Ngebolang ke Peternakan Padang Mangateh, Payakumbuah Pakai Motor

Di Payakumbuh, (tepatnya Kabupaten 50 Koto sih) ada tempat wisata yang mendadak naik daun. Namanya Peternakan Padang Mangateh. Peternakan Padang Mangateh ini mendadak terkenal sejak dikunjungi Presiden Jokowi memjelang akhir tahun 2015. Saat hendak meninjau bencana kabut asap di Riau.

Konon katanya, peternakan ini mempunyai pemandangan yang ngga kalah indah sama Selandia baru sana. Haaa? Masa iya siih? Jangan over gitu dong ah…hehehe. Tapi saya dan teman saya penasaran pengen jalan ke sana. Kaya apa sih pemandangan Peternakan padang Mangateh tersebut.

Bulan Desember 2016, saat saya pulang kampung akhir tahun, teman saya yang biasa saya panggil Linduik, mengajak saya ‘raun’ ke Peternakan Padang Mangateh. Maka jadilah kami berdua berangkat ke Padang Mangateh naik motor. Ini adalah raun-raun kami yang ke sekian kalinya naik motor dari Solok ke tempat wisata di Sumatera Barat.

Danau Singkarak

Sebelumnya kami sudah jalan-jalan dari Solok ke Rumah Puisi Taufiq Ismail, Puncak Lawang, Danau Kembar. Muantap kan ya, cewe-cewek jalan-jalan pakai motor yang jaraknya pergi pulang mencapai 140 – 250 km sehari. Dan begitu tiba di rumah badan rasanya rontok luar biasa, hehehe.

Pagi itu kami berangkat sekitar jam 9. Telaaaat 2 jam dari jam yang direncanakan sebelumnya, jam 7. Selalu saja kaya gitu setiap ada janjian jalan sama dia. Pengen gue getoook dah diaa. Makluuum sahabatku yang satu ini, kalau ngga ngaret mah ngga afdhol banget, hehehe, *piiiss nduik.

Kami berangkat ke Payakumbuh memilih melewati kota Batusangkar. Karena lewat Batusangkar, jalannya lebih pendek, meskipun jalan yang melewati Batusangkar ini tidak sebagus dan selebar jalan yang melewati kota Bukittinggi. Kalau lewat Bukittingi, jarak tempuh yang harus kami lewati adalah sekitar 110 – 120 km. Sementara kalau lewat Batusangka jarak tempuh sekitar 90 – 100 km. Lebih pendek sekitar 20 km.

Perjalanan ke Payakumbuh ini asyik karena sepanjang jalan terhampar pemandangan Danau Singkarak, perbukitan, persawahan luas membentang sepanjang berkilo-kilo meter, serta sawah yang berundak-undak dari atas perbukitan. Di tambah lagi jalan lewat Batusangka ini berkelok-kelok dengan perbukitan di sisi jalan, dan sisi sebalahnya ada sungai atau jurang. Kereen dong.

Kami juga mampir di salah satu mesjid tua di Tanah Datar. Namanya Mesjid Raya Rao-Rao. Karena capek dan (maaf) pantat juga pegal kami juga istirahat setengah di sebuah pondok yang tidak jauh dari persimpangan Biaro arah ke Payokumbuh. Mungkin jaraknya lebih kurang hanya 200 m saja dari persimpangan jalan tersebut.

Di warung Linduik makan mi goreng sambil menikmati pemandangan hijau yang terhampar si depan mata. Saya hanya makan tahu goreng dan kerupuk aja. Kami melanjutkan perjalanan setelah istirahat setengah jam. Kami kembali melewati jalan dengan persawahan yang indah di kiri kanan jalan raya.

Nagari yang kami lewati juga menyuguhkan pemandangan rumah gadang meski tidak banyak. Maka saya pun berhenti untuk memoto rumah gadang-rumah gadang tersebut. Giliran teman saya yang kesal sama saya karena sering berhenti buat foto-foto rumah gadang, hahaha. Tapi yang sedih adalah liat rumah yang hampir rubuh.

Kami tiba di Payokumbuah sekitar jam satu an. Setelah shalat zuhur si sebuah mesjid di dekat pasar Payokumbuah, kami melanjutkan perjalanan ke arah Padang Mangateh. Jalan yang mau menuju Padang Mangateh adalah jalan ke arah Mato Aia Batang Tabik, terus lagi ke arah jalan raya Sijunjung.

Simpang Peternakan Padang Mangateh tersebut berada di Gaduik, atau Gadut. Belok kanan ke arah perumahan Zeni Bangunan Kodim. Dari simpang tersebut kira-kira 2 km. Jalannya menanjak lurus ke arah peternakan. Dan diujung jalan kita akan bertemu gerbang peternakan Padang Mangateh.

Oya, kami sempat kebablasan jauh dari simpang Gaduik terbut ke arah Sijunjung sejauh 3 – 4 km, karena saking asyiknya bercerita berdua, hahaha. Kami berdua heran kenapa terlalu jauh perjalanan ini daripada perkiraan jarak yang hanya 6 km dari Payokumbuah. Makanya benar kata pepatah malu bertanya ya jalan-jalan aja sesat di jalan, malu bertanya sesat di jalan hahahaa

Daaaan, begitu tiba di sana, ternyata gerbang peternakan tutup. Karena kata satpamnya peternakan Padang Mangateh sudah tertutup untuk umum sejak 2 hari yang lalu. Whaaaaat???? Whaaat? Oooo…tidaaaakkk, kenapa harus sekarang tutupnyaaaa *air mata loncat ke samping ala adegan komik

Masa iya jauh-jauh dari Solok, menempuh perjalanan sejauh 100 km lebih dengan mengendarai motor, trus pas udah nyampe kami ngga bisa masuk karena peternakan sudah tutup untuk umum? *nangis kejeeer gue, udah capek bawa motor tapi kaya gini juga kejadiannya, huhuhu…

Pengunjung yang datang tapi ngga bisa masuk ternyata banyak. Ada yang dari Pekan Baru, daru Jambi tapi mereka harus balik kanan grak lagi. Kasian kan yaaa, mereka udah datang jauh-jauh tapi batal masuk ke sana. Rupanya dikeluarkannya pelarangan ini disebabkan oleh kebandelan pengunjung juga yang tidak menjaga kebersihan area peternakan.

Tapi ya, untung banget berkat kesabaran menunggu dan Linduik juga punya kemampuan diplomasi yang tinggi akhirnya kami berdua diizinkan masuk ke area peternakan. Yeaay, rejeki anak shaleh dah, Alhamdulillah… 🙂

Gimana ceritanya akhirnya kami bisa masuk ke peternakan tersebut, ntar di postingan berikutnya… 🙂

pengunjung yang gagal masuk

 

Advertisements

10 comments

  1. Belum ada penjelasan di posting di atas tentang pelarangan mssuk lagi. Cuma gara2 pengunjung yg tidak bisa menjaga kebersihan? Jadi sekaramg ditutup terus gitu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s