Mushala Annur H.M Said : Rumah Kelahiran HR. Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said

Bagi teman-teman di Jakarta, tentu tidak asing lagi dengan jalan H.R Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Apalagi bagi yang bekerja di sana, pasti sudah sangat familiar yah. Tapi apakah banyak yang tau bahwa salah seorang pahlawan nasional ini adalah seorang wanita?

Serius loh, banyak yang beranggapan bahwa HR. Rasuna Said adalah seorang pria, bukan wanita. Tidak banyak yang mengetahui (sedikit) tentang sejarah HR. Rasuna Said bahwa ia adalah seorang wanita. Dan juga bagi yang sudah melihat patungnya di depan Pasar Festival (sekarang Plaza Festifal), karena pada patung tersebut, HR. Rasuna Said berkerudung.

HR. Rasuna Said ini berasal dari Panyinggahan, Maninjau. Sekitar 1,5 km dari Maninjau arah ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Ayah Rasuna Said adalah H. Muhammad Said, seorang saudagar Maninjau. Rasuna Said lahir tanggal 14 September 1910 (rumah yang jadi mushala ini selesai dibangun tahun 1917. Tentang Rasuna Said, nanti akan saya bahas di postingan lain secara terpisah.

Berkunjung ke rumah HR. Rasuna Said ini tidak ada dalam list tempat yang hendak ku kunjungi di Maninjau. Tujuanku hanya Meseum Rumah Kelahiran Buya Hamka saja. Tapi pas di atas ojek tanpa sengaja saya melihat plang nama mushala yang mushalanya sendiri menurut saya agak beda dari mushala-mushala lainya. Mushala Annur HM. Said, namanya.

Mushala Annur HM. Said ini berbeda dengan mushala pada umumnya. Tidak ada ada kubah ataupun atap yang berundak seperti mushala-mushala lain pada umumnya. Bentuk Mushala ini lebih mirip rumah biasa. Apalagi pada saat itu mushala ini terkunci dari luar. Karena mushala ini hanya digunakan saat shalat shubuh, magrib dan isya saja.

Pas saya kembali dari rumah Buya Hamka dan Nur Sutan Iskandar di Sungai Batang, saya mampir di mushala yang mirip rumah ini. Saat itulah saya jadi tau bahwa rumah tersebut adalah rumah orangtua HR. Rasuna Said yang dibangun ketika HR. Rasuna said masih kecil. Rumah tersebut sudah kosong, karena tidak ada keturunan Rasuna Said yang tinggal di Maninjau. Makanya rumah tersebut sekarang dijadikan mushala.

Saya ditemani oleh (kalau ngga salah namanya) Ibu Yus yang memegang kunci Mushala tersebut. Menurut si ibu tersebut, mushala ini hanya digunakan untuk shalat shubuh, magrib dan isya saja karena jemaah di sekitar mesjid bekerja. Jadi tidak ada jemaah yang shalat.

Pada bagian pagar rumah terdapat tahun selesai pembuatan rumah tersebut, tahun 1917 (tetapi saya tetap menyebut rumah ini sebagai rumah kelahiran. Begitu kita masuk ke pintu rumah terdapat semacam teras kecil dari tembok berubin yang berukuran sekitar 1 meter. Bagian sebelah kanan pintu masuk terdapat tangga kayu (tangga asli rumah) yang menuju lantai atas. Dan sebelah kiri ada undakan tiga atau empat anak tangga ke bawah, ke lantai mushala.

Saya awalnya agak heran dengan tangga menuju lantai ini. Tetapi kemudian si ibu menjelaskan bahwa, lantai rumah ini aslinya adalah lantai papan. Tetapi sekarang lantai paannya sudah dicopot. Rupanya tanah antara teras dan halaman depan rumah yang berada di pinggir jalan, lebih tinggi dibanding dengan tanah di bagian dalam rumah. Jadi di bawah lantai asli ada kolong yang tingginya kira-kira 2 meter.

Kolong di bawah lantai ini sekarang ditimbun tanah kira-kira setinggi hampiir 2/3 bagian. Kolong yang sudah ditimbun ini dijadikan lantai. Tidak semua bagian sih yang ditimbun. 1/3 bagian ke arah belakang ruang ruang rumah ini tidak ditimbun. Sehingga ada tangga dari lantai ruang shalat menuju ke bagian dasar kolong dan menuju pintu belakang.

Dulu kata si ibu, pintu belakang ini adalah pintu gudang atau kandang yang ada di kolong bawah lantai rumah yang masuknya dari halaman belakang. Pintu bagian belakang yang asli yang menuju halaman belakang dan dapur, masih ada dan tapi terkunci atau dimatikan. Dan tangga tembok yang asli yang ada dibelakang pintu juga masih ada dan terlihat kokoh.

Oya, sedikit keterangan, kandang dalam terminologi bahasa Minang, artinya bisa dua. Pertama, kandang berarti tempat tinggal hewan ternak. Kandang juga mempunyai arti kolong bawah rumah. Walaupun tidak ada apa-apa sama sekali di bawah kolong tersebut, alias kolong kosong melompong saja.

dari lantai mushala yang lebih rendah dari teras, terdapat tangga ke bawah, ke pintu belakang. Warna kuning di pojok kanan atas adalah pintu belakang asli. Ibu yus yang merawat mushala.

Bagian atas rumah, masih terlihat sama dengan bentuk aslinya. Tidak ada yang berubah. Ruangannya kosong melompong. Eh ada ding satu lemari tua yang masih berdiri di dinding ruangan. Kamar-kamar di lantai atas pun juga kosong. Dari kamar atas paling belakang, kita bisa melihat pemandangan ke arah danau walaupun tidak terlalu dekat.

Kata Ibu Yus, sekirar 2 tahun sebelumnya pernah ada bantuan biaya perawatan rumah dari Garuda Indonesia. Saya perkirakan bantuan tersebut diberikan Garuda Indonesia di bawah pimpinan Bapak Emirsyah Satar. Kan beliau masih menjadi pimpinan Garuda Indinesia waktu itu.

Saya berpikir ya, banyak orang-orang besar Indonesia yang berasal Sumatera Barat, tak terkecuali dari Maninjau ini. Tetapi kemudian yang tersisa hanyalah rumah kosong yang sudah tua dan lapuk. Karena semua anak dan keturunannya pun tidak ada yang menetap di kampung, semuanya di rantau. Mungkin kerabat yang bukan keturunan langsung masih ada yang tinggal di sekitar rumah tersebut.

bagian dalam rumah yang tidak ditimbun, bagian kiri warna kuning pintu belakang yang asli

Tapi setidaknyak rumah yang sudah tua (kecuali rumah Bung Hatta dan Buya Hamka) tersebut menjadi penanda bahwa di sini pernah lahir dan tumbuh besar seorang pahlawan Indonesia. Seorang pahlawan wanita yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia dan juga berjuang setelah kemerdekaan Indonesia di parlemen. Ia juga seorang guru. Dan juga tokoh emansipasi wanita Indonesia

Semoga anak-anak muda Maninjau, dan juga anak muda Ranah Minang, terutama yang wanita tidak hanya bangga dengan pada Bundo rasuna said ini. Tetapi hendaknya juga bisa menyerap semangat perjuangan Bundo Rasuna said dalam pembangunan karakter masyarakat Indonesia yang bersih dan berwibawa. Aamiin.

Advertisements

12 comments

  1. thanks ya Fisrty, jadi tau kisah HR Rasuna Said, ternyata orang Maninjau juga ya.

    Kalau rumah Nur St Iskandar masih ada?

  2. Saya mah udah tau kalau Rasuna Said itu perempuan, karena bloger lain juga sih 😂😂
    Saya kira tadi Rasuna Said tinggal di mushola dulu haha. Ternyata rumahnya cuma dialihfungsikan ya

  3. Waktu SMA saja saya masih berpikir bahwa HR Rasuna Said adalah bapak-bapak bukan ibu-ibu. Karena dalam pelajaran sejarah guru pun tidak menyebutkan ibu atau memanggil bapak. Jadi gendernya terkaburkan…

    Syukurlah rumah kelahiran beliau masih terawat sampai sekarang. Kapan-kapan yang ingin menikmati sejarah masih punya tempat pulang 🙂

  4. Kenapa masih dibilang rumah kelahiran, Mbak? Karena dulu saat kecil beliau tinggal di sini yah? Saya juga penasaran dengan kolong rumahnya, kenapa sampai harus ditimbun, hehe. Masukin list kunjungan dulu nih kalau begitu, hehe. Tapi suasana awal abad ke-20 nya masih terasa banget, saya berasa melihat setting-setting cerita roman angkatan Balai Pustaka yang banyak mengambil setting di sekitar Sumatera Barat, hehe…
    Hehe. Iya, saya termasuk orang yang dulunya mengira H.R. Rasuna Said itu seorang pria, haha. Sampai saya lihat patung di depan PasFes, baru tahu dah, hehe. Terima kasih atas ceritanya Mbak. Sumatera Barat memang kaya akan orang besar dan pemikir hebat untuk bangsa…

    • Iya Gara, aku tetap nyebutnya rumah kelahiran. Karena di rumah tersebut dia tumbuh besar. kalau nyebut di judul rumah tumbuh besar kan kayanya kurang enak aja ya. trus lagi, kalaupun rumahnya sudah ada sebelum beliau lahir, siapa tau beliau lahir di rumah bidan/perawat (kalau ada) atau di rumah dukun beranak kan, hehehe…

      Sepertinya massih banyak rumah yg modelnya seperti rumah Rohana Kudus di Maninjau Gara. Yang di dekat pasar Maninjau juga lebih terwat lagi, jadi masih bener2 keliatan mewah.

      Banyak emang yang ngga tau kalau beliau wanita, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s