Naik Bus dari Malaka ke Kuala Lumpur

Loket bus di Malaka

Loket bus di Malaka

Siang hari itu sangat melelahkan karena seharian putar-putar di Bandaraya Malaka. Setelah makan siang di restoran Seri Sahabat, kami segera kembali ke penginapan Victor Guesthouse. Di sana, sembari istirahat saya nyari penginapan untuk menginap nanti malam di Kuala Lumpur. Sebenarnya sudah saya booking tapi lupa oke-nya jadinya hangus, hehehe.

Begitu turun dari guesthouse, untungnya ada taksi yang sedang menurunkan penumpang di seberang jalan raya. Sopirnya mister Takur. Dia bilang ke Malaka Central 15 ringgit. Okee, ngga masalah. Kaaaan, 15 ringgit ke dari dan ke Malaka Central mah. Semalam kan saya kena 30 ringgit dari Malaka Central ke penginapan. Jadi manyun deh gue dikadalin, hehehe.

Akhirnya kami naik taksi si mister takur. Sebenarnya sih bukan taksi juga, karena warna dan logonya tidak menunjukkan taksi. Tapi dari cerita dia, mobilnya adalah mobil sewaan yang biasa bawa turis. Dan banyak juga turis Indonesia yang dia bawa. Okelah, ngga masalah sih. Yang penting kan kami tiba di terminal dan dapet bus yang ke Kuala Lumpur.

Terminalnya bersih dan banyak pohon lagi. Jakarta mau juga dooong kaya gini... :P

Terminalnya bersih dan banyak pohon lagi. Jakarta mau juga dooong kaya gini… 😛

Tapi rupanya si mister Takur ini udah niat mau ‘nyecam’ saya kayanya. Dia bilang, sekarang bus ke Kuala Lumpur penuh semua. Susah dapat bus. Soalnya lagi ‘cuti’ alias libur. Katanya lagi, dia bisa cari solusi, kami diantar ke tempat pemberhentian mobil di tol (semacam rest area kali ya). Kami cukup bayar 150 ringgit saja katanya. Alamaaaaaak, mak jaaang, cuma 150 ringggit. Lo kire ntu daun Om??? Duiiit ittuuuuh. Enak saja dia bilang ‘hanya’. Duiiit itu duiiit. Ga tau aja dia gue abis jual cincin gue tadi pagi di money changer.

Cara ngomongnya enaaak banget, manis banget, baik banget dan kaya kasihan dan perhatian gitu sama kami (yang bakal ngga dapat bus ke Kuala Lumpur). Tapi pada akhirnya dia seperti agak memaksa ketika saya tetap bertahan untuk dianterin ke Malaka Sentral. Kata dia lagi, ntar dari rest area ke Kuala lumpur cukup bayar 10 ringgit saja. Saya sih dengarin aja ceritanya.

Kakak dan adik saya agak panik juga kayanya kalau emang bus ke KL penuh. Saya bilang santai aja. Si tuan takur ‘cendeung’ mau memutuskan mau antar kami ke rest area. Saya bilang aja, “Ngga Pak, ke terminal saja!” kata saya tegas.
“Nanti kamu susah dapet bas-nya kerana sekarang hari cuti.”
“Biarin aja, ngga apa-apa!” jawab saya sudah mulai jutek.

Bus Malaka Kuala Lumpur (1)

Saya yakin, kalau ini di pantai, sunset-nya pasti keren banget… 🙂

Akhirnya dia manyun. Begitu tiba di terminal Central Malaka, dia bermaksud berbaik hati lagi sama kami. Mau membantu mencarikan bus sama temannya karena penumpang yang ramai. Saya bilang ngga usah saja. Eh dia tetap ngotot mau bantu kami. Aduhuh ni orang ‘niat’ amat bantu saya. Niat baik nan muliaatau niat mau nyecam saya??? Mulai deh gue kesal.

Tapi rupanya ada aja cara selamat dari dia. Jadi, pas kami sudah hampir masuk terminal saya berbalik ke arah belakang, ke arah mobilnya. Jarak mobil dengan kami udah agak jauh loh. Eh saya liat kok pintu mobilnya kebuka ya. Sepertinya pintu belakang. Mungkin Ridho lupa menutup pintu tersebut, hahaha. Godd job, Ridho… 😛

Dengan semangat empat lima saya panggil dia dan bilang pintu mobilnya terbuka. Dia kaget san nanya, “kamu tak tutup pintunya?”
“Tutup kok. Itu pintu belakang, saya duduk di depan kan?” jawab saya santai. Dia kesal dan jalan berbalik arah ke mobilnya.

tiba di Terminal Berpadu Selatan Kuala Lumpur.

tiba di Terminal Berpadu Selatan Kuala Lumpur.

Langsung saja saya ajak adik, kakak dan keponakan saya segera kabur ‘kabur’ biar ngga diikuti lagi sama dia. Kami segera berjalan setengah berlari. Terutama saya, hahaha. Dan dasar yah tu sopir tetap saja hampir mengejar kami lagi. Tapi saya sudah nanya ke satu loket bus, jadi dia tidak bisa apa-apa lagi. Yuhuuuu…

Sepertinya saya selalu bermasalah dengan para sopir taksi nih, apalagi sama yang kaya sopir taksi tua yang di Bandung, traumaa, hahaha. eh, sopir taksi dari hotel ke terminal Larkin Johor Bahru baek deng, hehehe… 🙂

Di terminal Malaka Sentral ini tidak begitu ramai penumpang kok. Dasar dia-nya aja yang mau nyecam saya. Penumpang lagi penuh apanya? Banyak bis yang tersedia untuk setengah jam sampai satu jam ke depan kok. Tinggal pilih mau naik bus apa aja, banyak. Kalau di Jakarta ini mah sepi, ngga rame yeeee.

Terminal Berpadu Selatan KL 3~

Dan baiknya lagi para penjual tiket di sana adalah mereka ngga rebutan penumpang loh. Meski bus banyak dan penumpangnya sedikit. Ketika di satu loket saya tanya jadwal keberangkatan yang lebih cepat dari yamg tersedia, dengam sopan si abangnya bilang supaya saya coba tanya loket bus lain.
“Tak apa-apa?” tanya saya.
“Tak ape-ape, Kak. Sila cari bas yang lain dulu!” jawabnya sopaan.

Waaah, yamg ginian ngga ada nih di Jakarta, hahaha. Sebisa mungkin barang kita udah ditarik duluan sama agennya… 😛

Akhirnya saya dapat tiket yang keberangkatan lebih awal dan harganya agak lebih murah dari bus. Berangkat jam 6, setengah jam lagi. Dan ongkosnya 10 ringgit. Jiaaah, sama aja dengan harga yang disebut tuan takur kalau naik di rest area. Untung gue ga mau dibego-in dia. Bus lain ada yang 13 ringgit, tapi sepertinya bus bangku 2-1 yang lebih mewah.

TBS KL~

pengen dah, Jakarta punya terminal kaya gini bagusnya… 🙂

Tapi bus yang kami naiki juga lumayan bagus kok. Walaupun kalah bagus jika dibandingan primajasa Jakarta – Bandung. Tapi jarak bangku yang saya duduki dengan bangku depan lebih luas daripada bus Primajasa Jakarta Bandung. Jadi kaki lebih lega. Lebih nyaman ding ya. Bus nya juga bersih. Dan walaupun penumpangnya hanya setengah dari bangku bis, bis tetap jalan jam 6. Pengen banget yang kaya ginian ada di Jakarta… Entah kapan ya… 😛

Waktu tempuh Malaka Kuala Lumpur 2 jam. Kami tiba di Terminal Berpadu Selatan atau TBS. Terminalnya gede. Di lantai atasnya udah kaya mall. Gedung bandara di Padang (apalagi Bandung) kalah gede sama gedung Terminal Berpadu Selatan ini, hehehe, *menyebalkan, padahal dulu mereka kirim mahasiswanya belajar ke Indonesia, sekarang mereka lebuh majuu dari kita : pedih niaaan Jenderal, hahaha… :P.

Terminal ini terhubung dengan stasiun kereta api, Rapid KL yang menuju ke Kuala Lumpur yang berpusat di KL Central atau sebaliknya. Tapi karena tujuan saya Stasiun Pasar Seni, saya nanti ganti kereta di Mesjid Jamek. Dari Mesjid Jamek tinggal satu stasiun lagi ke arah Pasar Seni.

Welcome to Kuala Lumpur

Stasiun KL~

lorong stasiun penghubung antar peron di Stasiun Mesjid Jamek

Advertisements

One thought on “Naik Bus dari Malaka ke Kuala Lumpur

  1. Pingback: Ngesot Nyari Penginapan di Kuala Lumpur | Firsty Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s