Sahabat dan Lingkaran Persahabatanku dari Masa ke Masa

Well… Saya kembali dapat tugas menulis dari sisterhood Blogger Muslimah. Kali ini giliran saya yang menentukan tema, meskipun pada dasarnya kami berempat juga yang menentukan temanya, hehehe… Tema yang akan kami buat adalah tentang persahabatan. Terserah mau menulis apa, yang penting tentang persahabatan.

Dalam berteman bisa dibilang saya bukanlah orang yang luwes dalam pergaulan. Karena saya ini kan orang introvert akut. Jadi saya sangat susah dalam pergaulan di mana saja. Saya terlalu pendiam sehingga seringkali saya seperti ada dan tiada di mata orang-orang sekitar. Sedih banget kan yaaa… *nangis ala nobita, air mata muncrat ke samping.

Tapi, meskipun saya seorang introvet yang susah bergaul, saya alhamdulillah punya teman-teman yang sangat akrab. Karena saya hanya bisa bergaul dengan orang yang sangat cocok sama saya. Alhamdulillah, saya masih punya beberapa teman-teman yang akrab dengan saya. Atau mungkin mereka saya sebut sahabat. Mulai dari sahabat masa SMP, SMA, kuliah sampai sahabat selama di Jakarta.

Loh, ga punya sahabat masa SD ya? Punya dong. Dulu, waktu di karena sekolah di kampung, teman akrab saya adalah teman sebelah rumah yang juga teman satu sekolah. Namanya Rita. Kami berdua sangat akrab banget. Akrab dengan beberapa orang di sekitar rumah, dan juga sangat akrab dengan beberapa orang di sekolah. Teman akrab saya dan Rita di sekolah adalah Emi, Susi dan Popi. Selain itu saya juga akrab dengan Afrina dan Vina (Vina ini baru berpulang sekitar satu setengah tahun yang lalu, hiks… sedih).

Tanjung Layar Sawarna : Mereka itu sahabat dalam komunitas pengajian. Saya satu-satunya anggota luar komunitas.

Teman akrab di rumah ada namanya Yel dan Res. Kami berempat bersama teman-teman lain tiap hari bermain bersama ala-ala permainan anak kecil anak kecil di kampung. Di teras rumah saya atau di teras rumah dia, di halaman rumah siapa aja. Di kebon kami main petak umpet, baik siang ataupun malam, main karet, main kertas bergambar, main orang-orangan.

Kami juga makan-makan di sawah, atau juga makan di pinggir danau Singkarak dengan teman-teman di sekitar rumah atau teman di sekolah. Gantian aja. Abis itu berenang di pinggir danau Singkarak. Atau juga mencari pensi di danau Singkarak. Setiap hari juga ngaji bareng di mushala sehabis magrib.

Jadi intinya, persahabatan di SD ini adalah persahabatan yang paling tidak milih-milih. Maksudnya kami, saya dan Rita, bisa dibilang sangat akrab satu dengan teman-teman kelas, walaupun rumah tidak berdekatan. Dan juga sangat akrab dengan teman-teman di sekitar rumah walaupun sekolah kami beda. Karena sore hari adalah waktu bermain bersama di sekitar rumah. Ntar si mushala pun ngaji bareng seabis magrib, hehehe.

Serius, masa kecil saya adalah masa-masa yang sungguh saaaangat indah karena persahabatan kami sangat indah. Oya, saya juga ingat kalau kami juga sangat nakal di sekolah. Kami pernah disabet sama guru, hampir satu kelas. Hanya satu orang yang ngga, hahaha. Guru kami menasehati, “kalau kamu malas-malas belajar, siapa yang rugi? Kamu atau kami? kami serentak menjawab, “kamuuuuuuuu…!” hahaha. Murid kurang ajaar.

Di Jembatan Cavenagh, Singapura, bersama dua sahabat yang umurnya di bawah saya.

Tapi kemudian adalah, setelah lulus SD semua berubah. Saya masuk madrasah tsanawiyah di daerah lain yang berjarak sekitar 20 km dri kampung, dan sekitar 5 km dari rumah saya di Solok. Saya kemudian tinggal bareng lagi sama orangtua di pusat kota Solok. Good bye deh keindahan masa kecil saya di kampung bersama-sama teman masa kecil.

Sementara sebagian teman saya kalau ngga masuk tsanawiyah di kampung, masuk SMP di nagari sebalah yang berjarak sekitar 3 km dari kampung kami. Jadi otomatis saya memasuki pertemanan yang baru sama sekali. Tidak ada satupun yang saya kenal ketika pertama kali masuk sekolah di sana. Berbeda dengan teman-teman SD saya, mereka makin kompak karena pergi sekolah bareng, dan pulangnya juga bareng.

Di tsnawiyah inilah saya mengalami ‘mentok’ dalam berteman. Saya yang dasarnya anak introvert tiba-tiba menjadi pendiam. Meskipun saat kelas satu saya cendrung bisa cukup akrab dengan kelompok ini, dan sedikit akrab dengan kelompok yang itu. Saya juga cukup dekat dengan Efira, si pintar juara kelas yang kurang disukai banyak teman, hahaha.

Sejak kelas satu  saya hanya menjadi tipe orang yang ‘memperhatikan’ karakter teman-teman. Tidak ada yang benar-benar akrab.

Yuni dan Indah

Baru pas naik kelas dua saya punya teman akrab. Mereka Linduik, Desnita, dan Nuri. Mereka sekelas waktu kelas 1. Jadi sudah akrab duluan. Sementara saya baru mengenal mereka di kelas 2. Di kelas 2 ini, saya juga sekelas dengan Elfira. Dia tetap juara 1, juara 2 – nya Linduik, juara 3 saya. Rangking 4 Desnita. Nah kalau Nuri saya lupa dia rangking berapa.

Di kelas ini Elfira tetap menjadi bintang kelas yang idealis. Ngga akan pernah mau ngasih liat PR ke teman-teman, apalagi ngasih contekan saat ujian. Akibatnya teman-teman tetap kurang menyukai Elfira. Hanya tetap saya yang menjadi teman yang dekat Elfira. Tapi saya juga punya teman-teman akrab lainnya yang cocok di hati.

Naik kelas 3, saya sekelas dengan Linduik. Nuri di kelas 3-1 bareng Elfira. Desnita di kelas 3-2. Di kelas 3, selain pendiam, ‘kebandelan’ saya pun menjadi-jadi. Meski pendiam, saya punya teman akrab buat gila-gilaan versi kami. Gila-gilaannya ngga macam-macam sih. Hobi keluar kelas saat jam pelajaran tertentu yang gurunya ‘menyebalkan.’

Di sederetan kelas 3 ada pintu penghubung antar kelas. Jadi biasanya Desnita ngasih kode ke Nuri melalui pintu penghubung. Nuri kemudian ngasih ke saya dan Linduik. Abis itu kami ke luar kelas, cari warung dekat. Kami nyari makan di warung dan dengarin sandiwara radio lama yang diputar radio baru, hahaha.

kita jadi norak di bus, hehehe

Kami sangat akrab walaupun tiga teman akrab saya adalah orang-orang yang ‘heboh’ sementara saya adalah si pendiam. Pernah ya, saya dan teman-teman saya kabur dari acara buka bersama, loncat jendela yang tinggi. Yang ada makanan saya tumpah, di karena terlepas dari pegangan saat loncat jendela, hahaha.

Tapi ibu saya tidak menyukai teman-teman saya ini. Kata ibu saya, teman-teman saya ini membuat saya ‘rusak’ karena sering membuat saya pulang kesorean. Padahal tidak ada pergaulan negatif apa pun yang kami lakukan. Kami hanya muter-muter ngga jelas sepulang sekolah menghabiskan waktu bersama. Makanya saya pulangnya sering kesorean, yang bikin ibu saya marah sama saya dan teman-teman saya.

Kami pun pernah melewati masa-masa yang sulit bersama-sama, menangis bersama; kecuali Nuri yang tidak terlalu mengalami hempasan gelombang kehidupan, hehe. Kos saya pun waktu di Padang menjadi tempat pelarian mereka kala ada masalah. Alhamdulillah itu persahabatan yang sungguh sangat indah. Sampai sekarang saya masih sangat akrab dengan mereka. Kami sering jalan bareng pas saya lagi pulang lebaran.

Memasuki SMA, karakter introvert saya makin menjadi-jadi. Saya makin pendiam. Tidak ada teman akrab. Semuanya hanya sekadar say hello saja. Hanya satu yang cukup akrab, namanya Dede. Karena rumahnya bersebelahan dengan rumah saya. Dan karena saya pun akrab dengan adiknya. Makanya saya dan dia cukup akrab, itupun saat udah kelas 3, saat kami hendak lulus sekolah.

pantai Selong Belanak Lombok

Tapi sejak kuliah sampai sekarang, Dede menjadi salah satu sahabat terbaik saya. Dia pun menjadi ‘anak perempuan’ ibu saya. Keluarga kami pun sudah seperti bersaudara. Ibuku dengan mamanya. Dede dengan adik-adikku pun sangat akrab. Dan Dede bisa tidur siang ke rumah saya meski saya tinggal di Jakarta. Saya dan Dede beberapa bertengkar, kemudian saling memaafkan lagi, dan tetap akrab lagi. Dan meskipun saya bertengkar dengan dede, dia mah tetap akrab dengan keluarga saya. Hebatkaaaan.

Memasuki masa kuliah, saya makin gila pendiamnya. Makin parah. Tapi meskipun begitu, di kampus saya juga punya teman-teman yang akrab. Ada ber-enam. Saya akrab dengan Lusi, Yeni, Anis, Linduik (beda orang dengan yang di SMP), dan Rima. Geng kan istilahnya. Saya tetap pendiam meski berada diantara teman-teman saya, hahaha.

Tapiiii…yang kocak belakangan adalah, kalau salah satu dari mereka ada masalah, ceritanya ke saya duluan, hahaha. Sehingga saya banyaaak memegang rahasia mereka, walaupun si teman akhirnya tetap bercerita ke teman yang lainnya, hahaha. Sementara saya tetap menjadi si pendiam.

Di Jakarta, saya sempat akrab banget sama teman tionghoa asal Bangka. Sebenarnya dia lebih tua dari saya sekitar 7 – 8 tahun. Tapi sekarang dia sudah balik Bangka dan kami cuma komunikaai via henpon dan wa. Yang aneh adalah sebelum dia punya WA kami masih sering telpin-telponan. Dia masih cerita tentang masalah pribadinya. Tapi sejak dia punya WA setahunan yang lalu, komunikasi kami malah berkurang, hahaha.

Tanjung Ann, Kuta Lombok dengan pasir mericanya

Saya juga punya teman akrab lainnya. Sebut saja namanya Ayu. Kami ngomong apa aja nyambung. Udah bertahun-tahun kami akrab. Cuma masalahnya, saya anggap dia sebagai sahabat tapi bagi dia saya mungkin bukan sahabatnya. Sehingga saya sekarang saya ngga berani nyebutnya sebagai sahabat meskipun menurut saya kami sangat akrab. saya sekarang tidak bisa menyebutnya sahabat hanya karena dia menyangkal kami sangat akrab. Looh kok bisa??

Meskipun saya dan Ayu sangat cocok dalam banyak hal, kami sering beda pendapat. Ayu adalah orang yang sangat ‘leluasa’ mengeluarkan pendapat. Kalau dia kesel sama saya langsung ditumpahin, mukanya cembetut, sikapnya ogah-ogahan. Bahkan hanya untuk soal makan di mana, akan jadi masalah sama dia. Dan itu sering terjadi pada kami.

Sampai suatu saat saya nanya ke dia begini : Lo ke gue kok bisa sangat bersikap apa adanya. Marah ya marah. Kesal ya kesal. Ngambek ya ngambek. Tapi kenapa sama gue aja lo bisa kaya gitu. Sama Mba Anggun kenapa ngga? Kenapa sama Mba anggun lo cendrung woles, ngga kaya ke gue? (Mba Anggun adalah sahabatnya Ayu).

Ayu diam. Dalam pikiran saya, Ayu bersikap leluasa ke saya karena kami sudah sangat akrab, jadi bisa memperlihatkan semua karakter dirinya tanpa segen-segen lagi. Makanya saya bilang gitu ke dia, “mungkin karena lo udah merasa akrab sama gue, jadi lo bisa sangat ekspresif ma gue.” *kepedean saya, hahaha.

Dia jawab : Ngga! *nyeeess… Saya kaya abis ditabok pake balok es. Dingin bikin hati membeku. Saya baru nyadar kalau Ayu ngga merasa akrab sama saya. Saya doang yang kepedean menganggap kami bersahabat atau paling ngga berteman akrab. Sementara bagi Ayu saya hanya teman biasa saja, hahahaha.

Air terjun Madakaripura

Tapi meskipun gitu saya sama Ayu tetap akrab, tetap debat, tetap cekakak-cekikik. Dan itu setiap hari. Dia tetap jadi teman ngobrol saya yang enak, sering pergi bareng. Tapi sekarang saya harus tau jarak yang dibuat oleh Ayu, bahwa kami bukan teman akrab seperti yang saya kira, hahaha *sedih sebenarnya gue….

Naaah, ada 2 lagi sahabat baik saya. Mereka luaaar biasa baik sama saya. Satu cewek, satu cowok. Yang cowok anggap namanya Ije, yang cewe anggap namanya Jenong. Ije dan Jenong ngga saling kenal, tapi saling tau. Saya pernah mau menjodohkan mereka berdua. Tapi pada ngga mau, hahaha.

Ije sunggguh sahabat yang sangat baik. Luar biasa baik. Dengan Ije, kami pernah dikira pacaran, hahaha. Udah sering banget saya ditanya orang-orang tentang keakraban kami. Ada teman cewek yang nanya langsung karena emang suka sama Ije. Ada juga yang nanya langsung karena dia mau jodohin sahabatnya dengan Ije. Pokoknya banyak yang nanya deh ke saya. Yang nanya langsung ke Ije juga banyak, hahaha.

Tapi yang paling sadis adalah, ada seorang teman oportumis ayam dan daging opotunis yang dekatin saya, mengakrabi saya dengan tujuan hanya untuk mendekati Ije, hahaha. Angap aja namanya Mbakk Juleha ya. Saya akhirnya akrab dengan Mbak Juleha. Akhirnya mereka, Mpok juleha dan Ije memang jadi akrab. Dan kami pun sering jalan bertiga. Ujung-ujungnya si Mpok Juleha ngaku pacaran sama Ije. Tapi Ije-nya bilang mereka ngga pacaran, kocaaakk hahahaha.

Jalan-jalan ke Bromo

Sama Jinong, dia adalah sahabat dalam suka dan duka di Jakarta. Kami sama-sama tau borok masing-masing, hahaha. Dia orang yang mempunyai empati yang luar biasa tinggi. Padahal umur sekian tahun di bawah saya. Kami akrab sejak awal sekitar 4 tahun-an ini. Dan saya adalah tempatnya bercerita segala hal permasalahannya. Sekarang dia sudah nikah dan pulang kampung ke Kerawang. Tapi kami masih sangat intens komunikasi via hape.

Naaah… Segitu banyak sahabat saya, alhamdulillah. Tapi ada yang komen itu cuman teman akrab. Bukan sahabat. Terserah anggapan orang sih, kesemua mereka adalah orang-orang yang sudah akrab bertahun-tahun dengan saya, saling berbagi. menghadapi berbagai masalah bersama, bagi saya adalah sahabat saya.

Oya, ada lagi, riyanti. Saya, Riyanti dan adiknya Dede dulu sangat akrab, sering jalan-jalan pakai sepeda keliling kota Solok lewat jalan-jalan kecil. Eksploring kecil-kecilan ceritanya. Riyanti juga sahabat masa kecil saya yang masih sangat akrab sampe sekarang. Sering ketemu, saling membantu, saling berbagi.

Belum lagi ada nama lainnya;  Si Manis dan Wiwiek serta Yuni dan Indah.Aduh, ini aja udah kepanjangan postingannya. Gimana mau nambah lagi. Tunggu, satu lagi, teman blog yang akrab sama saya adalah Bijo, hehehe.

Bagaimana dengan teman-teman? Bagaimana perteman dan persahabatannya?

Pantai sawarna
Advertisements

15 comments

  1. Wuih, temennya keren-keren. Orang pendiam itu sering disalahpahami. Kadang disangka sombong, kadang disangka cuek, gak pedulian, kadang disangka budek wkwkwkwkwk… Dan saya termasuk pendiam sebenernya makanya seneng nulis biar seimbang otaknya hahaha…

    • Alhamdulillah Un…

      Iya, bener banget un… Orang yg pendiem dikira sombong bgt. Padahal mah cuma krn ga bisa ‘ngomong’ aja. Pengen banget bisa ikut nimbrung, hehehe…

      Iya un… Dengan nulis uneg2 di kepala ga numpuk…, hehe

  2. bukannya teman akrab itu emang sahabat yaa Mbaa?

    sahabat saya yang masih akrab dan intens komunikasinya hingga kini adalah sahabat saat ngekost di jaman kuliah (satu kampus juga) dulu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s