tapi mau ngga mau ke sini akhirnya. Di KL Sentral, ada kereta api langsung tujuan Batu Cave. Cukup bayar tiket 2,6 ringgit maka kita akan tiba di Batu Cave dalam waktu sekitar setengah jam.

Kalau menurut pendapat saya, kereta api comuter line Jabodetabek jaauuh lebih bagus daripada kereta api di Kuala Lumpur. Kereta di kuala lumpur, udahlah bunyinya seperti agak reyot, suasana di dalam keretanya juga kurang nyaman. Apalagi tiba-tiba keretanya ngadat, lantas disuruh bertukar kereta, hadeeuh…hehehe.

Begitu kita tiba di stasiun Batu Cave, pusat ibadah umat Hindu tersebut hanya berjarak sekitar 100 m dari pintu stasiun. Sejak keluar pintu stasiun menuju pintu masuk, puluhan pedagang tumpah di sepanjang lorong. Berbagai macam pedagang. Bahkan (maaf) pengemispun banyak. Udah kaya mesjid-mesjid besar di Jakarta kalau lagi Jumatan deh… :p

Masuk area Batu Cave, ngga berbayar. Kami masuk lebih dulu ke (kalau ngga salah) goa Rama Sinta yang berada di sebelah kiri dari pintu masuk yang dari stasiun. Di depan goa Rama Sinta terdpat patung Hanoman yang besar. Untuk masuk goa Rama Sinta ini masuknya kalau ngga salah 5 ringgit seorang dewasa. Anak-anak 3 ringgit.

Di gua ini berisi diorama tentang kisah Rama dan Sinta di dinding goa. Berbagai macam kisah tentang Rama dan Sinta dikisahkan di sini. Tapi karena saya ngga ngerti tentang Rama Sinta (kalau orang Jawa apalagi Bali, masih ngerti lah ya), saya mah di sana foto-foto aja. Suasananya sih asyik di dalam goa. Apalagi udaranya adem sementara di luar kan udah kaya apa tau panasnya.

Selesai dari goa Rama Sinta, kami jalan ke goa utama Batu Cave. Bukit Batu Cave ini sebenarnya kan tempat umat Hindu beribadah. Di depan yang di tangganya ada patung Dewa Murugan yang tinggi dan besar. Warna patung tersebut emas. Karena saya tidak mengerti tentang Dewa Murugan, saya tidak bisa menuliskannya. Maaf ya.

Jadi, yang namanya tempat ibadah, kita musti menghormatinya. Pengunjung yang masuk kegua utama Batu musti berpakaian sopan di sana.Jadi bagi pengunjung perempuan yang pakaiannya minimalis, disediakan selendang seperti halnya Candi Borobudur yang menyediakan kain batik.

Pemakaian selendang ini tidak gratis, tapi berbayar. Kalau ngga salah sih bayarannya 5 ringgit per helai. Tapi nanti setelah keluar akan dikembalikan lagi 3 ringgit. Artinya memakai selendang ini bayar 2 ringgit, 3 ringgit jaminan.

Pengunjung Batu Cave luar biasa ramainya. Kebanyakan dari pengunjung naik tangga yang tinggi tersebut. Tapi kami berempat memutus ngga naik ke tangga tersebut. Saya liat tangganya yang tinggi dan segitu ramenya udah jiper sendiri. Udah ngga niat lagi naik, hahaha. Ngebayanginnya aja udah capek duluan, apalagi kalau naik juga, makin capek. Jadi kami hanya poto piti aja dengan latar Dewa Murugan ini.

Kami ngga perlu lama-lama di Batu Cave ini. Puanaaas bangat. Yang penting udah berkunjung dan ambil bukti otentik, bahwa kami pernah mampir di sini. Jadinya kami segera belok kanan, berbalik ke stasiun, ke arah Kuala Lumpur lagi. Tujuan kami berikutnya adalah menara kembar Petronas. Yeaaay… 🙂

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s