Hewan Kurban, Hiburan Rakyat Murah Meriah Masyarakat Jakarta

Teman-teman, Selamat Hari Raya Iedul Adha ya. Selamat berqurban juga buat teman-teman yang ikut berqurban pada Iedul Adha kali ini. Bagi yang belum tapi ingin melaksanakannya, masih bisa sampai tanggal 15 September ini kan ya.

***

Salah satu ibadah yang mengiringi Hari Raya Iedul Adha adalah ibadah kurban. Pelaksanaan ibadah kurban ini dilakukan setelah shalat.Idul Adha sampai 3 hari setelah hari raya, tanggal 11,12,13 Dzulhijah. Tanggal 11,12,13 Dzulhijah ini disebut dengan Hari Tasyrik. Pada 3 hari ini pula umat Islam diharamkan berpuasa.

Seperti biasa semingguan menjelang hari raya, banyak tempat di Jakarta menjual hewan kurban seperti sapi dan kambing. Banyak diantaranya dijual di pinggir jalan. Baru sejak tahun kemarin penjualan hewan kurban dilarang di pinggir jalan di Jakarta. Gubernur Jakarta ini selain membuat larangan berjualan hewan qurban di trotoar juga menganjurkan supaya pelaksanaan qurban dilakukan di rumah potong hewan.

Soal penjualan hewan yang dilarang di trotoar jalan, saya sangat setuju sama pak gubernur. Karena saya termasuk orang yang agak sebel dengan adanya hewan-hewan qurban yang (dulunya) banyak dijajakan di pinggir jalan. Alasannya sederhana saja. Dan juga sangat personal. Kepala saya sangat pusing ketika mencium bau-bau kambing yang bertebaran di mana-mana. Langsung aja kepala saya cenat cenut ketika mencium bau kambing ini. Sangat personal banget kan yaa.

Tapi alasan yang ngga terlalu personal dan sederhana adalah, di kampung saya, sejauh yang saya tau (saya sudah 10 tahun di Jakarta), ngga ada orang yang jualan hewan kurban di pinggir jalan. Sistem orang sana pengelolaan kurban dilakukan dan diserahkan ke mesjid. Jadi ngga ada bau-bauan di berbagai tempat selama seminggu – dua minggu menjelang Hari Raya Iedul Adha.

Biasanya setelah Hari Raya Iedul Fitri, mesjid sudah membuat panitia kurban. Meninjau harga sapi dan memperkirakan berapa peserta kurban harus membayar. Berapa jumlah atau nilainya, tergantung perkiraan harga sapi pada saat itu lalu dibagi tujuh. Jadi kalau mau ikut kurban harus daftar nama ke mesjid. Nanti, pengurus mesjid yang membeli sapi ke pasar hewan.

Kenapa saya bilang sapi? Karena rata-rata hewan kurban di Padang itu ya sapi. Jaraaaaaang banget yang berkurban dengan kambing. Mungkin hal ini disebabkan orang Padang ngga terlalu suka daging kambing. Makai daging kambing biasanya hanya pada saat aqiqahan saja. Selain itu, ya jarang. Makanya pas kurban, hewan yang digunakan hampir semuanya juga sapi.

Soal pemotongan hewan kurban yang dianjurkan supaya di rumah potong, saya pikir itu ide yang kurang bagus juga kali ya. Karena ketika hewan kurban hendak disemblih, peserta kurban (istilah di Padang) atau pemilik hewan kurban kan diharapkan melihat hewan kurbannya disemblih. Jadi kalau dilakukan di rumah potong, harus ke rumah potong dulu, trus, harus nunggu antrian penyemblihan dulu. Kan agak repot menurut saya.

Tapi pertanyaan terbesar adalah apakah semua rumah potong di Jakarta sudah siap melakukan pemotongan hewan kurban yang begitu banyak? Sekalian mengantonginya sebanyak jumlah yang diminta oleh pihak yang berkurban? Waktu pemotongan kan hanya 4 hari. Dari tanggal 10 – 13 Dzulhijah aja. Saya yakin itu ngga akan cukup.

Trus, gimana ntar pendistribusiannya? Kalau di mesjid, kan panitia di mesjid kan gampang mendistribusikannya ke masyarakat di sekitar mesjid. Apalagi pemotongan kan secara kolektif jadi jumlahnya bisa dihitung panitia. Panitia, dengan bantuan RW bisa menghitung jumlah kepala keluarga di lingkungan sekitar mesjid.

Kalau di rumah potong, apakah yang berkurban sendiri yang harus membagikan ke masyarakat di sekitar tempat tinggalnya? Artinya dia harus menunggu menyelesaikan proses pemotongan dan pembungkusannya. Menghabiskan banyak waktu. Dan lagipula, seekor kambing bisa dibagi ke berapa rumah sih?

Atau kita serahin ke badan-badan seperti Dompet Dhuafa atau Rumah Zakat? Sekalian distribusinya? Trus, tetangga di sekitar rumah ngga dapat? Kan lebih bagus ke tetangga dulu dulu, ke orang yang terdekat, baru kepada orang yang lebih jauh. Kalau ada rezeki lebih, selain di mesjid di lingkungan tempat tinggal, ngga masalah di lembaga seperti Dompet dhuafa atau Rumah Zakat.

 Makanya kalau menurut saya, mesjid sebagai panitia pelaksana mah udah oke. Karena pendistribusiannya bisa lebih jelas ke seluruh masyarakat yang ada di sekitar mesjid : muslim ataupun non muslim.

Belum lagi ternyata di Jakarta (dan sekitarnya), hewan kurban ini jadi hiburan masyarakat, terutama anak-anak. Ini menurut penilaian saya pribadi loh ya. Dimana aja ada hewan kurban yang saya liat di dekat mesjid mushala, pasti hewan tersebut dikerumuni anak-anak. Ngga cuman anak-anak, orang dewasa juga. Bukan proses pemotongannya loh ya. Tapi hewan kurban yang masih hidup.

Mereka dengan bahagianya ngasih dedaunan pada kambing-kambing tersebut. Ada anak-anak yang betaaah nungguin kambing-kambing tersebut. diajakin pulang sama ibunya atau ayahnya ngga mau. Ada yang nangis diajakin pulang. Maunya mantengin kambing. (sayang banget saya ngga ambil foto keseruan anak-anak sama kambing dan sapi ini).

Mungkin bagi anak Jakarta, sapi dan kambing-kambing itu nampak lucu banget ya. Sementara bagi orang kampung, kambing dan sapi mah pemandangan biasa. Buktinya, sapi-sapi kurban di mushala mesjid tempat tinggalku di kampung ngga ada yang dipantengin anak-anak, (udah biasa tiap hari liat kambing dan sapi soalnya) hehehe.

Jadi ya, kalau menurut saya, ngga masalah pemotongan hewan kurban dilakukan di mesjid. Yang penting pelaksanaannya sesuai syariat Islam, dan juga menjadi kebersihan lingkungan setelah pemotongan hewan. Dan saya pikir semua mesjid melakukan hal ini : membersihkan mesjid lagi setelah pelaksaan kurban.

Jadi Pak Gubernur, pelaksanaan kurban kan cuma setahun sekali aja kan, artinya ini juga jadi hiburan rakyat (Jakarta) yang juga setahun sekali. Jadi sebaiknya sih janganlah bikin peraturan yang mengharuskan pelaksaan penyemblihan hewan kurban harus di rumah potong. Ini hanya opini saya saja ya Pak…🙂

6 thoughts on “Hewan Kurban, Hiburan Rakyat Murah Meriah Masyarakat Jakarta

  1. Selamat hari raya Idul Adha juga Firsty. Iya saya juga setuju bahwa tidak perlu menjual hewan kurban di tepi tepi jalan. Bikin rusuh soalnya. Dan setuju juga kalau hewan kurban itu dipotong di dekat masyarakat Maksudnya dekat tempat tinggal bukan di rumah potong. Tuh habis berkorban bisa dibersihkan langsung

  2. Selamat Idul Adha Firsty. Bagi saya, melihat hewan dipotong itu bukanlah hiburan yang layak, apalagi bagi anak-anak. Saya termasuk yang berhenti makan daging merah, selain alasan kesehatan juga karena saya trauma melihat hewan-hewan tersebut meregang nyawa di depan saya.

  3. Selamat hari raya Iduladha Firsty. Untuk penyembelihan di rumah penyembelihan, aku sangat setuju sekali dengan ide itu. Aku melihatnya dari sisi kebersihan. Bukan hanya kebersihan setelah pemotongan saja. Kebersihan sebelum pemotongan (peralatan, tempat, tangan penyembelihnya), kebersihan saat pemotongan, maupun selesai pemotongan. Banyak faktor kebersihan dari penyembelihan yang perlu dilihat sebagai satu kesatuan, bukan per bagian saja. Islam juga sangat menganjurkan kebersihan bukan. Just my two cents.
    Pendapat kedua, sama dengan yang Ail katakan di atas. Aku sudah lebih 10 tahun berhenti makan daging dan unggas, salah satu alasannya, agak trauma melihat mereka disembelih. Apalagi kalau pas Iduladha begini, menurutku, penyembelihan dan jadi tontonan itu bukanlah suatu hiburan. Karenanya, sejak berhenti konsumsi daging, aku juga berhenti ga melakukan kurban. Again, just my two cents.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s