Drama Muscab FLP Jakarta 2017

Oiya, saya jadi ingat mau cerita soal drama saat muscab FLP Jakarta 2017 yang kemaren kan ya. Tapi bisa dibilang dari panitia sendiri ngga ada drama, karena drama itu datang dari luar panitia, hehehe. Sebenarnya itu masalah ngga besar-besar amat sih. Tapi kalau dibesar-besarkan akan fatal juga akibatnya. Muscab dianggap tidak sah dan terancam diulang? Whaaat?? Masa sih? Iyaaa. Dianggap tidak sah dan terancam diulang.

Apa pasalnya?

Jadi gini, cerita berawal ketika sidang LPJ hampir kelar, sidang hampir ketok palu dari ketua sidang bahwa peserta sidang akan menerima dengan catatan LPJ ketua FLP Jakarta (yang bakal lengser) beserta jajaran pengurusnya, tiba-tiba kabar ngga enak itu datang. Datangnya dari Mba Ani ke saya ketika Iecha dan Aa Mumun nanya-nanya pendapat peserta sidang temtang LPJ.

Mba Ani nanya soal apakah Mas Sudi Ketua FLP wilayah sudah dikirimin email undangan oleh panitia. Saya jawab sudah, yang ngirim Nia selaku sekretaris panitia muscab. Mba Ani bilang kalau Mas Sudi ngga terima email undangan dari panitia Muscab FLP Jakarta (meskipun dia sudah tau dari dua minggu sebelumnya,.kalau muscab diadakan pada tanggal 12 Maret.)

Looh kok bisa Mas Sudi ngga terima undangan dari panitia? Nyangkut kemana dulu tuh email? Setau saya, ada satu email yang ditanyain Nia di grup panitia yang ngga bisa dihubungi, dan itu bukan email Mas Sudi. Jangan-jangan Mba Ani ngga baca WA grup lagi waktu Nia nanya.

Aku tanya Mba Ani, sejak kapan Mba Ani udah tau kalau Sudi belum terima, Mba Ani jawab sudah beberapa hari yang lalu. Laaaah??? Kalau udah tau dari beberapa hari yang lalu kok Mba Ani ngga ngasih tau di grup?? Kalau kasih tau di grup kita kan cari tau kenapa email ke Mas Sudi ngga diterima dia.

“Mba juga udah japri Nia, nanyain apa udah kirimin undangan buat wilayah.” sambung Mba Ani.

“Trus kata Nia?” tanyaku.

‘Katanya udah dikirim! Mba mau gimana lagi?” jawab Mba Ani.

“Ya iyalah Mba. Nia udah kirim semua. Dia pasti ngarasa udah melakukan pekerjaannya.” jawabku membela Nia.

“Cuma pertanyaanya sekarang, kenapa emailnya ngga nyampe ke Mas Sudi?” tanyaku lebih lanjut.

Mba Ani kemudian mengambil kesimpulan bahwa Nia ngirim email ke email lama FLP Wilayah Jakarta Raya. Email tersebut dibajak oleh pengurus yang lama. Nah, kaaan, Mba ani udah tau kenapa ngga dijelaskan di grup????? Lagian itu kan bukan masalah panitia, itu urusan orang wilayah. *jadi emosyong guaaa…

“Email FLP Jakarta Raya yang lama udah ngga dipakai lagi. Sekarang yang baru.” kata Mba Ani.

“Ya pantes kalau gitu, Mas Sudi ngga menerima undangan dari kita kalau emailnya udah diganti. Harusnya disosialisasikan. Biar kita pada tau.” sahut saya.

“Udah dishare setaon yang lalu! Tanya Arya tuh. Kan di share di grup wilayah!” ujar Mba Ani agak sewot.

“Setahun lalu, Mba! Lupa lah. dan panitia ngga ada yang tau selain Mba Ani. Kita panitia taunya email yang lama. Karena kita taunya emai FLP Wilayah yang lama. Dan  mungkin kita juga ngga ada komunikasi via email selama setahunan ini!” kata saya menjawab secara nalar mengapa panitia ngga tau emaip baru ketua wilayah.

“Mungkin kalau MBa Ani kasih tau panitia di grup kalau Mas Sudi ngga terima undangan dari kita, kita bisa cari solusi bersama, kenapa Mas Sudi ngga terima undangan sementara Nia udah kirim!” sambung saya lagi.

“Makanya Mba tanya ke Nia waktu Sudi bilang dia ngga terima undangan.” Mba Ani bertahan dengan pendapatnya tersebut.

“Mba, Nia udah mengirimkan undangannya tapi dia dan panitia lainnya kan ngga tau kalau email itu salah. Dia sudah melakukan tugasnya. Jadi itu bukan kesalahan Nia.” jawabku tegas. Mba Ani seperti ngga mau tau dengan prosedur yang sudah sudah dilakukan Nia dengan benar.

Apa Mba Ani merasa dia punya andil ‘salah’ karena tidak memberi tau email yang benar tapi ngga mau mengakui ya?

Mba Ani kemudian menjelaskan bahwa kata Mas Sudi, kalau dia ngga datang, berarti pelaksanaan muscab dianggap tidak sah. Dan kalau muscab dianggap tidak sah, muscab harus diulang lagi dari awal. Sementara Iecha dan Aa Mumun masih sibuk memimpin sidang yang bakal selesai. Iecha masih sibuk menanyakan peserta muscab, apakah setuju LPJ diterima denga catatan atau tidak.

“Mba, kita ngumpulin anggota FLP Jakarta sebanyak ini aja udah bersyukur banget. Masa gara-gara Sudi ngga datang kita ulang muscab lagi? Ntar yang datang berapa orang?” ucap saya sudah mulai kesal dengan Mba Ani yang terlihat membela Sudi dan cendrung jadi juru bicara Sudi (ngga pake mas lagi dah, kesel gue).

“FLP Depok juga pernah diulang muscabnya, kok. Pas diulang, pesertanya lebih sedikit. Tapi walaupun pesertanya sedikit, itu yang dianggap sah!” sahut Mba Ani yang semakin terlihat membela Sudi, bukannya membantu mencari solusi masalah ini.

Mba Ani juga mulai menyalahkan Mas Arya yang tidak menghubungi Sudi secara pribadi. Kalau sudah dihubungi Mas Arya kan Sudi tetep datang. Saya pun makin kesal sama Mba Ani yang tetap cendrung nyalahin panitia dan juga ketua.

“Mba, meskipun Pak Arya ngga menghubungi secara pribadi, tapi dia sudah tau dari Mba, kalau panitia sudah kirim walaupun nyangkut entah gimana. Prosedurnya sudah benar kan? Jangan terlalu belagu lah jadi orang!” saya udah kesal liat kesombongan ketua FLP wilayah Jakarta Raya.

“Iya, Mba tau. Tapi kalau Mas Arya menghubungi Sudi secara pribadi kan dia pasti datang!” sahut Mba Ani yang benar-benar berdiri sebagai orang wilayah.

“Sekarang gini aja deh Mba, kalau dia ngga bisa datang, paling ngga Mba kan udah ada di sini. Dia bisa saja menunjuk Mba jadi utusan wilayah sebagai peninjau muscab ini.” usul saya pada Mba Ani.

“Gimana Sudi mau nunjuk Mba sebagai wakilnya kalau dia ngerasa ngga menerima undangannya? Prosedurnya kan gitu!” jawab mba Ani sambil mengangkat tangan seakan-akan dia ngga mau peduli dengan masalah ini. Jangan-jangan itu jawaban yang sudah ia dengar dari Sudi.

Saya benar-bener jadi kesal luar biasa sama Mba Ani. Jawaban-jawaban Mba Ani seperti tidak peduli dengan masalah ini. Tidak tidak sedikitpun memberikan solusi apa sebaiknya yang harus dilakukan. Dia benar-benar bersikap seperti ‘orang wilayah’, bukan warga FLP Jakarta.

Akhirnya ketika Iecha dan Aa Mumun dan hendak ketok palu menerima LPJ pengurus, saya minta mereka stop sebentar. Saya bilangin ke mereka berdua plus Mas Arya secara singkat, padat dan jelas bahwa Sudi ngga terima undangan dari panitia, makannya ngga datang, dan bagi Sudi ini muscab dianggap tidak sah.

Mereka bertiga kaget mendengar penjelasan saya. Kami sepakat minta waktu ke audiens sebentar ke audiens, sambil diputarkan video produksi FLP Jakarta. Anggota KPU, Ticko (ketua panitia muscab), Mas Bil, Mba Dala serta Mas Yanuardi Syukur (wakil dari FLP Pusat) rembug dadakan, mencari solusi yang terbaik untuk menyelasaikan kasus ini. Inti dari komen mereka semua (selain Mba Ani) adalah menyesalkan sikap Mas Sudi yang sungguh kaku ini.

“FLP bertahan salah satunya karena kita tidak terlalu kaku dalam aturan. Apalagi FLP kan bukan kegiatan yang berbayar. Ini kegiatan sukarela. Jadi ngga usah terlalu kaku” ucap Mas Yanuardi Syukur, wakil FLP Pusat yang datang sebagai peninjau. Yang lain sepakat dengan Mas Yanuardi.

“Saya datang bukan karena mendapat undangan, tapi karena dikabari Mas Billy aja, saya datang.” sambuang Mas Yanuardi yang dibenarkan Mas Bil. Panitia baru memberikan undangan last minutes setelah dikasih tau Mas Bil. Naah kan? Orang pusat aja ngga segitu-gitunya bersikap. Masih low profile.

Yang lebih menyebalkan lagi melihat sikap Mas Sudi adalah, ternyata Mas Billy dan Aa Mumun sudah ngomong langsung pas lagi acara milad FLP dua minggu sebelumnya di Bandung. Apalagi yang dipermasalahin coba? Harusnya itu sudah dianggap undangan kekeluargaan, undangan persahabatan.

Mas Billy ini mantan ketua FLP Jakarta loh, dia kan juga tau. Sementara Aa Mumun kan senior di FLP Jakarta. Pernah jadi pengurus wilayah juga. Apalagi yang disombongin sih? Ngga habis pikir saya. Atau kalau mau nurunin ego dikit, mbok ya iseng-iseng candain pak Arya, bahwa kalau ‘undangan ngga dateng, ngga sah muscab Jakarta’. Kaya gitu kan bisa. Ini malah bertahan dengan kesombongan diri sebagai ketua wilayah FLP Rakarta Raya.

Dan lagi-lagi Mba Ani bersikap membela Sudi tanpa melihat dia juga warga FLP Jakarta. Dia kembali menyalahkan Mas Arya yang ngga menghubungi Mas Sudi. Hadeeeuuh Mba Ani kok gitu banget sih? Bukannya nyari solusi malah masih menyalahkan. *tanduk di kepalaku sudah keluar.

Akhirnya kemudian Mas Arya telpon Sudi di luar rumah. Kami ngga tau pembiacaraannya apa, tapi yang kami tau, Mas Sudi bakal datang seabis ashat. Tapiiii, Sudi bilang muscab tetap di ulang. Whaaaaat. Siapa sih lo jadi orang belagu amat. Baru juga jadi ketua FLP Wilayah, apakabar kalau jadi ketua FLP pusat, makin songong aja dah dia.

Sebagai solusi dari Mas Billy dan Mas Yanuardi Syukur, muscab tetap dilanjutkan sebagaimana yang sudah direncanakan. Nanti kakau Sudi sudah datang, akan dibicarakan baik-baik dengannya. Maka kami pun kembali melanjutkan acara setelah istirahat makan siang, dan shalat.

Sore harinya, Sudi akhirnya akhirnya datang ketika sidang sidang pemilihan ketua baru hampir final. Mas Billy dan Mas Yanuardi Syukur menerima Sudi. Mereka ngobrol di teras. Sementara Iecha dan Aa Mumun terlihat mengulur-ulur ketok palu sembari menunggu pembicaraan Mas Bil dan Mas Yanuardi dengan Sudi.

Alhamdulillah akhirnya Mas Sudi (saya panggil Mas lagi, hehehe), menerima semua acara tanpa disaksikan sendiri oleh matanya. Ia mau menerima sidang muscab yang ia ikuti hanya di bagian ujungnya saja. Akhirnya, alhamdulillah drama pun berakhir dengan damai sentosa. Semoga ini menjadi pelajaran yang bermanfaat untuk pengurus dan warga FLP Jakarta.

Saya yang tadinya kesal luar biasa dengan yang namanya ketua FLP Wilayah Jakarta akhirnya hilang seluruh kekesalan saya ketika dia menerima seluruh rangkaian acara muscab. Saya yang tadinya hilang hormat karena ‘sindrom kekuasaan’ yang diderita Sudi sebagai ketua FLP Wilayah Jakarta Raya akhirnya bersyukur karena kebesaran hatinya menerima hasil muscab.

Dan saya pun yang tadi berpikiran ‘idih baru jadi ketua FLP Wilayah Jakarta Raya udah belagu’ akhirnya berterima kasih padanya yang telah membuang egonya sebagai ketua FLP Wialayah yang merasa tak dianggap karena ‘tidak diundang’. Makasih ya Mas Sudi atas kelapangan hatinya.

Saya dan semua warga FLP Jakarta sangat berterima kasih pada Mas Bil yang selalu ada untuk FLP Jakarta. Diantara kesibukan Mas yang luar biasa padat, Mas Bil selalu datang dan hadir pada saat acara-acara penting FLP Jakarta dan juga selalu bersedia datang ketika diminta menjadi pemateri pada pertemuan dua mingguan yang diadakan FLP Jakarta.

Dan juga berterima kasih pada Mas Yanuardi Syukur yang sudah juga sudah datang hanya karena berdasarkan niat silaturrahim dengan FLP Jakarta. Sambutan dan wejangannya semoga bisa dijalankan dengan baik oleh semua warga FLP Jakarta. Makasih juga atas pemberian bukunya untuk FLP Jakarta ya Mas Yan.

Dam juga kepada seluruh teman-teman warga FLP Jakarta yang menghadiri, terima kasih atas kehadirannya diantara sela waktu teman-teman yang sibuk. Semoga silaturrahim ini mempererat ukhuwah diantara kita semua. Aamiin.

Advertisements

2 thoughts on “Drama Muscab FLP Jakarta 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s